Langsung ke konten utama

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh.

Berjaga di Balik Layar


Seorang pria berkacamata sedang serius mengetik di depan dua layar monitor komputer dalam kamar yang gelap dengan latar belakang pemandangan lampu kota di luar jendela saat malam hari.
Suasana malam hari sering kali menjadi waktu terbaik untuk fokus, coding, dan menuangkan ide tanpa gangguan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI)
Tulisan ini—jujur saja—pernah saya bagikan beberapa bulan lalu di Facebook.

Ia lahir dari satu fase yang cukup melelahkan: ketika saya masih menjadi wartawan, sekaligus mencoba mengelola portal berita sendiri.

Dari luar, semuanya terlihat sederhana—tinggal menulis, lalu terbit.

Tapi di balik layar, ceritanya berbeda.

Ada hosting yang harus dibayar, domain yang harus diperpanjang, dan berbagai urusan teknis—CSS, Javascript, HTML—yang pelan-pelan menuntut untuk dipahami.

Awalnya saya menyerahkan itu kepada mereka yang saya anggap lebih ahli. Tapi waktu berjalan, biaya mulai membengkak, sementara setiap kali portal “batuk”, perbaikannya tidak selalu secepat yang dibutuhkan.

Di situlah saya mulai belajar sendiri.

Tertatih, sering salah, tapi terus mencoba.

Saya juga sempat ingin membangun sistem yang mandiri—tidak bergantung pada kontrak pemberitaan dengan pemerintah daerah. Saya membayangkan ruang yang bisa hidup dari pembaca, dari kerja sama yang sehat, dari sesuatu yang tidak mengganggu independensi.

Tapi energi punya batas.

Sampai akhirnya, kelelahan itu datang tanpa banyak bicara.

Dan suatu hari, saya memutuskan berhenti—bukan hanya sebagai pengelola portal, tapi juga sebagai wartawan.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak ikut berhenti: menulis.

Saya memilih pindah ke tempat yang lebih sederhana, lebih ringan—Facebook—karena di sana saya masih bisa menulis panjang, tanpa harus memikirkan server, error, atau biaya yang diam-diam terus berjalan.

Dari situlah saya menyebutnya, dalam hati, sebagai sebuah perpindahan kecil:

"Dari headline ke timeline."

Dan mungkin, semua itu bisa diringkas dalam satu malam—seperti yang masih saya ingat sampai sekarang.

“Belum tidur?”

Pertanyaan itu muncul di layar ponsel, pukul 01.47.

Saya tersenyum kecil, tanpa mengangkat kepala dari monitor.

“Belum. Portal lagi batuk,” balas saya.

Di luar, kota sudah mematikan sebagian lampunya. Jalanan sunyi. Anjing-anjing penjaga rumah ikut diam.

Di kamar kerja, hanya ada cahaya monitor, bunyi kipas CPU yang setia, dan kopi yang sudah berkali-kali disuguhkan—seperti idealisme yang terlalu lama direbus.

“Masih bertahan juga?”

“Masih. Kalau saya tidur, dia bisa mati.”

Saya tidak sedang bercanda.

Portal berita itu benar-benar seperti makhluk hidup. Ia harus dijaga, disuapi konten, diperiksa denyut server-nya. Error kecil bisa berubah jadi tragedi besar.

Di jam-jam ketika orang bermimpi, saya justru berjaga agar mimpi orang lain—tentang informasi, tentang berita—tetap sampai pagi.

Dulu hidup saya sederhana: jurnalis media cetak.

Deadline jelas. Koran harus terbit setiap hari, titik. Tak ada alasan. Tak ada “server down”. Jika telat, satu kota tahu.

“Tapi kenapa pindah ke online?”

“Karena zaman tidak menunggu orang yang nyaman.”

Kertas mulai kalah cepat. Tinta mulai terasa lambat.

Maka saya belajar hal baru. Dari menulis lead menjadi menulis baris kode. Dari mengejar narasumber menjadi mengejar bug.

Belajar coding seperti belajar bahasa asing tanpa kamus—sering salah ucap, sering ditertawakan error. Tapi begitulah caranya bertahan.

Portal itu saya rawat seperti bayi yang jarang tidur.

Saya menyunting berita yang dikirimkan wartawan. Saya menulis editorial. Saya juga yang memelototi dashboard tengah malam, memastikan server tidak ngambek.

Jika berita adalah isi perut, maka maintenance adalah denyut nadinya—tak terlihat pembaca, tak tercetak di headline, tapi tanpanya semua bisa mati mendadak.

“Tidur sebentar saja,” pesan seorang kawan.

“Nanti. Setelah satu berita ini tayang.”

Ada masa ketika waktu berhenti jadi konsep. Jam dua pagi terasa seperti jam delapan malam.

Tidur bukan tujuan—hanya jeda.

Mata perih, punggung pegal, tapi berita harus tayang. Bukan demi viral. Bukan demi sensasi. Hanya demi satu hal sederhana: tanggung jawab yang tidak ingin saya khianati.

Beberapa portal sempat lahir dari tangan ini. Mereka tumbuh, sempat ramai, lalu satu per satu pamit. Modal habis. Energi terkuras. Seperti idealisme yang harus pulang lebih awal karena ongkosnya tidak cukup.

“Menyesal?”

Saya diam sebentar.

“Tidak. Capek, iya. Menyesal, tidak.”

Karena setiap kegagalan meninggalkan bekas yang jujur. Bahwa keberanian mencoba sering kali lebih mahal dari hasilnya. Bahwa bertahan pun ada batasnya.

Foto ini merekam satu malam dari banyak malam. Saat saya menyunting berita sambil memelihara portal terakhir. 

Tak ada tepuk tangan. Tak ada sponsor.

Hanya keyakinan sunyi bahwa kerja seperti ini tetap punya martabat. Bahwa berjuang tidak selalu tentang menang—kadang cukup tentang tidak menyerah hari itu.

Kini semua portal itu tutup. Layar tak lagi menyala sampai dini hari. CPU sudah dingin.

Tapi pelajarannya tinggal.

Saya bersyukur masih bisa melihat matahari—karena itu tanda bahwa hidup memberi kesempatan untuk memulai ulang. Dengan cara yang mungkin berbeda, tapi harapan yang tetap menyala.

Suatu sore, seorang teman bertanya lagi,

“Sekarang nulis di mana?”

Saya tersenyum.

Di sini.

Di tempat yang lebih tenang—tapi tetap menyimpan cerita yang sama.

"Berjaga di Balik Layar"

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Netizen, Kolom Komentar, dan Ujian Kesabaran yang Tidak Pernah Lulus

Ketika Internet Memberi Semua Orang Mikrofon, tapi Lupa Memasang Tombol Mute

1.186 Masjid yang Berbicara: Saat Data BPS Sulawesi Utara Mengungkap Cerita Migrasi dan Toleransi

Sebuah Provinsi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Satu Kalimat