Tomohon itu unik—sangat unik. Di saat kota lain sibuk cari cara tampil beda, Tomohon tinggal bilang:
“Tenang, kita pecahkan rekor saja.”
Sebuah reportase dari Tomohon—kota yang punya tiga gunung, jutaan bunga, dan ambisi yang tidak pernah setengah hati
Setiap kota punya cara tersendiri untuk memperkenalkan diri kepada dunia.
![]() |
| Salib bunga dengan tinggi 15 meter, lebar 8 meter, memecahkan rekor MURI pada TIFF 2012. (foto: doc) |
Jakarta berteriak lewat gedung pencakar langit dan kemacetan yang melegendaris. Yogyakarta berbisik pelan lewat batik dan keraton yang anggun. Bandung menggoda dengan kafe-kafe instagramable dan udara yang—katanya—lebih sejuk, meski belakangan ini mulai berdebat soal klaim itu.
Tomohon? Tomohon memilih cara yang berbeda. Cara yang, kalau dipikir-pikir, cukup janggal sekaligus menakjubkan.
Tomohon memilih bunga.
Bukan sekadar bunga yang ditanam di pot depan balai kota, lalu difoto untuk kalender tahunan dinas pariwisata. Bukan pula bunga yang dijual di pasar tradisional oleh ibu-ibu dengan topi caping sambil menawar dengan suara setengah berbisik. Tomohon memilih bunga sebagai identitas, sebagai bahasa, sebagai—kalau boleh dramatis sedikit—manifesto kebudayaan.
Dan kemudian, dengan ketenangan yang kadang terasa seperti kesombongan yang elegan, kota ini mulai memecahkan rekor.
Satu Kota, Tiga Gunung, dan Satu Obsesi
Untuk memahami Tomohon, Anda perlu membayangkan sebuah cekungan hijau di antara tiga gunung: Lokon di barat laut yang masih aktif dan sesekali mengeluarkan asap seperti pria tua yang sedang menghisap pipa dengan tenang; Mahawu di timur yang lebih pendiam, menyimpan kawah belerang dengan air berwarna hijau toska yang membuat wisatawan berdecak dan melupakan sejenak bahwa itu kawah gunung berapi; dan Masarang juga di sebelah Timur berdampingan dengan Mahawu yang merangkul kota dengan lereng-lerengnya yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi bak penjaga yang tidak pernah absen dari pos.
Di antara ketiga gunung itulah Tomohon berdiam. Dipeluk. Dijaga. Dibekali tanah vulkanik yang kaya mineral, udara dingin yang membasuh wajah setiap pagi dengan kesegaran yang membuat Anda ingin tinggal lebih lama—atau selamanya, kalau bos di kota bisa diajak berunding.
Suhu rata-ratanya bergerak antara 17 hingga 24 derajat Celsius. Bagi orang Jakarta yang datang dari kota dengan suhu 32 derajat plus kelembapan yang membekap seperti pelukan orang yang tidak tahu kapan harus berhenti, Tomohon terasa seperti—tidak ada kata lain yang lebih tepat—surga.
Dan di surga inilah bunga tumbuh subur. Krisan. Marigold. Aster. Heliconia. Anthurium. Gladiol. Nama-nama yang terdengar seperti anggota orkestra Eropa abad ke-18, namun di sini hadir dalam barisan panjang di kebun-kebun yang tertata rapi di lereng bukit Kakaskasen.
Di Kakaskasen—sebuah kelurahan yang namanya sendiri sudah terdengar puitis—para petani bunga bekerja sebelum matahari benar-benar naik. Sekitar pukul lima pagi, ketika kabut tipis masih menggantung di antara deretan pohon kelapa dan terong ungu di sisi jalan, mereka sudah bergerak di antara barisan batang krisan setinggi pinggang, memeriksa tunas, memotong tangkai, mengumpulkan bunga yang semalam mekar dengan diam-diam.
Tidak ada yang dramatis dalam rutinitas itu. Tidak ada musik latar yang mengharukan. Hanya suara gunting, langkah kaki di tanah basah, dan sesekali suara ayam jago dari kebun tetangga yang—seperti biasa—merasa tugasnya adalah membangunkan seluruh kelurahan.
Tapi dari ketenangan itulah Tomohon membangun identitasnya. Pelan, tekun, dan—seperti bunga krisan yang butuh waktu berbulan-bulan sebelum mekar sempurna—penuh kesabaran.
