Langsung ke konten utama

POPULER

Percakapan di Meja Redaksi

 Di Antara Kecepatan, Tekanan, dan Kebenaran

Masih Mencari...

 Angin datang dari arah bukit.

‎Ia duduk diam. Kemeja hijau kusam—warna yang sama dengan pepohonan di belakangnya. Seolah ia bagian dari lanskap itu. Seolah ia tumbuh di sana.

Matanya tidak menatap kamera. Matanya menatap sesuatu yang jauh. Sesuatu yang tidak ada di dalam bingkai foto ini.

‎Namanya Dorang. Lima puluh tahun lebih. Dulu dia seorang jurnalis aktif di lapangan—bergerak kesana kemari mencari data dan fakta.

‎Di atas bukit kecil ia mengenang kisahnya—masa-masa itu. Dulu mengetik di komputer tua atau di warnet, kini mengetik di atas layar bercahaya.

‎"Ah, alat yang berubah. Namun, cara memandang dunia tidak boleh berubah. Harus berpihak pada mereka yang tak terlihat kekuasaan," gumamnya lirih, sambil membetulkan kacamata tipisnya, yang framenya hampir tidak terlihat. Seperti ia tidak ingin sesuatu pun menghalangi pandangannya.

‎Hari itu ia pergi sendiri ke danau kecil di atas bukit. Tidak ada agenda liputan. Tidak ada narasumber yang harus ditemui. Hanya ia, tas kulit kecil cokelat tua di sampingnya, dan suara air yang mengalir pelan di bawah tebing.

‎Saat akan beranjak ke bukit itu, sahabatnya bertanya: 

‎"Kemana?" 

‎"Refleksi. Kontemplasi," jawabnya singkat.

‎Di atas bukit itu, ia ingat berita pertama yang pernah ia tulis. Ia merogoh saku. Mengeluarkan smartphone—kecil dan harganya murah. Dan mulai menulis di layar yang cahayanya berpendar.

‎Jam tangannya bergerak. Waktu terus berjalan. Tapi ada hal-hal yang tidak berubah—cara angin berbau sebelum hujan, cara diam menjadi sumber cerita terbaik, cara seorang jurnalis selalu mencari sesuatu untuk ditulis, bahkan ketika tidak ada yang memintanya.

‎Foto itu diambil seseorang...

‎Ia bahkan tidak sadar difoto. 

Matanya masih menatap jauh.

‎Masih mencari.***

Komentar