Langsung ke konten utama

Kota yang Tumbuh, Polisi yang Ikut Bertumbuh

Tentang Polres Tomohon, dari Kakaskasen ke Kolongan, dari Polsek kecil ke markas yang berdiri tegak

Empat Belas Kapolres dan Satu Kota yang Terus Bergerak

Mapolres Tomohon. Foto asli yang saya miliki dikolaborasikan dengan teknologi AI. Sehingga terjadi perubahan pada gambar ilustrasi ini. Saya sudah berusaha sedetail mungkin untuk menggambarkan gedung lama dan gedung baru Mapolres Tomohon.
Mapolres Tomohon. Foto asli yang saya miliki dikolaborasikan dengan teknologi AI. Sehingga terjadi perubahan pada gambar ilustrasi ini. Saya sudah berusaha sedetail mungkin untuk menggambarkan gedung lama dan gedung baru Mapolres Tomohon.

Pak Thomas duduk di kursi plastik merah yang sudah agak miring ke kiri—persis seperti postur tubuhnya yang ikut miring sejak lutut kanannya mulai protes tiap kali diajak naik tangga. Di depannya ada segelas kopi hitam yang masih mengepul. Di sebelah kirinya, asbak yang hampir penuh dengan abu dan puntung rokok

Rumah kopi tua di pusat kota Tomohon.

Saya datang dengan pertanyaan. Dia datang lebih dulu—dan sudah separuh jalan menembus kenangan sebelum saya sempat memesan minuman.

"Kamu tahu tidak," katanya, tanpa basa-basi perkenalan, "waktu Polres ini baru berdiri, kantornya itu di seberang kampus UKIT. Jalan Parakletos. Bangunannya sederhana."

Saya mengangguk. 

"Kamu tidak tahu." Dia menyeruput kopi. "Duduk."

Mendengarnya saya hanya tersenyum. Bukan senyum mengejek. Tapi senyum bahagia melihatnya, mendengar penuturannya yang ber'api-api'—bersemangat.

Kota yang Baru Belajar Berdiri

Sebelum 2003, Tomohon adalah kecamatan. Bukan kota, bukan kabupaten—hanya bagian kecil dari Minahasa yang besar. Urusan keamanan? Serahkan ke Polres Minahasa. Polsek Tomohon yang ada hanyalah pos penjaga yang mengurus keributan kecil, motor hilang, dan sesekali persoalan tanah warisan yang membuat saudara kandung jadi musuh.

Pak Thomas ingat betul masa itu.

"Waktu saya masih kerja sebagai...., kalau ada masalah besar, lapor dulu ke Minahasa. Jauh. Muter. Baru diproses. Sudah selesai sendiri masalahnya baru polisi datang." 

Dia terkekeh. Tawanya seperti mesin tua yang dihidupkan—butuh beberapa detik untuk menghangatkan diri, lalu menggelegar.

Tapi pada 2003, sesuatu berubah. Tomohon naik kelas. Resmi menjadi Kota Otonom. Status baru. Wajah baru. Dan yang paling penting—tanggung jawab baru.

Kota yang baru lahir itu butuh sistem pengamanannya sendiri. Bukan lagi numpang perlindungan dari tetangga.

Maka pada 1 September 2004—tepat setahun lebih setelah status kota disahkan—Mapolres Tomohon resmi dibentuk. Pemekaran dari Polres Minahasa. Markas pertamanya: Kakaskasen 3, Jalan Parakletos. Di seberang kampus UKIT, seperti yang tadi diceritakan Pak Thomas, sebelum saya sempat duduk dengan benar.

"Kapolres pertamanya AKBP Edward Tamboto," katanya, seolah menyebutkan nama teman lama. "Orangnya serius, tapi tidak kaku. Dia yang letakkan pondasi itu."

Saya mencatat. Pak Thomas menyeruput kopi lagi.

Lima Kecamatan, Satu Kepala Pusing

Kalau soal wilayah, Tomohon adalah kota yang gemar membelah diri.

Bermula dari satu kecamatan bernama Tomohon. Lalu pada 5 November 2001, sebelum status kota pun resmi, wilayah itu sudah dibagi menjadi tiga: 

Tomohon Tengah, 

Tomohon Utara, 

Tomohon Selatan. 

Barangkali karena satu nama terasa terlalu sederhana untuk kota yang punya ambisi besar.

Belum cukup. Tiga belas hari sebelum Mapolres berdiri—tepatnya 16 Agustus 2004—Tomohon Tengah kembali dimekarkan menjadi tiga: 

Tomohon Tengah, 

Tomohon Barat, dan 

Tomohon Timur.

Lima kecamatan. Satu kota. Dan sebuah Polres yang baru saja lahir.

"Polsek juga ikut mekar," kata Pak Thomas, sambil mengangkat jarinya satu per satu seperti guru matematika yang mengajar anak sekolah dasar. 

Polsek Tomohon Tengah di Kuranga Talete. 

Polsek Tomohon Utara di Kinilow. 

Polsek Tomohon Selatan di Uluindano."

"Tiga Polsek untuk lima kecamatan?" tanya saya.

"Dua yang tersisa dapat Pospol. Pos Polisi." Dia mengangkat bahu. 

Tomohon Timur dapat Pospol di Rurukan. 

Tomohon Barat dapat Pospol di Taratara. 

"Dua-duanya di bawah Polsek Tomohon Tengah."

"Jadi Polsek Tengah paling sibuk?"

Dia menatap saya dengan ekspresi orang yang baru saja ditanya apakah air itu basah.

"Tentu."

Saya mencatat itu juga.

