Langsung ke konten utama

Di Atas Bara, Bunga Tumbuh

"Tapi kalau meletus bagaimana?"

"Ya mengungsi."

"Sesimpel itu?"

Tomohon, Kota Destinasi Wisata Gunung Berapi

Pagi itu, saya bersama sahabat berniat mendaki Gunung Lokon dan Mahawu. Dalam perjalanan kami berjumpa Danny—petani bawang yang merangkap tukang ojek, dan pemandu wisata dadakan.

Kami duduk di tepi jalan menuju Gunung Mahawu. Di bawah kami, Kota Tomohon terbentang seperti karpet hijau yang seseorang lupa menghamparkannya dengan rapi. Nun jauh di seberang, asap tipis mengepul dari arah Kawah Tompaluan—tenang, santai, seolah gunung itu sedang menikmati rokok pagi.

"Bapak tidak takut tinggal dekat gunung aktif?" tanya saya, basa-basi yang menurut saya cukup sopan.

Danny menoleh. Matanya menyipit—bukan karena silau, tapi karena pertanyaan saya rupanya lucu baginya.

"Kamu tinggal di mana?"

"Saya, di sini, Tomohon juga, di kawasan pusat kota. Teman saya ini dari Jakarta."

"Nah." Dia mengambil air minum botolnya, lalu berucap. "Saya lebih takut tinggal di sana."

Tomohon bukan kota yang bisa dijelaskan hanya dengan angka. Tapi angka-angka itu ada, dan cukup dramatis untuk disebutkan: dua gunung berapi aktif dalam satu kota. Gunung Lokon, 1.580 meter, salah satu yang paling rajin meletus di Indonesia. Gunung Mahawu, 1.311 meter, lebih pendiam tapi tetap menyimpan kawah masih bergelora meski sedikit jinak—di dekatnya ada Gunung Masarang yang sudah lama diam.

Gunung Lokon dan pemandangan Kota Tomohon
Gunung Lokon dan pemandangan Kota Tomohon dibawahnya. (foto: doc)

Kota ini berada di ketinggian 700 hingga 800 meter dari permukaan laut. Udaranya dingin dan sejuk. Jarak ke Manado—ibukota Provinsi Sulawesi Utara—hanya sekitar 25 kilometer.

Saya sudah tahu semua fakta itu. Tapi Danny mengajarkan saya bahwa mengetahui fakta dan 'memahami' fakta adalah dua hal yang berbeda, seperti membaca peta dan benar-benar berjalan di atas tanahnya.

"Orang-orang kota selalu tanya soal bahaya," kata Danny. "Tapi tidak pernah tanya soal berkah."

"Berkah apa?"

Dia menunjuk ke lereng di bawah: petak-petak beragam sayuran, tomat berwarna merah menyala, kol membulat di antara kabut tipis. 

"Tanah di sini subur karena gunung. Abu vulkaniknya seperti pupuk gratis dari atas. Petani di sini tidak perlu banyak kimia."

Teman saya mencatat ini. Kemudian bertanya: 

"Tapi kalau meletus bagaimana?"

"Ya mengungsi."

"Sesimpel itu?"

"Sesimpel itu." Kata Danny seraya tersenyum penuh arti. Dia kemudian melanjutkan. "Kami sudah terbiasa. PVMBG—Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi—selalu pantau. Ada pos pengamatan, ada sirine, ada jalur evakuasi. Hidup di sini bukan berarti tidak waspada. Tapi juga bukan berarti terus ketakutan."

Saya diam sebentar. Di Jakarta, teman saya mengisahkan, dirinya pernah terjebak macet tiga jam hanya untuk menempuh delapan kilometer. Di sini, orang-orang tinggal di kaki gunung berapi dan masih sempat tertawa pagi-pagi.

Mungkin 'rasa aman' itu bukan soal di mana kamu tinggal. Tapi soal seberapa dalam kamu mengenal tempatmu.

Siang hari, saya dan sahabat saya, bergerak ke arah Gunung Lokon bermaksud ke Kawah Tompaluan, bersama Danny yang tiba-tiba saja sudah berubah fungsi menjadi pemandu resmi—tanpa kontrak, tanpa tarif yang jelas, dan dengan wawasan yang jauh melampaui brosur wisata mana pun.

Kawah Tompaluan terletak di kaki Gunung Lokon, di ketinggian sekitar 1.500 meter. Dari kejauhan, kawah ini seperti luka di permukaan bumi yang masih belum sembuh—dan mungkin memang tidak akan pernah sembuh, karena bumi di sini memang masih hidup, bernapas, dan sesekali berdeham keras.

Asap berwarna kuning kehijauan mengepul dengan anggun. Bau belerang menyengat hidung saya. Danny—yang hidungnya rupanya sudah kebal—malah sibuk menceritakan bahwa kawah ini juga dijadikan tempat penelitian agrometeorologi.

"Peneliti datang, mereka ukur ini-itu," katanya. "Katanya aktivitas vulkanik mempengaruhi pola cuaca di sekitar pertanian."

"Bapak mengerti agrometeorologi?"

"Tidak." Dia mengangkat bahu. "Tapi saya mengerti tomat saya tumbuh bagus di sini. Mungkin itu juga ilmu."

Saya tersenyum, teman saya tertawa. Dan mungkin dia benar.

Soal trekking

"Gunung Lokon untuk yang sudah berpengalaman. Ke puncaknya, jalurnya menantang, kondisi fisik harus prima. Tapi pemandangannya—aduh." Dia berhenti sejenak, mencari kata yang pas. "Seperti Tuhan buka tirai dan bilang: Ini karyaku. Apakah kamu puas?"

