Agustus di Tomohon selalu datang membawa dua hal sekaligus: aroma bunga krisan—kulo dan riri—yang menguar dari lereng Lokon, dan aroma retorika pemerintah yang menguar dari semua siaran pers. Keduanya harum. Keduanya sementara. Dan keduanya, setelah musim berlalu, tidak meninggalkan bekas yang terlalu dalam di dompet warga biasa.
Catatan kritis dari pinggir jalan Tomohon
![]() |
| Salah satu float peserta TIFF. (foto: tiff.tomohon.go.id) |
Lahir dari Jalan Protokol
Ada yang menarik dari asal-usul ToF ke TIFF: ia konon tidak lahir dari dokumen perencanaan strategis setebal bantal, bukan pula dari lokakarya ber-powerpoint yang dihadiri konsultan Jakarta. Ia lahir dari jalanan.
Januari 2006. Kota Tomohon merayakan ulang tahunnya. Pemerintah kota memutuskan untuk menggelar pawai bunga—sebuah parade kendaraan berhias bunga yang melintasi jalur protokol kota. Sederhana, tapi bermakna, karena bunga di Tomohon bukan sekadar komoditas. Ia adalah gaya hidup. Ia tumbuh di halaman rumah, menghiasi pesta pernikahan, menemani upacara gereja, hadir di meja makan. Bunga di sini adalah identitas yang diwariskan turun temurun, bukan dipasarkan.
Lalu, Agustus di tahun yang sama, pawai itu digelar lagi. Kali ini lebih besar: lebih dari 600 kendaraan bermotor memadati jalanan, ditambah iring-iringan yang sulit dibayangkan dalam festival bunga mana pun di dunia—Bendi dan Pedati Sapi, kendaraan tradisional warisan turun-temurun masyarakat Tomohon, yang dimodifikasi dan dihias dengan bunga dari kebun sendiri. Bukan bunga yang dibeli dari distributor luar pulau. Bukan dekorasi yang dikerjakan event organizer dari kota besar nun jauh di sana. Ini bunga dari tangan petani lokal, ditempel dengan tangan petani lokal, di atas kendaraan yang sudah melintasi generasi.
Animo masyarakat luar biasa. Dan di sinilah pemerintah kota membaca sesuatu yang tepat: ini bukan sekadar perayaan, ini adalah potensi.
Ketika Orang-Orang Penting Ikut Menanam
Tahun 2007 menjadi tahun konsolidasi. Tepatnya 14 Januari 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Anni Bambang Yudhoyono berkunjung ke Tomohon—bukan untuk meresmikan monumen, bukan untuk memotong pita proyek, tapi untuk hal yang lebih tidak biasa bagi seorang presiden: berdialog langsung dengan petani dan perangkai bunga. Tentang taraf hidup mereka. Tentang potensi yang mereka pegang di tangan yang sama tangan itu mencangkul tanah vulkanik lereng Lokon dan Mahawu setiap pagi.
Itu kunjungan yang punya bobot simbolis besar. Presiden duduk dengan petani bunga. Bukan seremoni seremonial biasa.
Sembilan hari kemudian, 23 Januari 2007, giliran Ibu Hj Mufidah Jusuf Kalla—istri Wakil Presiden—yang hadir di Tomohon. Ia membuka secara resmi Pameran Bunga dan Lomba Merangkai Bunga, lalu melakukan sesuatu yang secara botanikal maupun politis penuh makna: menanam secara simbolis bunga Phaius—anggrek kelapa—yang baru saja disahkan oleh Departemen Pertanian RI sebagai bunga khas Kota Tomohon.
Dua kunjungan pejabat tertinggi negara dalam selang sembilan hari. Bagi kota kecil di kaki gunung berapi di ujung timur laut Sulawesi, itu bukan sekadar kehormatan. Itu adalah lampu hijau dari pusat: lanjutkan, kami memperhatikan.
Maka dilanjutkanlah. Tournament of Flowers 2008 lahir—dengan koordinasi yang melibatkan setidaknya empat kementerian sekaligus: Kemenpar, Kemenlu, Kemenperindag, dan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. BUMN dan BUMD diajak masuk sebagai sponsor. Harapan datang dari berbagai penjuru—pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, kalangan swasta, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, dan para turis yang sudah terlanjur jatuh cinta pada bunga Tomohon.
Dari pawai Bendi dan Pedati Sapi, lahirlah festival berskala internasional.
Itu pencapaian yang tulus dan patut dirayakan—sebelum kita mulai membaca siaran persnya dengan lebih teliti.
Angka-Angka yang Selalu Indah di Atas Kertas
Mari kita bicara tentang hal yang paling sering dikutip dalam setiap siaran pers TIFF: angka.
Pemerintah menyebut pendapatan petani dan penjual bunga naik 100 persen selama TIFF. Delapan puluh persen pelaku usaha merekrut pekerja musiman tambahan. Ratusan ribu wisatawan. Puluhan miliar rupiah berputar. Pameran dengan puluhan IKM memajang batik, akrilik, miniatur rumah panggung, olahan kayu kelapa, snack kemasan, gula aren Masarang.
