Langsung ke konten utama

Redaksi Tanpa Awak

Teknologi bisa membuat sebuah media tampak hidup meski hampir tak ada orang di ruang redaksi. Berita dapat diproduksi, dijadwalkan, dan disebarkan dengan bantuan mesin—tetapi ketika semua pekerjaan diserahkan kepada teknologi, siapa yang memeriksa fakta, mempertimbangkan dampaknya, dan bertanggung jawab kepada pembaca?
Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma

Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital
Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai.

"Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit."

Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini?

Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru?
Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan?

Buku ini bukan kitab anti-AI. Sebaliknya, ia adalah peta navigasi—untuk membantu para jurnalis, redaktur, pemimpin redaksi, mahasiswa komunikasi, dan pengelola portal berita di Indonesia memahami: apa yang bisa diserahkan kepada algoritma, dan apa yang mutlak harus tetap di tangan manusia.

Delapan bab yang tersusun di sini merekam perjalanan dari ruang redaksi berbau tinta hingga dapur berita digital yang wangi kopi dan cahaya monitor biru. Setiap bab menyertakan studi kasus dari portal berita Indonesia, serta analisis etika berbasis Pedoman Dewan Pers. 

Teknologi bergerak lebih cepat dari undang-undang, lebih cepat dari kebijakan redaksi, bahkan lebih cepat dari kesadaran kita sendiri. Tapi kebenaran—kebenaran jurnalistik yang diperoleh dari lapangan, dari wajah narasumber yang pucat menahan tangis, dari dokumen yang bau apek di lemari arsip—itu tidak bisa diproses oleh GPU manapun.

Buku ini untuk mereka yang masih percaya bahwa jurnalisme bukan sekadar produksi konten, melainkan sebuah panggilan.

Melalui Redaksi Tanpa Awak, Donny Turang sebagai 'Editor Senior' membedah urgensi 'Etika Pers' di tengah Transformasi Media yang serba cepat. Karya ini merupakan refleksi mendalam atas fenomena 'Jurnalisme AI' dan bagaimana 'Algoritma Berita' seharusnya bekerja tanpa menghilangkan nurani sang pewarta.

Tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.***




PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

C aroll Senduk lahir dari keluarga yang dekat dengan kekuasaan, pernah kalah dalam Pilkada, masuk DPRD, lalu kembali memenangkan pertarungan politik hingga dua kali memimpin Tomohon. Di balik perjalanan itu ada privilege, jaringan, pengalaman, dan satu pertanyaan penting: bagaimana kepercayaan rakyat akan dibayar?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

Empat senator mewakili Sulawesi Utara di DPD RI periode 2024–2029. Mereka bekerja, melakukan pengawasan, dan membawa isu daerah ke Jakarta. Namun di tengah mandat itu, ada ironi yang sulit diabaikan: suara mereka nyaris tak terdengar di ruang publik. Seberapa jauh rakyat mengenal wakil yang mereka pilih?