Langsung ke konten utama

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami
Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon. Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa.

Tapi jangan terlena dulu.

Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Gunung Lokon dan lahan persawahan yang ada di antara Woloan, Kayawu, dan Wailan.
Gunung Lokon dan lahan persawahan yang ada di antara Woloan, Kayawu, dan Wailan. (foto: don)

El Niño yang Datang: Bukan Sekadar Isu Global

Fenomena El Niño yang diprediksi mulai terbentuk pada pertengahan 2026 diperkirakan akan mendorong suhu global mencapai rekor tertinggi baru pada 2027. Ini bukan spekulasi tanpa dasar. Sejumlah lembaga paling otoritatif di dunia telah mengeluarkan proyeksi yang senada:

World Meteorological Organization (WMO), dalam laporan Global Annual to Decadal Climate Update memprediksi peluang sebesar 80 hingga 86 persen bahwa setidaknya satu tahun dalam periode 2024–2028 akan memecahkan rekor suhu global tertinggi sepanjang sejarah pencatatan iklim modern.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), melalui Climate Prediction Center, mengonfirmasi bahwa kondisi El Niño kemungkinan besar muncul pada periode Mei–Juli 2026 dan akan terus bertahan hingga akhir tahun.

Copernicus Climate Change Service (C3S), layanan iklim Uni Eropa, melaporkan bahwa anomali suhu permukaan laut yang ekstrem di awal 2026 merupakan sinyal kuat pembentukan El Niño. Puncak dampaknya terhadap suhu global diprediksi terasa pada 2027.

Ilmuwan iklim Dr. Zeke Hausfather dari Berkeley Earth bersama para peneliti di Columbia Climate School (International Research Institute for Climate and Society/IRI) memproyeksikan bahwa efek jeda pemanasan laut akan membuat tahun 2027 mencapai suhu sekitar 1,6°C di atas rata-rata pra-industri. Para ilmuwan memperingatkan bahwa indikator iklim utama kini berada pada level "merah".

Sejumlah lembaga termasuk NOAA dan Copernicus bahkan mengindikasikan adanya potensi El Niño kuat atau kategori "super"—dengan anomali suhu permukaan laut yang bisa melampaui 2°C. Di lingkaran ilmuwan iklim, fenomena ini sudah mulai disebut sebagai "Godzilla El Niño."

Di tingkat nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan berkala dan memprediksi bahwa El Niño 2026 dapat memperpanjang musim kemarau serta memicu kenaikan suhu ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.

Mengapa Tomohon Masih Hujan Deras?

Pertanyaan ini wajar muncul. Kalau El Niño sudah di depan mata, kenapa Tomohon masih diguyur hujan lebat hampir setiap hari?

Jawabannya ada pada tiga penjelasan ilmiah yang penting untuk dipahami.

Pertama, masa pancaroba.
Bulan Mei–Juni adalah masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau di Sulawesi Utara. Ciri khas pancaroba adalah hujan dengan intensitas sangat deras, durasi singkat, dan sering disertai kilat serta angin kencang. Fenomena ini bukan pertanda El Niño batal, melainkan dinamika cuaca jangka pendek yang memang lazim terjadi.

Kedua, karakteristik geografis Tomohon yang unik.
Tomohon berada di dataran tinggi dan dikelilingi gunung—Lokon, Mahawu, dan Masarang. Wilayah seperti ini memiliki fenomena hujan orografis, yaitu hujan yang terbentuk karena udara lembap dipaksa naik oleh lereng pegunungan. Ini menyebabkan Tomohon sering masih mendapatkan hujan lokal yang deras meskipun wilayah pesisir seperti Manado sudah mulai kering.

Ketiga, El Niño bekerja secara bertahap.
El Niño baru mulai berkembang pada periode Mei–Juli 2026. Dampaknya tidak bersifat instan—bukan berarti hujan tiba-tiba berhenti seketika. El Niño bekerja dengan cara mengurangi akumulasi curah hujan secara perlahan. Meski ada hujan deras hari ini, secara total bulanan atau tahunan, jumlah curah hujannya diprediksi akan jauh di bawah normal saat fase El Niño menguat.

Suhu permukaan laut di perairan sekitar Sulawesi Utara saat ini mungkin masih cukup hangat untuk menguapkan air dan membentuk awan hujan. Tapi kondisi ini tidak akan bertahan selamanya.

Dampak Nyata bagi Tomohon: Lima Ancaman yang Perlu Diwaspadai

Sebagai daerah dataran tinggi dengan sektor pertanian hortikultura yang kuat, Tomohon memiliki kerentanan spesifik terhadap El Niño. Berikut proyeksi dampaknya berdasarkan data BMKG Sulawesi Utara dan analisis iklim regional:

1. Penurunan Curah Hujan dan Risiko Kekeringan 
BMKG memprediksi sifat hujan di Sulawesi Utara akan berada pada kategori Normal hingga Bawah Normal. Dengan El Niño yang menguat di 2027, intensitas hujan di Tomohon diperkirakan akan menurun signifikan dibandingkan rata-rata tahunan. Meskipun Tomohon memiliki banyak mata air, penurunan curah hujan yang ekstrem dapat menurunkan debit air bersih secara bertahap—terutama untuk kebutuhan domestik dan pertanian.

2. Ancaman bagi Sektor Hortikultura
Tomohon adalah sentra sayur-mayur dan bunga. Kurangnya pasokan air akibat El Niño dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman yang sangat bergantung pada kelembapan tanah. Suhu yang lebih hangat juga sering memicu penyebaran hama lebih cepat, yang dapat merusak kualitas tanaman komoditas lokal.

