Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Festival Bunga, Pagar Knock-Down, dan Multiplier Effect yang Entah ke Mana

Agustus di Tomohon selalu datang membawa dua hal sekaligus: aroma bunga krisan—kulo dan riri—yang menguar dari lereng Lokon, dan aroma retorika pemerintah yang menguar dari semua siaran pers. Keduanya harum. Keduanya sementara. Dan keduanya, setelah musim berlalu, tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam di dompet warga biasa.
Postingan terbaru

Ketika Semua Orang Merasa Jadi Wartawan

Sebuah elegi untuk verifikasi, duka cita untuk editor, dan surat terbuka kepada ibu jari yang terlalu lincah

Anak Pendek, Piala Tinggi: Ironi Manis Perjuangan Tomohon Melawan Stunting

Ketika sebuah kota menang penghargaan karena berhasil mengurangi anak yang gagal tumbuh, ada yang harus kita rayakan—dan ada yang harus kita pertanyakan dengan serius.

Ketika Catatan Berhenti, Wajan Bicara

Facebook mengingatkan saya pada foto ini tadi pagi. Muncul begitu saja di layar—senyum di depan wajan kecil, rompi abu-abu khas jurnalis lapangan, kacamata yang lebih sering dipakai mengejar deadline ketimbang membaca resep. Wajah saya serius, seperti sedang menimbang lead berita, padahal yang sedang berjuang adalah renda kue cucur. Foto itu diambil sewaktu saya masih jurnalis media cetak di Manado. Masa ketika berita dikejar sebelum pagi, bukan sebelum algoritma.

Bangku Taman dan Seni Menunggu

Pelajaran Diam dari Benda yang Tak Pernah Kemana-Mana

Mereka Melayani Siapa?

 Ketika Rakyat Menyuapi Kekuasaan yang Sudah Kenyang

Salam yang Tidak Menunggu Jawaban

  Catatan tentang Persahabatan yang Tak Pernah Sepenuhnya Nyata (Sebuah Novelet)

Tiga Belas Kali: Dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Sembilan Tahun Gelap, Tiga Belas Tahun Terang

Republik di Bawah Meja Perjamuan

Ketika Angka Tumbuh dan Rakyat Mengecil

Alamat yang Dipinjam

Sebuah Diskusi Platform yang Berakhir Sebagai Pertanyaan Hidup

Judul dan Sensasi

Seberapa Tipis Garis antara Menarik dan Menyesatkan?