Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK.
Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai
![]() |
| Jalan Makmur, Paslaten, Tomohon Timur, Kota Tomohon. (foto: don) |
Di sinilah saya pertama kali benar-benar memperhatikan Jalan Makmur.
Bukan karena terkesan. Tapi karena tidak ada yang bisa dilakukan selain memperhatikan.
Jalan itu sepi. Bukan sepi yang damai seperti perpustakaan atau gereja kosong selepas misa pagi—ketika senyap itu terasa sengaja dan penuh makna. Ini sepi yang berbeda. Sepi habis ditinggalkan terburu-buru. Seperti apartemen yang penghuninya kabur malam-malam karena tidak sanggup bayar kontrakan.
Beberapa rolling door toko tertutup setengah berkarat. Cat dinding mengelupas seperti orang yang terlalu lama memendam kecewa dan akhirnya tidak tahan juga. Ada papan nama toko yang hurufnya tinggal separuh—sisanya mungkin sudah pensiun duluan, mengambil pesangon dalam bentuk cat yang terbawa angin.
Di ujung jalan, seorang bapak tua duduk sendiri di depan kios yang tidak jelas masih buka atau sudah tutup permanen. Ia menatap jalanan dengan ekspresi filosofis. Entah sedang merenung tentang makna hidup, atau hanya sedang menunggu pembeli yang dari tadi tidak kunjung datang—keduanya mungkin sama saja ujungnya.
Lalu Nal datang dari arah timur, menenteng tas kresek dan menyalakan rokok dengan gaya orang yang sudah berdamai dengan segala sesuatu.
Nal—nama lengkapnya Renaldo, tapi tidak ada yang memanggilnya begitu kecuali ibunya waktu dia ketahuan bolos sekolah—adalah teman lama saya. Ia lahir dan besar di Tomohon, tahu setiap sudut kota ini seperti tahu isi lemarinya sendiri, dan punya kebiasaan bercerita sambil menghembuskan asap rokok ke arah yang tidak merugikan siapapun.
"Dari tadi di sini?" tanyanya.
"Numpang hujan."
Ia mengangguk, memandangi deretan ruko kusam di depan kami, lalu menghela napas panjang seperti dokter yang baru selesai membaca hasil rontgen pasien yang tidak terlalu menggembirakan.
"Dulu di sini susah cari tempat parkir," katanya. "Sekarang cari manusia saja susah."
Kami tertawa kecil. Salah satu jenis tawa yang setengahnya adalah humor dan setengahnya adalah kesedihan yang tidak tahu harus ke mana.
Nama resminya memang Jalan Makmur—pemberian nama setelah Tomohon resmi menjadi Kota Otonom, lepas dari Kabupaten Minahasa. Sebuah nama yang terdengar optimistis, penuh harapan, seperti nama anak sulung yang diharapkan orangtuanya jadi dokter atau minimal pegawai negeri.
Ironisnya, kemakmuran di jalan itu sekarang tinggal nama.
Dulu, orang mengenalnya sebagai Jalan Pasar. Nama yang sederhana. Jujur. Tidak ada pencitraan. Tidak ada tim konsultan komunikasi yang terlibat dalam penamaannya. Disebut Jalan Pasar ya karena jalan itu menuju pasar. Sesederhana itu. Sebuah kejujuran geografis yang kini sudah menjadi barang langka.
"Waktu namanya masih Jalan Pasar," kata Nal sambil membuang abu rokoknya, "orang sudah tahu mau ke mana. Sekarang namanya Jalan Makmur tapi orang malah tidak ada yang ke sini."
"Mungkin makmur-nya pindah juga," kata saya.
Nal menatap saya sebentar. "Kamu terlalu lama berpikir cuma untuk bilang itu?"
"Tidak juga."
"Sayangnya."
Pasar lama itu, kata Nal, adalah jantung kota yang sesungguhnya. Bukan jantung yang ada di brosur promosi wisata atau presentasi RPJMD. Tapi jantung yang benar-benar memompa darah ke seluruh tubuh kota setiap harinya.
