Langsung ke konten utama

Pasar Ekstrem: Tempat di Mana Tradisi Tidak Pakai Filter

Bau itu menyambut Anda sebelum Anda tiba.

Bukan bau bunga—meski Tomohon menyebut dirinya Kota Bunga dengan bangga, dengan spanduk dan plakat di pintu masuk kota yang tercetak indah dan penuh keyakinan. Bukan juga bau tanah basah setelah hujan, yang biasanya turun di sini seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pamit. Bukan bau rempah pasar biasa yang menggoda di balik batas kewajaran.

Bau ini—bagaimana mendeskripsikannya dengan hormat?—adalah bau yang memiliki 'kepribadian'. Ia maju ke depan. Ia memperkenalkan diri. Ia tidak menunggu Anda siap.

Selamat datang di Pasar Tradisional Beriman Wilken, Tomohon, Sulawesi Utara. Dunia menyebutnya dengan nama yang lebih jujur: "Pasar Ekstrem".

📖 DAFTAR ISI

    Aktivitas di Pasar Ekstrem Tomohon.
    Aktivitas di Pasar Ekstrem Tomohon. (foto: doc)

    Tiga Gunung dan Satu Pasar

    Di kaki Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—tiga raksasa vulkanik yang kadang berkabut seperti dewa-dewa tua yang sedang berpikir, kadang jernih seperti poster pariwisata yang baru saja keluar dari percetakan—kota ini hidup dengan ritme yang tidak terburu-buru.

    Tomohon adalah kota yang cantik dengan cara yang tidak pamer. Bunga-bunganya sungguhan, bukan hiasan. Udaranya dingin bahkan di siang hari, hasil negosiasi alami antara ketinggian dan angin dari laut yang berputar melewati pegunungan. Jalannya berliku seperti cerita pendek yang bagus: tidak panjang, tapi penuh tikungan yang tidak terduga.

    Dan di tengah keindahan yang agak tenang itu, berdirilah pasar ini.

    Untuk sampai ke sana, Anda naik ke dataran yang lebih tinggi, melewati Terminal Beriman Tomohon yang tampak seperti pasar itu sendiri sudah tidak sabar menunggu Anda di depan pintu. Lokasi resminya: Paslaten Satu, Kecamatan Tomohon Timur. Jaraknya sekitar satu jam dari Manado jika lalulintas bersahabat—dan di Sulawesi Utara, lalulintas memang sering bersahabat, dan tidak bersahabat, meski cara bertemannya kadang membingungkan.

    Pasar ini tidak lahir di sini. Ia bermigrasi.

    Awalnya berdiri di Kamasi—di belakang kantor lurah yang sekarang, sebuah tempat yang kini hanya bisa dibayangkan oleh orang-orang yang pernah tua bersama kota ini. Kemudian bergeser ke Paslaten, pertama, ke lokasi yang kini berdiri Anugerah Hall dan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu naik lagi, ke timur, ke dataran yang lebih tinggi, dan di sanalah ia akhirnya memutuskan untuk tinggal.

    Pasar yang tidak mau diam adalah pasar yang hidup. Dan yang ini, terbukti sangat hidup.

    Tentang Nama yang Berat

    Nama resminya mengandung sejarah yang tidak ringan: 

    "Pasar Tradisional Beriman Wilken".

    "Beriman" bukan sekadar kata yang dipilih karena bunyinya bagus. Ia adalah cermin dari religiositas masyarakat Minahasa yang mendarah daging—sebuah masyarakat yang membangun gereja di mana-mana dan menyanyikan mazmur dengan sungguh-sungguh, sambil, pada saat yang sama, menjual hal-hal yang akan membuat beberapa teolog memerlukan waktu duduk dan berpikir.

