Langsung ke konten utama

Tomohon di Persimpangan

 Di Tomohon, bunga memang selalu tepat waktu mekar. Anggaran, sayangnya, punya kebiasaan sendiri: sering telat, kadang malah menyusut. Tahun 2026 jadi pelajaran berharga bagi Kota Bunga: keindahan sejati bukan lahir dari pesta gemerlap semata, melainkan dari ketepatan mengambil keputusan ketika dompet daerah sudah agak kurus.

Ketika Anggaran Menipis, Bunga Harus Tetap Mekar


gambar ilustrasi tentang tomohon dan prospek ke depan
Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan teknologi AI.

Pasangan Wali Kota Caroll Joram Azarias Senduk dan Wakil Wali Kota Sendy Gladys Adolfina Rumajar (CSSR) memasuki “tahun eksekusi”. Janji-janji kampanye yang dulu indah di baliho kini harus bertemu realitas APBD yang kurang ramah. Penurunan anggaran menciptakan fiscal gap—istilah keren yang artinya sederhana: banyak keinginan, tapi kantong terbatas. Belanja wajib seperti gaji dan operasional nyaris menghabiskan porsi besar, menyisakan ruang sempit untuk infrastruktur, revitalisasi pasar, drainase, dan air bersih yang menjadi napas janji politik.

Dari luar, Tomohon masih memesona. Tomohon International Flower Festival (TIFF) terus jadi magnet, penghargaan The Wonderful Indonesia Cities Impact Award 2025 membuktikan pariwisata berbasis komunitas berjalan cukup baik. Namun di balik panggung, alam mulai berbisik peringatan: limpasan air meningkat, siklus hidrologi terganggu. Pembangunan tanpa kendali perlahan menagih tagihan ekologis yang tak tercantum di lembar APBD.

Dilema yang Menghibur (sekaligus Menyiksa)

Ini seperti punya kebun bunga indah tapi pupuknya terbatas. Mau memaksakan segala janji sekaligus? Risikonya tanaman layu semua. Atau menata ulang prioritas dengan cerdas? Itulah pilihan kepemimpinan sesungguhnya.

Tomohon tak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada dana transfer pusat. Waktunya bergeser dari budgetary-driven menjadi investment-driven. Pemerintah tak cukup jadi bendahara, harus berani jadi arsitek peluang—dari chief administrator menjadi chief entrepreneur.

Sinyal baik sudah terlihat. Peringkat kedua TP2DD Award 2025 membuka pintu optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat digitalisasi. Pajak dan retribusi pasar serta parkir yang disinyalir selama ini bocor seperti keran longgar bisa diperbaiki dengan sistem yang lebih pintar, bahkan memanfaatkan AI. Hasilnya bukan cuma tambahan uang, tapi juga kebiasaan tata kelola yang lebih modern.

Proyek besar seperti modernisasi Pasar Beriman juga tak harus selalu membebani APBD. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menawarkan jalan tengah yang elegan: pemerintah mengatur, swasta berinvestasi, masyarakat menikmati pasar yang lebih tertata tanpa membuat kas daerah sesak napas.

Dari Bunga Potong ke Bunga Bernilai Tambah

Tomohon sudah mahir menjual keindahan. Saatnya naik kelas: bukan hanya bunga potong, tapi agroindustri berbasis florikultura. Ekstraksi minyak atsiri, parfum, produk turunan—semua bisa menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menjawab angka pengangguran sekitar 7,8 persen. Bunga bukan lagi sekadar pajangan festival, melainkan bahan baku masa depan.

Di tengah keterbatasan, justru muncul peluang inovasi. Kebijakan Zero Delta Q adalah contoh brilian: pengembang wajib mengelola limpasan air sendiri. Lingkungan terjaga, APBD bernapas lega, janji kelestarian alam terlaksana tanpa harus mengandalkan anggaran besar.

Fondasi yang Sesungguhnya

Stabilitas politik pasca-Pilkada harus diterjemahkan menjadi stabilitas kebijakan. Ada tiga pilar yang tak boleh goyah:

Resiliensi infrastruktur — drainase bukan proyek kosmetik, melainkan benteng menghadapi perubahan iklim.

Inklusi ekonomi — agar wisatawan yang berfoto di pusat kota juga membawa manfaat hingga kelurahan pinggiran.

Transparansi — di masa anggaran tipis, kejujuran adalah mata uang paling berharga untuk mempertahankan kepercayaan publik.

Tahun 2026 bukan tahun untuk memaksakan segalanya terlihat sempurna di permukaan. Ini tahun pembuktian integritas: mampu mengomunikasikan skala prioritas dengan jujur, mengajak masyarakat berkolaborasi, dan mengubah keterbatasan menjadi katalisator inovasi.

Tomohon berdiri di persimpangan. Keberhasilannya kelak tak lagi diukur dari berapa banyak pita yang digunting di acara seremonial, melainkan seberapa kuat akar ekonominya menembus tanah. Karena bunga yang paling tahan lama bukan yang paling mencolok di panggung festival, melainkan yang akarnya dalam, tangguh, dan mampu mekar meski angin fiskal bertiup kencang.

Kota Bunga punya peluang emas untuk membuktikan: di balik setiap keterbatasan, bisa lahir keindahan yang lebih dalam dan abadi. Sekarang tinggal soal keberanian menentukan arah di persimpangan ini.***


Komentar

POPULER

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Menjemput Berita, Menembus Waktu

CATATAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI REDAKSI: DARI WORDSTAR HINGGA SMARTPHONE Ada masa ketika berita tidak diketik di layar yang tipis dan terang seperti sekarang. Ia lahir dari denting tombol yang keras, dari layar hitam dengan huruf-huruf hijau, dari disket yang disimpan seperti benda berharga—jatuh sedikit saja, rasanya seperti kehilangan setengah hari kerja. Di ruang redaksi, waktu tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ia melompat-lompat—dari mesin tik ke komputer, dari pager ke ponsel, dari wartel ke pesan instan yang tak pernah tidur. Dan di setiap lompatan itu, ada satu hal yang selalu ikut: manusia yang mencoba mengejar berita… sambil diam-diam mengejar zaman. Cover Buku Menjemput Berita, Menembus Waktu yang sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

MENJAGA NALAR JURNALISTIK DI ERA ALGORITMA Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

  ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.  

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh. BERJAGA DI BALIK LAYAR Tulisan ini—jujur saja—pernah saya bagikan beberapa bulan lalu di Facebook. Ia lahir dari satu fase yang cukup melelahkan: ketika saya masih menjadi wartawan, sekaligus mencoba mengelola portal berita sendiri. Dari luar, semuanya terlihat sederhana—tinggal menulis, lalu terbit. Tapi di balik layar, ceritanya berbeda. Ada hosting yang harus dibayar, domain yang harus diperpanjang, dan berbagai urusan teknis—CSS, Javascript, HTML—yang pelan-pelan menuntut untuk dipahami. Awalnya saya menyerahkan itu kepada mereka yang saya anggap lebih ahli. Tapi waktu berjalan, biaya mulai membengkak, sementara setiap kali portal “batuk”, perbaikannya tidak selalu secepat yang dibutuhkan. Di situlah saya mulai belajar sendiri. Tertatih, sering salah, tapi terus mencoba. Saya juga sempat ingin membangun sistem yang mandiri—tidak bergantung pada kont...