Ia ramai sejak subuh. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru—dari Rurukan dan Kumelembuay yang dinginnya menggigit, dari Lahendong yang bau belerangnya sudah menjadi identitas, dari Woloan, yang rumah kayunya jadi komoditas ekspor tapi warganya tetap hidup sederhana. Juga dari Taratara, Ranotongkor, Lolah, Lemoh (wilayah Tombariri), serta dari Tataaran, Tondano, Kawangkoan, Sonder, bahkan dari Manado.
Pasar itu tempat segalanya terjadi.
"Dulu kalau mau tahu siapa kawin lari, siapa yang main judi, siapa utang belum bayar, siapa baru beli motor, datang saja ke pasar," kata Nal dengan nada nostalgia yang genuine. "Semua informasi ada di situ. Gratis. Tanpa kuota."
"Media sosial zaman dulu," kata saya.
"Lebih cepat malah," jawabnya sambil menghembuskan asap. "Belum sampai rumah, berita sudah sampai duluan."
Saya membayangkan ekosistem informasi itu. Sebuah jaringan komunikasi organik yang berjalan di atas fondasi gosip dan ikan segar. Tidak ada algoritma. Tidak ada filter bubble. Semua orang mendapat berita yang sama sekaligus—baik yang mau maupun tidak mau. Semacam demokrasi informasi yang paksa tapi efektif.
"Bedanya dengan media sosial sekarang," lanjut Nal, "kalau di pasar dulu, beritanya minimal bisa dicek langsung. Tanya ibu tibo yang berjualan di pojok, tanya bapak tibo penjual ikan. Ada sumbernya yang bisa dimintai pertanggungjawaban."
"Kalau sekarang?"
"Sekarang?" Ia tertawa pendek. "Sekarang berita bisa muncul dari akun tanpa foto profil, disebarkan oleh akun yang followersnya setengahnya bot, lalu dipercaya jutaan orang. Lebih cepat, tapi akurasinya seperti ramalan cuaca—kadang tepat, sering meleset, tapi semua orang tetap percaya."
Di kiri kanan jalan, dulu kios pakaian berdiri rapat. Pedagang kaki lima memenuhi emperan. Tibo-tibo—pedagang di pasar, begitu orang Minahasa menyebutnya—memenuhi jalanan jika di dalam pasar tidak ada tempat. Para tibo ini datang dari kampung-kampung membawa hasil bumi: pisang, ubi, sayur, tomat, rica, sampai ikan segar yang matanya masih lebih jernih daripada janji sebagian politisi menjelang pemilihan.
Orang berjalan berdesakan. Mobil parkir sembarang. Oplet bersiul. Pedagang berteriak.
Dan entah bagaimana, semua kekacauan itu justru terasa hidup.
"Kacau tapi ada jiwanya," kata Nal. "Sekarang tertib—kalau pun tertib—tapi kosong."
Saya mengangguk. Ada paradoks yang menarik di sana—bahwa keteraturan yang dipaksakan kadang justru membunuh kehidupan yang tumbuh organik. Penataan yang terlalu sempurna di atas kertas bisa menciptakan kekosongan yang sempurna di lapangan.
Perubahan datang ketika pemerintah Kabupaten Minahasa—kala itu Tomohon belum menjadi kota otonom, masih kecamatan—memutuskan memindahkan pasar ke kawasan jalan lingkar timur. Masih di Paslaten, tapi lebih ke dataran tinggi di sebelah timur.
Alasannya: penataan kota.
Dua kata yang paling sering menjadi pembuka dari perubahan yang tidak selalu membuat warga lebih tertata hidupnya.
"Penataan kota," Nal mengulang frasa itu dengan intonasi seorang aktor yang sedang membaca naskah sandiwara. "Kalimat ajaib. Diucapkan dengan serius, terdengar rapi di atas kertas, tapi sering meninggalkan cerita berantakan di lapangan."
