Langsung ke konten utama

SOROTAN

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati

(sebuah novel)

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati (sebuah novel)

Tiga Nama di Rubrik yang Salah

Ada satu hal yang aneh dari profesi yang terlalu dekat dengan kebenaran: ia sering gagal memahami yang paling dekat.

Pagi di ruang redaksi selalu dimulai dengan suara yang sama—ketukan keyboard yang seperti hujan versi modern. Cepat, berulang, kadang tidak sabar. Di sudut ruangan, kopi sudah lebih dulu bekerja daripada manusia. Sebagian mengepul, sebagian lagi sudah dingin bahkan sebelum sempat diminum.

semua bisa dikonfirmasi, kecuali hati
(sebuah novel)

Di tempat seperti itu, kebenaran biasanya punya bentuk.

Ia hadir dalam dokumen. Dalam angka. Dalam kutipan yang sudah diverifikasi dua kali. Dalam nama-nama yang harus ditulis dengan hati-hati, karena satu huruf salah bisa jadi perkara panjang.

Dan di antara semua itu, ada Oni.

Seorang jurnalis investigasi. Tipe yang tahu bahwa kebenaran jarang datang dalam keadaan rapi. Ia harus digali, dicurigai, bahkan kadang dikejar seperti orang yang tidak ingin ditemukan.

Hari-harinya dipenuhi deadline, rapat yang terlalu panjang, dan cerita tentang anggaran yang—jujur saja—lebih sering membosankan daripada dramatis. Tapi justru di situlah ia bekerja: di tempat yang tidak menarik bagi banyak orang, tapi menyimpan sesuatu yang penting.

Oni tahu cara membaca laporan keuangan seperti orang lain membaca novel. Ia tahu di mana harus curiga, kapan harus diam, dan bagaimana membuat seseorang akhirnya bicara.

Singkatnya, ia tahu cara mengonfirmasi kebenaran.

Kecuali satu.

Masalahnya dimulai bukan di ruang rapat. Bukan juga di dokumen pengadaan yang penuh angka ganjil.

Masalahnya dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan justru karena itu, jauh lebih rumit.

Ponsel yang bergetar.

Nama kontak yang sengaja disimpan sebagai: “Jangan Diangkat.”

Ada ironi kecil di situ. Seperti menulis peringatan di pintu, lalu diam-diam berharap ada yang tetap mengetuk.

Di sisi lain, hidup Oni tidak pernah benar-benar kosong.

Ada Wulan.

Ia bukan tipe yang mencolok. Tidak banyak bicara. Tidak pernah masuk konflik. Tapi setiap pagi, selalu ada secangkir kopi di meja Oni—hangat, konsisten, tanpa perlu diminta.

Wulan seperti jeda di tengah kalimat panjang. Tidak mencuri perhatian, tapi kalau hilang, semuanya terasa janggal.

Lalu ada Maya.

Rekan satu frekuensi. Jurnalis dari desk ekonomi yang pikirannya bergerak dalam pola yang sama: angka, data, inkonsistensi. Bersama Maya, investigasi terasa seperti percakapan yang tidak perlu banyak penjelasan.

Kedekatan mereka lahir bukan dari kebetulan, tapi dari proses—dari malam-malam panjang, dari laporan yang tidak selesai dalam satu kali duduk, dari rasa percaya yang tumbuh perlahan.

Dan kemudian… Mariana.

Nama yang tidak pernah benar-benar pergi, meski sudah tidak lagi hadir.

Mariana adalah jenis orang yang berbicara seperti laporan yang sudah direvisi berkali-kali—tenang, presisi, tanpa berlebihan. Ia bekerja di dunia advokasi kebijakan, tempat kata-kata punya konsekuensi.

Bersamanya, Oni pernah merasa menemukan sesuatu yang jarang: ketenangan yang tidak memaksa.

Tapi seperti banyak hal yang terlalu tenang, ia juga rapuh dengan caranya sendiri.

Di meja kerja Oni, ada banyak catatan.

Nama narasumber. Jadwal wawancara. Potongan informasi yang belum lengkap.

Semua bisa dicek. Semua bisa ditelusuri.

Tapi ada tiga nama yang tidak pernah bisa ia perlakukan seperti itu:

Mariana.
Maya.
Wulan.

Tidak ada dokumen untuk mereka.
Tidak ada konfirmasi ganda.
Tidak ada sumber anonim yang bisa dimintai klarifikasi.

Hanya perasaan—yang sering kali datang tanpa konteks, dan pergi tanpa penjelasan.

Kalau dipikir-pikir, hidup Oni seperti dua dunia yang berjalan paralel.

Di luar, ia membangun kebenaran dengan metode. Dengan logika. Dengan bukti.
Di dalam, ia berjalan tanpa peta.

Dan anehnya, justru yang di dalam itu yang lebih melelahkan.

Karena tidak ada deadline untuk memahami perasaan.

Tidak ada editor yang bisa bilang, “Ini kurang jelas, coba diperbaiki.”
Tidak ada versi revisi yang benar-benar final.

Yang ada hanya pilihan-pilihan kecil, yang kalau salah diambil… tidak bisa ditarik kembali seperti berita yang sudah terbit.

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati” bukan sekadar cerita tentang jurnalisme.

Ia seperti duduk di sudut ruang redaksi, mendengarkan seseorang bercerita pelan tentang hidupnya—tentang bagaimana mencari kebenaran di luar ternyata jauh lebih mudah daripada mencari kejelasan di dalam.

Ada lelah yang tidak terlihat.
Ada rindu yang tidak pernah selesai.
Ada keputusan yang tidak pernah benar-benar terasa benar.

Dan di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam terus muncul:
bagaimana kita memastikan sesuatu yang tidak pernah bisa dibuktikan?

Buku ini berjalan seperti percakapan. Tidak tergesa, tapi juga tidak berusaha terlalu puitis.

Ia jujur. Kadang pahit. Kadang hangat.

Seperti kopi yang lupa diminum—tidak lagi panas, tapi masih menyimpan rasa.

Di dalamnya, jurnalisme bukan hanya profesi. Ia menjadi latar, sekaligus cermin. Bahwa setiap pekerjaan, sekeras apa pun logikanya, tetap menyisakan ruang untuk sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Perasaan.

Dan mungkin, justru di situlah letak puisinya.

Bagi yang pernah bekerja di ruang redaksi—atau sekadar pernah jatuh pada pilihan yang tidak sederhana—kisah ini akan terasa dekat.

Bagi yang percaya bahwa hidup selalu bisa dijelaskan dengan logika… buku ini mungkin akan sedikit mengganggu.

Dengan cara yang baik.

Karena pada akhirnya, kita semua—dengan atau tanpa profesi jurnalis—pernah berada di titik yang sama:
mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa dikonfirmasi.

Dan tetap melanjutkan hidup… meski jawabannya tidak pernah benar-benar datang.

Tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

Komentar