"Dan Gunung Mahawu?"

"Mahawu untuk semua orang. Pemula pun bisa. Kawahnya bagus, hutannya asri. Dan—ini penting—lebih sering buka untuk wisatawan karena statusnya lebih tenang."

Saya tanya apakah dia pernah mengantar tamu yang menyesal datang.

Danny berpikir cukup lama. "Pernah ada tamu yang komplain karena capek. Naik ke atas, lalu bilang: "Saya kira pemandangannya lebih bagus." Dia terkekeh. "Saya bilang ke dia: keindahan itu tidak datang kepada orang yang malas naik."

Saya memandang lanskap di depan kami: kota mungil di kelilingi gunung, sawah dan kebun florikultura dan hortikultura bertingkat-tingkat di lereng, awan rendah yang tersangkut di puncak Lokon seperti topi yang kekecilan.

Danny benar. Keindahan memang tidak menjemput. Dia hanya menunggu di atas, dengan sabar.

Sore, menjelang malam, kami turun. Danny membeli tiga buah jagung bakar dari seorang ibu di pinggir jalan—satu untuk saya, satu untuk sahabat saya, dan satu untuk dirinya. Kami makan sambil berdiri, memandang Tomohon yang mulai bermandikan cahaya sore yang keemasan.

"Kenapa Tomohon disebut Kota Bunga?" tanya sahabat saya.

"Karena banyak bunga." Jawab Danny sesederhana itu.

"Hanya itu?"

"Hawanya dingin, tanahnya subur. Bunga tumbuh mudah. Petani di sini tanam bunga untuk dijual ke Manado, ke Bitung, ke mana-mana. Dan ada festival bunga juga—Tomohon International Flower Festival. Kota kecil ini masuk radar internasional hanya karena bunga."

Saya mengunyah jagung bakar saya. Di antara asap gunung dan wangi bunga, di antara ancaman letusan dan kesuburan tanah, Tomohon seperti paradoks yang berhasil—tempat di mana bahaya dan berkah tinggal berdampingan, seperti dua tetangga yang sudah lama berdamai.

"Danny," kata sahabat saya pelan, "kalau ada orang tanya kenapa Bapak tidak pindah ke kota besar—apa jawabanmu?"

Dia membuang tulang jagung ke tempat sampah yang ada di dekatnya. Mengibaskan tangan. Lalu menatap Gunung Lokon yang mulai diselimuti awan sore.

"Saya sudah di kota besar," katanya akhirnya. "Ini kotanya. Gunung itu temboknya. Awan itu plafonnya. Dan semua ini—" dia membuka tangannya lebar, mencakup seluruh pemandangan, "—ini ruang tamunya."

Sahabat saya tidak berkata apa-apa.

Karena memang tidak ada yang perlu ditambahkan.

Catatan perjalanan: Tomohon berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Manado, dapat ditempuh kurang dari satu jam—jika tidak macet. Bagi yang ingin mendaki Gunung Lokon atau Mahawu, disarankan untuk melapor terlebih dahulu ke Pos Pengamatan Gunung Api setempat dan memantau informasi status vulkanik terkini dari PVMBG sebelum mendaki. Persiapkan fisik, bawa perlengkapan yang memadai, dan jangan mendaki sendirian. Keindahan gunung adalah anugerah—kehati-hatian adalah tanggung jawab kita.***

Komentar

POPULER

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Menjemput Berita, Menembus Waktu

CATATAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI REDAKSI: DARI WORDSTAR HINGGA SMARTPHONE Ada masa ketika berita tidak diketik di layar yang tipis dan terang seperti sekarang. Ia lahir dari denting tombol yang keras, dari layar hitam dengan huruf-huruf hijau, dari disket yang disimpan seperti benda berharga—jatuh sedikit saja, rasanya seperti kehilangan setengah hari kerja. Di ruang redaksi, waktu tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ia melompat-lompat—dari mesin tik ke komputer, dari pager ke ponsel, dari wartel ke pesan instan yang tak pernah tidur. Dan di setiap lompatan itu, ada satu hal yang selalu ikut: manusia yang mencoba mengejar berita… sambil diam-diam mengejar zaman. Cover Buku Menjemput Berita, Menembus Waktu yang sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

MENJAGA NALAR JURNALISTIK DI ERA ALGORITMA Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

  ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.  

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh. BERJAGA DI BALIK LAYAR Tulisan ini—jujur saja—pernah saya bagikan beberapa bulan lalu di Facebook. Ia lahir dari satu fase yang cukup melelahkan: ketika saya masih menjadi wartawan, sekaligus mencoba mengelola portal berita sendiri. Dari luar, semuanya terlihat sederhana—tinggal menulis, lalu terbit. Tapi di balik layar, ceritanya berbeda. Ada hosting yang harus dibayar, domain yang harus diperpanjang, dan berbagai urusan teknis—CSS, Javascript, HTML—yang pelan-pelan menuntut untuk dipahami. Awalnya saya menyerahkan itu kepada mereka yang saya anggap lebih ahli. Tapi waktu berjalan, biaya mulai membengkak, sementara setiap kali portal “batuk”, perbaikannya tidak selalu secepat yang dibutuhkan. Di situlah saya mulai belajar sendiri. Tertatih, sering salah, tapi terus mencoba. Saya juga sempat ingin membangun sistem yang mandiri—tidak bergantung pada kont...

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.