Saya mengenal betul genus kalimat ini. Kerabat dekatnya antara lain: demi kepentingan umum, dalam rangka pembangunan berkelanjutan, dan untuk kenyamanan masyarakat luas—yang biasanya paling tidak nyaman dirasakan oleh masyarakat yang paling dekat dengan lokasi pembangunannya.
Pasar lama kemudian berubah fungsi. Sempat menjadi Taman Kota—sebuah ruang hijau yang katanya untuk rekreasi warga. Lalu berkembang lagi menjadi kompleks perkantoran: sekarang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, gedung Pramuka, museum, hingga Aula Anugerah—sebelumnya banyak perkantoran menempati gedung di sana.
"Taman Kotanya sekarang di mana?" tanya saya.
"Pindah ke arah Rurukan," jawab Nal. "Sekarang namanya bukan Taman Kota lagi. Hutan Kota."
"Naik kelas."
"Atau naik gunung. Sama saja—makin jauh dari pusat kota, makin sedikit yang datang."
Saya tersenyum. Kota memang gemar mengganti nama dan memindahkan fungsi. Kadang yang berubah hanya papan dan koordinat GPS-nya, sementara masalahnya tetap sama berpindah mengikuti.
Hujan mulai mereda. Kami memutuskan berjalan pelan menyusuri Jalan Makmur, dua orang dewasa yang tidak ada kerjaan lebih baik di sore hari selain berfilosofi di trotoar basah. Anjing tadi masih di tempat yang sama, tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca maupun perubahan kebijakan tata ruang.
Beberapa ruko tampak kosong total. Ada yang masih bertahan membuka usaha seadanya—warung kecil menjual kopi sachet, dan kopi hitam, lengkap dengan penganan yang wajahnya sudah tidak jelas bentuknya, kios pulsa dengan tarif yang tertera di papan menggunakan angka yang sepertinya belum diperbarui sejak era kejayaan BlackBerry, dan sebuah bengkel dengan satu motor terbongkar sejak entah kapan—mungkin sejak pemiliknya memutuskan lebih menguntungkan menonton YouTube daripada memperbaiki motor orang.
"Harga tanah di sini turun drastis," kata Nal tiba-tiba, suaranya datar seperti seseorang menyebutkan fakta cuaca. "Murah sekarang. Beda sama waktu pasar masih di bawah."
Kalimat itu pendek, tapi menggantung lama di kepala saya.
Sebuah kawasan ternyata bisa ikut menua bukan karena bangunannya semata, tapi karena keramaiannya pindah. Dalam ekologi perkotaan, keramaian adalah oksigen. Ketika sumber oksigen berpindah—pasar pergi, terminal menjauh, manusia berpindah arah—perlahan segala sesuatu di kawasan itu kehilangan napas.
"Yang saya kasihan," kata Nal sambil berjalan pelan, "orang-orang yang dulu taruh semua modalnya di sini."
Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Saya bisa membayangkan sendiri.
Orang yang menjual sawah warisan untuk membangun kios dua lantai. Orang yang mencicil ke bank selama bertahun-tahun dengan keyakinan bahwa lokasi ini adalah investasi masa depan. Orang yang menolak tawaran beli tanah dari orang luar karena yakin harganya akan terus naik.
Lalu satu per satu pembeli berkurang. Satu kios tutup. Dua kios menyusul. Tiga lagi tutup bulan berikutnya. Hingga akhirnya deretan rolling door dan gerbang-gerbang kayu lebih sering tertutup daripada terbuka, dan kunci-kunci kios itu lebih banyak disimpan daripada digunakan.
"Ada yang pindah ke pasar baru?" tanya saya.
"Ada. Banyak. Mencoba peruntungan di atas. Tapi..."
"Tapi?"
Nal berhenti berjalan. Ia menatap ke arah kota yang bisa terlihat samar-samar dari titik ini—atap-atap rumah, menara gereja, asap dari dapur-dapur yang masih aktif.
"Tapi pasar barunya pun sekarang sudah mulai sepi juga."
Saya mengira saya salah dengar. "Serius?"
