Langsung ke konten utama

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

(Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik)

Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak.

‎“Sekarang ini,” tulisnya, “bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media?” 

‎Saya membaca pertanyaan itu dua kali. Bukan karena sulit dipahami, tetapi karena ia menyentuh persoalan yang semakin sering muncul di zaman media digital: banyak orang membaca sesuatu yang tampak seperti berita—padahal sebenarnya promosi.

‎Dan dari situlah percakapan panjang itu dimulai.

Ketika berita dan iklan bersatu
Gambar hanya ilustrasi hasil buatan teknologi AI.

‎“Begini,” kata saya suatu sore ketika pertanyaan itu akhirnya dibahas lebih serius.

‎“Dalam dunia pers, iklan sebenarnya bukan sesuatu yang dilarang.”

‎Sejak masa koran cetak puluhan tahun lalu, iklan justru menjadi salah satu sumber kehidupan media. Tanpa iklan, banyak surat kabar mungkin tidak pernah mampu membiayai kerja jurnalistik yang panjang dan mahal.

‎Tetapi sejak dulu juga ada satu prinsip yang dijaga dengan sangat hati-hati di ruang redaksi:

‎iklan tidak boleh menyamar menjadi berita.

‎Kawan saya mengangguk pelan.

‎“Masalahnya sekarang,” katanya, “semua kelihatannya mirip.”

‎Ia tidak salah.

‎Di era portal berita dan media sosial hari ini, advertorial sering tampil dengan wajah yang sangat rapi:

‎judulnya seperti laporan jurnalistik,

‎tulisannya penuh kutipan,

‎bahkan ada foto kegiatan resmi.

‎Jika tidak teliti, pembaca bisa mengira itu berita.

‎Padahal sebenarnya konten promosi yang dibungkus seperti laporan jurnalistik.

‎Dalam dunia pers Indonesia, persoalan ini sebenarnya sudah diatur cukup jelas.

‎Dasarnya adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

‎Pada Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa pers nasional memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

‎Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna besar: pers tidak hanya bekerja untuk pasar, melainkan juga untuk kepentingan publik.

‎Karena itulah dunia pers memiliki pagar etika tambahan yang disebut Kode Etik Jurnalistik, yang dirumuskan oleh Dewan Pers.

‎Di dalamnya terdapat prinsip penting: wartawan tidak boleh menyalahgunakan profesinya dan tidak boleh menerima keuntungan yang mempengaruhi independensi pemberitaan.

‎Di sinilah advertorial sering menjadi topik diskusi.

‎“Jadi advertorial itu melanggar?” tanya kawan saya lagi.

‎Saya tersenyum.

‎“Tidak selalu.”

‎Advertorial boleh dimuat di media. Bahkan banyak media besar melakukannya. ‎Tetapi ada satu syarat penting yang tidak boleh diabaikan: ‎harus diberi label yang jelas bahwa itu iklan atau konten bersponsor.

‎Prinsip ini juga ditegaskan dalam Pedoman Pemberitaan Media Siber. ‎Pedoman tersebut menyebutkan bahwa konten komersial yang menyerupai berita wajib diberi penanda yang jelas agar tidak menyesatkan publik.

‎Penandanya bisa berupa kata:

Advertorial

‎Iklan

‎Konten Bersponsor

‎Kerja Sama Publikasi

‎Label kecil itu mungkin terlihat sederhana. ‎Tetapi sebenarnya ia adalah tanda kejujuran media kepada pembacanya.

‎Percakapan kami lalu meluas ke pemikiran para tokoh pers dunia yang sejak lama memperingatkan bahaya mencampuradukkan berita dan kepentingan bisnis.

‎Salah satu yang paling sering dikutip adalah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku terkenal mereka The Elements of Journalism.

‎Mereka menulis prinsip yang sangat sederhana namun mendasar:

‎“The first obligation of journalism is to the truth.”

‎Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran.

‎Bukan kepada pengiklan.

‎Bukan kepada pemerintah.

‎Dan bukan pula kepada pemilik modal.

‎Pemikiran serupa sebenarnya sudah jauh lebih dulu disampaikan oleh pemikir pers Amerika, Walter Lippmann.

‎Dalam bukunya Public Opinion, ia menjelaskan bahwa masyarakat memahami dunia melalui gambaran yang dibentuk oleh media.

‎Jika gambaran itu tidak akurat—atau sengaja dibentuk oleh kepentingan tertentu—maka publik akan mengambil keputusan berdasarkan realitas yang keliru.

‎Itulah sebabnya jurnalisme membutuhkan verifikasi dan independensi.

‎Tokoh lain yang sering disebut dalam sejarah pers adalah Joseph Pulitzer.

