Langsung ke konten utama

1.186 Masjid yang Berbicara: Saat Data BPS Sulawesi Utara Mengungkap Cerita Migrasi dan Toleransi

Sebuah Provinsi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Satu Kalimat

Harmoni di Bumi Nyiur Melambai: Potret udara deretan masjid berkubah hijau yang tersebar dari pesisir pantai hingga dataran tinggi Sulawesi Utara, berlatar pegunungan berkabut yang berselimut cahaya hangat matahari pagi. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI)


📖 DAFTAR ISI

    Angka di spreadsheet BPS terlihat dingin dan membosankan. Tapi kalau dibaca dengan sabar, ia bisa bercerita tentang sejarah, migrasi, identitas, dan toleransi yang jauh lebih kaya dari tagline pariwisata mana pun.

    Ada jenis data yang tampak biasa-biasa saja sampai Anda mulai menelitinya lebih jauh.

    Tabel BPS berjudul "Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota dan Jenisnya" adalah salah satunya. Formatnya sederhana. Kolomnya rapi. Angka-angkanya tidak bergerak, tidak berdebat, tidak mengeluh. Ia hanya duduk diam di sana, menunggu dibaca.

    Dan ketika akhirnya dibaca dengan serius—bukan sekadar dibuka lalu ditutup—ia mulai berbicara. Pelan-pelan, tapi dengan suara yang cukup keras untuk membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

    Maka inilah cerita dari angka-angka itu.

    1.186: Bukan Angka yang Berdiri Sendiri

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2023 mencatat total 1.186 masjid yang tersebar di 15 kabupaten dan kota. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terdengar banyak. Bagi yang lain, mungkin terdengar sedikit. Keduanya tidak salah—tergantung dari mana Anda berdiri.

    Yang perlu diketahui sebagai konteksnya: Sulawesi Utara adalah provinsi dengan komposisi penduduk yang unik di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), sekitar 31,9 persen penduduk Sulawesi Utara beragama Islam pada 2023—sekitar 847,97 ribu jiwa. Lebih dari dua pertiga sisanya menganut berbagai keyakinan lain.

    Dalam gambaran seperti itu, 1.186 masjid bukan angka yang bisa dianggap remeh. Ia adalah manifestasi fisik dari ratusan ribu warga yang membutuhkan tempat untuk shalat Jumat, melangsungkan pernikahan, menggelar tahlilan, dan mengajari anak-anak mereka mengeja huruf hijaiyah.

    Ia adalah peta. Dan peta itu menyimpan banyak cerita.

    Separuh Masjid Sulut Ada di Sini

    Jika ada satu kawasan yang paling padat masjidnya di Sulawesi Utara, jawabannya hampir pasti: Bolmong Raya—kawasan yang mencakup empat kabupaten pemekaran Bolaang Mongondow ditambah Kota Kotamobagu.

    Gabungkan angkanya dan hasilnya mengejutkan. Bolaang Mongondow (Bolmong) 188 masjid, Kotamobagu 127, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) 118, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) 105, dan Bolaang Mongondow Timur (Boltim) 70 masjid. Total: 608 masjid—atau 51,3 persen dari seluruh masjid di provinsi ini.

    Lebih dari separuh masjid Sulawesi Utara berdiri di kawasan Bolmong Raya. Bukan kebetulan.

    Kawasan ini secara historis adalah kantong komunitas Muslim terbesar di provinsi ini. Dan itu terbaca langsung dari lanskap fisiknya: kubah dan menara adalah pemandangan yang lumrah, sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan di bagian lain Sulawesi Utara. Yang menarik adalah angka dari Bolaang Mongondow induk (188) yang tetap paling tinggi, meski sudah dimekarkan menjadi tiga kabupaten baru. Artinya, proses pemekaran yang berlangsung sejak awal 2000-an tidak banyak menggeser pusat gravitasi itu.

    Satu detail lain yang tidak kalah menarik: di Bolaang Mongondow juga tercatat 159 pura Hindu—terbanyak di seluruh Sulawesi Utara. Ini adalah jejak para transmigran Bali yang menetap di kawasan itu sejak beberapa dekade lalu dan menurunkan generasi yang kini sudah berakar. Di kawasan yang mayoritas Muslim, komunitas Hindu membangun pura. 

