POPULER

Percakapan di Meja Redaksi

 Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran

    “Kalau berita bisa napas, mungkin dia sudah ngos-ngosan duluan sebelum kita sempat mengeditnya.”
Cover Buku Percakapan di Meja Redaksi yang sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Saya mengatakan itu sambil mengaduk kopi yang sejak lima menit lalu sudah dingin, tapi tetap saya perlakukan seperti masih hangat—barangkali karena yang ingin saya hangatkan bukan kopinya, melainkan percakapannya.

Di seberang meja, teman saya tertawa kecil. Tawa yang tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mengakui bahwa kalimat itu tidak sepenuhnya bercanda.

    Masalahnya,” katanya, “sekarang bukan cuma berita yang kehabisan napas. Kita juga.”

Kami duduk di meja yang sama—meja yang, entah bagaimana, selalu berhasil memancing percakapan yang awalnya ringan lalu diam-diam menjadi serius. Dua cangkir kopi, dua wartawan yang sudah terlalu lama berkawan dengan deadline, dan satu ide yang waktu itu terdengar sederhana: bikin portal berita.

Sederhana, seperti semua hal besar yang belum kita jalani.

Awalnya kami bicara soal hal-hal teknis—nama domain, rubrik, target pembaca. Tapi seperti biasa, pembicaraan tentang jurnalisme selalu punya kebiasaan buruk: ia tidak pernah betah di permukaan. Sedikit saja digali, langsung jatuh ke pertanyaan yang lebih dalam.

    Apa masih mungkin...,” ia menatap saya, lalu melanjutkan, “bikin media yang cepat tapi tetap               benar?”

Saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu pertanyaannya terlalu jujur untuk dijawab cepat.

Di ruang redaksi, kecepatan itu seperti kopi instan—mudah, praktis, dan selalu tersedia. Tapi kebenaran? Itu lebih mirip kopi tubruk: harus sabar, harus ditunggu, dan sering kali meninggalkan ampas yang tidak nyaman.

    Kita ini,” saya akhirnya bicara, “dulu dibesarkan di zaman tinta. Bau koran pagi itu seperti                     semacam pengesahan—bahwa berita yang kita tulis sudah melewati malam yang panjang.”

Ia mengangguk. 

    Sekarang, malam itu hilang. Diganti notifikasi.”

Kami tertawa lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang ikut tertinggal di antara tawa itu—semacam kesadaran kecil bahwa dunia yang kami kenal sudah berubah terlalu jauh untuk sekadar dikenang.

Dulu, kami berlari mengejar deadline. Sekarang, deadline yang mengejar kami.

Dulu, kami takut salah. Sekarang, kami takut terlambat.

Dan di antara dua ketakutan itu, entah sejak kapan, akurasi mulai terasa seperti barang mewah.

    Clickbait itu,” ia menyandarkan punggungnya, “seperti gula berlebih. Manis di awal, tapi lama-            lama merusak.”

    Dan algoritma?” saya menimpali.

    Bos yang tidak pernah kita lihat, tapi diam-diam mengatur semuanya.”

Kami terdiam sejenak. Tidak lama, tapi cukup untuk memberi ruang pada pikiran yang biasanya tidak sempat duduk.

Di luar sana, berita-berita viral berlari lebih cepat dari berita penting. Judul-judul dipoles seperti etalase toko—mengundang, kadang berlebihan, sesekali menipu. Iklan datang sebagai penolong, tapi juga sebagai penawar yang diam-diam mengubah rasa.

    Lucu ya,” saya berkata pelan, “kita menulis tentang tekanan orang lain setiap hari, tapi jarang             sekali menulis tentang tekanan kita sendiri.”

Ia tersenyum, tapi kali ini tanpa tawa.

    Burnout itu,” katanya, “tidak pernah masuk headline.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menetap.

Kami tahu persis rasanya—mengejar berita sejak pagi, memperdebatkan satu kata selama setengah jam, lalu pulang dengan kepala penuh kalimat yang belum selesai. Besoknya, ulang lagi. Seperti hidup dalam loop yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang sering kami lupa periksa: diri sendiri.

    Kadang,” saya menghela napas, “yang paling lelah itu bukan tangan yang mengetik, tapi kepala             yang terus berpikir.

    Dan hati,” ia menambahkan. “Yang mulai ragu, kenapa kita masih melakukan ini.

Pertanyaan itu menggantung. Bukan karena tidak ada jawaban, tapi karena jawabannya terlalu sederhana untuk semua kerumitan ini.

Kami masih di sini karena kami percaya.

Percaya bahwa di balik semua kebisingan, masih ada orang yang ingin membaca sesuatu yang benar. Percaya bahwa di antara ribuan judul yang bersaing, masih ada ruang untuk kejujuran. Percaya bahwa jurnalisme, seberapa pun berubah, tetap punya satu fondasi yang tidak boleh goyah: kepercayaan.

    Mata uang kita itu bukan klik,” saya berkata. “Tapi percaya.

Ia mengangguk pelan. 

    Dan itu tidak bisa dicetak sendiri.”

Kami kembali pada kopi yang sudah benar-benar dingin sekarang. Anehnya, rasanya tidak terlalu penting lagi.

Sebelum kami benar-benar beranjak, ia sempat bertanya, setengah bercanda, setengah serius.

    Ngomong-ngomong… obrolan seperti ini kalau dibukukan, ada yang baca tidak ya?”

Saya tersenyum. 

    Sudah dibukukan.”

Ia mengangkat alis.

    “Judulnya Percakapan di Meja Redaksi: Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran,” saya lanjutkan santai. 

    Dan kabar baiknya, ia tidak cuma berhenti di meja ini. Sudah berjalan lebih jauh—tersedia di               Google Play Books dan juga Draft2Digital. Jadi, siapa pun yang penasaran bagaimana redaksi             berpikir, ragu, dan kadang tersesat… bisa ikut duduk di meja ini, tanpa harus memesan kopi.”

Ia tertawa. Kali ini sedikit lebih lepas.

    Berarti,” katanya, “kita bukan cuma menulis berita. Kita juga sedang menulis cara kita bertahan.”

Saya mengangguk.

Dan mungkin, di situlah semuanya menjadi masuk akal.

Bahwa jurnalisme bukan sekadar soal siapa yang paling cepat.

Tapi siapa yang, di tengah kecepatan itu, masih sempat berhenti sejenak… untuk memastikan bahwa yang ia tulis layak dipercaya.

Dan kalau beruntung, menuliskan percakapan kecil seperti ini—agar orang lain tahu, bahwa di balik setiap berita, selalu ada manusia yang sedang berusaha jujur.

Selain Percakapan di Meja Redaksi, juga tersedia buku di Google Play Store dan Draft2Digital tentang Menjemput Berita, Menembus Waktu. ***

Komentar