Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Republik di Bawah Meja Perjamuan

Ketika Angka Tumbuh dan Rakyat Mengecil

Alamat yang Dipinjam

Sebuah Diskusi Platform yang Berakhir Sebagai Pertanyaan Hidup

Judul dan Sensasi

Seberapa Tipis Garis antara Menarik dan Menyesatkan?

Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.

Setelah Pilkada, Saatnya Tagih Janji Kursi

Ketika Balas Budi Lebih Kuat dari Aturan Dua tahun berlalu. Kampanye sudah lama dilipat . Spanduk sudah lama turun. Tapi di sebuah instansi pemerintah, sebuah kursi baru saja pindah tangan—tanpa diklat, tanpa merit, hanya dengan satu kata ajaib: balas budi. Dan aturan? Aturan menonton dari balik kaca.

Penjaga Pintu yang Tidak Membaca

Ketika para pengurus literasi sibuk rapat tentang membaca, tapi lupa kapan terakhir kali mereka membuka buku

Spanduk "Ayo Membaca" di Depan Gedung yang Tak Ada Bukunya

Tentang kampanye literasi yang meriah, dopamin yang lebih kencang, dan pertanyaan yang tidak ada di dalam kuisioner mana pun

Wartawan di Zaman Banjir Informasi

 Ketika Sepuluh Aturan Lama Menjadi Pelampung Terakhir Sebuah feature reflektif tentang jurnalisme, kebenaran, dan nasib kita bersama di lautan informasi yang tak lagi bisa dipercaya

Selamat Datang di Panggung Sulap Terbesar di Saku Celana Anda

Ketika Penipu Lebih Rajin Bekerja daripada Kita, dan Mengapa Kita Terus Saja Jatuh Ada satu jenis manusia yang paling produktif di abad ini. Bukan ilmuwan yang merancang vaksin. Bukan guru yang sabar mengeja huruf di depan anak-anak kelas satu. Bukan perawat yang berdiri dua belas jam tanpa duduk.

Perebutan Perhatian di Era Algoritma

Ketika Berita Tidak Lagi Milik Wartawan

Buah Busuk, Hati Busuk, dan Kesabaran yang Tidak Perlu Teriak

Sore itu tidak ada yang istimewa. Langit kelabu. Kopi di meja sudah mulai kehilangan uapnya. Dan saya— seperti kebanyakan sore —sedang berdiri tanpa tujuan jelas di dekat jendela, menatap pohon mangga milik tetangga yang tumbuh miring ke arah pagar. Satu buahnya menarik perhatian saya. Cokelat. Keriput. Menggantung di ujung ranting seperti orang yang sudah menyerah pada segalanya, tapi belum juga jatuh. Saya bertanya-tanya sejak kapan buah itu seperti itu. Dan kenapa tidak ada yang memetiknya.

Peta Perang yang Tidak Ada di Atlas Mana Pun

Melacak Evolusi Algoritma Backend Raksasa Teknologi dari Kamar Gelap Silicon Valley hingga ke Layar Genggamanmu

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Perang yang Tidak Kamu Lihat

Ketika Algoritma Backend Memutuskan Apa yang Boleh Kamu Baca, Rasakan, dan Percayai

Dari Volkschool ke Merdeka Belajar: Satu Abad Kurikulum yang Terus Bergerak

 Dua Belas Kurikulum, Satu Bangsa yang Belum Selesai Belajar

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Keheningan di Tengah Pasar Malam

Seorang wartawan mandiri, sebuah algoritma yang dingin, dan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab: untuk siapa jurnalisme ini ditulis?