"Terminalnya juga sudah sepi," lanjutnya. "Penumpang malas masuk terminal, mereka lebih memilih Ojek. Oplet lebih suka mangkal di pusat kota, naik-turunkan penumpang di sembarang tempat. Terminal megah itu sekarang lebih sering dipakai buat tempat anak muda. Dan siang dijadikan parkiran kendaraan bagi pengunjung pasar."
Saya menghela napas.
Begitulah kadang nasib fasilitas publik—dibangun dengan anggaran besar, diresmikan dengan pita dan gunting dan pidato penuh semangat, foto-foto diunggah ke media sosial dinas terkait, lalu perlahan dikalahkan oleh kebiasaan warga yang tidak mau diatur tapi juga tidak mau disalahkan.
Terminal dibuat megah supaya tertib. Tapi orang memilih berhenti di pinggir jalan.
Pasar dipindahkan supaya lebih teratur. Tapi pusat kota kehilangan denyutnya.
"Saya punya teori," kata saya.
"Wah. Silakan."
"Mungkin problemnya bukan di mana pasarnya. Tapi bagaimana perpindahan itu dilakukan. Memindahkan pasar itu seperti memindahkan... pohon tua. Kalau tidak hati-hati, akarnya putus dan pohonnya mati meski sudah ditanam di tempat baru yang katanya lebih bagus."
Nal memikirkan analogi itu sebentar. "Lumayan," katanya akhirnya. "Tapi analogi kamu tidak memperhitungkan bahwa pohon tidak bisa protes ke DPRD."
"Pedagang pasar bisa protes?"
"Bisa. Tapi siapa yang dengarkan?"
Kami berjalan lagi dalam diam beberapa langkah.
Di belokan jalan, kami menemukan sebuah warung yang masih bertahan dengan gigih—semacam tentara yang tidak tahu perang sudah berakhir, tapi versi yang lebih simpatik. Pemiliknya seorang ibu paruh baya, rambut diikat ke belakang, mengenakan kaos yang motifnya sudah memudar. Ia sedang mengelap meja yang sepertinya tidak perlu dikelap karena tidak ada tamunya, tapi tetap dilap dengan penuh dedikasi. Di pojok rumah makan, duduk suaminya, entah menonton televisi atau sekadar merenung suasana yang tidak seramai dulu lagi.
Kami mampir memesan kopi.
Ibu itu—namanya Bu Onda, ternyata tetangga lama Nal—menaruh dua gelas kopi di meja dengan gerakan yang sudah ribuan kali dilakukan sehingga menjadi semacam koreografi otomatis.
"Sudah lama buka di sini, Bu?" tanya saya, meski pertanyaan itu terasa sedikit kejam mengingat konteks yang baru kami bicarakan.
"Dua puluh tiga tahun," jawabnya tanpa ekspresi khusus. Bukan bangga, bukan sedih. Hanya fakta.
"Ramai dulu?"
Ia terdiam sebentar. Mengelap meja lagi meski sudah bersih. "Dulu saya punya tiga pegawai," katanya akhirnya. "Sekarang ya saya sendiri. Lebih efisien, kata orang-orang. Tapi saya tidak yakin siapa yang bilang itu, karena yang bilang 'lebih efisien' biasanya bukan yang harus kerja lebih keras."
Nal tertawa. Saya ikut tertawa. Bu Onda tidak tertawa, tapi senyumnya ada, tipis dan penuh lapisan makna.
"Kenapa tidak pindah ke lokasi yang lebih ramai, Bu?" tanya Nal.
Bu Onda menatapnya sebentar dengan ekspresi seorang guru yang sabar menghadapi pertanyaan yang jawabannya sudah ada di depan mata.
"Pindah ke mana? Sewa tempat di pusat kota mahal. Modal dari mana? Saya sudah tua, Nal. Dan ini tanah sendiri. Kalau pergi dari sini, pergi ke mana? Sama saja nanti."
Ada logika di balik ketahanan itu. Bukan ketahanan karena optimis, tapi ketahanan karena tidak ada pilihan yang lebih baik—yang kadang justru melahirkan ketangguhan jenis paling murni.
