Langsung ke konten utama

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

📖 DAFTAR ISI

    Sendy Gladys Adolfina Rumajar, anak mantan Wali Kota Tomohon, cucu mantan Ketua DPRD Kabupaten Minahasa, kini menjabat Wakil Wali Kota Tomohon. (sumber foto: akun facebook sendy rumajar)
    Sendy Gladys Adolfina Rumajar, anak mantan Wali Kota Tomohon, cucu mantan Ketua DPRD Kabupaten Minahasa, kini menjabat Wakil Wali Kota Tomohon. (sumber foto: akun facebook sendy rumajar)
    Ada kota-kota kecil di dunia yang sejarahnya berputar seperti jarum jam—perlahan, teratur, dan selalu kembali ke titik yang sama. Tomohon adalah salah satunya.

    Kota sejuk di kaki Gunung Lokon ini punya kebiasaan unik: nama-nama keluarga tertentu terus muncul dalam lembar-lembar sejarahnya, dari generasi ke generasi, dari satu jabatan ke jabatan lain. Bukan karena kebetulan. Bukan pula semata karena konspirasi. Melainkan karena di kota sekecil ini, reputasi keluarga adalah modal yang paling tahan lama—lebih tahan dari aspal jalan, lebih awet dari cat tembok kantor pemerintahan.

    Dan di antara nama-nama itu, ada satu yang kini kembali hadir: Rumajar.

    Tiga Generasi, Satu Wilayah

    Sendy Gladys Adolfina Rumajar lahir pada 30 Agustus 1991 di Tomohon. Kota yang sama tempat ayahnya, Jefferson Soleiman Montesque Rumajar—akrab dipanggil Epe—pernah menjabat Wali Kota. Dan wilayah yang sama tempat kakeknya, Edison Paulus Rumajar—atau EP Rumajar, yang di Tomohon dipanggil Edy—pernah menjadi salah satu politisi paling berpengaruh di masanya.

    Perlu sedikit konteks sejarah untuk memahami posisi EP Rumajar. Dari 1967 hingga 1982, ia menjabat Ketua DPRD Kabupaten Minahasa selama dua periode berturut-turut. Kala itu, Tomohon belum berdiri sebagai kota otonom. Ia masih bagian dari Kabupaten Minahasa—salah satu kecamatannya yang subur dan sejuk di kaki Gunung Lokon. Baru pada 27 Januari 2003, seiring gelombang otonomi daerah, Tomohon resmi menjadi kota sendiri. Artinya, ketika EP Rumajar memimpin dewan, Tomohon adalah bagian dari wilayah yang ia wakili—bukan kota yang berdiri sendiri seperti sekarang.

    Tiga generasi. Satu wilayah yang terus bertumbuh. Dari kecamatan menjadi kota, dari dewan kabupaten hingga kursi wali kota.

    Jika ada yang bertanya apakah Sendy pernah merasakan tekanan tumbuh di bawah bayangan nama sebesar itu, jawabannya mungkin hanya ia yang tahu. Tapi yang jelas, ia tidak lari dari bayangan itu. Ia justru berdiri tepat di tengahnya—dan memilih untuk melangkah maju.

    Bukan Hanya Nama Warisan

    Di sinilah cerita Sendy mulai menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

    Banyak anak pejabat yang mengandalkan nama keluarga sebagai pintu masuk, lalu berhenti di sana. Sendy tidak. Ia mengasah dirinya dengan pendidikan yang serius: meraih gelar Sarjana Ekonomi, lalu melanjutkan hingga meraih gelar Master Ilmu Komunikasi. Dua disiplin ilmu yang—kalau dipikirkan lebih dalam—adalah kombinasi yang sangat tepat untuk seorang pemimpin daerah. Ekonomi mengajarinya membaca angka dan kebijakan. Komunikasi mengajarinya membaca manusia.

    Sejak muda, tanda-tanda kepemimpinan itu sudah terlihat. Ia terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional, mewakili Provinsi Sulawesi Utara. Sebuah kehormatan yang tidak datang karena nama keluarga—seleksi Paskibraka adalah salah satu proses yang benar-benar mengukur kemampuan fisik, mental, dan karakter seseorang secara langsung.

