Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen.
Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.
Ritus Harian dan Jejak Abadi: Menyusuri Lorong Seminari Kakaskasen
![]() |
| Seminari Menengah St Fransiskus Xaverius Kakaskasen Tomohon. (foto: don) |
Pukul 05.00, lonceng berdentang dari kejauhan—suaranya memantul di dinding-dinding batu Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen.
Di sela udara dingin, langkah kaki para seminaris terdengar serempak menuju kapel. Tak ada keramaian, hanya irama langkah yang berpadu dengan doa yang belum diucapkan.
Bagi banyak orang, pagi itu mungkin hanya rutinitas. Tapi bagi mereka, dentang lonceng itu adalah panggilan—tanda dimulainya ritus harian yang sederhana tapi sakral.
Di kapel yang remang, di antara doa subuh yang lirih, cita-cita pertama kali diucapkan: Menjadi pelayan yang setia, bukan sekadar pemimpin yang pandai bicara.
Kehidupan di Seminari Kakaskasen adalah keseimbangan antara kerasnya disiplin dan lembutnya doa.
Pagi diisi doa dan pelajaran, siang bekerja dan berdoa, sore bermain bola, malam belajar dan berdoa. Di meja makan panjang, tawa kecil sering terdengar di sela doa sebelum makan.
Para Formator—pembimbing rohani sekaligus ayah rohani—menuntun dengan ketegasan yang lembut, membiarkan mereka belajar bukan hanya lewat buku, tapi juga lewat kesederhanaan hidup bersama.
Namun bagian paling khas dari kehidupan seminari bukanlah kegiatan, melainkan Masa Sunyi.
Di waktu itu, lorong-lorong panjang yang biasanya dipenuhi langkah, berubah menjadi lautan hening. Tak ada suara, bahkan desah pun terasa terlalu keras.
Di keheningan itu, seorang seminaris belajar mendengar: Bukan suara dunia, tapi suara hati.
Ia belajar bahwa keheningan bukan kekosongan, melainkan ruang tempat Tuhan berbicara paling jelas.
Seminari Kakaskasen tidak hanya membentuk pengetahuan, tapi juga karakter.
Ia mengajari bahwa panggilan tidak datang dalam sorak-sorai, melainkan dalam bisikan.
Dan untuk mendengarnya, seseorang harus berani masuk ke ruang sunyi—ruang tempat ego perlahan dilepaskan, dan cinta kepada sesama tumbuh dengan tenang.
Hampir satu abad sudah Seminari Kakaskasen berdiri. Dari luar, ia tampak seperti kompleks tua yang tenang, tapi di dalamnya tersimpan laboratorium jiwa: Tempat pergulatan antara panggilan suci dan realitas dunia yang berubah cepat.
Di tengah derasnya era digital, kehidupan di seminari tampak seperti anomali.
Tanpa ponsel, tanpa media sosial, tanpa kebisingan dunia luar. Hanya doa, belajar, kerja, dan refleksi. Namun justru dalam keterasingan itulah, para seminaris menemukan fokus yang sulit dicapai di dunia luar.
Formasi di seminari bukanlah isolasi, melainkan proses pemurnian—memusatkan pandangan ke arah yang lebih tinggi.
Melalui disiplin harian, pengendalian diri, dan kebersamaan yang tak selalu mudah, seorang seminaris perlahan dibentuk menjadi alter Christus. Bukan karena sempurna, tapi karena terus berlatih untuk setia.
Nama Kakaskasen, yang berada di dataran tinggi, punya makna simbolik tersendiri.
Ia adalah tempat di mana pandangan lebih jauh, dan hati lebih sunyi.
Di tempat tinggi inilah, keraguan dan keyakinan sering bersilang jalan.
Di antara doa dan kesunyian, seorang pemuda belajar membedakan: Apakah ia benar terpanggil, atau hanya ingin lari dari dunia.
Seminari Kakaskasen mengingatkan kita bahwa panggilan bukan peristiwa sesaat, melainkan proyek seumur hidup.
Sebelum seseorang mampu menggembalakan umat, ia harus lebih dulu menggembalakan dirinya sendiri—menaklukkan ego, menumbuhkan kasih, dan belajar tunduk pada suara hati.
Dan mungkin di situlah kekuatan sejati Seminari Kakaskasen: Ia tetap relevan bukan karena mengikuti zaman, tetapi karena setia pada intinya—membentuk hati yang berani melayani.
Akar kisah Seminari Kakaskasen menembus hampir satu abad ke belakang.
Bermula di Woloan tahun 1928, ketika Pastor Hendricus Croonen, MSC memulai lembaga pendidikan calon imam setelah misi di Sulawesi, Indonesia Timur dialihkan dari Serikat Yesus (SJ) ke Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC).
Delapan tahun kemudian, seminari ini menetap di Kakaskasen.
Bangunannya dahulu sederhana, memanfaatkan gedung bekas Kweekschool, sekolah guru warisan Belanda.
Namun dari tempat yang tampak biasa itulah lahir banyak hal luar biasa; generasi demi generasi yang memilih jalan sunyi untuk melayani.
Dengan pelindung St. Fransiskus Xaverius, semangat misioner ditanamkan dalam setiap aspek pembinaan—dari ruang kelas, kapel, hingga lapangan hijau tempat tawa sore hari terdengar di bawah cahaya lembut matahari Tomohon.
Selama hampir satu abad, ribuan lulusan telah melangkah keluar dari gerbang itu: Imam, uskup, pendidik, dan juga awam yang menyalakan terang di tengah masyarakat.
Setiap dari mereka membawa sebagian “Kakaskasen” di dalam diri—ketenangan, keteguhan, dan keberanian untuk tetap setia di tengah dunia yang berubah cepat.
![]() |
| Seminari Menengah St Fransiskus Xaverius Kakaskasen Tomohon. (foto: don) |
Dari tempat sunyi di kaki Lokon inilah, pijar panggilan itu terus menyala.
Ia mungkin tak selalu terlihat, tapi terasa—dalam doa pagi, dalam langkah setia, dan dalam hati yang belajar melayani tanpa pamrih.
"Seminari Kakaskasen bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah tempat di mana cita-cita dipahat dalam keheningan, dan doa menjadi bahasa pertama yang diajarkan."
Di antara kabut yang turun setiap pagi dan lonceng yang berdentang di kejauhan, Tuhan berbicara perlahan—melalui proses, disiplin, dan hati yang mau dibentuk. ***


Komentar
Posting Komentar