Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Keheningan di Tengah Pasar Malam

Seorang wartawan mandiri, sebuah algoritma yang dingin, dan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab: untuk siapa jurnalisme ini ditulis?

Bridge—Main Kartu Ala Bangsawan

 Anda pernah dengar orang bilang Bridge itu permainan orang tua? Atau permainan eksklusif kalangan atas yang duduk di ruang ber-AC sambil minum kopi atau teh? Atau—yang paling sering terdengar—"permainan itu rumit banget, bikin pusing!" Saya mau jujur. Sebagian kecil itu benar. Bridge memang dalam. Bridge memang butuh pikiran. Tapi Bridge bukan eksklusif, dan Bridge bukan hanya untuk kalangan tertentu. Panduan ini lahir dari keinginan sederhana: berbagi keindahan dan keseruan permainan Bridge dalam bahasa yang tidak bikin dahi berkerut. Santai, tapi serius. Ringan, tapi lengkap—dari nol sampai strategi lanjutan, semuanya ada di sini. Satu peringatan sebelum mulai: permainan ini bisa bikin ketagihan. Jangan sampai lupa jemput anak di sekolah.

Kota Bunga yang Lupa Bernapas

Catatan dari kota cantik yang angka hijaunya pas-pasan—dan diam-diam terus menyusut

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Kopi Pahit Setelah Pemilihan

Waktu kampanye, mereka turun ke pasar dan salaman hangat. Setelah terpilih, yang tersisa hanya asap rokok, kopi dingin, dan janji-janji yang mengambang entah ke mana. Sementara buzzer sibuk menjual narasi, jurang antara penguasa dan rakyat makin dalam.

Dari Tinta ke Piksel

 Tangannya kotor tinta. Kakinya melangkah di antara deru motor dan klakson yang mulai memanas. Mulutnya tak berhenti: "Berita terbaru! Berita terbaru!" — Tidak ada yang bertanya siapa dia. Tapi semua orang tahu apa yang dibawanya.

Pabrik Batu di Dalam Jurang

Adrianus Kojongian berdiri di tepi Pinati, memandang ke bawah. Di sana, dua puluh waruga masih menunggu—sejak ratusan tahun lalu.

Pasar Ekstrem: Tempat di Mana Tradisi Tidak Pakai Filter

Bau itu menyambut Anda sebelum Anda tiba. Bukan bau bunga—meski Tomohon menyebut dirinya Kota Bunga dengan bangga , dengan spanduk dan plakat di pintu masuk kota yang tercetak indah dan penuh keyakinan. Bukan juga bau tanah basah setelah hujan, yang biasanya turun di sini seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pamit. Bukan bau rempah pasar biasa yang menggoda di balik batas kewajaran. Bau ini—bagaimana mendeskripsikannya dengan hormat?—adalah bau yang memiliki 'kepribadian'. Ia maju ke depan. Ia memperkenalkan diri. Ia tidak menunggu Anda siap. Selamat datang di Pasar Tradisional Beriman Wilken, Tomohon, Sulawesi Utara. Dunia menyebutnya dengan nama yang lebih jujur: " Pasar Ekstrem ".

Puncak yang Terlalu Manis untuk Dijual

Bukit Wawo sedang bersolek. Tanah yang dulu akrab dengan cangkul kini ramai cekrek kamera. Pemandangannya bintang lima. Tapi ada yang pelan-pelan hilang.