Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Kota yang Tumbuh, Polisi yang Ikut Bertumbuh

Tentang Polres Tomohon, dari Kakaskasen ke Kolongan, dari Polsek kecil ke markas yang berdiri tegak Empat Belas Kapolres dan Satu Kota yang Terus Bergerak

Fondasi yang Tak Pernah Dipuji

Sebuah percakapan kecil tentang SEO, Algoritma, dan Hal-Hal yang Lebih Berat dari Sekadar Trafik SEO yang Katanya Sudah Ketinggalan Zaman

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Sertifikat, Integritas, dan Nama Baik yang Dipertaruhkan

Sore itu langit tidak hujan, tapi udara terasa berat. Mungkin karena topiknya sensitif—atau mungkin karena kami berdua tahu bahwa di balik percakapan santai ini, ada pertanyaan yang sudah lama mengendap di profesi ini tanpa jawaban yang memuaskan. " Kau tahu ," kata kawan saya pelan, " sebenarnya negeri ini sudah punya sistem uji kompetensi wartawan ." Saya mengangguk. Saya tahu. Saya pernah duduk di ruang itu, mengisi formulir itu, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. " Ya. Ada jenjangnya. Muda, madya, utama ." Gambar hanya ilustrasi mengenai sertifikasi dan integritas wartawan.

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari WordStar hingga Smartphone

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

Tomohon di Persimpangan

 Di Tomohon, bunga memang selalu tepat waktu mekar. Anggaran, sayangnya, punya kebiasaan sendiri: sering telat, kadang malah menyusut. Tahun 2026 jadi pelajaran berharga bagi Kota Bunga: keindahan sejati bukan lahir dari pesta gemerlap semata, melainkan dari ketepatan mengambil keputusan ketika dompet daerah sudah agak kurus.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Rasa yang Tidak Membohongi

Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti kopi tanpa gula: pahit, tapi justru di situlah kita belajar membedakan rasa asli dan janji pemanis. (Tulisan ini adalah cerpen tentang kehidupan—kisah sosial yang terjadi sehari-hari, bisa menimpa siapa saja, tanpa perlu undangan khusus, tanpa aba-aba.)