Bridge—Main Kartu Ala Bangsawan

 Anda pernah dengar orang bilang Bridge itu permainan orang tua? Atau permainan eksklusif kalangan atas yang duduk di ruang ber-AC sambil minum kopi atau teh? Atau—yang paling sering terdengar—"permainan itu rumit banget, bikin pusing!" Saya mau jujur. Sebagian kecil itu benar. Bridge memang dalam. Bridge memang butuh pikiran. Tapi Bridge bukan eksklusif, dan Bridge bukan hanya untuk kalangan tertentu. Panduan ini lahir dari keinginan sederhana: berbagi keindahan dan keseruan permainan Bridge dalam bahasa yang tidak bikin dahi berkerut. Santai, tapi serius. Ringan, tapi lengkap—dari nol sampai strategi lanjutan, semuanya ada di sini. Satu peringatan sebelum mulai: permainan ini bisa bikin ketagihan. Jangan sampai lupa jemput anak di sekolah.

Kota Bunga yang Lupa Bernapas

Catatan dari kota cantik yang angka hijaunya pas-pasan—dan diam-diam terus menyusut

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Kopi Pahit Setelah Pemilihan

Waktu kampanye, mereka turun ke pasar dan salaman hangat. Setelah terpilih, yang tersisa hanya asap rokok, kopi dingin, dan janji-janji yang mengambang entah ke mana. Sementara buzzer sibuk menjual narasi, jurang antara penguasa dan rakyat makin dalam.

Dari Tinta ke Piksel

 Tangannya kotor tinta. Kakinya melangkah di antara deru motor dan klakson yang mulai memanas. Mulutnya tak berhenti: "Berita terbaru! Berita terbaru!" — Tidak ada yang bertanya siapa dia. Tapi semua orang tahu apa yang dibawanya.

Pabrik Batu di Dalam Jurang

Adrianus Kojongian berdiri di tepi Pinati, memandang ke bawah. Di sana, dua puluh waruga masih menunggu—sejak ratusan tahun lalu.

Pasar Ekstrem: Tempat di Mana Tradisi Tidak Pakai Filter

Bau itu menyambut Anda sebelum Anda tiba. Bukan bau bunga—meski Tomohon menyebut dirinya Kota Bunga dengan bangga , dengan spanduk dan plakat di pintu masuk kota yang tercetak indah dan penuh keyakinan. Bukan juga bau tanah basah setelah hujan, yang biasanya turun di sini seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pamit. Bukan bau rempah pasar biasa yang menggoda di balik batas kewajaran. Bau ini—bagaimana mendeskripsikannya dengan hormat?—adalah bau yang memiliki 'kepribadian'. Ia maju ke depan. Ia memperkenalkan diri. Ia tidak menunggu Anda siap. Selamat datang di Pasar Tradisional Beriman Wilken, Tomohon, Sulawesi Utara. Dunia menyebutnya dengan nama yang lebih jujur: " Pasar Ekstrem ".

Puncak yang Terlalu Manis untuk Dijual

Bukit Wawo sedang bersolek. Tanah yang dulu akrab dengan cangkul kini ramai cekrek kamera. Pemandangannya bintang lima. Tapi ada yang pelan-pelan hilang.

Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

Kota yang Hobi Memecahkan Rekor (Sambil Berbunga-bunga)

‎Tomohon itu unik—sangat unik. Di saat kota lain sibuk cari cara tampil beda, Tomohon tinggal bilang: ‎“Tenang, kita pecahkan rekor saja.” Sebuah reportase dari Tomohon —kota yang punya tiga gunung, jutaan bunga, dan ambisi yang tidak pernah setengah hati Setiap kota punya cara tersendiri untuk memperkenalkan diri kepada dunia.

Ketika Alam Memanggil

Foto itu sudah lama tersimpan. Sudah lama juga saya ke tempat ini. Tapi memori bisa dibangkitkan kapan saja—dan kali ini, saat saya membuka kembali gambar-gambar itu, saya merasa perlu menuliskannya. Bukan karena ceritanya istimewa, tapi karena tempatnya memang selalu memanggil untuk dikisahkan ulang.

Festival Bunga, Pagar Knock-Down, dan Multiplier Effect yang Entah ke Mana

Agustus di Tomohon selalu datang membawa dua hal sekaligus: aroma bunga krisan—kulo dan riri—yang menguar dari lereng Lokon, dan aroma retorika pemerintah yang menguar dari semua siaran pers. Keduanya harum. Keduanya sementara. Dan keduanya, setelah musim berlalu, tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam di dompet warga biasa.

