Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

Tomohon di Persimpangan

 Di Tomohon, bunga memang selalu tepat waktu mekar. Anggaran, sayangnya, punya kebiasaan sendiri: sering telat, kadang malah menyusut. Tahun 2026 jadi pelajaran berharga bagi Kota Bunga: keindahan sejati bukan lahir dari pesta gemerlap semata, melainkan dari ketepatan mengambil keputusan ketika dompet daerah sudah agak kurus.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Rasa yang Tidak Membohongi

Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti kopi tanpa gula: pahit, tapi justru di situlah kita belajar membedakan rasa asli dan janji pemanis. (Tulisan ini adalah cerpen tentang kehidupan—kisah sosial yang terjadi sehari-hari, bisa menimpa siapa saja, tanpa perlu undangan khusus, tanpa aba-aba.)

‎‎Saat Kekuasaan Lupa Cara Bersikap

 Kekuasaan sejatinya mengajarkan tata krama paling dasar: tahu kapan berbicara, kapan mendengar, dan kapan menahan diri. Namun ada masa ketika ia justru lupa caranya bersikap—seolah jabatan cukup tinggi untuk membebaskan diri dari kewajiban berpikir. 

Di Atas Bara, Bunga Tumbuh

" Tapi kalau meletus bagaimana ?" " Ya mengungsi ." " Sesimpel itu ?"

Tetap Setia pada Kata

  Pagi ini saya tak mengejar berita—hanya angin, kenangan, dan satu-dua kalimat yang ingin pulang ke hati. Dulu jari saya berlari mengejar deadline; kini ia berjalan santai, sambil ngopi dan mengingat-ingat, bekerja dengan kenangan dan peristiwa yang tak pernah benar-benar libur. 

Antara Selimut Kehangatan dan Janji yang Memudar

 Zona nyaman itu enak… sampai janji-janjimu memudar di bawah debu kenyamanan. ‎ ‎Zona nyaman. Ah, siapa yang bisa menolak? Rasanya seperti pelukan hangat dari selimut tebal di hari yang dingin, ditemani Netflix dan camilan tanpa batas. Ini adalah surga yang diperbolehkan—tempat di mana alarm ditunda, rencana diet menguap, dan janji-janji ambisius yang pernah diucapkan perlahan bertransformasi menjadi debu halus di bawah sofa.️ ‎‎Kita semua pernah di sana, menikmati kehangatan palsu itu, sampai tiba-tiba akhir pekan menyergap. Rasanya seperti ada spotlight dadakan menyorot tumpukan cucian yang belum dilipat dan daftar resolusi yang bahkan belum disentuh. ‎‎Kenikmatan itu ternyata hanya hipnotis. Ingat, janji-janji tidak pernah mati, mereka hanya pindah alam ke dimensi “ Tunda Dulu Sampai Tahun Depan .”

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

  ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.