Semua angka itu memiliki satu kesamaan yang menarik: tidak ada yang bisa diverifikasi secara independen oleh warga Tomohon yang benar-benar mencoba menghitung uang di laci kasir mereka setelah festival berakhir.
Seratus persen kenaikan pendapatan petani bunga terdengar luar biasa—sampai kita bertanya, seratus persen dari berapa? Jika seorang petani biasa menghasilkan Rp 500.000 seminggu dari bunga krisan, maka 100 persen kenaikan selama enam hari festival berarti Rp 1 juta tambahan. Dikurangi biaya tambahan pupuk, dikurangi upah pekerja musiman yang tadi disebut "80 persen merekrut pekerja tambahan" itu—berapa lagi sisanya yang benar-benar masuk kantong?
Tidak ada yang menjelaskan. Dan itulah seninya: angka besar tanpa denominasi yang jelas adalah senjata retorika paling efektif yang pernah ditemukan peradaban manusia sejak zaman siaran radio.
Multiplier Effect dan Misteri Uang yang Mengalir ke Manado
Multiplier effect—efek pengganda ekonomi—adalah konsep yang sangat sah dalam ilmu ekonomi. Uang yang dibelanjakan wisatawan akan berputar: masuk ke restoran, lalu ke supplier bahan makanan, lalu ke petani, dan seterusnya. Teorinya indah.
Praktiknya di Tomohon memiliki satu komplikasi kecil yang disebutkan dengan sangat jujur dalam berbagai catatan evaluasi—dan ini patut diapresiasi karena biasanya pemerintah tidak sejujur ini—bahwa sebagian wisatawan menginap dan belanja di Manado, sehingga mengurangi manfaat langsung bagi infrastruktur lokal seperti hotel.
Sebagian. Kata yang lunak untuk menggambarkan fenomena yang cukup struktural: Tomohon adalah kota tanpa hotel berbintang yang memadai untuk menyerap ratusan ribu wisatawan. Jarak ke Manado sekitar 25 kilometer. Logika ekonomi sederhana mengatakan bahwa wisatawan dari luar Sulawesi Utara akan menginap di Manado, datang ke Tomohon untuk foto-foto di antara kendaraan hias berbunga, membeli satu dua ikat krisan sebagai oleh-oleh, lalu kembali ke hotel bintang tiga, atau empat di Manado untuk makan malam.
Multiplier effect-nya pun ikut pindah ke Manado.
Yang tertinggal di Tomohon adalah kemacetan, sampah sisa festival, dan petani bunga yang bersyukur karena bulan ini penjualannya lebih baik—meski besok lusa mereka kembali ke harga normal, dan tidak ada yang membicarakan sistem distribusi bunga krisan Tomohon yang lebih stabil, kontrak jangka panjang dengan eksportir, atau mekanisme apa pun yang bisa membuat kenaikan itu tidak bersifat musiman.
Pagar Knock-Down: Metafora yang Tak Perlu Ditafsir
Ini adalah detail paling menusuk dari seluruh narasi TIFF, dan ia hadir tanpa perlu dilebih-lebihkan: pada hari H festival, warga kesulitan menonton karena area utama pusat kota Tomohon telah diblokade pagar-pagar knock-down dan tenda-tenda bagi para undangan.
Bayangkan sejenak situasinya.
Seorang ibu dari salah satu kelurahan di pusat kota sudah bangun pagi-pagi. Anaknya minta lihat parade bunga—parade yang lahir dari tradisi warga Tomohon sendiri, dari Bendi dan Pedati Sapi milik leluhur mereka, dari bunga yang ditanam di kebun belakang rumah keluarga mereka turun-temurun. Festival ini, katanya, untuk mempromosikan Tomohon—kota tempat si ibu lahir, besar, menanam bunga, dan membayar pajak.
Tapi ketika si ibu tiba di pusat kota dengan anaknya yang sudah berteriak kegirangan dari dalam angkot, yang mereka temukan adalah pagar besi knock-down setinggi dada. Dan di baliknya—kursi-kursi tertata rapi untuk para undangan, pejabat, tamu VVIP, dan mungkin beberapa bule dari negara-negara yang disebut "peserta internasional."
Si ibu dan anaknya berdiri di belakang pagar. Mereka bisa melihat pucuk-pucuk bunga di atas kendaraan hias. Mereka adalah tuan rumah yang tidak diundang ke pesta di rumah sendiri—pesta yang, ironi sempurna, menggunakan warisan budaya keluarga mereka sebagai daya tarik utama.
"Collaboration of Spirit"—Tapi Spirit Siapa?
TIFF 2026 diluncurkan 4 Mei 2026 dengan tema "Collaboration of Spirit", dijadwalkan 7–12 Agustus, dengan target 400.000 wisatawan. Melibatkan pelaku seni, UMKM, dan diaspora. Termasuk dalam Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata.
