Langsung ke konten utama

Dari Barak Militer ke Kompleks Permanen

 Sebelum punya gedung megah di Kolongan, roda pemerintahan Kota Tomohon dulu berputar di… barak militer.

Dari aroma lapangan hingga derap langkah prajurit, di sanalah awal mula lahirnya pemerintahan Kota Bunga tercinta.

Jejak Sejarah Kantor Walikota Tomohon

Kantor Wali Kota Tomohon di Kakaskasen dan Kantor Wali Kota Tomohon di Kolongan
Kantor Wali Kota Tomohon di Kakaskasen dan Kantor Wali Kota Tomohon di Kolongan 1. (foto: dok)

Setiap kota punya cerita tentang awal berdirinya. Setiap kota punya satu momen—sering kali sederhana, sering kali tak terduga—ketika sesuatu yang belum ada tiba-tiba harus ada. Tapi kisah Tomohon punya sentuhan yang benar-benar unik, karena roda pemerintahan kotanya dulu berputar di barak militer.

Ya, sebelum gedung megah berdiri di Kolongan, Tomohon Tengah, pusat pemerintahan Kota Tomohon pernah 'bermarkas' di bekas kompleks militer—tepatnya di Rindam XIII/Merdeka, yang saat itu masih bernama Rindam VII/Wirabuana, di Kakaskasen III, Tomohon Utara. Bangunan-bangunan itu dirancang untuk keteguhan dan disiplin, bukan untuk stempel basah dan berkas permohonan izin. Tapi begitulah keadaannya. Dan dari sanalah semuanya bermula.

Bayangkan Tomohon pada awal tahun 2003.

Udara pagi di Kakaskasen selalu sejuk, hampir dingin—angin turun dari lereng Gunung Lokon membawa kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan. Di sisi jalan, bunga berjejer, di kejauhan nampak pohon cengkih, aren dan kelapa berdiri seperti penjaga tak bersuara. Bunga-bunga liar mekar di pinggiran tanah yang belum sepenuhnya tersentuh pembangunan.

Pada 27 Januari 2003, Tomohon resmi menjadi daerah otonom. Momen bersejarah itu disambut dengan harapan besar—tapi juga dengan kenyataan yang sederhana dan sedikit menggelitik: kota ini baru lahir, dan belum punya rumah sendiri.

Kota ini masih seperti bayi yang baru belajar berjalan. Pemerintah butuh tempat untuk berkantor, butuh meja untuk menandatangani surat, butuh ruangan untuk menggelar rapat pertama yang resmi. Tapi gedung belum ada. Dana belum cukup. Waktu tidak bisa menunggu.

Maka, barak militer pun dipinjam — dan disulap menjadi kantor transit.

Mulai Agustus 2003, kompleks Rindam yang dulunya dipenuhi suara barisan dan instruksi komando, berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Di lapangan yang sama tempat para prajurit dulu berlari dalam formasi, kini pegawai sipil berjalan tergesa membawa berkas. Di ruangan yang dindingnya masih tercium aroma cat militer—abu-abu tua dan hijau kusam yang khas—kini berderet meja kerja, mesin ketik, dan tumpukan arsip yang mulai menggunung.

Bunyi langkah sepatu lars berganti dengan suara ketukan hak sepatu para staf pemerintahan. Instruksi komandan berganti dengan disposisi atasan. Dan di sela-sela semua itu, roda birokrasi mulai berputar—pelan, kadang tersendat, tapi terus bergerak.

Dari situlah perjalanan panjang pemerintahan Tomohon dimulai—di antara tembok yang dulunya saksi latihan militer, kini menjadi saksi rapat-rapat awal pembangunan kota.

Tata letaknya pun tak kalah khas.

Kantor Walikota menempati gedung utama Rindam—bangunan di depan yang paling tegak, paling berwibawa di kompleks itu. Sementara kantor dinas dan badan tersebar mengelilingi lapangan sepak bola yang rumputnya masih kasar dan tak rata, seperti taman yang belum selesai dirawat.

Tapi tidak semua bisa masuk ke kompleks Rindam. Beberapa dinas harus mencari tempat lain. Ada yang berkantor di Taman Kota Tomohon di Paslaten—bangunan yang kini kita kenal sebagai Anugerah Hall, dengan halaman yang di hari-hari biasa terasa terlalu lapang untuk urusan administrasi. Ada pula yang berlokasi di Wakas, Paslaten 2, dan ada yang di Walian, Tomohon Selatan—beberapa kilometer dari induknya.

Tak heran kalau masa itu disebut sebagai era "kantor berpencar". Seorang warga yang ingin mengurus satu berkas bisa saja harus berpindah dari satu kelurahan ke kelurahan lain, menempuh jalan naik turun bukit, hanya untuk mendapat satu tanda tangan yang ia butuhkan. Tidak efisien, memang. Tapi di situlah letak uniknya—semua orang tahu kesulitannya, dan semua orang tetap bekerja.

