Langsung ke konten utama

‎‎Saat Kekuasaan Lupa Cara Bersikap

 Kekuasaan sejatinya mengajarkan tata krama paling dasar: tahu kapan berbicara, kapan mendengar, dan kapan menahan diri. Namun ada masa ketika ia justru lupa caranya bersikap—seolah jabatan cukup tinggi untuk membebaskan diri dari kewajiban berpikir. 

Kekuasan yang bertanggung jawab vs kekuasaan tanpa etika
Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan menggunakan teknologi AI.

Kekuasaan, konon, adalah guru etika paling disiplin. Ia mengajarkan tata krama dasar yang bahkan tak diajarkan di sekolah: kapan bicara, kapan mendengar, dan—ini yang sering bolong di ujian—kapan sebaiknya diam. Sayangnya, ada masa ketika kekuasaan tampak lupa silabus. Ia bersikap seolah kursi empuk otomatis memberi izin untuk berhenti berpikir.

‎‎Dalam teori, kekuasaan mirip kaca pembesar. Ia tidak menciptakan watak baru, hanya memperbesar yang sudah ada. 

‎Kalau yang dibesarkan kebijaksanaan, hasilnya cahaya. Tapi kalau yang diperbesar kebiasaan lama yang tak sempat dibereskan, pantulannya bisa menyilaukan—bahkan memalukan. 

‎Maka ketika seseorang yang belum akrab dengan tanggung jawab duduk di pusat pengambil kebijakan, yang berubah sering kali bukan dirinya, melainkan suasana ruangan. Yang tadinya hening penuh pertimbangan, perlahan ramai oleh gestur, gaya, dan humor yang seharusnya berhenti di ruang tunggu.

‎‎Etika dan kewibawaan jarang runtuh dengan suara keras. Ia lebih sering pergi pelan-pelan, seperti tebing yang dikikis ombak kecil tapi rajin. 

‎Awalnya cuma candaan. Lalu kebiasaan. Tahu-tahu, rapat penting terasa seperti acara selingan. 

‎Kekuasaan yang mestinya dijaga seperti benda rapuh malah diperlakukan seperti panggung hiburan: ada penonton, ada tepuk tangan, tapi substansi kadang tertinggal di parkiran.

‎‎Padahal, keputusan publik bukan urusan spontan layaknya memilih kopi pagi—hitam atau manis, panas atau dingin. Ia menuntut proses panjang: mendengar banyak suara, menimbang dampak, mengukur risiko, lalu mengeksekusi dengan kepala dingin. Di situlah kebijakan diuji—bukan pada seberapa cepat diucapkan, melainkan seberapa matang dipikirkan. Tanpa proses, keputusan berubah seperti lelucon internal: lucu bagi yang di dalam, pahit bagi yang harus menelan akibatnya.

‎‎Masalahnya sering salah alamat. Bukan soal dari mana seseorang datang, latar belakang apa yang ia bawa, atau masa lalu apa yang melekat di namanya. Persoalannya lebih sederhana sekaligus lebih serius: kemauan untuk belajar dan bertumbuh. 

‎Kekuasaan menuntut kedewasaan, bukan sekadar keberanian tampil. Tanpa kesadaran baru, kebiasaan lama ikut naik jabatan—dan kita tahu, kebiasaan lama jarang siap memimpin.

‎‎Di titik tertentu, yang sakral mulai terasa remeh. Etika jadi aksesori, tanggung jawab terasa bisa ditawar. Sistem yang sebenarnya kokoh kehilangan arah bukan karena rapuh, melainkan karena dijalankan tanpa rasa hormat. Yang penting ditertawakan, yang serius dianggap berlebihan. 

‎‎Dan pada akhirnya, bukan kursi kekuasaan yang menanggung akibat. Manusialah yang menanggungnya: masyarakat, rekan kerja, dan mereka yang berharap pada keputusan yang adil. Ketika martabat institusi memudar, kepercayaan publik ikut menguap. Kepercayaan, sayangnya, bukan barang yang mudah direkatkan kembali—bahkan dengan janji yang paling fasih sekalipun.

‎‎Di sinilah pelajaran sunyi itu berdiri: posisi tinggi tidak otomatis mengangkat kualitas pribadi. Justru karakterlah yang seharusnya mengangkat martabat sebuah tempat. 

Kekuasaan sejati bukan tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling siap memikul beban—dengan pikiran jernih, hati dewasa, dan kesadaran sederhana bahwa setiap keputusan selalu punya alamat konsekuensi. ***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Negeri Lima Ribu Gereja: Membaca Sulawesi Utara dari Menara Lonceng

Dari bukit-bukit Minahasa hingga pesisir Sangihe, salib dan lonceng gereja telah menjadi penanda lanskap selama berabad-abad. Kini, angka-angka bicara lebih keras dari bunyi lonceng itu sendiri.

Tiga Belas Kali: Dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Sembilan Tahun Gelap, Tiga Belas Tahun Terang