Langsung ke konten utama

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Kamu masih percaya kota ini adil?”

buku berjudul orang-orang yang tak terlihat sudah tersedia di google play books dan draft2digital
Buku berjudul Orang-Orang yang Tak Terlihat sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

On tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kopi hitamnya yang sudah dingin—seperti banyak hal lain yang dibiarkan mendingin di kota ini.

Di Negeri -X—sebuah kota yang tidak pernah benar-benar tidur, hanya berganti mimpi—ada orang-orang yang hidup di sela-sela perhatian. Mereka bangun sebelum berita ditulis, dan tetap ada lama setelah berita dilupakan.

Mereka tidak masuk halaman depan. Tidak jadi trending. Dan hampir tidak pernah dianggap penting.

Sampai seseorang mulai menulis tentang mereka.

On, seorang jurnalis muda yang terlalu idealis untuk menjadi nyaman, terlalu keras kepala untuk menjadi jinak. Tulisannya sering dipangkas, kadang dibuang, dan sesekali—secara tidak sengaja—membuat orang yang salah merasa terusik.

Ia tinggal di kamar kos sempit, hidup dari kopi yang selalu keburu dingin, dan satu keyakinan yang tidak praktis: bahwa ada cerita-cerita yang harus ditulis, meski tidak ada yang benar-benar ingin membacanya.

Lalu ia menemukan sesuatu. 

Bukan skandal besar yang meledak di televisi. Bukan kasus yang dengan mudah jadi headline.

Tapi pola.

Relokasi paksa. Ratusan keluarga dipindahkan. Nama proyeknya terdengar indah. Dampaknya… tidak.

Dan seperti kebanyakan kebenaran yang tidak nyaman, jejaknya mengarah ke tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh tanpa risiko.

Sejak saat itu, hidup On tidak lagi sekadar tentang menulis. Ini tentang memilih: diam dan selamat, atau berbicara dan… melihat apa yang terjadi setelahnya.

Orang-Orang yang Tak Terlihat adalah potret tajam sekaligus hangat tentang mereka yang sering luput dari sorotan:

Martha, buruh cuci yang tidak punya waktu untuk takut—karena takut adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli.

Jeremia, informan yang tahu terlalu banyak, tapi hanya bicara seperlunya—seperti kompas yang tidak pernah berisik tapi selalu tahu arah.

Enly, guru yang mengajarkan lebih dari sekadar pelajaran—ia mengajarkan cara bertahan dengan martabat.

Jeff, sahabat yang tidak banyak bicara, tapi selalu ada—dan itu sudah cukup.

Benny, pedagang asongan yang membaca kota lebih jernih dari para analis di ruang ber-AC.

Dan masih banyak tokoh dengan karakter masing-masing yang akan Anda temui dalam novel Orang-Orang yang Tak Terlihat ini.

Dan di sisi lain:

Arius, pemimpin yang percaya pada angka—bahkan ketika angka tidak lagi percaya pada kenyataan.

Steven, birokrat yang tidak pernah terlihat kotor—karena ia memastikan orang lain yang mengotori tangan.

Ventje, penyaring realitas yang memastikan atasan hanya mendengar hal-hal yang nyaman.

Robby, arsitek persepsi yang lebih peduli pada kamera daripada kenyataan.

Laura, yang tahu persis apa yang ia lakukan—dan memilih tetap melakukannya.

Moniq, sosialita yang hidupnya nyaris sempurna… sampai sebuah gang yang salah mengubah cara ia melihat dunia.

Judas, jurnalis "senior" yang menjual bukan berita, melainkan kenyamanan bagi kekuasaan. Siaran pers baginya sudah cukup jadi “kebenaran”, selama amplopnya juga ikut sampai. Di tangan Judas, kebenaran tidak pernah benar-benar dibunuh—hanya dipotong-potong… sampai tidak lagi dikenali.

Di sisi lain ini, Anda juga akan menemui beberapa tokoh dengan karakter masing-masing dalam dunia mereka yang serba "Wah".

Di Negeri -X, ketidakadilan jarang datang dengan teriakan.
Ia datang dengan bahasa yang halus: relokasi humanis, penataan kota, rasionalisasi.

Dan sementara sebagian orang berbicara tentang pembangunan, sebagian lain hanya berusaha memastikan anak mereka bisa tidur malam ini tanpa lapar.

Tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?