Langsung ke konten utama

Postingan

SOROTAN

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)
Postingan terbaru

Pasar Ekstrem: Tempat di Mana Tradisi Tidak Pakai Filter

Bau itu menyambut Anda sebelum Anda tiba. Bukan bau bunga—meski Tomohon menyebut dirinya Kota Bunga dengan bangga , dengan spanduk dan plakat di pintu masuk kota yang tercetak indah dan penuh keyakinan. Bukan juga bau tanah basah setelah hujan, yang biasanya turun di sini seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pamit. Bukan bau rempah pasar biasa yang menggoda di balik batas kewajaran. Bau ini—bagaimana mendeskripsikannya dengan hormat?—adalah bau yang memiliki 'kepribadian'. Ia maju ke depan. Ia memperkenalkan diri. Ia tidak menunggu Anda siap. Selamat datang di Pasar Tradisional Beriman Wilken, Tomohon, Sulawesi Utara. Dunia menyebutnya dengan nama yang lebih jujur: " Pasar Ekstrem ".

Puncak yang Terlalu Manis untuk Dijual

Bukit Wawo sedang bersolek. Tanah yang dulu akrab dengan cangkul kini ramai cekrek kamera. Pemandangannya bintang lima. Tapi ada yang pelan-pelan hilang.

Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

Kota yang Hobi Memecahkan Rekor (Sambil Berbunga-bunga)

‎Tomohon itu unik—sangat unik. Di saat kota lain sibuk cari cara tampil beda, Tomohon tinggal bilang: ‎“Tenang, kita pecahkan rekor saja.” Sebuah reportase dari Tomohon —kota yang punya tiga gunung, jutaan bunga, dan ambisi yang tidak pernah setengah hati Setiap kota punya cara tersendiri untuk memperkenalkan diri kepada dunia.

Ketika Alam Memanggil

Foto itu sudah lama tersimpan. Sudah lama juga saya ke tempat ini. Tapi memori bisa dibangkitkan kapan saja—dan kali ini, saat saya membuka kembali gambar-gambar itu, saya merasa perlu menuliskannya. Bukan karena ceritanya istimewa, tapi karena tempatnya memang selalu memanggil untuk dikisahkan ulang.

Festival Bunga, Pagar Knock-Down, dan Multiplier Effect yang Entah ke Mana

Agustus di Tomohon selalu datang membawa dua hal sekaligus: aroma bunga krisan—kulo dan riri—yang menguar dari lereng Lokon, dan aroma retorika pemerintah yang menguar dari semua siaran pers. Keduanya harum. Keduanya sementara. Dan keduanya, setelah musim berlalu, tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam di dompet warga biasa.

Pelayaran Rumah Kayu Menuju Penjuru Dunia

Kalau pohon bisa berbicara—dan untunglah mereka tidak bisa, sebab kita tidak akan tahan mendengar keluhan mereka—mungkin beginilah kira-kira yang akan mereka ceritakan: " Saya tumbuh selama seratus tahun di lereng Sulawesi. Saya menampung sarang burung, meneduhkan babi hutan, menyimpan air hujan di akar-akar saya. Lalu suatu hari, tiba-tiba saya sudah jadi cottage di Maladewa ."

Si Pohon Penjaga dan Bisikan Tiga Warna

Sore itu, cahaya matahari sudah mulai turun miring. Angin dari arah danau membawa aroma belerang yang menyengat—bukan tidak menyenangkan, melainkan seperti tanda: kamu sudah sampai .

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Ketika Batu Nisan Menjadi Penjaga Ingatan

Di balik kesunyian Taman Pekuburan Tua Kamasi, tersimpan lapisan-lapisan sejarah yang lebih tua dari kota itu sendiri.