Langsung ke konten utama

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

 ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan. 

JABATAN YANG MENJERAT, INTEGRITAS YANG MENYELAMATKAN

(Tentang mereka yang berlari lewat jalur cepat, dan mereka yang bertahan di jalan benar—meski sering ditinggalkan)

ini tentang jabatan bagaimana seseorang memegang teguh integritas dan dipihak lain mengutamakan koneksi
Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan teknologi AI.

‎‎Pagi itu, kabut menggantung di halaman sebuah kantor dinas seperti kain putih yang dipasang untuk menyembunyikan kekacauan. Di sana, berdirilah Pak Utu—kepala bidang berintegritas dengan 18 tahun masa kerja dan piagam yang berjejer seperti anak-anak pramuka yang siap apel pagi. Namun sorot matanya menyimpan cerita tentang keadilan yang sering terpeleset di lantai basah birokrasi. 

‎‎Ia mengaduk kopi pelan, menatap jendela buram. Dalam benaknya, sistem merit masih terdengar ideal, tapi di realitas, ia lebih mirip legenda urban yang diceritakan pegawai baru sebelum mereka patah hati. 

‎‎Di seberangnya, ada Pak Tole—sesama kepala bidang. Prestasinya biasa saja, seperti nasi goreng tanpa kecap. Tapi ia punya senjata: 

KONEKSI

Dan koneksi itu bukan kelas ecek-ecek. Ia mengenal ajudan kepala daerah, orang-orang ring satu, bahkan ring setengah—yang kalau digambar hierarkinya mungkin sudah seperti orbit satelit. 

‎‎Suatu malam, Tole dipanggil makan malam di restoran Tionghoa mahal. Lampion merah bergoyang lembut, seolah mengangguk pada tukar-menukar kepentingan. Di meja bundar itu, ajudan kepala daerah berbisik tentang kursi kepala dinas—kursi yang nilai ekonominya bisa membuat orang kehilangan niat baik. 

‎“Butuh yang patuh,” katanya. Aroma kerakusan tercium lebih pekat daripada saus tiram. 

‎‎Di bawah meja, sesuatu berpindah tangan. Tidak tercantum dalam notulen, tapi cukup untuk membuat loyalitas politik melengkung seperti bulan sabit. 

**‎‎*

‎‎Sementara itu, di lorong kantor, Nyong menepuk bahu Utu.

‎“Tenang, Tu. Skormu paling tinggi. Kalau sistem merit masih hidup, giliranmu.”

‎‎Utu tertawa pendek.

‎“Di sini, merit itu seperti mitos. Yang naik itu yang punya koneksi, bukan yang punya integritas.” 

‎‎Birokrasi memang komedi yang diperankan dengan wajah tragedi. 

‎‎***

‎‎Pengumuman keluar.

‎Nama pemenangnya sudah bisa ditebak, karena sudah heboh lebih dulu: Tole—kepala dinas. 

‎‎Merit jatuh tersungkur. Loyalitas politik melenggang. Kerakusan tersenyum tipis. 

‎‎Utu dipinggirkan menjadi analis data. Dari panggung kebijakan ia dibuang ke tabel-tabel sunyi. Ibarat dirigen orkestra yang diminta memegang rebana. 

‎‎Tole melesat cepat. Mobil dinas baru, ruang kerja mewah, gaya memimpin ala CEO startup tapi minus visi dan plus emosi. Ia menempatkan orang-orang dekat, terutama dari lingkar koneksi. Yang tak cocok disingkirkan, yang bertanya dianggap pembangkang. 

‎‎Lalu tibalah kata keramat: proyek.

‎Proyek membuat mata Tole berbinar. Spesifikasi digeser, vendor dipaksa, harga dinaikkan. Kerakusan menari bebas. 

‎**‎*

‎‎Namun Utu tidak hilang. Integritasnya tetap berdiri seperti pilar tua yang menolak roboh.

‎‎Beberapa pegawai jujur, yang muak melihat kerakusan merajalela, mengumpulkan dokumen. Laporan dikirim ke KASN. Sistem merit akhirnya mendapat sedikit udara untuk bernapas. 

‎‎KASN turun. Temuannya jelas:

‎– Mutasi Utu tidak sah,

‎– Promosi Tole tidak berdasar merit,

‎– Seleksi jabatan disetir.

‎Rekomendasi dikeluarkan, tapi kepala daerah mendadak punya kemampuan baru: pura-pura tuli tingkat dewa. 