‎Nama yang kemudian diabadikan dalam penghargaan jurnalisme dunia Pulitzer Prize ini pernah menyampaikan prinsip yang tajam:

‎“A newspaper should have no friends.”

‎Media tidak boleh terlalu dekat dengan kekuasaan atau kepentingan bisnis.

‎Karena jika terlalu dekat, berita bisa kehilangan keberanian untuk berkata jujur.

‎Sementara itu, jurnalis legendaris A.J. Liebling dari The New Yorker pernah menyampaikan kritik satir yang terkenal:

‎“Freedom of the press is guaranteed only to those who own one.”

‎Kebebasan pers sering kali dipengaruhi oleh kepemilikan media.

‎Karena itu, sistem etika dan transparansi menjadi sangat penting agar kepentingan bisnis tidak sepenuhnya mengendalikan isi pemberitaan.

‎Di Indonesia, diskusi tentang kredibilitas media sering mengutip pandangan Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia.

‎Ia pernah mengatakan bahwa pers harus menjaga kredibilitasnya dengan disiplin yang ketat.

‎Karena tanpa kredibilitas, pers kehilangan maknanya sebagai institusi publik.

‎Kredibilitas itu dibangun dari hal-hal kecil:

‎verifikasi fakta,

‎keseimbangan informasi,

‎dan keberanian untuk jujur.

‎Percakapan sore itu akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana.

‎Di era media digital hari ini, tanggung jawab menjaga kualitas informasi tidak hanya berada di tangan wartawan—‎tetapi juga di tangan pembaca.

‎Publik perlu lebih kritis:
‎membaca dengan teliti,
memperhatikan label konten,
‎dan bertanya pada diri sendiri apakah sebuah tulisan lahir dari proses jurnalistik atau dari kepentingan promosi.

‎Karena sering kali hanya ada satu garis kecil yang memisahkan dua dunia besar:
‎informasi untuk publik
‎dan
‎promosi untuk kepentingan tertentu.

‎Dan garis kecil itulah yang menentukan apakah media tetap dipercaya…

‎atau perlahan kehilangan kepercayaan pembacanya.***

Komentar

POPULER

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Menjemput Berita, Menembus Waktu

CATATAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI REDAKSI: DARI WORDSTAR HINGGA SMARTPHONE Ada masa ketika berita tidak diketik di layar yang tipis dan terang seperti sekarang. Ia lahir dari denting tombol yang keras, dari layar hitam dengan huruf-huruf hijau, dari disket yang disimpan seperti benda berharga—jatuh sedikit saja, rasanya seperti kehilangan setengah hari kerja. Di ruang redaksi, waktu tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ia melompat-lompat—dari mesin tik ke komputer, dari pager ke ponsel, dari wartel ke pesan instan yang tak pernah tidur. Dan di setiap lompatan itu, ada satu hal yang selalu ikut: manusia yang mencoba mengejar berita… sambil diam-diam mengejar zaman. Cover Buku Menjemput Berita, Menembus Waktu yang sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital.

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

MENJAGA NALAR JURNALISTIK DI ERA ALGORITMA Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Jalan Tol Koneksi dan Jalan Sunyi Integritas

  ‎Seseorang naik jabatan terkadang bukan karena prestasi, tetapi karena siapa yang paling lihai duduk paling dekat dengan pusat api kekuasaan. Di balik itu, sistem merit hanya berdiri seperti poster lama yang ditempel setengah hati: hadir, tapi tak pernah benar-benar diperhatikan.  

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.

Dari Headline ke Timeline

Ketika kota sudah mematikan lampu dan mimpi orang-orang mulai bekerja, ada satu layar yang masih menyala—lebih setia dari alarm subuh. BERJAGA DI BALIK LAYAR Tulisan ini—jujur saja—pernah saya bagikan beberapa bulan lalu di Facebook. Ia lahir dari satu fase yang cukup melelahkan: ketika saya masih menjadi wartawan, sekaligus mencoba mengelola portal berita sendiri. Dari luar, semuanya terlihat sederhana—tinggal menulis, lalu terbit. Tapi di balik layar, ceritanya berbeda. Ada hosting yang harus dibayar, domain yang harus diperpanjang, dan berbagai urusan teknis—CSS, Javascript, HTML—yang pelan-pelan menuntut untuk dipahami. Awalnya saya menyerahkan itu kepada mereka yang saya anggap lebih ahli. Tapi waktu berjalan, biaya mulai membengkak, sementara setiap kali portal “batuk”, perbaikannya tidak selalu secepat yang dibutuhkan. Di situlah saya mulai belajar sendiri. Tertatih, sering salah, tapi terus mencoba. Saya juga sempat ingin membangun sistem yang mandiri—tidak bergantung pada kont...

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.