    "Wilken" menghormati Pendeta Nicolaas Philip Wilken—seorang zendeling Belanda yang berpengaruh besar dalam pendidikan dan kebudayaan Minahasa, khususnya di Tomohon. Ia adalah salah satu orang yang membawa literasi, pencatatan bahasa, dan perubahan besar ke tanah ini. Bahwa namanya kini tersemat pada sebuah pasar yang terkenal menjual hal-hal yang tidak umum dijual—ini adalah semacam ironi sejarah yang hanya bisa diterima dengan senyum lelah.

    Pendeta Wilken, seandainya ia bisa tahu, mungkin akan bereaksi dengan berbagai cara yang berbeda. Tapi kemungkinan besar ia sudah terbiasa dengan kejutan, mengingat ia memilih bertugas di wilayah yang paling tidak bisa ditebak di Nusantara.

    Julukan populernya? Lebih pendek. Lebih dramatis. Lebih jujur.

    "Pasar Ekstrem."

    Dua kata yang tidak memerlukan penjelasan panjang. Dua kata yang sudah mengelilingi dunia melalui artikel perjalanan, vlog wisatawan asing yang terbelalak, dan video dokumenter internasional yang menampilkan pasar ini dengan musik latar yang penuh ketegangan—seolah-olah berbelanja sayuran di sini memerlukan keberanian yang sama dengan mendaki Gunung Lokon tanpa pemandu.

    Inventaris yang Tidak Biasa

    Marilah kita bicara jujur tentang apa yang membuat pasar ini "ekstrem"—karena bagaimanapun, kejujuran adalah inti dari jurnalisme yang baik, dan juga, rupanya, dari pasar ini.

    Di sini dijual "paniki"—kelelawar buah yang setelah dimasak, katanya, rasanya seperti ayam yang pernah membuat keputusan hidup yang lebih petualang. Ia digantung di lapak dengan cara yang, bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, bisa menimbulkan berbagai perasaan sekaligus.

    Di sini dijual "kawok"—tikus hutan berekor putih. Bukan tikus got, harap dicatat. Tikus hutan, dengan reputasinya sebagai protein hasil buruan yang lebih terhormat. Bedanya mungkin tidak terasa di lidah, tapi sangat terasa di identitas kuliner.

    Di sini dijual "patola"—ular piton. Kadang sudah dipotong menjadi bagian-bagian yang rapi. Kadang digulung seperti syal mahal yang kebetulan terbuat dari ular. Ada estetika tertentu di sini yang membutuhkan waktu untuk diapresiasi.

    Babi hutan. Babi kampung. Biawak. Berbagai jenis daging yang tidak akan Anda temukan di supermarket modern dengan pencahayaan fluoresen dan musik instrumen yang menenangkan.

    Dan dulu—sebelum pemerintah kota mengambil keputusan bersejarah—anjing dan kucing.

    Tentang yang terakhir ini, mari kita beri catatan tambahan: Pemerintah Kota Tomohon telah melarang penjualan daging anjing dan kucing. Ini adalah keputusan yang bukan tanpa pertentangan—karena bagi sebagian masyarakat lokal, ini bukan soal selera, ini soal tradisi. Tapi juga bukan tanpa dasar—karena bagi dunia yang semakin memperhatikan kesejahteraan hewan dan risiko kesehatan masyarakat, ini adalah percakapan yang tidak bisa lagi dihindari.

    Larangan itu ada. Pelaksanaannya adalah cerita lain yang sedang terus ditulis.

    Sensori yang Komprehensif

    Seorang penulis yang baik tidak hanya menceritakan apa yang dilihat. Ia menceritakan apa yang didengar, dicium, diraba, dan dirasakan di dalam dada—itu perasaan yang tidak selalu bisa diberi nama.

    "Yang dilihat": Warna darah di lantai beton yang sudah dicuci berkali-kali tapi masih menyimpan kenangan. Bulu yang terbakar di satu sudut, menghasilkan asap tipis yang naik seperti doa yang salah alamat. Pedagang berjas plastik—bukan karena gaya, tapi karena ini pekerjaan yang memerlukan perlindungan. Pembeli yang bergerak dengan kepastian orang yang tahu persis apa yang mereka cari, berbeda dengan wisatawan yang bergerak dengan kepastian orang yang tidak yakin apakah mereka harus melanjutkan atau berbalik.