    Manado: Ibu Kota yang Tidak Bisa Diprediksi

    Kota Manado mencatatkan 202 masjid pada 2023—angka tertinggi di antara seluruh 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, melampaui Bolaang Mongondow yang luasnya jauh lebih besar.

    Angka ini mungkin mengejutkan siapa pun yang punya bayangan bahwa Manado adalah kota yang "serba Kristen." Bayangan itu tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya akurat juga. Manado adalah ibu kota provinsi, pusat ekonomi, pusat pendidikan, dan magnet bagi perantau dari seluruh penjuru nusantara—dari Gorontalo, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jawa, Maluku, dan seterusnya. Komunitas Muslim di Manado adalah komunitas kota besar yang hidup dan dinamis.

    Dan angka 202 masjid itu hidup berdampingan dengan lebih dari seribu gereja Kristen di kota yang sama. Manado tidak perlu klaim "kota toleransi" dalam brosur wisata jika datanya sendiri sudah bercerita dengan cukup tegas.

    Bitung dan Minahasa Utara: Ketika Pabrik Ikan Mengundang Dunia

    Kota Bitung mencatatkan 95 masjid, sementara Minahasa Utara (Minut) mencatatkan 67 masjid. Dua wilayah yang bertetangga ini menyimpan cerita yang serupa: keduanya adalah kawasan industri dan pelabuhan yang sejak lama menarik tenaga kerja dari berbagai daerah.

    Bitung, khususnya, dikenal sebagai salah satu pusat industri perikanan terbesar di Indonesia timur. Kapal-kapal sandar, kontainer bergerak, dan di dalamnya bergerak pula ribuan pekerja dari Gorontalo, Sulawesi Tenggara (Sultra), Ternate, dan tempat-tempat lain yang sebagian besar komunitasnya Muslim. Mereka datang untuk bekerja, menetap, menikah, punya anak, dan membangun masjid.

    95 masjid di Bitung bukan sekadar statistik. Ia adalah catatan harian dari sebuah kota yang hidupnya bergantung pada ikan dan keberanian orang-orang yang memutuskan merantau.

    Sangihe: Seratus Masjid di Ujung Utara

    Di ujung utara Sulawesi, berbatasan langsung dengan Filipina, Kepulauan Sangihe mencatatkan 100 masjid dalam data BPS 2023.

    Sangihe adalah gugusan pulau kecil yang tersebar di lautan, jauh dari pusat-pusat keramaian provinsi. Sebagian besar penduduknya adalah Kristen Protestan—warisan dari gelombang Injil yang masuk ke kepulauan itu jauh sebelum Indonesia merdeka. Tapi di tengah itu semua, ada komunitas Muslim yang cukup besar dan cukup lama berdiam di sana untuk membangun dan mempertahankan seratus rumah ibadah.

    Seratus masjid di kepulauan terpencil itu bukan sekadar angka. Ia adalah bukti bahwa kehadiran tidak selalu butuh mayoritas untuk bisa bertahan.

    Sitaro dan Talaud: Tiga dan Delapan

    Di antara seluruh angka dalam data BPS 2023, dua yang paling kecil datang dari Kepulauan Sitaro dengan 3 masjid dan Kepulauan Talaud dengan 8 masjid.

    Sitaro—singkatan dari Siau, Tagulandang, dan Biaro—adalah kepulauan di mana BPS mencatat 326 gereja Kristen. Artinya, untuk setiap satu masjid di Sitaro, ada lebih dari seratus gereja. Ini bukan sindiran; ini hanya aritmatika sederhana yang mencerminkan komposisi demografis di sana.

    Yang menarik bukan kecilnya angka itu. Yang menarik adalah bahwa angka itu ada. Tiga masjid di Sitaro dan delapan masjid di Talaud adalah penanda bahwa di wilayah yang paling jauh sekalipun, selalu ada saja sebagian kecil warga yang butuh tempat untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya. Dan kepulauan itu menyediakan ruangnya.