    Gadis dari Tomohon itu, rupanya, tidak hanya mewarisi nama. Ia juga mewarisi sesuatu yang lebih berharga: kemauan untuk membuktikan diri.

    Ketua Gerindra, Istri Komisaris, Wakil Wali Kota

    Kehidupan Sendy hari ini adalah sebuah tumpukan peran yang—kalau dibayangkan dalam satu kalimat—terasa seperti daftar belanja yang terlalu panjang.

    Ia adalah Wakil Wali Kota Tomohon periode 2025–2030. Ia adalah Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kota Tomohon. Dan ia adalah istri dari Ariel Rubenstein Warouw—salah satu mantan ajudan Presiden RI Prabowo Subianto, yang kini dipercaya menjabat Komisaris PT Telkom Infrastruktur Indonesia sejak Maret 2026.

    Sejenak berhenti dan membaca ulang kalimat itu.

    Wakil Wali Kota. Ketua partai. Istri komisaris perusahaan telekomunikasi nasional yang suaminya dekat dengan lingkaran istana.

    Ini bukan sekadar profil seorang politisi daerah biasa. Ini adalah peta jaringan yang—jika dibaca dengan cermat—menunjukkan betapa lapisannya sangat dalam. Dan dalam politik Indonesia, kedalaman jaringan adalah salah satu aset yang paling menentukan.

    Tentu saja, semua itu juga berarti ekspektasi yang tidak ringan. Ketika seseorang memiliki akses dan jaringan seluas itu, pertanyaan yang wajar diajukan publik adalah: untuk siapa semua itu akan digunakan?

    Perempuan Ketiga dalam Sejarah Tomohon

    Ada catatan sejarah yang layak digarisbawahi: Sendy adalah perempuan ketiga yang menjabat Wakil Wali Kota Tomohon.

    Sebelumnya, ada Linneke Syennie Watoelangkow—yang mendampingi Jefferson SM Rumajar, ayah Sendy sendiri—dan Syerly Adelyn Sompotan, yang mendampingi Jimmy Feidie Eman.

    Ini bukan sekadar statistik gender. Ini adalah sinyal bahwa Tomohon, kota yang dikelilingi gunung dan dibesarkan oleh tradisi, perlahan-lahan juga membuka ruang lebih lebar bagi perempuan di puncak kepemimpinan. Tiga perempuan dalam jabatan wakil wali kota mungkin terdengar belum banyak. Tapi dalam konteks politik lokal Indonesia yang masih sangat didominasi laki-laki, tiga itu sudah bicara sesuatu.

    Dan menarik bahwa salah satunya adalah anak dari wali kota yang pernah didampingi oleh wakil wali kota perempuan pertama di Tomohon. Sejarah, sekali lagi, berputar—tapi kali ini ia berputar sambil membawa sesuatu yang baru.

    CSSR: Dua Anak Pejabat, Satu Tiket

    Ketika Caroll Joram Azarias Senduk dan Sendy Gladys Adolfina Rumajar memutuskan untuk maju bersama dalam Pilkada Tomohon 2024, mereka membentuk pasangan yang—secara simbolik—sangat kuat sekaligus sangat mudah dikritik.

    Caroll adalah anak Karel Lasut Senduk, mantan Bupati Minahasa dan mantan Wali Kota Administratif Bitung. Sendy adalah anak Jefferson SM Rumajar, mantan Wali Kota Tomohon, dan cucu EP Rumajar, mantan Ketua DPRD Kabupaten Minahasa.

    Dua anak pejabat. Satu tiket. Satu kota.

    Akronim mereka, CSSR, memang terasa seperti nama band rock era 80-an. Tapi di balik akronim itu ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menggelitik: apakah Tomohon sedang memilih pemimpin, atau sedang melanjutkan tradisi?

    Jawabannya, tentu saja, bergantung pada apa yang akan mereka lakukan dengan kekuasaan yang dipercayakan. Dan rakyat Tomohon sudah memberi jawabannya di kotak suara: CSSR menang.

    "Gratis untuk Rakyat": Janji yang Harus Dibayar Tunai

    Seperti hampir semua pasangan calon di era Pilkada langsung, CSSR hadir dengan program yang namanya langsung menyentuh titik paling sensitif di dompet rakyat: "Gratis untuk Rakyat".