    Buah-buahan. Sayuran. Bumbu. Kain. Pakaian. Kebutuhan sehari-hari yang sama seperti pasar mana pun di Indonesia. Di sela-selanya, hal-hal lain itu—yang membuat pasar ini berbeda dari semua yang lain.

    "Yang didengar": Suara tawar-menawar yang lincah dalam bahasa Melayu Manado yang melodis—bahasa yang selalu terdengar seperti seseorang sedang bergurau meski sedang serius. Bunyi pisau di atas papan kayu. Suara kendaraan dari terminal di sebelah. Ayam berkokok di sudut yang tidak terduga. Dan sesekali, suara wisatawan yang sedang merekam video dengan komentar berbisik dalam berbagai bahasa yang artinya kurang lebih sama: "Aku tidak yakin aku benar-benar siap untuk ini."

    "Yang dicium": Ini adalah bagian yang paling sulit dideskripsikan tanpa terdengar terlalu dramatis atau terlalu meremehkan. Campuran organik yang kaya—darah, tanah, asap, bumbu, ikan segar, dan hal-hal lain yang lebih baik dibiarkan menjadi abstraksi—menciptakan sesuatu yang tidak dapat disebut menyenangkan dalam pengertian aromaterapi, tapi juga tidak dapat disebut asing bagi siapa pun yang pernah hidup dekat dengan sumber makanan yang sesungguhnya.

    Pasar modern mengajarkan kita untuk tidak mencium dari mana makanan kita berasal. Pasar ini menolak kebohongan yang nyaman itu.

    "Yang dirasakan": Udara dingin Tomohon yang bertarung dengan panas aktivitas pasar. Lantai yang sedikit licin di beberapa titik. Dan sesuatu yang lebih abstrak—perasaan berdiri di persimpangan sejarah, di tempat di mana cara hidup yang sudah ada berabad-abad bertemu dengan dunia yang berubah terlalu cepat untuk menunggu siapa pun.

    Wisatawan dan Paradoks Viral

    Pasar ini terkenal. Lebih terkenal dari yang pernah direncanakan oleh siapa pun.

    Sebelum pandemi COVID-19 menutup penerbangan langsung Manado–Guangzhou, wisatawan dari China datang secara terorganisir. Mereka adalah bagian dari gelombang pariwisata yang membuat angka kunjungan Sulawesi Utara naik tajam dan wajah orang-orang dinas pariwisata bersinar.

    Wisatawan Eropa dan Amerika datang dengan motivasi yang berbeda—sebagian karena rasa ingin tahu yang tulus, sebagian karena mencari konten yang tidak biasa untuk diceritakan kembali di negara asal mereka, dan sebagian kecil karena kecelakaan navigasi GPS yang tidak bisa disalahkan pada siapa pun.

    Mereka merekam. Mereka mengunggah. Mereka menulis artikel dengan judul-judul yang mengandung kata "shocking", "extreme", "bizarre" dalam berbagai bahasa. Dan pasar ini, yang tadinya hanya menjalankan fungsinya sebagai pasar tradisional biasa—enfasis pada kata 'biasa' dari sudut pandang masyarakat setempat—tiba-tiba menjadi fenomena global.

    Paradoksnya menarik: tempat yang bagi masyarakat lokal adalah bagian dari rutinitas mingguan yang biasa, bagi dunia luar adalah destinasi yang memerlukan kategori tersendiri dalam aplikasi wisata.

    Bagi pedagang, ini berarti peluang—atau setidaknya, peluang bagi pedagang tertentu yang tahu cara memanfaatkan ketenaran yang tidak diminta. Bagi pemerintah kota, ini berarti pusing yang konstruktif: bagaimana merawat identitas budaya yang sah tanpa terlihat seperti sedang menjual sensasi?