Ada keakraban yang tumbuh dari keterbatasan. Ada solidaritas yang lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kebersamaan dalam menghadapi situasi yang serba tidak ideal. Para pegawai generasi pertama Kota Tomohon—mereka yang pernah bekerja di bawah atap barak Rindam—menyimpan kenangan yang tidak mungkin tergantikan oleh gedung mana pun yang lebih megah.

Waktu terus berjalan. Kota terus tumbuh. Dan Tomohon mulai memandang ke depan.

Setelah sekian lama menumpang, Pemerintah Kota Tomohon mulai membangun kantor dan perkantoran permanen: sebuah kompleks perkantoran di Kelurahan Kolongan 1, Tomohon Tengah. Lahan dipilih, anggaran disusun, desain dirancang. Perlahan tapi pasti, bangunan-bangunan baru mulai berdiri—lebih tinggi, lebih luas, lebih layak untuk sebuah kota yang sedang menemukan bentuknya.

Gedung baru itu bukan sekadar bangunan megah. Ia adalah simbol kedewasaan otonomi—tanda bahwa Tomohon sudah punya tempat sendiri untuk merancang masa depan. Bahwa kota ini tidak lagi meminjam ruang dari institusi lain, tidak lagi menumpang di bawah atap yang bukan miliknya.

Sejak saat itu, pusat pemerintahan berdenyut di Kolongan. Beberapa dinas dan badan mulai terpusat di Lansot, meski sejumlah lainnya masih terpencar di berbagai sudut kota. Konsolidasi memang tidak pernah bisa selesai dalam semalam.

Tapi Tomohon terus bergerak. Dan itu sudah cukup.

Walau begitu, semangat kebersamaan yang dulu tumbuh di barak Rindam tetap hidup—seperti bara yang tidak pernah benar-benar padam. Semangat membangun dari keterbatasan. Semangat menemukan cara di tengah ketiadaan. Semangat khas Kota Bunga yang tumbuh kuat justru dari akar sejarahnya yang paling sederhana.

Kini, jika melewati kompleks Rindam di Kakaskasen, tak banyak yang tahu bahwa di sanalah dulu segalanya dimulai. Bangunan-bangunannya masih berdiri—sebagian terawat, sebagian menanggung goresan usia. Tapi tidak ada plakat peringatan. Tidak ada tanda yang menunjuk: "Di sini, pernah lahir sebuah kota."

Hanya angin Kakaskasen yang tahu. Dan mungkin, bunga-bunga dan pohon-pohon tua yang masih berdiri di pinggiran kompleks itu—saksi bisu dari sebuah bab kecil tapi penting dalam perjalanan panjang Tomohon, dari barak militer ke balai kota yang megah.

Sejarah, sering kali, tak hanya tertulis di prasasti atau dokumen. Ia hidup di tempat-tempat yang pernah menampung harapan—di ruang barak militer yang dialihfungsikan, di meja tua tempat keputusan pertama ditandatangani, di suara mesin ketik yang dulu menandai awal sebuah kota belajar mengenali dirinya sendiri.

Kisah Kantor Walikota Tomohon bukan sekadar soal perpindahan fisik dari Kakaskasen ke Kolongan. Ia adalah cermin perjalanan sebuah kota muda yang belajar tumbuh, dari keterbatasan menuju kemandirian, dari meminjam menuju memiliki, dari berpencar menuju bersatu.

Dari barak sederhana hingga kompleks permanen, Tomohon menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya urusan beton dan cat dinding. Bukan hanya soal anggaran dan perda. Ia adalah tentang tekad, kebersamaan, dan cinta yang dalam pada tanah sendiri—pada bukit-bukit yang mengitari kota, pada udara sejuk yang turun dari Lokon, pada nama Tomohon yang kini dikenal jauh melampaui batas Sulawesi Utara.

Maka setiap kali kita melewati bangunan megah di Kolongan 1—dengan fasadnya yang rapi, halamannya yang tertata, dan bendera merah putih yang berkibar di tiangnya—mungkin ada baiknya menoleh sejenak ke utara. Ke arah Kakaskasen. Ke bekas barak di Rindam yang kini kembali menjadi milik tentara, tapi yang dulu, untuk beberapa tahun yang tak terlupakan, pernah menjadi tempat di mana roda pemerintahan pertama kali berputar.

Di sanalah semangat Tomohon sebagai Kota Bunga pertama kali mekar.

Setiap kota punya istana. Tapi Tomohon memulai dari barak militer—dan dari sanalah lahir semangat yang tak mudah menyerah.

"Semangat melayani, membangun, mensejahterakan warga serta mencintai Tomohon dengan sepenuh hati, harus terpatri pada setiap aparatur sipil di pemerintahan Tomohon."

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.