(sebuah novel)
Sore itu tidak ada yang istimewa. Langit kelabu. Kopi di meja sudah mulai kehilangan uapnya. Dan saya— seperti kebanyakan sore —sedang berdiri tanpa tujuan jelas di dekat jendela, menatap pohon mangga milik tetangga yang tumbuh miring ke arah pagar. Satu buahnya menarik perhatian saya. Cokelat. Keriput. Menggantung di ujung ranting seperti orang yang sudah menyerah pada segalanya, tapi belum juga jatuh. Saya bertanya-tanya sejak kapan buah itu seperti itu. Dan kenapa tidak ada yang memetiknya.