Pelayaran Rumah Kayu Menuju Penjuru Dunia

Kalau pohon bisa berbicara—dan untunglah mereka tidak bisa, sebab kita tidak akan tahan mendengar keluhan mereka—mungkin beginilah kira-kira yang akan mereka ceritakan: " Saya tumbuh selama seratus tahun di lereng Sulawesi. Saya menampung sarang burung, meneduhkan babi hutan, menyimpan air hujan di akar-akar saya. Lalu suatu hari, tiba-tiba saya sudah jadi cottage di Maladewa ."

Si Pohon Penjaga dan Bisikan Tiga Warna

Sore itu, cahaya matahari sudah mulai turun miring. Angin dari arah danau membawa aroma belerang yang menyengat—bukan tidak menyenangkan, melainkan seperti tanda: kamu sudah sampai .

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Ketika Batu Nisan Menjadi Penjaga Ingatan

Di balik kesunyian Taman Pekuburan Tua Kamasi, tersimpan lapisan-lapisan sejarah yang lebih tua dari kota itu sendiri.

Percakapan di Meja Redaksi: Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran

Di balik setiap berita yang kita baca, ada ruang redaksi yang nyaris tak pernah benar-benar tidur. Ada kopi yang mulai dingin, deadline yang berlari, algoritma yang terus menekan, dan wartawan yang diam-diam lelah tetapi tetap harus terlihat tenang. Cover buku berjudul Percakapan di Meja Redaksi: Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital .

Antara Soe dan Mujur: Korupsi Sebagai Permainan Nasib

Ketika hukum direduksi menjadi dadu, dan para pelaku kejahatan hanya perlu menunggu giliran mujur atau soe—sementara rakyat selalu menanggung taruhannya.

Dari Kontrakan ke Istana: Kisah Rumah Pertama DPRD Tomohon

Sebuah kisah tentang demokrasi yang lahir dari gedung pinjaman, politisi yang "ngekos", dan perjalanan panjang sebuah kota muda menemukan dirinya sendiri. Ada sebuah ironi kecil yang lucu—sekaligus mengharukan—dalam sejarah berdirinya lembaga legislatif Kota Tomohon.

Dari Taman Kota ke Anugerah Hall

Kalau boleh jujur—dan saya selalu jujur, karena saya kupu-kupu dan tidak pernah belajar berdiplomasi—tempat ini dulu jauh lebih menyenangkan. Dulu ada bunga. Banyak bunga. Dan saya, tentu saja, sangat profesional dalam urusan bunga.

Dari Barak Militer ke Kompleks Permanen

  Sebelum punya gedung megah di Kolongan, roda pemerintahan Kota Tomohon dulu berputar di… barak militer. Dari aroma lapangan hingga derap langkah prajurit, di sanalah awal mula lahirnya pemerintahan Kota Bunga tercinta.

‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

Kota yang Tumbuh, Polisi yang Ikut Bertumbuh

Tentang Polres Tomohon, dari Kakaskasen ke Kolongan, dari Polsek kecil ke markas yang berdiri tegak

Fondasi yang Tak Pernah Dipuji

Sebuah percakapan kecil tentang SEO, Algoritma, dan Hal-Hal yang Lebih Berat dari Sekadar Trafik SEO yang Katanya Sudah Ketinggalan Zaman

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

Sertifikat, Integritas, dan Nama Baik yang Dipertaruhkan

📖 DAFTAR ISI Sore itu langit tidak hujan, tapi udara terasa berat. Mungkin karena topiknya sensitif—atau mungkin karena kami berdua tahu bahwa di balik percakapan santai ini, ada pertanyaan yang sudah lama mengendap di profesi ini tanpa jawaban yang memuaskan. " Kau tahu ," kata kawan saya pelan, " sebenarnya negeri ini sudah punya sistem uji kompetensi wartawan ." Saya mengangguk. Saya tahu. Saya pernah duduk di ruang itu, mengisi formulir itu, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. " Ya. Ada jenjangnya. Muda, madya, utama ."