Kami minum kopi dalam senyap yang nyaman.
Di luar, seekor kucing melintas di trotoar dengan langkah seorang turis yang menikmati kota sepi tanpa harus antre atau mencari parkir.
"Kota ini aneh," kata Nal tiba-tiba, sambil menyulut rokok.
"Dalam artian?"
"Ia terus bergerak, terus berubah, tapi tidak selalu bergerak maju. Kadang hanya berputar. Pindahkan ini ke sana, pindahkan itu ke sini. Ganti nama ini, ganti nama itu. Resmikan ini, lalu lupakan. Resmikan yang baru, lalu lupa lagi."
"Bukannya itu berlaku untuk semua kota?"
"Mungkin." Ia menghembuskan asap pelan. "Tapi di kota besar, gerakannya cukup cepat sehingga orang tidak sempat sadar apakah berputar atau maju. Di sini, semuanya lambat. Jadi terasa betul putarannya."
Ada kebenaran yang tidak nyaman dalam pengamatan itu. Kota kecil memang seperti cermin yang resolusinya lebih tinggi—semua problemnya terlihat lebih jelas, semua gagalnya lebih telanjang, semua keberhasilannya pun lebih intim.
Saya memikirkan bapak tua yang tadi kami lihat duduk di depan kios kosong. Berapa lama ia sudah duduk di sana? Berapa banyak pagi yang ia sambut di tempat yang sama, menunggu sesuatu yang entah sudah tidak akan datang?
"Yang saya sesalkan," kata Nal lebih pelan, "bukan sepinya jalan ini. Tapi tidak adanya yang merasa bertanggung jawab atas kesepiaan ini."
"Maksudnya?"
"Ketika pasar dipindahkan dulu, ada keputusan. Ada yang tanda tangan. Ada yang dapat proyek pembangunan pasar baru. Tapi ketika kawasan ini mati perlahan, tidak ada yang mengangkat tangan dan bilang: ini sebagian akibat keputusan saya, dan saya akan ikut memperbaikinya. Tidak ada. Semua orang menganggap ini hukum alam. Kawasan berkembang dan mati sendiri, kata mereka."
"Memang tidak ada yang bisa dilakukan?"
Nal menatap saya. "Entah. Tapi yang saya tahu, tidak ada yang dicoba dengan serius."
Kami membayar kopi, pamit dari Bu Onda dan suaminya, dan kembali ke trotoar. Matahari sudah mulai turun, memotong bayangan panjang di antara bangunan-bangunan yang sepi itu. Lampu jalan mulai menyala—satu dua yang mau, sisanya masih menimbang-nimbang.
Bapak tua di depan kios kosong masih di sana. Kami melewatinya pelan. Ia melirik sebentar, mengangguk, lalu kembali menatap jalan.
Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin kenangan. Mungkin perhitungan sederhana tentang kapan harus pulang. Mungkin ia hanya menikmati sore yang tidak harus produktif.
Di era ketika semua orang dituntut hustling dan grinding dan menghasilkan sesuatu setiap saat, ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya saya jadikan objek iba dari seorang bapak tua yang duduk diam di depan kios—ada kemungkinan kecil bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang kita semua butuhkan tapi jarang bisa lakukan: berhenti sebentar, dan hanya ada.
"Kadang saya rindu suasana dulu," kata Nal akhirnya, pelan. Tanpa dramatisasi.
Saya tidak langsung menjawab. Karena pernyataan itu lebih kompleks dari yang kelihatannya.
Kerinduan terhadap suatu masa tidak selalu berarti masa itu lebih baik secara objektif. Pasar dulu pasti juga punya masalahnya sendiri—banjir kalau hujan, pengamanan yang amburadul, konflik lapak, berbagai ketidakberesan yang kini sudah terlupakan. Nostalgia memang selektif. Ia mengingat warna tapi melupakan bauannya.
Tapi ada yang nyata di balik kerinduan Nal. Sesuatu yang bukan sekadar sentimentalitas.
