Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Ketika Catatan Berhenti, Wajan Bicara

Facebook mengingatkan saya pada foto ini tadi pagi. Muncul begitu saja di layar—senyum di depan wajan kecil, rompi abu-abu khas jurnalis lapangan, kacamata yang lebih sering dipakai mengejar deadline ketimbang membaca resep. Wajah saya serius, seperti sedang menimbang lead berita, padahal yang sedang berjuang adalah renda kue cucur. Foto itu diambil sewaktu saya masih jurnalis media cetak di Manado. Masa ketika berita dikejar sebelum pagi, bukan sebelum algoritma.

Bangku Taman dan Seni Menunggu

Pelajaran Diam dari Benda yang Tak Pernah Kemana-Mana

Mereka Melayani Siapa?

 Ketika Rakyat Menyuapi Kekuasaan yang Sudah Kenyang

Salam yang Tidak Menunggu Jawaban

  Catatan tentang Persahabatan yang Tak Pernah Sepenuhnya Nyata

Tiga Belas Kali: Dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Sembilan Tahun Gelap, Tiga Belas Tahun Terang

Republik di Bawah Meja Perjamuan

Ketika Angka Tumbuh dan Rakyat Mengecil

Alamat yang Dipinjam

Sebuah Diskusi Platform yang Berakhir Sebagai Pertanyaan Hidup

Judul dan Sensasi

Seberapa Tipis Garis antara Menarik dan Menyesatkan?

Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.

Setelah Pilkada, Saatnya Tagih Janji Kursi

Ketika Balas Budi Lebih Kuat dari Aturan Dua tahun berlalu. Kampanye sudah lama dilipat . Spanduk sudah lama turun. Tapi di sebuah instansi pemerintah, sebuah kursi baru saja pindah tangan—tanpa diklat, tanpa merit, hanya dengan satu kata ajaib: balas budi. Dan aturan? Aturan menonton dari balik kaca.