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari WordStar hingga Smartphone

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

Tomohon di Persimpangan

 Di Tomohon, bunga memang selalu tepat waktu mekar. Anggaran, sayangnya, punya kebiasaan sendiri: sering telat, kadang malah menyusut. Tahun 2026 jadi pelajaran berharga bagi Kota Bunga: keindahan sejati bukan lahir dari pesta gemerlap semata, melainkan dari ketepatan mengambil keputusan ketika dompet daerah sudah agak kurus.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Rasa yang Tidak Membohongi

Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti kopi tanpa gula: pahit, tapi justru di situlah kita belajar membedakan rasa asli dan janji pemanis. (Tulisan ini adalah cerpen tentang kehidupan—kisah sosial yang terjadi sehari-hari, bisa menimpa siapa saja, tanpa perlu undangan khusus, tanpa aba-aba.)

‎‎Saat Kekuasaan Lupa Cara Bersikap

 Kekuasaan sejatinya mengajarkan tata krama paling dasar: tahu kapan berbicara, kapan mendengar, dan kapan menahan diri. Namun ada masa ketika ia justru lupa caranya bersikap—seolah jabatan cukup tinggi untuk membebaskan diri dari kewajiban berpikir. 

Di Atas Bara, Bunga Tumbuh

" Tapi kalau meletus bagaimana ?" " Ya mengungsi ." " Sesimpel itu ?"

Tetap Setia pada Kata

  Pagi ini saya tak mengejar berita—hanya angin, kenangan, dan satu-dua kalimat yang ingin pulang ke hati. Dulu jari saya berlari mengejar deadline; kini ia berjalan santai, sambil ngopi dan mengingat-ingat, bekerja dengan kenangan dan peristiwa yang tak pernah benar-benar libur. 

Antara Selimut Kehangatan dan Janji yang Memudar

 Zona nyaman itu enak… sampai janji-janjimu memudar di bawah debu kenyamanan. ‎ 📖 DAFTAR ISI ‎Zona nyaman. Ah, siapa yang bisa menolak? Rasanya seperti pelukan hangat dari selimut tebal di hari yang dingin, ditemani Netflix dan camilan tanpa batas. Ini adalah surga yang diperbolehkan—tempat di mana alarm ditunda, rencana diet menguap, dan janji-janji ambisius yang pernah diucapkan perlahan bertransformasi menjadi debu halus di bawah sofa.️ ‎‎Kita semua pernah di sana, menikmati kehangatan palsu itu, sampai tiba-tiba akhir pekan menyergap. Rasanya seperti ada spotlight dadakan menyorot tumpukan cucian yang belum dilipat dan daftar resolusi yang bahkan belum disentuh. ‎‎Kenikmatan itu ternyata hanya hipnotis. Ingat, janji-janji tidak pernah mati, mereka hanya pindah alam ke dimensi “ Tunda Dulu Sampai Tahun Depan .”

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

  ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.  

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Belajar Teguh di Tengah Ombak

  ‎‎Kadang hidup tidak perlu drama besar untuk terasa berat. Cukup satu-dua gelombang kecil yang datang di waktu yang salah.

Biasa, Namun Luar Biasa

 Catatan Kecil Untuk Guru di 2 Mei Hari ini, 2 Mei, ada satu hal yang pelan-pelan mengetuk ingatan: suara kapur di papan tulis, aroma buku yang baru dibuka, dan seseorang yang berdiri di depan kelas—tidak selalu sempurna, tapi selalu hadir. ‎‎GURU. ‎‎Mereka jarang masuk headline. Tidak viral. Tidak ramai dipuji. Tapi diam-diam, mereka seperti akar—tidak terlihat, tapi menentukan tegaknya pohon. Hari Pendidikan Nasional

Mereka yang Bekerja, Dunia yang Berjalan

Selamat Hari Buruh

‎Siklus Lupa Bencana

 ‎ Bencana sering datang seperti tamu tak diundang yang hobi mampir berulang kali. Yang lebih ironis: janji mitigasi ikut nongol—dan pergi—secepat pelangi setelah hujan. Begitu langit cerah, semua seperti kembali sibuk dengan urusan masing-masing… kecuali titik rawan bencana yang tetap setia menunggu diperbaiki.