"Yang kamu rindukan," kata saya akhirnya, "mungkin bukan keramaiannya. Tapi perasaan bahwa tempat ini punya tujuan. Bahwa orang-orang di sini datang karena ada alasan untuk datang."
Nal mematikan rokoknya menginjaknya dengan ujung sepatunya—kebiasaan lama.
"Bisa jadi," katanya. "Sebuah tempat tidak hanya butuh bangunan. Ia butuh cerita yang sedang berlangsung, bukan hanya cerita yang sudah selesai."
Kami berjalan menuju ujung jalan. Angin sore meniup plastik-plastik kecil di got. Seekor burung merpati hinggap di papan nama toko yang hurufnya tinggal separuh, memandang ke bawah dengan ekspresi hakim yang sedang menimbang kasus.
Di ujung Jalan Makmur, saya berbalik sebentar.
Ada sesuatu yang menarik untuk dilakukan—memandang satu jalan dari ujungnya. Dari sini, keseluruhannya terlihat: deretan bangunan yang masih berdiri tegak meski tidak lagi diperlukan, rerumputan yang tumbuh di retakan trotoar karena tidak ada yang menyuruh mereka berhenti, dan di kejauhan sana, sosok bapak tua yang masih duduk, kini hanya siluet kecil dalam cahaya sore.
Kota tanpa denyut manusia memang hanyalah kumpulan beton yang kebetulan diberi nama. Itu benar.
Tapi kota dengan manusianya juga bisa lalai—lalai memperhatikan jalan-jalan yang dulu ramai kini menua sendiri, lalai mendengar suara pedagang yang diam-diam menyerah, lalai membaca tanda-tanda bahwa keramaian bukan hanya soal di mana fasilitas dibangun, tapi soal apakah keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan manusia yang harus hidup dengan akibatnya.
Kemajuan kota ternyata bukan cuma soal gedung baru, jalan lebar, atau pasar yang dipindahkan lebih tinggi ke dataran yang katanya lebih strategis.
Kemajuan kota adalah tentang apakah manusia-manusia di dalamnya masih merasa hidup bersama—merasa bahwa keputusan yang memengaruhi hidup mereka dibuat dengan keterlibatan mereka, bukan hanya atas nama mereka.
Jalan Makmur mengajarkan itu dengan cara paling sunyi: dengan kekosongannya sendiri.
"Mau ke mana sekarang?" tanya Nal.
Saya menatap jalan di depan.
"Cari makan. Kamu tahu tempat yang masih ramai?"
"Harus agak jauh."
"Jalan kaki atau naik apa?"
Nal tersenyum. "Mikro, atau Ojek. Tapi tunggu Mikro lama, kadang lewat, kadang tidak. Jadi sebaiknya naik Ojek saja. Itu pangkalannya."
"Berarti masih ada Mikro yang lewat?"
"Ada. Satu dua. Yang setia."
Saya mengangguk.
Di Jalan Makmur yang tidak lagi makmur itu, setidaknya masih ada yang setia. Mikro Tua (mikrolet atau ditempat lain dikenal dengan Oplet) yang masih melintas meski penumpangnya sedikit. Bu Onda yang masih mengelap meja meski tidak ada yang akan datang menodainya. Bapak tua yang masih duduk meski tidak jelas menunggu apa.
Dan seekor anjing kampung yang tidur dengan tenang di depan kios kosong—makhluk paling bijak di jalan itu—yang tidak pernah repot-repot peduli apakah tempat ini bernama Jalan Pasar atau Jalan Makmur.
Baginya, selama ada teduhan, semuanya baik-baik saja.
Mungkin ada pelajaran di sana. Mungkin tidak.
Tapi setidaknya saya pulang dengan perut yang perlu diisi dan kepala yang penuh—dua kondisi yang biasanya tidak datang bersamaan, tapi di sore seperti ini, keduanya terasa pas.
Tomohon, suatu sore di musim yang tidak terlalu yakin mau jadi apa.

Komentar
Posting Komentar