    Tomohon: Empat Masjid, Lima Ratus Tujuh Puluh Delapan Gereja

    Kota Tomohon mencatatkan angka yang paling ekstrem dalam keseimbangannya: 4 masjid dan 578 gereja Kristen dalam satu kota.

    Ini bukan data yang perlu dibuat dramatis. Tomohon adalah kota yang sejak ratusan tahun lalu menjadi pusat kebudayaan Minahasa—komunitas yang hubungannya dengan Kekristenan bukan sekadar keyakinan, tapi bagian dari identitas kolektif yang dibentuk oleh sejarah panjang. Wajar jika gereja tumbuh seperti pohon cengkih di lereng-lereng gunung dan bukit di tanah Minahasa raya.

    Empat masjid di Tomohon bukan tanda bahwa kota ini tidak ramah. Ia lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa komposisi penduduknya memang demikian adanya—dan keempat masjid yang ada mencukupi kebutuhan komunitas yang ada.

    Kabupaten Minahasa sendiri mencatatkan 34 masjid, Minahasa Selatan (Minsel) 30, dan Minahasa Tenggara (Mitra) 35—angka-angka yang menunjukkan bahwa di dataran dan pegunungan Minahasa yang lebih luas, komunitas Muslim juga hadir, meski bukan sebagai mayoritas.

    Angka yang Paling Sering Dilupakan

    Di tengah semua cerita tentang masjid dan gereja, ada satu kolom dalam data BPS yang sering diabaikan: vihara dan klenteng.

    Sulawesi Utara mencatat 29 vihara dan 5 klenteng. Jumlahnya kecil, tapi keberadaannya penting. Manado sendiri memiliki 18 vihara—terbanyak di provinsi ini—cerminan dari komunitas Tionghoa-Buddha yang sudah lama berakar di kota pelabuhan itu. Sementara Kota Tomohon, ternyata memiliki 3 vihara.

    Keberagaman itu ternyata lebih berlapis dari yang kelihatan di permukaan.

    Yang Sebenarnya Sedang Kita Bicarakan

    Totalnya begini: Sulawesi Utara pada 2023 memiliki 1.186 masjid, 5.948 gereja Kristen, 299 gereja Katolik, 170 pura, 29 vihara, dan 5 klenteng. Seluruhnya berjumlah 7.637 unit tempat ibadah untuk provinsi dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa.

    Kalau dihitung kasar, itu berarti ada sekitar satu tempat ibadah untuk setiap 340 penduduk. Rasio yang cukup padat—dan itu belum menghitung ribuan musala kecil di kampung-kampung yang tidak tercatat dalam statistik resmi.

    Angka-angka ini tentu tidak sempurna. BPS sendiri mengakui bahwa pendataan tempat ibadah bergantung pada laporan yang masuk, dan tidak setiap musala atau kapel kecil masuk dalam hitungan. Ada yang terlewat. Ada yang belum diverifikasi. Dinamika terus berjalan—masjid baru dibangun, bangunan lama mungkin beralih fungsi.

    Tapi sebagai potret satu momen dalam sejarah provinsi ini, data 2023 ini adalah yang paling valid yang tersedia untuk publik. Dan potret itu memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kalimat atau satu tagline.

    Sulawesi Utara adalah tempat di mana angka-angka tentang rumah ibadah—dalam semua jenisnya—tidak pernah seragam dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Ia berubah sesuai sejarah wilayah, sesuai arus migrasi, sesuai dinamika ekonomi, dan sesuai pilihan-pilihan panjang yang dibuat oleh jutaan orang selama berabad-abad.

    Dan itulah yang membuatnya layak untuk terus dibaca.

    Catatan Data
    Seluruh angka dalam tulisan ini bersumber dari BPS Provinsi Sulawesi Utara, Tabel Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kabupaten/Kota dan Jenisnya, 2023, yang merupakan bagian dari publikasi resmi Sulawesi Utara Dalam Angka. Data kependudukan beragama Islam merujuk pada catatan Dukcapil Kementerian Dalam Negeri per 31 Desember 2023, sebagaimana dilaporkan Databoks/Katadata.

    PENULIS

    Foto Donny Turang

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

    Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

    Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

    DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

    Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

    Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

    Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

    Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

    Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

    Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.