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati (sebuah novel)

 Tiga Nama di Rubrik yang Salah Ada satu hal yang aneh dari profesi yang terlalu dekat dengan kebenaran: ia sering gagal memahami yang paling dekat. Pagi di ruang redaksi selalu dimulai dengan suara yang sama—ketukan keyboard yang seperti hujan versi modern. Cepat, berulang, kadang tidak sabar. Di sudut ruangan, kopi sudah lebih dulu bekerja daripada manusia. Sebagian mengepul, sebagian lagi sudah dingin bahkan sebelum sempat diminum.

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati

(sebuah novel)

Dari Koran Kuning ke Portal Klik

Saat Sensasi Berganti Wajah

Sore yang Tidak Menuntut Apa-Apa

Sore ini datang tanpa ambisi. Tidak membawa target, tidak juga daftar pencapaian yang harus dicentang satu per satu. Ia hanya mengetuk pelan, seperti tamu lama yang tahu diri—masuk tanpa ribut, duduk tanpa banyak bicara. Di atas meja, secangkir kopi mengepulkan napas tipis. Hangatnya tidak berisik, tapi cukup untuk mengingatkan: ada hal-hal sederhana yang masih setia menemani. “Kamu tidak harus jadi hebat hari ini,” seolah begitu bisiknya.

Dari Tinta ke Piksel

 Jejak Koran Kuning di Era Digital

Percakapan di Meja Redaksi

 Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran “Kalau berita bisa napas, mungkin dia sudah ngos-ngosan duluan sebelum kita sempat mengeditnya.”

Masih Mencari...

 Angin datang dari arah bukit. ‎Ia duduk diam. Kemeja hijau kusam—warna yang sama dengan pepohonan di belakangnya. Seolah ia bagian dari lanskap itu. Seolah ia tumbuh di sana.

Hari Ketiga: Duel Otak, Bukan Duel Senjata!

‎‎Membagikan kembali kenangan berharga dari hari ketiga pelatihan Peace & Conflict Journalism (Pecojon | GiZ), sekitar tahun 2012, lalu—kalau tidak salah ingat. Di sesi ini, kami diajak merenung dalam-dalam: Bagaimana seharusnya kita, sebagai jurnalis, mendekati konflik? Apakah dengan mentalitas Kompetitif yang ingin menang sendiri, atau Kolaboratif yang mencari titik temu?

Sekho Mangarek: Menyimpan Kampung Halaman dalam Lagu

Hari itu, Tomohon seperti baru saja selesai disisir angin dari tiga gunung—Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—yang anginnya selalu sejuk, menyenangkan bagi penduduk kota kecil itu. Pusat kotanya terlihat sedikit ramai, orang lalu lalang, mobil hilir mudik.

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh.

Amplop Setan dan Pohon Mangga

'Sebuah sore di tahun 2016, ketika siswa SMA mengajarkan seorang wartawan tentang keberanian yang sesungguhnya.'

Tentang Catatan Kecil

Tidak semua hal layak menjadi tulisan panjang. Ada yang hanya singgah sebentar—seperti percakapan di jalan, suara hujan yang tidak selesai, atau pikiran yang datang lalu pergi tanpa sempat dipanggil kembali. Dulu, hal-hal seperti itu sering saya biarkan lewat. Terlalu kecil untuk dijadikan cerita, terlalu sepele untuk disimpan. Padahal, justru di situlah hidup sering bersembunyi.