Bencana sering datang seperti tamu tak diundang yang hobi mampir berulang kali. Yang lebih ironis: janji mitigasi ikut nongol—dan pergi—secepat pelangi setelah hujan. Begitu langit cerah, semua seperti kembali sibuk dengan urusan masing-masing… kecuali titik rawan bencana yang tetap setia menunggu diperbaiki.
Postingan
Menampilkan postingan dari April, 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Membagikan kembali kenangan berharga dari hari ketiga pelatihan Peace & Conflict Journalism (Pecojon | GiZ), sekitar tahun 2012, lalu—kalau tidak salah ingat. Di sesi ini, kami diajak merenung dalam-dalam: Bagaimana seharusnya kita, sebagai jurnalis, mendekati konflik? Apakah dengan mentalitas Kompetitif yang ingin menang sendiri, atau Kolaboratif yang mencari titik temu?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya