Langsung ke konten utama

Sore yang Tidak Menuntut Apa-Apa

Sore ini datang tanpa ambisi. Tidak membawa target, tidak juga daftar pencapaian yang harus dicentang satu per satu. Ia hanya mengetuk pelan, seperti tamu lama yang tahu diri—masuk tanpa ribut, duduk tanpa banyak bicara.

kopi masih hangat, kamu tidak harus hebat setiap hari

Di atas meja, secangkir kopi mengepulkan napas tipis. Hangatnya tidak berisik, tapi cukup untuk mengingatkan: ada hal-hal sederhana yang masih setia menemani.

“Kamu tidak harus jadi hebat hari ini,” seolah begitu bisiknya.

Aneh ya, kita sering merasa harus jadi sesuatu yang besar setiap hari. Harus produktif, harus terlihat bergerak, harus punya cerita yang bisa diceritakan ke orang lain. Seakan-akan hidup ini lomba maraton yang garis akhirnya selalu dipindah lebih jauh.

Padahal, ada hari-hari seperti ini—hari yang tidak meminta kita berlari. Hanya meminta kita tidak berhenti.

Kadang, bertahan itu lebih melelahkan daripada mengejar. Bangun dari tempat tidur ketika pikiran masih penuh sisa kemarin, itu bukan hal kecil. Menyeduh kopi, walau rasanya biasa saja, itu bukan rutinitas kosong. Itu keputusan. Keputusan untuk tetap hadir.

Dan kita jarang memberi kredit untuk itu.

Kita lebih sering mengagumi yang berlari cepat, daripada yang diam-diam tidak menyerah.

Padahal, kalau dipikir-pikir, keberanian itu sering datang dalam bentuk yang tidak dramatis. Tidak ada musik latar, tidak ada tepuk tangan. Hanya ada seseorang yang berkata dalam hati, “coba lagi, ya,” lalu benar-benar mencobanya.

Hari ini, kalau langkahmu terasa pelan, biarkan saja. Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan tergesa. Ada kalanya hidup justru meminta kita berjalan pelan, supaya kita tidak melewatkan diri sendiri.

Kalau pikiranmu berantakan—seperti meja kerja yang penuh catatan, cangkir kosong, dan rencana yang belum selesai—itu juga tidak apa-apa. Meja bisa dirapikan nanti. Pikiran juga begitu. Tidak harus semuanya beres hari ini.

Yang penting, kamu masih di sini.

Masih duduk, masih bernapas, masih mencoba memahami hari yang kadang terasa terlalu luas untuk dihadapi sendirian.

Dan itu… sudah cukup.

Karena hidup, kalau dipikir lebih jujur, bukan tentang siapa yang paling hebat setiap hari. Hidup lebih sering tentang siapa yang tetap tinggal, ketika segalanya terasa ingin ditinggalkan.

Sore ini tidak meminta kita jadi luar biasa.

Ia hanya mengajak kita duduk sebentar, menyeruput kopi yang mulai mendingin, dan diam-diam menjaga satu hal kecil: harapan.

Sebab kadang, hidup cuma tentang itu.

Menjaga kopi tetap hangat…

dan hati tetap mau berharap.***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?