Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Alamat yang Dipinjam

Sebuah Diskusi Platform yang Berakhir Sebagai Pertanyaan Hidup

Judul dan Sensasi

Seberapa Tipis Garis antara Menarik dan Menyesatkan?

Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.

Setelah Pilkada, Saatnya Tagih Janji Kursi

Ketika Balas Budi Lebih Kuat dari Aturan Dua tahun berlalu. Kampanye sudah lama dilipat . Spanduk sudah lama turun. Tapi di sebuah instansi pemerintah, sebuah kursi baru saja pindah tangan—tanpa diklat, tanpa merit, hanya dengan satu kata ajaib: balas budi. Dan aturan? Aturan menonton dari balik kaca.

Penjaga Pintu yang Tidak Membaca

Ketika para pengurus literasi sibuk rapat tentang membaca, tapi lupa kapan terakhir kali mereka membuka buku

Spanduk "Ayo Membaca" di Depan Gedung yang Tak Ada Bukunya

Tentang kampanye literasi yang meriah, dopamin yang lebih kencang, dan pertanyaan yang tidak ada di dalam kuisioner mana pun

Wartawan di Zaman Banjir Informasi

 Ketika Sepuluh Aturan Lama Menjadi Pelampung Terakhir Sebuah feature reflektif tentang jurnalisme, kebenaran, dan nasib kita bersama di lautan informasi yang tak lagi bisa dipercaya

Selamat Datang di Panggung Sulap Terbesar di Saku Celana Anda

Ketika Penipu Lebih Rajin Bekerja daripada Kita, dan Mengapa Kita Terus Saja Jatuh Ada satu jenis manusia yang paling produktif di abad ini. Bukan ilmuwan yang merancang vaksin. Bukan guru yang sabar mengeja huruf di depan anak-anak kelas satu. Bukan perawat yang berdiri dua belas jam tanpa duduk.

Perebutan Perhatian di Era Algoritma

Ketika Berita Tidak Lagi Milik Wartawan

Buah Busuk, Hati Busuk, dan Kesabaran yang Tidak Perlu Teriak

Sore itu tidak ada yang istimewa. Langit kelabu. Kopi di meja sudah mulai kehilangan uapnya. Dan saya— seperti kebanyakan sore —sedang berdiri tanpa tujuan jelas di dekat jendela, menatap pohon mangga milik tetangga yang tumbuh miring ke arah pagar. Satu buahnya menarik perhatian saya. Cokelat. Keriput. Menggantung di ujung ranting seperti orang yang sudah menyerah pada segalanya, tapi belum juga jatuh. Saya bertanya-tanya sejak kapan buah itu seperti itu. Dan kenapa tidak ada yang memetiknya.