Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

‎Siklus Lupa Bencana

 ‎ Bencana sering datang seperti tamu tak diundang yang hobi mampir berulang kali. Yang lebih ironis: janji mitigasi ikut nongol—dan pergi—secepat pelangi setelah hujan. Begitu langit cerah, semua seperti kembali sibuk dengan urusan masing-masing… kecuali titik rawan bencana yang tetap setia menunggu diperbaiki.

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel) “ Kamu masih percaya kota ini adil ?”

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis.

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati (sebuah novel)

 Tiga Nama di Rubrik yang Salah

Semua Bisa Dikonfirmasi, Kecuali Hati

(sebuah novel)

Dari Koran Kuning ke Portal Klik

Saat Sensasi Berganti Wajah

Sore yang Tidak Menuntut Apa-Apa

Sore ini datang tanpa ambisi. Tidak membawa target, tidak juga daftar pencapaian yang harus dicentang satu per satu. Ia hanya mengetuk pelan, seperti tamu lama yang tahu diri—masuk tanpa ribut, duduk tanpa banyak bicara.

Dari Tinta ke Piksel

 Jejak Koran Kuning di Era Digital

Percakapan di Meja Redaksi

 Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran

Masih Mencari...

 Angin datang dari arah bukit. ‎Ia duduk diam. Kemeja hijau kusam—warna yang sama dengan pepohonan di belakangnya. Seolah ia bagian dari lanskap itu. Seolah ia tumbuh di sana.

Hari Ketiga: Duel Otak, Bukan Duel Senjata!

‎‎Membagikan kembali kenangan berharga dari hari ketiga pelatihan Peace & Conflict Journalism (Pecojon | GiZ), sekitar tahun 2012, lalu—kalau tidak salah ingat. Di sesi ini, kami diajak merenung dalam-dalam: Bagaimana seharusnya kita, sebagai jurnalis, mendekati konflik? Apakah dengan mentalitas Kompetitif yang ingin menang sendiri, atau Kolaboratif yang mencari titik temu?

Sekho Mangarek: Menyimpan Kampung Halaman dalam Lagu

Hari itu, Tomohon seperti baru saja selesai disisir angin dari tiga gunung—Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—yang anginnya selalu sejuk, menyenangkan bagi penduduk kota kecil itu. Pusat kotanya terlihat sedikit ramai, orang lalu lalang, mobil hilir mudik.

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh.

Amplop Setan dan Pohon Mangga

'Sebuah sore di tahun 2016, ketika siswa SMA mengajarkan seorang wartawan tentang keberanian yang sesungguhnya.'

Tentang Catatan Kecil

Tidak semua hal layak menjadi tulisan panjang.