    Pertanyaan itu belum sepenuhnya dijawab. Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya dijawab, karena jawabannya terus bergerak.

    Hukum, Etika, dan Ilmu Pengetahuan yang Tak Diundang

    Dunia yang semakin terhubung membawa konsekuensi yang tidak selalu menyenangkan: perhatian.

    Dalam dua dekade terakhir, Pasar Tradisional Beriman Wilken menjadi subjek sorotan dari berbagai organisasi perlindungan hewan, peneliti zoonosis, jurnalis investigasi, dan aktivis yang datang dengan semangat penuh dan kadang dengan pemahaman konteks yang kurang.

    Isu yang paling sering diangkat: "Perdagangan satwa liar." Monyet, yang dulu bisa ditemukan di pasar ini—"di hari tertentu", demikian eufemisme yang digunakan, seolah-olah kegelapan memberikan izin berbeda—kini dilarang. Tapi larangan dan kenyataan di lapangan adalah dua hal yang sering berjalan di jalur yang bersilangan.

    "Risiko kesehatan dan zoonosis." Ini bukan ketakutan yang berlebihan. Pandemi mengingatkan kita bahwa batas antara penyakit hewan dan manusia lebih tipis dari yang kita ingin percaya. Kelelawar khususnya—paniki yang lezat itu—berada di pusat perdebatan ilmiah tentang penularan virus. Ini bukan tuduhan, ini adalah percakapan yang perlu berlanjut dengan data, bukan dengan kepanikan.

    "Peraturan daerah" telah ada: Perda Kota Tomohon No. 1 Tahun 2017 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Rabies, diikuti Instruksi Walikota Tomohon No. 108 Tahun 2023 tentang Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian Peredaran Hewan Penular Rabies. Dokumen-dokumen ini ada. Tintanya nyata. Implementasinya adalah pekerjaan yang terus menerus, seperti mengajarkan lautan untuk tidak berombak—mungkin tidak sepenuhnya berhasil, tapi terus dicoba.

    Yang menarik adalah ini: keputusan melarang penjualan anjing dan kucing—yang ditolak sebagian masyarakat sebagai intervensi asing terhadap budaya lokal—sejatinya adalah bukti bahwa budaya tidak pernah benar-benar beku. Ia bernegoisasi. Ia mendengar. Kadang terlambat. Kadang dengan cara yang tidak elegan. Tapi ia bergerak.

    Budaya yang tidak bisa bergerak adalah budaya yang sudah selesai.

    Infrastruktur yang Tidak Terlihat

    Ada cerita lain di balik pasar ini yang jarang masuk ke dalam vlog wisatawan: cerita tentang air yang mengalir ke bawah.

    Lokasi pasar di dataran tinggi bukan tanpa konsekuensi bagi kota di bawahnya. Drainase—kata yang terdengar teknis dan membosankan sampai Anda melihat banjir yang meluap dari saluran air setelah hujan deras—adalah tantangan nyata. Air limpasan dari aktivitas pasar membawa bersamanya hal-hal yang tidak ingin kita sebutkan terlalu terperinci: sisa organik, lumpur, partikel dari aktivitas penyembelihan yang skala dan jenisnya tidak kecil.

    Puluhan ton sampah organik per hari. Angka yang mudah diucapkan, sulit dibayangkan, dan lebih sulit lagi dikelola.

    Dinas Lingkungan Hidup Kota Tomohon dan PD Pasar bekerja—seperti yang pernah dikatakan seseorang dalam narasi ini dengan cara yang puitis—"seperti dua kru panggung yang memastikan semua berjalan baik saat penonton tidak melihat."

    Penonton biasanya tidak melihat. Penonton sedang sibuk merekam video kelelawar.

    Ini bukan kritik terhadap wisatawan. Mereka datang untuk apa yang terlihat, bukan untuk apa yang ada di baliknya. Tapi jurnalisme—dan masyarakat yang sehat—perlu memperhatikan kedua-duanya.

