Langsung ke konten utama

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Ilustrasi lanskap digital art yang terbagi dua era, menggambarkan transformasi teknologi redaksi berita. Sisi kiri (era lama) menampilkan seorang pria paruh baya merokok di depan komputer tabung jadul berpiksel hijau, lengkap dengan disket "5.25 Floppy Disk" dan cangkir kopi tua. Sisi kanan (era modern) menampilkan seorang pria berkacamata tersenyum menggunakan smartphone dengan logo WhatsApp di layarnya, di depan laptop dan suasana kantor redaksi modern yang cerah. Di bagian tengah atas terdapat teks judul "MENJEMPUT BERITA, MENEMBUS WAKTU" dan nama penulis "Donny Turang" di bagian bawah tengah.
Ilustrasi sampul buku "Menjemput Berita, Menembus Waktu" karya Donny Turang yang menggambarkan evolusi teknologi redaksi dari era komputer tabung (kiri) hingga era ekosistem digital dan smartphone (kanan). (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI)

Ada masa ketika berita tidak diketik di layar yang tipis dan terang seperti sekarang.

Ia lahir dari denting tombol yang keras, dari layar hitam dengan huruf-huruf hijau, dari disket yang disimpan seperti benda berharga—jatuh sedikit saja, rasanya seperti kehilangan setengah hari kerja.

Di ruang redaksi, waktu tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ia melompat-lompat—dari mesin tik ke komputer, dari pager ke ponsel, dari wartel ke pesan instan yang tak pernah tidur.

Dan di setiap lompatan itu, ada satu hal yang selalu ikut: manusia yang mencoba mengejar berita… sambil diam-diam mengejar zaman.

Buku ini, "Menjemput Berita, Menembus Waktu", lahir dari pengalaman itu. Bukan sebagai catatan yang ingin terlihat rapi, tapi sebagai ingatan yang masih menyisakan suara.

Tentang masa ketika WordStar menjadi alat utama—dengan tombol-tombol yang harus dihafal seperti mantra. Tentang modem dial-up yang bernyanyi sebelum akhirnya terhubung, seperti memberi tahu: “tunggu sebentar, dunia sedang disiapkan.” Tentang pager, wartel, dan ponsel yang dulu lebih sering jatuh daripada rusak.

Sampai akhirnya tiba di era di mana berita dikirim dari genggaman—cepat, instan, dan kadang… terlalu cepat untuk sempat direnungkan.

Ini bukan sekadar nostalgia.

Karena setiap teknologi yang datang selalu membawa satu pertanyaan yang sama: apakah kita masih sempat berpikir di tengah kecepatan?

Di ruang redaksi, perubahan tidak pernah meminta izin. Ia datang, memaksa, lalu menetap.

Dari Nokia yang terkenal tahan banting, ke PIN BlackBerry Messenger yang dulu terasa seperti identitas, hingga grup WhatsApp redaksi yang tidak pernah benar-benar tidur.

Semua berubah. Kecuali satu hal.

Tanggung jawab.

Ia tidak ikut berevolusi menjadi lebih ringan. Justru terasa semakin berat.

Karena di balik setiap berita yang sampai ke pembaca, selalu ada pilihan: menjadi cepat… atau tetap benar.

Buku ini ditulis bukan untuk menjelaskan teknologi, tapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap perubahan, ada manusia yang belajar menyesuaikan diri—kadang dengan canggung, kadang dengan lelah, tapi tetap berjalan.

Untuk mereka yang pernah duduk di ruang redaksi—dengan kopi yang sudah dingin sebelum sempat diminum, mata yang lelah tapi belum boleh pulang, dan deadline yang terasa seperti napas di tengkuk.

Saya tidak tahu apakah buku ini akan membawa Anda kembali ke masa lalu, atau justru membuat Anda melihat masa sekarang dengan cara yang berbeda.

Tapi kalau Anda pernah merasa bahwa berita bukan sekadar teks—melainkan tanggung jawab yang diam-diam ikut Anda bawa pulang,

Mungkin… Cerita ini tidak akan terasa asing.

Buku ini tersedia di:

* Google Play Books

* Draft2Digital

Bukan untuk dibaca tergesa. Tapi untuk diingat pelan-pelan.***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Netizen, Kolom Komentar, dan Ujian Kesabaran yang Tidak Pernah Lulus

Ketika Internet Memberi Semua Orang Mikrofon, tapi Lupa Memasang Tombol Mute

1.186 Masjid yang Berbicara: Saat Data BPS Sulawesi Utara Mengungkap Cerita Migrasi dan Toleransi

Sebuah Provinsi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Satu Kalimat