Langsung ke konten utama

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Museum Trik Gelap

Cover buku Mimpi Menjadi Koruptor yang telah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.
Cover buku Mimpi Menjadi Koruptor yang telah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.
"Kita bahkan belum punya museum sejarah yang layak," gumam saya.

Sebuah pesan tanpa pengirim.

Sebuah alamat yang tidak ada di peta.

Sebuah undangan yang tidak sopan—datang larut malam, tanpa salam, tanpa nama.

Begitulah seorang sosok yang hanya dikenal sebagai "Trik" memulai perjalanannya ke sebuah bangunan tua yang, begitu pintunya terbuka, berubah menjadi sesuatu yang sama sekali lain.

Di dalamnya, seorang Kurator menyambut dengan kalimat dingin yang akan menghantui pembaca hingga halaman terakhir:

"Selamat datang. Di sini, kebiasaan buruk dipelajari dengan sangat serius."

Mimpi Jadi Koruptor adalah novel fiksi satir-politik yang membongkar anatomi korupsi di sebuah daerah—bukan dengan kemarahan, melainkan dengan ironi yang dingin, tajam, dan menggigit.

Lewat tur ke ruang demi ruang museum yang mustahil ini, pembaca diajak menyaksikan pameran-pameran yang terlalu familiar: anggaran yang menguap, komisi yang tidak pernah disebut, teknologi yang terlalu pintar untuk jujur, kursi DPRD yang berlabel harga, dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah lama dianggap wajar.

Tapi ini bukan sekadar tur.

Di luar museum, kota tempat Trik tinggal sedang bergolak. Bram, sang kepala daerah, dikelilingi lingkaran dalam yang rapi—istri, adik, ipar, kolega, pengusaha, aktivis bayaran, tokoh agama yang lupa berkhotbah, dan akademisi yang menjual gelar untuk legitimasi. Di DPRD, hanya Donald dan Hengkie yang masih bersuara; sisanya memilih main aman. Di ruang redaksi, Frans, sang pemimpin redaksi, sudah lama "main mata" dengan kekuasaan—sementara seorang jurnalis muda berinisial Nny menolak menyerah pada amplop dan ancaman halus.

Lalu ada Teddy, aktivis LSM yang masih percaya bahwa jujur bukanlah kemewahan. Dan Zuzana dan Siska—perempuan yang menjadi simpul rahasia dari banyak rahasia.

Ketika Trik mulai menyadari bahwa apa yang dipamerkan di museum sedang terjadi persis di luar pintu keluarnya, ia dihadapkan pada pertanyaan yang tidak bisa lagi ditunda:

Apakah saya hanya pengunjung—atau saya juga bagian dari pameran?Dibangun dalam tiga fase naratif:

🔹 Bab 1–9 — Tur Museum: cepat, sinis, dan ironis. Pembaca tertawa dulu, sebelum sadar sedang diajak bercermin.

🔹 Bab 10–15 — Investigasi: tegang, penuh sambungan, ketika dunia museum dan dunia nyata mulai berbenturan.

🔹 Bab 16–18 — Pengakuan: sunyi, berat, reflektif. Tidak semua pelaku jatuh. Tidak semua kebenaran menang.
Untuk siapa novel ini ditulis?

Untuk mereka yang lelah membaca berita korupsi tanpa konteks. Untuk mereka yang ingin memahami bagaimana kekuasaan daerah benar-benar bekerja—bukan dari laporan resmi, melainkan dari ruang-ruang bisik di balik meja kopi, ruang rapat tertutup, dan kamar-kamar hotel.

Untuk mereka yang pernah bertanya:

"Kenapa semua orang tahu, tapi tidak ada yang berubah?"

Dan terutama, untuk mereka yang berani menyelesaikan buku ini sampai halaman terakhir—lalu menatap cermin, dan jujur pada diri sendiri.

"Masalahnya bukan mereka. Masalahnya adalah siapa yang memilih diam."

Museum itu bukan tempat.

Museum itu cara melihat.

Dan yang paling mengganggu:

tidak semua pengunjung keluar dengan niat berubah.

Pengunjung berikutnya sudah diundang.

Tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.
Buku lain oleh Penulis:

Menjemput Berita, Menembus Waktu


Catatan tentang bagaimana ruang redaksi berubah—dari disket yang disimpan hati-hati hingga notifikasi yang tidak pernah tidur. Sebuah perjalanan yang kadang terasa serius, kadang justru menggelikan, tapi selalu menyisakan satu hal: tanggung jawab yang tidak ikut berubah.

Percakapan di Meja Redaksi


Berawal dari dua cangkir kopi dan obrolan yang tampak sederhana, lalu perlahan membuka pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar punya jawaban pasti—tentang kecepatan, tekanan, dan kepercayaan yang semakin mahal harganya.

Dari Tinta ke Piksel


Tentang koran yang pernah dianggap remeh, tapi diam-diam dibaca banyak orang. Tentang sensasionalisme yang sering disalahkan, tapi juga tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Sebuah upaya memahami, bukan menghakimi.

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati


Di antara laporan investigasi dan data yang bisa diverifikasi, ada satu wilayah yang selalu lolos dari pengecekan: perasaan. Sebuah kisah tentang kebenaran yang mudah dicari—dan kejelasan yang tidak selalu ditemukan.

Redaksi Tanpa Awak


Ketika algoritma mulai ikut menulis, pertanyaannya bukan lagi soal cepat atau lambat—melainkan siapa yang masih menjaga nurani. Sebuah refleksi tentang batas antara teknologi dan tanggung jawab manusia.

Orang-Orang yang Tak Terlihat


Adalah sebuah novel fiksi, yang menceritakan tentang wajah di sudut kota yang terlupakan. Wajah-wajah yang tak pernah masuk berita. Mereka ada. Mereka bernapas. Mereka hanya tidak terlihat oleh mereka yang memilih untuk tidak melihat mereka. Setiap pagi—setiap hari—mereka menggerakkan kota dengan ragam profesi, pedagang asongan, tukang cuci, sopir oplet dan pedagang di pasar.

Semua buku juga tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital. ***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.