    Catatan dari Seorang Lokal yang Bukan Wisatawan

    Ada perspektif yang sering hilang dalam semua narasi tentang pasar ini: perspektif orang yang berbelanja di sini setiap hari karena memang itu yang dilakukan, bukan karena ada di bucket list.

    Bagi ibu-ibu Tomohon, Minahasa yang datang pagi-pagi dengan kantong kresek dan tahu persis mana lapak bumbu yang paling segar, pasar ini bukan "ekstrem". Ia adalah pasar. Ia adalah tempat di mana harga bisa ditawar, pedagang kenal nama Anda, dan kualitas daging bisa dilihat langsung tanpa terbungkus plastik dengan stiker "organik" yang harganya dua kali lipat.

    Kuliner ekstrem Minahasa—paniki, kawok, patola, RW yang terkenal itu—bukan sesuatu yang muncul untuk mengejutkan dunia. Ia muncul karena hutan Sulawesi Utara kaya akan protein yang bisa diburu, dan masyarakat yang hidup bergantung pada hutan belajar mengolah apa yang ada. Ini adalah kearifan lokal yang bisa diperdebatkan etikanya oleh dunia modern, tapi tidak bisa dipahami tanpa mengerti konteks geografis, historis, dan budayanya.

    Mengkritik kuliner Minahasa tanpa konteks adalah seperti mengkritik kebiasaan makan sashimi tanpa mengerti budaya Jepang, atau menghakimi foie gras tanpa memahami sejarah kuliner Perancis. Semua tradisi kuliner punya bagian gelap jika dilihat dari sudut pandang tertentu. Pertanyaannya bukan apakah ada yang perlu diubah—mungkin ada. Pertanyaannya adalah siapa yang berhak memimpin percakapan itu, dan bagaimana percakapan itu dilakukan.

    Museum yang Masih Beroperasi

    Pasar Tradisional Beriman Wilken adalah museum hidup. Bukan museum dengan dinding putih dan label keterangan di bawah benda-benda yang sudah tidak dipakai lagi. Museum yang masih berjalan, masih berdenyut, masih bau.

    Di sini, Anda bisa melihat bagaimana masyarakat Minahasa—sebelum supermarket, sebelum Tokopedia, sebelum food delivery—memenuhi kebutuhan proteinnya. Anda bisa melihat jejak ekologi yang kompleks: hutan yang diburu, hewan yang diolah, tubuh manusia yang diberi makan, dan siklus yang sudah berlangsung jauh sebelum ada kata "sustainable" dalam kamus manapun.

    Apakah siklus itu berkelanjutan di dunia sekarang? Itu pertanyaan yang lebih sulit.

    Populasi kelelawar Sulawesi sudah di bawah tekanan, bukan hanya dari perburuan tapi dari hilangnya habitat. Tikus hutan yang diburu dari pegunungan mungkin tidak diambil dari populasi yang sama seperti seratus tahun lalu. Ular piton yang digulung rapi di lapak—dari mana asalnya, dan apakah ada angka yang bisa dipegang?

    Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menutup pasar. Mereka adalah untuk memastikan bahwa tradisi yang dirayakan juga bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang—dalam bentuk yang masih punya sesuatu untuk dirayakan.

    Tentang Pasar yang Berubah Tanpa Berhenti Menjadi Dirinya

    Kota Tomohon telah berubah sejak pasar ini berdiri pertama kali di Kamasi, di belakang kantor lurah yang kini hanya ada dalam cerita orang tua.

    Terminal beriman yang berdiri di sebelahnya membawa lalu lintas dan kehidupan. Jalan-jalan yang lebih baik membawa wisatawan dari Manado dalam satu jam. Internet membawa perhatian dunia dalam satu video yang diunggah dengan tangan gemetar.