TIFF dan Metamorfosis Kota
Lalu datanglah tahun 2008.
Tomohon International Flower Festival—yang kemudian akrab disebut TIFF, akronim yang terdengar cukup internasional untuk membuat peserta dari Belanda, Jepang, dan Thailand merasa disambut dengan serius—pertama kali digelar. Event nasional hasil kolaborasi Pemerintah Kota Tomohon dengan Kementerian Kebudayaan RI ini mengubah segalanya.
Bayangkan sebuah kota yang biasanya bergerak dalam ritme lambat—pasar pagi, gereja Minggu, musim panen—tiba-tiba memutuskan untuk tampil di panggung nasional, bahkan internasional, dengan segenap kepercayaan diri yang tersimpan selama bertahun-tahun.
Bayangkan jalan protokol yang biasanya hanya dilalui angkot dan motor ojek tiba-tiba dipenuhi kendaraan hias berbentuk kapal laut, burung merak, dan naga raksasa—semuanya dibalut jutaan kuntum bunga segar yang dipotong sehari sebelumnya dari kebun-kebun Kakaskasen.
Bayangkan ribuan warga berbondong-bondong ke pinggir jalan sejak pagi buta, membawa kamera, membawa anak-anak, membawa termos kopi panas dan kaleng biskuit. Berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari Sulawesi yang hangat namun tidak membakar, menunggu arak-arakan yang panjangnya bisa memakan waktu dua hingga tiga jam untuk melintas sempurna.
Inilah TIFF. Bukan sekadar festival. Sebuah pertunjukan yang setiap dua tahun sekali mengubah Tomohon menjadi versi glamornya sendiri—lebih berkilau, lebih berwarna, lebih harum—seperti seseorang yang biasanya tampil kasual namun sekali-kali muncul dengan jas terbaik dan parfum impor, membuat semua orang di ruangan berpaling.
Dan di tengah festival itulah Tomohon mulai mengembangkan hobinya yang satu itu:
Karpet yang Lebih Luas dari Mimpi
Pada TIFF pertama di tahun 2008, Tomohon langsung menetapkan nada.
Tidak cukup dengan parade bunga biasa. Tidak cukup dengan taman-taman yang ditata indah di sudut-sudut kota. Tomohon memutuskan untuk membentangkan karpet.
Bukan karpet yang bisa Anda beli di toko-toko furnitur dengan cicilan 24 bulan. Ini karpet bunga. Karpet yang dirangkai dari ratusan ribu—bahkan menurut beberapa catatan, jutaan—kuntum bunga segar yang disusun dengan presisi dan kesabaran yang, sejujurnya, membuat orang bertanya-tanya: siapa yang mau melakukan ini? Berapa orang yang diperlukan? Dan bagaimana caranya memastikan semuanya selesai sebelum bunga mulai layu?
Ukurannya 80 kali 50 meter. Sebuah hamparan warna yang, jika Anda melihatnya dari ketinggian—katakanlah dari lereng bukit atau dari drone yang kini menjadi alat wajib setiap festival—terlihat seperti permadani peninggalan kerajaan yang baru saja diselamatkan dari film petualangan.
Marigold kuning-jingga mendominasi bagian tengah, memberikan kehangatan yang hampir terasa fisik. Aster putih dan ungu membingkai tepi-tepinya dengan elegan. Ada pola geometris yang terinspirasi motif Minahasa, ada bagian yang berbentuk bunga besar dengan kelopak yang terbuka penuh, ada pula tulisan atau simbol yang hanya terbaca jelas dari udara.
Museum Rekor Indonesia (MURI) datang, memeriksa, mengukur, menghitung, lalu mengeluarkan sertifikat dengan cap resmi yang terdengar seperti: sah.
Tomohon tersenyum. Lalu mulai merencanakan rekor berikutnya.
Salib yang Bisa Dilihat dari Langit
Empat tahun kemudian, pada 2012, Tomohon naik tingkat.
Di kompleks Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)—sebuah kampus yang posisinya menyatu dengan kontur bukit sehingga beberapa gedungnya tampak seperti tumbuh dari lereng itu sendiri—berdiri sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang, pertama kali dilihat, membuat orang berhenti, mengerutkan dahi sejenak, lalu secara otomatis mengeluarkan kamera.
Sebuah salib. Dari bunga.