‎‎Inspektorat melakukan pemeriksaan. Temuan pelanggaran ada, tapi nasibnya berhenti di meja pimpinan—meja yang terkenal sebagai kuburan sunyi bagi laporan-laporan baik. 

‎‎Para pegawai jujur tak menyerah. Bersama LSM, laporan tambahan dikirim ke kepolisian dan kejaksaan. Dugaan gratifikasi, pemaksaan vendor, penggelembungan harga—kerakusan Tole menumpuk seperti sampah yang lupa diangkut. 

‎‎Polisi memanggil saksi, kejaksaan menggelar ekspose.

‎Ada kerugian negara. Ada bukti awal. 

‎‎Kemudian datang badai.

‎KPK masuk—sabar mengamati, lalu menyergap ketika waktunya tiba. 

‎‎LHKPN Tole melonjak. PPATK memberi sinyal merah.

‎‎Dan pada malam tertentu, ketika fee proyek berpindah tangan…

‎Tole ditangkap tangan.

‎Uang bukti masih hangat. Kerakusan akhirnya memakan pemiliknya. 

‎‎Kepala daerah terkejut—bukan karena Tole korup, tapi karena Tole ketahuan. Dalam dunia politik, skandal sering lebih besar dari dosanya. 

‎‎Tole dipidana, dicopot, asetnya disita.

‎Tiga hantu pejabat akhirnya menjenguk:

‎– KPK

‎– pemberhentian tidak hormat

‎– pemiskinan aset‎

‎***

‎‎Utu dipulihkan. Sistem merit—yang sempat dianggap mitos—menang sekali saja, tapi itu cukup untuk membuktikan bahwa integritas tidak sia-sia. 

‎‎Jembatan koneksi yang Tole bangun runtuh oleh berat kerakusannya sendiri. Sementara Utu, yang berjalan pelan tanpa menyingkirkan siapa pun, justru sampai lebih jauh. 

‎‎Kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan bisa menekan rekomendasi, mengabaikan sistem, atau menunda kebenaran.

‎Tapi ketika polisi, kejaksaan, dan KPK mulai bergerak, politik akhirnya harus turun dari panggung dan belajar merendah. 

***

Cerita ini hanyalah karangan belaka,
sepenuhnya karya imajinasi.
Seluruh nama, tempat, dan jabatan tidak merujuk pada siapa pun di dunia nyata.

Komentar

POPULER

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Menjemput Berita, Menembus Waktu

CATATAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI REDAKSI: DARI WORDSTAR HINGGA SMARTPHONE Ada masa ketika berita tidak diketik di layar yang tipis dan terang seperti sekarang. Ia lahir dari denting tombol yang keras, dari layar hitam dengan huruf-huruf hijau, dari disket yang disimpan seperti benda berharga—jatuh sedikit saja, rasanya seperti kehilangan setengah hari kerja. Di ruang redaksi, waktu tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ia melompat-lompat—dari mesin tik ke komputer, dari pager ke ponsel, dari wartel ke pesan instan yang tak pernah tidur. Dan di setiap lompatan itu, ada satu hal yang selalu ikut: manusia yang mencoba mengejar berita… sambil diam-diam mengejar zaman. Cover Buku Menjemput Berita, Menembus Waktu yang sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

Redaksi Tanpa Awak

MENJAGA NALAR JURNALISTIK DI ERA ALGORITMA Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh. BERJAGA DI BALIK LAYAR Tulisan ini—jujur saja—pernah saya bagikan beberapa bulan lalu di Facebook. Ia lahir dari satu fase yang cukup melelahkan: ketika saya masih menjadi wartawan, sekaligus mencoba mengelola portal berita sendiri. Dari luar, semuanya terlihat sederhana—tinggal menulis, lalu terbit. Tapi di balik layar, ceritanya berbeda. Ada hosting yang harus dibayar, domain yang harus diperpanjang, dan berbagai urusan teknis—CSS, Javascript, HTML—yang pelan-pelan menuntut untuk dipahami. Awalnya saya menyerahkan itu kepada mereka yang saya anggap lebih ahli. Tapi waktu berjalan, biaya mulai membengkak, sementara setiap kali portal “batuk”, perbaikannya tidak selalu secepat yang dibutuhkan. Di situlah saya mulai belajar sendiri. Tertatih, sering salah, tapi terus mencoba. Saya juga sempat ingin membangun sistem yang mandiri—tidak bergantung pada kont...

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.