    Traktor gratis untuk petani. Pupuk dan benih gratis. Internet publik gratis. Kuota gratis untuk milenial. Dokumen kependudukan gratis. Pengantaran pasien gratis. Persalinan gratis. BPJS gratis. Ambulans gratis.

    Daftarnya panjang. Dan kata "gratis" muncul begitu sering hingga terasa seperti mantra—diucapkan cukup keras dan cukup sering, semoga menjadi kenyataan.

    Tapi di sinilah tugas jurnalisme yang sesungguhnya: tidak hanya mencatat janji, tapi juga mengingatkan bahwa "gratis" dalam kebijakan publik tidak pernah benar-benar gratis. Seseorang selalu membayarnya—entah dari APBD, entah dari dana transfer pusat, entah dari efisiensi program lain yang dikorbankan. Pertanyaannya bukan apakah programnya baik. Pertanyaannya adalah: apakah anggarannya nyata, apakah pelaksanaannya terukur, dan apakah ada mekanisme pengawasan yang kuat?

    Bagi generasi milenial Tomohon yang mendukung CSSR dengan antusias, semoga antusiasme itu tidak berhenti di hari pencoblosan. Karena demokrasi yang sehat bukan hanya soal memilih—ia juga soal mengawasi.

    Generasi Baru, Beban Lama

    Sendy Gladys Adolfina Rumajar adalah representasi dari sesuatu yang sedang terjadi di banyak kota kecil Indonesia: generasi muda dari keluarga berpengaruh yang mengambil alih tampuk kepemimpinan, membawa energi baru, pendidikan yang lebih tinggi, dan—semoga—perspektif yang lebih segar.

    Di usia 33 tahun saat dilantik, ia termasuk wakil wali kota termuda dalam sejarah Tomohon. Itu bukan pencapaian kecil. Tapi usia muda juga berarti jam terbang yang lebih pendek, pengalaman birokrasi yang lebih terbatas, dan godaan untuk lebih mendahulukan citra daripada substansi.

    Tomohon adalah kota yang indah. Udaranya sejuk, tanahnya subur, bunga-bunganya mekar sepanjang tahun. Tapi di balik keindahan itu, ada warga yang sehari-harinya bergumul dengan akses layanan yang belum merata, infrastruktur yang masih perlu perhatian, dan peluang ekonomi yang belum cukup terbuka.

    Sendy—dengan semua privilese, jaringan, dan modal sosial yang ia miliki—kini menghadapi pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling berat dalam karier seorang pemimpin publik: apakah semua yang dimilikinya akan ia gunakan untuk melayani, atau untuk melanggengkan?

    Tomohon Menunggu Jawaban

    Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang besar bernama: Kabupaten Minahasa. Ayahnya memimpin di wilayah yang baru saja berotonom, bernama: Kota Tomohon. Kini ia memimpin bersama anak seorang mantan Wali Kota Administratif Bitung, juga pernah Bupati Kabupaten Minahasa—di kota yang pernah dipimpin ayahnya, dengan visi yang sama besarnya dengan harapan warganya.

    Lingkaran itu sudah berputar cukup lama. Dan setiap kali berputar, rakyat Tomohon menaruh kepercayaan—bukan tanpa syarat, melainkan dengan harapan bahwa kali ini putarannya akan membawa sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

    Sendy Gladys Adolfina Rumajar punya semua modal untuk menjawab harapan itu. Nama keluarga yang kuat. Pendidikan yang mumpuni. Jaringan yang luas. Dan—jika benar-benar dimanfaatkan—energi anak muda yang belum habis digerus rutinitas kekuasaan.

    Tomohon menunggu. Bukan dengan sabar yang pasif. Melainkan dengan mata yang terbuka.

    Waktu yang akan menjawab. Tapi rakyat yang akan menagih. ***

    PENULIS

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

    Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

    Kota Bunga di Musim Efisiensi

     Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

    Waspada El Niño 2026–2027

    Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

    Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

    Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

    ‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

    ‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

    Mimpi Menjadi Koruptor

    (sebuah novel)

    Orang-Orang yang Tak Terlihat

    (sebuah novel)

    Untuk Siapa Berita Ditulis?

    Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

    Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

    Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.