Tingginya 15 meter. Lebarnya 8 meter. Ribuan bunga segar—krisan putih, anyelir merah, aster ungu, marigold kuning—dirangkai dengan teliti pada rangka besi yang dirancang khusus untuk menopang beban yang tidak sedikit. Mengerjakan ini bukan perkara satu-dua jam. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan perancang, pemotong, penyusun, dan koordinator yang masing-masing punya peran yang tidak bisa disepelekan—satu kesalahan dalam pola bisa merusak simetri keseluruhan dari jarak puluhan meter.
Hasilnya? Megah adalah kata pertama. Tapi ada kata lain yang muncul setelahnya, perlahan, seperti kesadaran yang datang belakangan: khidmat.
Karena salib itu bukan sekadar objek rekor. Ia adalah pernyataan iman yang disampaikan dalam bahasa yang paling indah yang dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu—bahasa bunga. Sebuah simbol yang bermakna bagi jutaan orang di seluruh dunia, kini hadir dalam wujud yang hidup, berwarna, dan untuk beberapa hari, wangi.
Ada satu momen yang oleh beberapa saksi mata disebutkan dengan nada separuh kagum, separuh jenaka: seekor burung—entah jenis apa, tidak ada yang sempat memotretnya—mendarat di puncak salib itu, mematuk satu kelopak bunga, lalu terbang pergi sebelum panitia sempat memutuskan apakah itu pertanda baik atau tanda bahwa pengamanan harus lebih ketat.
MURI kembali datang. Cap sah kembali dibubuhkan.
Tomohon mengangguk dengan tenang. Seperti orang yang memang sudah tahu hasilnya sejak awal.
Pelajar, Krisan, dan Pelajaran yang Lebih Dalam
Tahun 2018 membawa lompatan yang berbeda. Bukan soal ukuran atau ketinggian. Ini soal siapa yang terlibat.
Ratusan pelajar dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tomohon duduk bersama dalam satu area yang luas—lapangan, halaman sekolah, atau ruang terbuka yang disulap menjadi workshop raksasa—dengan satu tugas di tangan: merangkai bunga.
Bukan bunga sembarangan. Krisan Tomohon. Varietas lokal yang sudah lama menjadi kebanggaan kota ini. Dua nama varietas yang disebut-sebut dalam catatan rekor adalah Krisan Kulo dan Krisan Riri—nama-nama yang terdengar akrab, seperti nama teman sekelas yang selalu hadir dan tidak pernah absen.
Gambar yang tersisa dari momen itu—dan ada banyak, karena orang tua murid hadir dengan kamera dan telepon pintar dalam kondisi baterai penuh—memperlihatkan wajah-wajah anak yang berkonsentrasi tinggi. Lidah tergigit sedikit. Alis berkerut. Tangan-tangan kecil memegang tangkai dengan hati-hati, memasangkan bunga ke rangka dengan tekad yang—dalam konteks apapun selain merangkai bunga di depan kamera MURI—biasanya hanya muncul saat ujian matematika.
Rekor pelajar merangkai bunga terbanyak. Sertifikat disiapkan. Foto-foto diabadikan.
Tapi di balik angka dan sertifikat itu, ada sesuatu yang lebih penting dan lebih tahan lama dari bunga itu sendiri.
Anak-anak itu belajar bahwa bunga bukan sekadar barang yang dibeli di toko untuk diberikan pada ulang tahun seseorang. Mereka belajar bahwa ada teknik dalam merangkainya, ada kesabaran yang dituntut, ada rasa hormat kepada tanaman yang harus dijaga. Mereka belajar—mungkin tanpa kata-kata—bahwa warisan sebuah kota bukan sesuatu yang terjaga sendiri. Ia perlu tangan-tangan baru, mata-mata muda, dan semangat yang diwariskan bukan lewat pidato, melainkan lewat pengalaman langsung.
Tomohon, dengan cara khasnya yang diam-diam bermakna, sedang melakukan sesuatu yang tidak banyak kota lain pikirkan: investasi pada generasi berikutnya bukan dalam bentuk infrastruktur beton, melainkan dalam bentuk cinta pada identitas.
Seribu Guru dan Tarian yang Tidak Boleh Mati
Setahun kemudian, 2019, Tomohon membuktikan bahwa rekornya tidak harus selalu tentang bunga.