    Dan pasar ini berubah bersamanya—tidak dalam cara yang dramatis dan tidak dalam cara yang mengkhianati dirinya sendiri, tapi dalam cara yang lebih mirip sungai yang menyesuaikan arusnya dengan batu-batu baru di dasarnya.

    Larangan daging anjing dan kucing adalah batu baru. Pengawasan perdagangan satwa liar adalah batu baru. Kesadaran tentang rabies dan zoonosis adalah batu baru.

    Air mengalir di sekitarnya. Kadang menggenangi. Kadang meluber. Tapi mengalir.

    Gunung Lokon masih berdiri di balik pasar ini—megah, tidak terganggu oleh apapun yang terjadi di bawahnya, sesekali mengingatkan semua orang bahwa ia hidup dengan cara yang tidak memerlukan izin siapa pun. Asap tipis yang kadang keluar dari kawahnya adalah pengingat yang baik: di sini, alam tidak pernah sepenuhnya diam.

    Dan di kaki gunung itu, pasar yang telah berjalan bersama waktu ini terus berjalan. Setiap Sabtu lebih ramai. Setiap hari tetap menjadi apa yang ia selalu menjadi: tempat di mana kebutuhan bertemu dengan penawaran, di mana tradisi bertemu dengan kenyataan, dan di mana dunia yang datang dengan kamera di tangan belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dalam keterangan Instagram.

    Pelajaran dari Pasar yang Tidak Minta Maaf

    Di antara aroma yang kuat dan warna yang tidak meminta persetujuan Anda, Pasar Tradisional Beriman Wilken mengajarkan beberapa hal yang tidak ada di brosur wisata manapun.

    "Pertama": Autentisitas tidak selalu nyaman. Tempat-tempat yang paling jujur tentang siapa mereka jarang menjadi tempat yang paling mudah dikunjungi. Tapi kejujuran itu adalah nilainya.

    "Kedua": Tradisi dan perubahan bukan musuh alamiah. Mereka adalah negosiator yang kadang keras kepala, kadang tidak jujur satu sama lain, tapi pada akhirnya harus mencapai kesepakatan jika keduanya ingin bertahan.

    "Ketiga": Konteks adalah segalanya. Pasar yang sama bisa menjadi "tanda kebudayaan yang kaya" atau "tempat yang perlu segera ditertibkan" tergantung dari siapa yang berbicara dan dari sudut mana mereka melihat. Jurnalisme yang baik harus menampung lebih dari satu sudut pandang, bahkan ketika sudut-sudut pandang itu tidak nyaman berdampingan.

    "Keempat—dan ini yang paling penting": Masyarakat yang besar bukan masyarakat yang tidak pernah berubah. Masyarakat yang besar adalah masyarakat yang tahu mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan, cukup percaya diri untuk mempertahankannya ketika perlu, dan cukup bijak untuk melepaskan hal yang memang sudah harus dilepaskan.

    Pasar Beriman Wilken—hidup, ramai, penuh cerita, penuh bau, penuh suara, dan penuh kearifan yang tidak selalu tampak dari permukaan—adalah cermin masyarakat yang sedang dalam proses menjadi versi terbaiknya.

    Prosesnya tidak selesai. Tidak akan pernah selesai.

    Dan itu, pada akhirnya, adalah tanda bahwa ia masih hidup.

    "Catatan penulis": Semua informasi dalam tulisan ini bersumber dari catatan lapangan, dokumen resmi pemerintah, publikasi akademik dari Universitas Sam Ratulangi, dan pemberitaan media yang terverifikasi. Angka dan fakta yang disajikan mengacu pada data yang tersedia hingga saat penulisan.

    PENULIS

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Waspada El Niño 2026–2027

    Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

    Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

    Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

    Mimpi Menjadi Koruptor

    (sebuah novel)

    ‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

    ‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

    Orang-Orang yang Tak Terlihat

    (sebuah novel)

    Untuk Siapa Berita Ditulis?

    Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

    Redaksi Tanpa Awak

     Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

    ‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

    ( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

    Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

      Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.