3. Kenaikan Suhu Udara
Meskipun Tomohon dikenal sebagai kota sejuk, El Niño berpotensi mendorong suhu udara harian melampaui batas normal—di atas 27 hingga 30°C di siang hari. Ini berdampak pada kenyamanan warga dan kesehatan tanaman yang sensitif terhadap perubahan suhu. Sebagai perbandingan, suhu rata-rata Tomohon saat ini berkisar antara 19°C pada malam hari hingga 27°C di siang hari.

4. Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
Mengingat luasnya area perkebunan dan vegetasi di sekitar kaki Gunung Lokon, Mahawu, Masarang, dan Bukit Wawo, serta kondisi yang lebih kering akan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jika tidak diantisipasi sejak dini, dampaknya bisa sangat luas.

5. Krisis Air Bersih
Penurunan debit mata air secara bertahap berpotensi mengganggu pasokan air bersih ke rumah tangga dan lahan pertanian. Infrastruktur distribusi air yang belum merata di beberapa wilayah dataran tinggi Tomohon bisa memperparah kondisi ini saat kemarau panjang tiba.

Apa yang Harus Dilakukan? Langkah Mitigasi Konkret

Pemerintah Kota Tomohon dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak mulai sekarang. Berikut langkah mitigasi strategis yang perlu disiapkan:

Di sektor pertanian dan pangan,
pemerintah harus mendorong pembangunan dan rehabilitasi embung, sumur bor, serta sistem pompanisasi untuk mengalirkan air ke lahan yang kering. Petani diimbau untuk menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan (genjah) dan menyesuaikan kalender tanam agar tidak memasuki fase kritis saat puncak kemarau di akhir 2026 hingga 2027. Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian juga tengah mempercepat program cetak sawah rakyat di Sulawesi Utara sebagai cadangan produksi.

Di sektor air bersih,
Pemerintah Kota Tomohon perlu bekerja sama dengan PDAM untuk meningkatkan infrastruktur dan menjamin pasokan domestik. Rehabilitasi Instalasi Pengolahan Air di beberapa titik sumber, termasuk Sineleyan dan mata air lainnya, perlu diprioritaskan. Penyiapan armada mobil tangki air untuk menyalurkan bantuan ke wilayah dataran tinggi yang kritis juga harus direncanakan dari sekarang. Selain itu, kampanye efisiensi penggunaan air dan pengunaan tandon penampungan perlu digalakkan di tingkat masyarakat.

Di sektor lingkungan dan kebencanaan,
BPBD dan relawan harus meningkatkan pengawasan di lereng Gunung Lokon, Mahawu, Masarang, dan kawasan lainnya yang rawan kebakaran lahan. Warga harus diimbau dan dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar. Program penanaman pohon di area hulu dan pembuatan lubang biopori atau sumur resapan juga penting untuk menjaga cadangan air tanah. Jika intensitas kekeringan sudah memasuki tahap kritis, BMKG dan Kementerian Kehutanan dapat melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca atau hujan buatan.

Panen Air Sekarang: Kesempatan Emas yang Jangan Disia-siakan

Ada satu pesan penting yang perlu digarisbawahi: hujan deras yang kita rasakan sekarang justru merupakan kesempatan emas.

Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan "Rainwater Harvesting"—memanen air hujan ke dalam tandon, embung, atau waduk kecil sebagai cadangan sebelum kekeringan ekstrem melanda di tahun 2027. Petani dan warga Tomohon tidak boleh terlena oleh hujan hari ini, karena data BMKG menunjukkan bahwa anomali El Niño sudah mulai merangkak naik.

Jangan tunggu sampai kering baru bergerak. Saat itu, sudah terlambat.

Catatan Akhir: 2027 Bukan Sekadar Angka

Tahun 2027 bukan sekadar angka dalam kalender. Bagi warga Tomohon, angka itu bisa berarti sawah yang retak karena kekeringan, kebun bunga yang layu, atau antrian panjang menunggu air bersih di lereng gunung.

Kesiapsiagaan hari ini akan menentukan keamanan pangan dan ketersediaan air di masa depan. Dan masa depan itu tidak lagi jauh.

Sumber Data dan Referensi

Lembaga Meteorologi Dunia:

- World Meteorological Organization (WMO)—Laporan 'Global Annual to Decadal Climate Update' (memprediksi 2024–2028 sebagai periode rekor suhu terpanas). [wmo.int](https://www.wmo.int)

- National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)—Climate Prediction Center—Pembaruan bulanan mengenai status ENSO (El Niño-Southern Oscillation). [noaa.gov](https://www.noaa.gov)

- Copernicus Climate Change Service (C3S)—Data analisis suhu permukaan laut global dan pemantauan anomali iklim Uni Eropa. [copernicus.eu](https://climate.copernicus.eu)

Lembaga Nasional dan Regional:

- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)—Buletin Analisis Hujan dan Prakiraan Musim Kemarau di Indonesia. [bmkg.go.id](https://www.bmkg.go.id)

- BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara—Data spesifik mengenai prediksi musim kemarau dan sifat hujan untuk wilayah Sulawesi Utara. [staklim.bmkg.go.id](https://www.bmkg.go.id)

Publikasi Ilmiah dan Analisis Pakar:

- Berkeley Earth—Analisis suhu global tahunan oleh Dr. Zeke Hausfather mengenai potensi kenaikan suhu akibat kombinasi emisi gas rumah kaca dan El Niño.

- Columbia Climate School—International Research Institute for Climate and Society (IRI)—Model prediksi dampak El Niño terhadap ketahanan pangan global.

"Data yang disajikan merupakan hasil integrasi pemodelan iklim global yang disesuaikan dengan kondisi geografis lokal Kota Tomohon (zona dataran tinggi). Status prediksi dapat berubah mengikuti pembaruan data satelit cuaca setiap bulannya."

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website