Di TIFF edisi itu, lebih dari seribu guru berdiri dalam formasi yang—dilihat dari ketinggian—membentuk pola yang rapi dan teratur seperti formasi militer, kecuali pakaiannya lebih berwarna dan tidak ada senapan sama sekali.
Mereka menari Ma'zani.
Bagi yang belum pernah menyaksikannya secara langsung, Ma'zani adalah tarian adat Tombulu—salah satu dari subetnis Minahasa—yang berusia ratusan tahun. Gerakannya tidak seperti tarian-tarian yang sering muncul di televisi dalam kemasan modern yang sudah dipoles ulang untuk konsumsi massa. Ma'zani adalah tarian yang mempertahankan keasliannya dengan cara yang keras kepala dan membanggakan.
Langkah-langkahnya terukur. Tangan bergerak dengan makna yang spesifik—bukan sekadar estetika, melainkan komunikasi. Setiap gerakan adalah kalimat dalam bahasa yang jauh lebih tua dari Bahasa Indonesia itu sendiri. Seluruh tubuh berbicara dalam dialek kebudayaan yang untuk sebagian besar dunia modern sudah lama terlupakan.
Dan di sinilah paradoks yang indah dari rekor 2019 itu: seribu lebih guru, dengan berbagai usia, berbagai latar belakang, berbagai tingkat pengalaman dalam menari—semuanya bergerak bersama dalam irama yang sama. Serentak. Kompak. Anggun dengan cara yang tidak bisa dipalsukan.
Rekor MURI dicatat. Tapi yang tidak tercatat di sertifikat itu adalah sesuatu yang lebih susah diukur: bagaimana sebuah kebudayaan bisa bertahan bukan karena dilindungi di balik kaca museum, melainkan karena terus-menerus dipraktikkan, dirayakan, dan dihadirkan dalam konteks yang hidup dan relevan.
Seribu guru yang menari Ma'zani di depan ribuan penonton adalah pesan yang keras—meski disampaikan dengan gerakan yang tenang—bahwa Minahasa masih ada, masih bernafas, masih mau bergerak.
Setelah Festival Berakhir: Ketika Bunga "Pulang Duluan"
Di sinilah kita perlu bicara jujur.
Karena ada satu kenyataan Tomohon yang sering membuat pengunjung yang datang di luar jadwal TIFF menggaruk kepala dengan ekspresi yang campuran antara bingung dan sedikit merasa tertipu—meski tidak ada yang menipu mereka secara resmi.
"Lho," kata mereka, berdiri di jalan protokol yang bersih namun biasa-biasa saja, "bunga-bunganya ke mana?"
Pertanyaan yang adil. Pertanyaan yang manusiawi. Pertanyaan yang, kalau dijawab dengan jujur, memerlukan sedikit penjelasan tentang sifat festival dan sifat kota yang menyelenggarakannya.
Tomohon saat TIFF berlangsung adalah satu versi dari dirinya sendiri—versi yang sudah dandan, sudah menyisir rambut, sudah memakai baju terbaik, sudah semprotkan parfum, dan sudah pasang senyum terlebar. Jalan protokol berubah menjadi galeri bunga terbuka. Kelurahan-kelurahan berlomba mendekorasi lingkungannya. Lampu-lampu festival bermain dengan warna di malam hari. Bahkan udara terasa berbeda—lebih harum, atau mungkin itu hanya imajinasi yang dipengaruhi sugesti.
Tapi begitu festival selesai—biasanya berlangsung beberapa hari, kadang seminggu—kota kembali ke ritme normalnya. Bunga-bunga itu, yang sudah dipotong dari batangnya dan dipasang pada kendaraan hias atau dijadikan karpet atau dirangkai menjadi instalasi raksasa, tidak bisa bertahan selamanya. Mereka layu. Mereka dibersihkan. Jalan kembali menjadi jalan. Kelurahan kembali menjadi kelurahan.
Seperti artis tamu dalam sebuah acara televisi: hadir dengan gemerlap, tampil memukau di panggung, lalu pergi dengan elegan sambil meninggalkan penonton bertanya-tanya di mana mereka bisa menemukan pertunjukan seperti itu lagi.
Di Mana Bunga yang Sesungguhnya Tinggal
Tapi jangan salah sangka. Bunga di Tomohon tidak hanya muncul dua tahun sekali.
Ia hanya tinggal di tempat yang berbeda. Lebih sunyi. Lebih jujur. Lebih apa adanya.
