Langsung ke konten utama

SOROTAN

Redaksi Tanpa Awak

Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis.

Berita ini sebenarnya penting untuk siapa?”

Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “Wi-Fi di sini password-nya apa?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari.

Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan.
Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Saya tidak langsung menjawab. Saya biarkan pertanyaan itu duduk di antara kami, menemani dua cangkir kopi dan satu ponsel yang sejak tadi terus berkedip seperti anak kecil yang minta diperhatikan.

Om pernah baca The Elements of Journalism?” tanyanya lagi.

Saya tersenyum.

Pernah. Bahkan dulu saya membacanya seperti orang membaca pesan dari mantan—diulang-ulang, berharap ada makna baru.”

Ia tertawa.

Yang saya ingat cuma satu: jurnalisme harus setia kepada publik.”

Dan disiplin utamanya adalah verifikasi,” saya menambahkan.

Kami saling pandang. Lalu, seperti dua orang yang baru sadar sedang membicarakan sesuatu yang terlalu ideal, kami tertawa—pelan, agak pahit.

Masalahnya,” katanya sambil mengaduk kopi yang sebenarnya tidak lagi perlu diaduk, “teori itu sekarang terasa seperti nasihat orang tua yang bilang jangan pulang malam… di dunia yang sudah buka 24 jam.”

Saya mengangguk.

Karena realitas sekarang tidak memberi waktu untuk merenung. Semua ingin cepat. Bahkan sebelum kita sempat berpikir apakah ini penting atau tidak.”

Ia membuka ponselnya, menunjukkan halaman berita.

Coba lihat ini. Portalnya beda, tapi isinya hampir sama semua.”

Saya melirik sekilas.

Seremonial pemerintah?”

Ia langsung tertawa, seperti anak kecil yang jawabannya benar di kuis sekolah.

Persis.”

Kami tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Di dunia ini, ada berita yang lahir dari investigasi panjang… dan ada berita yang lahir dari undangan WhatsApp.

Kadang saya merasa,” katanya, “wartawan sekarang bukan lagi mencari berita.”

Saya menunggu.

Hanya menunggu undangan acara.”

Saya tertawa kecil. Itu kalimat yang terlalu jujur untuk disangkal.

Padahal,” saya mulai, “berita paling penting biasanya tidak pernah mengundang wartawan.”

Ia mengangkat alis.

Berita itu ada di tempat yang tidak ada backdrop, tidak ada MC, dan tidak ada sesi foto bersama.”

Seperti?”

Pasar yang mulai sepi. Sekolah yang gurunya kurang. Jalan yang berlubang tapi tidak pernah ada penanganan.”

Ia mengangguk pelan.

Masalahnya, cerita seperti itu tidak punya rundown.”

Karena harus dicari,” jawab saya.

Kami terdiam. Di meja sebelah, seseorang sedang berdebat soal sepak bola dengan intensitas seperti sedang menyusun konstitusi baru. Dunia memang sering lebih serius membahas hal yang tidak terlalu penting.

Kenapa media sekarang lebih suka berita seremonial?” tanyanya lagi.

Saya menyeruput kopi, lalu menjawab sederhana.

Karena itu berita paling mudah di dunia.”

Ia menatap saya, menunggu penjelasan seperti mahasiswa yang berharap dosennya tidak berhenti di definisi.

Undangan datang. Acara jelas. Narasumber sudah siap. Kutipan tinggal disalin. Bahkan kadang siaran pers lengkap dengan fotonya sudah dikirim duluan sebelum acara selesai.”

Berita instan,” katanya.

Dan aman,” saya menambahkan.

Ia mengangguk. Kami sama-sama tahu arti kata “aman” di sini. Aman dari komplain. Aman dari tekanan. Aman dari telepon-telepon yang datang di jam tidak sopan.

Tapi kalau semua berita seperti itu…” ia berhenti sejenak, “…media jadi seperti humas.”

Saya tersenyum.

Itu bukan ‘jadi’. Kadang memang sudah.”

Kami tertawa. Tapi tawa itu seperti suara sendok yang jatuh di lantai—kecil, tapi cukup mengganggu.

Beberapa hari kemudian, kami bertemu lagi. Topiknya belum selesai. Seperti utang yang tidak besar, tapi cukup untuk mengganggu tidur.