Sonder dan Tombariri Ikut Pindah Haluan

Di luar urusan pemekaran internal, ada cerita lain yang tidak kalah menarik: dua Polsek yang pindah haluan.

Polsek Sonder dan Polsek Tombariri, yang sebelumnya berada di bawah komando Polres Minahasa, akhirnya dialihkan ke Polres Tomohon. Bukan perpindahan sembarangan—ini soal geografi dan logika administrasi.

Sonder dan Tombariri berada di wilayah penyangga. Pintu gerbang antara Minahasa dan Manado. Secara jarak dan aksesibilitas, lebih masuk akal jika berada di bawah kendali Tomohon.

Pak Thomas mengangguk pelan ketika saya menyebutkan ini, seperti orang yang sudah lama tahu sebuah rahasia dan senang akhirnya ada yang menemukannya sendiri.

"Itu keputusan yang benar," katanya singkat. "Wilayah penyangga itu penting. Kalau tidak diurus dengan baik, jadi celah."

Celah untuk apa, dia tidak menjelaskan. Tapi nada suaranya sudah cukup berbicara.

Kantor yang Kehabisan Nafas

Ada ironi kecil yang lucu dalam sejarah institusi mana pun: semakin ia tumbuh, semakin ia berdesakan di rumah lamanya.

Mapolres Tomohon di Kakaskasen 3 mulai terasa sesak. Personel bertambah. Peralatan bertambah. Tantangan bertambah. Tapi dinding-dinding di Jalan Parakletos tidak ikut melar.

"Sudah tidak muat," kata Pak Thomas datar. "Seperti celana lama yang dipakai terus padahal badan sudah besar."

Saya hampir tersedak kopi.

Maka dicarilah lahan baru. Pilihan jatuh di Kelurahan Kolongan 1. Tanah lebih luas. Lokasi lebih strategis. Potensi untuk bangunan yang representatif—bangunan yang bisa berkata tanpa bersuara: kami serius.

Pembangunan dimulai. Perlahan, tapi pasti. Dan ketika semuanya rampung, Mapolres Tomohon resmi berpindah ke Kolongan 1—bukan sekadar pindah alamat, melainkan naik level.

Dari bangunan sederhana di seberang kampus, ke markas yang berdiri tegak menyambut masa depan.

Empat Belas Kapolres, Satu Benang Merah

Di dinding imajiner rumah kopi tua itu—kalau saja dinding yang cukup panjang—bisa digantung empat belas nama.

AKBP Edward Tamboto yang pertama menjabat, meletakkan batu pertama struktur. Lalu estafet berpindah tangan: Budhy Soemantiri, Didi Soepandi, Suyanto, Marlien Tawas, Ratna Setiawati. Dalam barisan panjang itu, menjabat 2013 hingga 2015.

"Beberapa bagus," kata Pak Thomas tiba-tiba, seperti baru ingat sesuatu. "Serius, tapi tidak galak. Masyarakat suka."

Estafet terus berlanjut. Monang Simanjuntak. Ketut Kusmayadi. Raswin Sirait. Bambang Ashari. Yuli Kurniawan yang hanya menjabat kurang dari sebulan setengah—sebuah catatan singkat yang tetap masuk dalam daftar panjang. Arian Colibrito. Lerry Tutu. Dan kini, AKBP Nur Kholis yang mulai bertugas sejak 9 Januari 2025.

Empat belas orang. Dua puluh satu tahun. Satu institusi yang sama.

"Yang berganti itu orangnya," kata Pak Thomas, matanya menatap jauh ke arah jalanan yang mulai ramai siang itu. "Tapi yang tetap itu tanggung jawabnya."

Saya diam sebentar. Itu kalimat yang terlalu bagus untuk hanya didengar di warung kopi.

Keamanan Bukan Sirine

Di luar rumah kopi tua, sepeda motor lalu-lalang. Seorang ibu lewat membawa belanjaan. Dua anak sekolah berjalan sambil tertawa—entah soal apa, tapi tawa mereka renyah seperti kue-kue yang dijual di pasar dekat sana.

Tidak ada yang mencurigai bahwa jalan itu aman. Tidak ada yang berpikir tentang Polsek atau Mapolres atau empat belas Kapolres yang pernah bertugas. Mereka hanya... hidup. Dengan tenang.

Dan mungkin itulah ukuran paling jujur dari keberhasilan sebuah sistem keamanan—ketika ia bekerja begitu baik sampai tidak terlihat.

Pak Thomas meneguk habis kopinya. Meletakkan gelas dengan bunyi tuk yang pasti. Lalu menatap saya dengan ekspresi seseorang yang sudah selesai bercerita tapi...

"Kamu tahu tidak kenapa saya suka cerita tentang Polres ini?"

Saya menggeleng.

"Karena itu cerita tentang kita. Tentang kota ini." 

Dia berdiri, lutut kanannya berbunyi pelan—protes yang sudah biasa diabaikan. "Polres tumbuh karena kotanya tumbuh. Kotanya tumbuh karena orangnya mau jaga satu sama lain."

"Selamat menulis," katanya. Lalu pergi, langkahnya miring sedikit ke kanan, seperti kapal yang sudah hafal anginnya sendiri.

Saya masih duduk. Masih mencatat.

Di luar, Tomohon terus berjalan.

"Mapolres Tomohon berdiri hari ini bukan karena satu keputusan, tapi karena dua puluh tahun keputusan-keputusan kecil yang saling menyambung. Dari Kakaskasen ke Kolongan. Dari satu Polsek ke tiga Polsek dan dua Pospol. Dari kota baru yang belajar berdiri, ke kota yang sudah tahu cara menjaga dirinya sendiri."

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website