Tema yang bagus. Spirit kolaborasi. Pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat, UMKM dengan mitra internasional, bunga dengan kendaraan hias, dan—tentu saja—undangan dengan kursi VIP.
Tapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: dalam kolaborasi ini, siapa yang duduk di meja perundingan dan siapa yang berdiri di luar pagar?
UMKM diikutsertakan dalam pameran—bagus. Petani bunga mendapat pesanan lebih banyak—bagus. Tapi apakah petani bunga itu dilibatkan dalam menentukan arah festival? Apakah pedagang kaki lima yang biasanya mangkal di pusat kota punya suara soal di mana mereka boleh berjualan ketika area diblokade? Apakah warga Tomohon—yang kebunnya menjadi latar belakang indah untuk foto-foto wisatawan itu—punya kursi di rapat panitia—maupun hari 'H' TIFF?
Collaboration of Spirit tanpa collaboration of decision-making hanyalah cara yang lebih indah untuk menyebut: kami mengundang kalian untuk bekerja, tapi bukan untuk berpendapat.
Yang Perlu Diakui: TIFF Bukan Tanpa Manfaat
Keadilan intelektual mengharuskan kita untuk tidak berdiri di ekstrem yang lain. TIFF bukan festival omong kosong belaka.
Bahwa Tomohon dikenal sebagai kota bunga, itu adalah prestasi nyata. Bahwa krisan Tomohon mulai mendapat perhatian untuk pasar ekspor melalui sinergi dengan Bank Indonesia dan Kementerian Pariwisata, itu adalah arah yang benar. Bahwa festival ini menciptakan ekosistem kreatif—perajin yang membuat ornamen untuk kendaraan hias, pelaku kuliner yang mendadak punya pembeli lebih banyak, tukang ojek yang bulan Agustus rezekinya lebih tebal—semua itu nyata dan tidak kecil artinya.
Bahwa tradisi Bendi dan Pedati Sapi yang dulu hanya menjadi aset turun-temurun keluarga Tomohon bisa tampil di panggung internasional—apakah masih ditampilkan di ajang bergengsi TIFF?—itu sesuatu. Nenek moyang yang mewariskan kendaraan-kendaraan itu mungkin tidak membayangkan bahwa suatu hari cucunya akan menghiasnya untuk ditonton tamu dari berbagai negara.
Masalahnya bukan pada apakah TIFF bermanfaat. Masalahnya adalah pada proporsi: seberapa besar manfaat itu dibandingkan skala investasi yang masuk, dan siapa yang paling banyak menikmatinya?
Kalau 400.000 wisatawan datang tapi mayoritas menginap di Manado dan makan di restoran Manado, lalu efek ekonomi terbesarnya jatuh ke Manado—maka TIFF bukan festival Tomohon. TIFF adalah festival untuk wisatawan, tentang Tomohon, yang kebetulan diadakan di Tomohon.
Perbedaan kecil, tapi bermakna.
Bunga yang Layu, Pertanyaan yang Tidak
Setiap Agustus, bunga-bunga itu akan mekar di atas kendaraan hias, melintas di bawah terik matahari Tomohon, disambut tepuk tangan para undangan di balik tenda. Setiap Agustus, angka-angka indah diterbitkan dalam siaran pers. Setiap Agustus, foto-foto parade itu viral di media sosial dan Tomohon trending sejenak.
Lalu TIFF usai—waktu berjalan, hari berganti. Bunga layu. Wisatawan pulang. Pagar knock-down dilipat, disimpan di gudang, menunggu Agustus berikutnya. Petani kembali ke kebun dengan harga krisan yang kembali normal. Bendi dan Pedati Sapi—jika pun ditampilkan di TIFF—kembali disimpan, menunggu giliran berikutnya untuk bersinar.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada, tidak layu, tidak juga dijawab:
Berapa persisnya uang yang beredar di Tomohon—bukan di Manado—selama TIFF? Berapa persen petani bunga yang kini punya kontrak penjualan jangka panjang, bukan sekadar lonjakan musiman? Mengapa warga kota harus berdiri di belakang pagar di kotanya sendiri, di festival yang lahir dari tradisi mereka sendiri? Dan apa rencana konkret untuk mengubah perayaan tahunan ini menjadi fondasi ekonomi yang tidak bergantung pada satu minggu di bulan Agustus?
TIFF adalah festival yang sungguh-sungguh indah. Tomohon pantas bangga—bangga yang tulus, bukan yang dipaketkan dalam press release.
Tapi kebanggaan bukan pengganti jawaban. Dan bunga—seberapapun harumnya—tidak bisa mengisi perut sepanjang tahun.
Selamat datang di TIFF 2026. Semoga tahun ini, kursinya juga ada untuk si ibu dan anak dari kelurahan yang dekat maupun jauh—dan Bendi milik kakeknya diizinkan parkir di depan, bukan di gang belakang. ***

Komentar
Posting Komentar