Kalau publik mau tahu media yang benar-benar independen,” katanya, “harus lihat apa?”

Saya berpikir sejenak, lalu menjawab,

Seperti membedakan kopi asli dan kopi kebanyakan gula.”

Ia tertarik.

Bagaimana caranya?”

Minum beberapa kali. Lalu perhatikan rasanya.”

Ia tertawa. Tapi saya tidak bercanda.

Media itu tidak bisa dinilai dari satu berita. Harus dilihat polanya.”

Saya menjelaskan pelan, seperti orang yang sedang mengajari cara membaca peta di kota yang terlalu ramai.

Media yang sehat itu punya tiga warna: pujian, kritik, dan pertanyaan.”

Seperti lampu lalu lintas?”

Ya. Kalau semuanya hijau terus, itu bukan jalan yang lancar. Itu sistem yang rusak.”

Ia tertawa lebih keras kali ini.

Perhatikan juga siapa yang berbicara di dalam berita,” lanjut saya.

Kalau yang muncul selalu pejabat yang sama, dengan kalimat yang hampir sama… itu bukan berita. Itu siaran ulang dengan variasi sudut kamera.”

Dan kalau tidak pernah ada kritik?”

Itu bukan media. Itu katalog keberhasilan.”

Ia terdiam. Lalu berkata pelan,

Berarti pembaca sebenarnya bisa menilai?”

Bisa. Tapi harus mau berpikir.”

Saya menyebutnya sederhana: kebiasaan curiga yang sehat.

Di zaman dulu, orang setia membaca satu koran karena percaya pada sikap redaksinya. Sekarang, orang membaca banyak portal—tapi sering tanpa sikap.

Padahal, di dunia yang penuh informasi, sikap justru lebih penting daripada akses.

Hari berikutnya, percakapan kami berubah arah.

Kenapa media daerah sering terlihat hati-hati?” tanyanya.

Saya tidak langsung menjawab. Ia sendiri yang lebih dulu bicara.

Karena mereka juga harus hidup.”

Saya mengangguk. Itu jawaban yang tidak romantis, tapi jujur.

Media bukan hanya soal idealisme. Ada listrik yang harus dibayar. Server yang harus hidup. Internet yang tidak boleh mati—meskipun kadang idealisme sudah lebih dulu mati pelan-pelan.

Banyak media bergantung pada kerja sama dengan pemerintah,” katanya lagi.

Dan di situlah jarak mulai kabur,” saya menambahkan.

Ia tersenyum pahit.

Kalau terlalu kritis, kontrak bisa hilang.”

Dan kalau kontrak hilang, media bisa ikut hilang.”

Kami tidak tertawa kali ini.

Karena di titik itu, jurnalisme tidak lagi sekadar soal benar atau salah. Tapi soal bertahan atau tumbang.

Kalau keseimbangan hilang,” saya berkata pelan, “media tidak langsung mati.”

Lalu?”

Ia hanya berubah fungsi.”

Menjadi?”

Humas yang punya domain sendiri.”

Ia tertawa, tapi kali ini lebih pelan.

Sore mulai turun. Cahaya di luar jendela berubah seperti tone warna di layar ponsel—dari terang ke redup, tanpa terasa.

Jadi sebenarnya,” katanya, “pemerintah butuh media seperti apa?”

Saya tidak langsung menjawab. Ia melanjutkan sendiri.

Media yang memuji?”

Saya menggeleng.

Ia menatap saya, lalu berkata pelan,

Media yang berani bilang kalau ada yang tidak beres.”

Saya tersenyum. Akhirnya, ia sampai di sana.

Karena kritik itu seperti alarm kebakaran,” saya menambahkan.

Tidak enak didengar. Tapi berbahaya kalau dimatikan.”

Kami terdiam. Kopi sudah habis. Tapi percakapan masih terasa penuh.
Di luar, lalu lintas tetap berjalan. Seperti berita yang terus mengalir—cepat, padat, dan sering kali lupa bertanya satu hal paling penting:

Ini semua… untuk siapa?

Dan mungkin, di antara bunyi sendok, notifikasi ponsel, dan undangan acara yang terus berdatangan, pertanyaan itu akan selalu kembali.

Duduk di meja yang sama.
Menunggu seseorang cukup berani untuk menjawabnya.***

Komentar

POPULER