Pergilah ke Kakaskasen. Atau lebih tepatnya, singgahlah di Show Window Kakaskasen—sebuah area yang didesain untuk memperlihatkan kehidupan pertanian bunga Tomohon kepada siapapun yang mau repot-repot ke sana. Di sini tidak ada panggung. Tidak ada kamera MURI. Tidak ada komentator yang mengumumkan rekor baru melalui pengeras suara.
Yang ada hanyalah kebun. Baris demi baris. Hijau daun yang rapat. Warna kelopak yang belum sempat dipotong, masih menempel pada tangkainya, masih mendapat air dari tanah vulkanik yang subur.
Di antara baris-baris itu, Anda akan menemukan para petani—dengan topi lebar yang sedikit lusuh dan sepatu bot yang penuh tanah—bekerja dengan gerakan yang otomatis dan terlatih. Mereka tidak sedang mempersiapkan festival. Mereka tidak sedang memecahkan rekor. Mereka hanya... bekerja. Seperti yang mereka lakukan kemarin. Dan sebelum kemarin. Dan yang akan mereka lakukan besok.
Di sinilah "kota bunga" terasa paling otentik. Paling jujur. Tanpa make-up panggung, tanpa lampu sorot festival. Hanya tanah, tangan, dan kesabaran yang sudah jadi rutinitas.
Dan dari kebun-kebun itulah seluruh kemewahan TIFF bermula. Setiap kelopak yang membungkus kendaraan hias, setiap rangkaian yang membentuk salib raksasa, setiap bunga yang dipegang oleh tangan-tangan pelajar yang berkonsentrasi—semuanya berasal dari sini. Dari pagi-pagi sunyi sebelum festival ada.
Ini adalah rahasia Tomohon yang tidak pernah benar-benar disembunyikan, hanya jarang diceritakan: di balik festival yang gemerlap selalu ada kerja keras yang tidak pernah berhenti menjadi berita utama.
Sebuah Kota yang Mengajarkan Cara Merayakan
Pada akhirnya, apa yang ingin Tomohon katakan kepada dunia?
Bukan sekadar bahwa ia bisa memecahkan rekor. Bukan sekadar bahwa bunga-bunganya indah. Bukan pula bahwa ia layak masuk daftar destinasi wisata yang ditempel di papan buletin kantor pariwisata.
Tomohon—dengan segala rekornya, dengan festival-festivalnya, dengan kebun-kebunnya yang bekerja diam-diam, dengan guru-gurunya yang menari, dengan pelajar-pelajarnya yang merangkai—sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih fundamental.
Ia berbicara tentang cara sebuah komunitas menemukan dan mempertahankan identitasnya di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat untuk peduli pada hal-hal kecil.
Ia berbicara tentang bagaimana keindahan—yang sering dianggap mewah dan tidak perlu, terutama di negara yang masih bergulat dengan berbagai kebutuhan dasar—bisa menjadi fondasi yang kokoh untuk rasa kebersamaan. Untuk kebanggaan. Untuk harapan yang konkret.
Dan ia berbicara tentang sebuah pilihan: bahwa menjadi kecil secara geografis tidak berarti harus kecil dalam mimpi. Bahwa kota yang diapit tiga gunung bisa berdiri di panggung nasional, bisa mengundang peserta internasional, bisa membuat Belanda dan Jepang dan Thailand mau repot-repot datang ke Sulawesi Utara hanya untuk melihat bunga.
Ada satu kalimat yang—meski tidak ditulis di spanduk manapun, tidak diucapkan di podium manapun—terasa seperti moto tidak resmi dari semua yang dilakukan Tomohon:
Kalau kamu mau melakukan sesuatu, lakukan sepenuhnya. Atau tidak usah.
Tomohon tidak pernah setengah hati. Bahkan ketika bunganya "pulang duluan" setelah festival selesai.
Karena kota ini tahu—dan ini mungkin kebijaksanaan paling diam-diam yang ia miliki—bahwa keindahan yang sesungguhnya tidak tinggal di panggung.
Ia tinggal di kebun. Di tangan para petani yang bangun sebelum matahari. Di gerakan tangan anak-anak SD yang sedang belajar merangkai untuk pertama kalinya. Di langkah kaki seribu guru yang memilih untuk menari daripada sekadar menonton.
Dan di sana—di tempat yang jauh dari sorotan kamera dan sertifikat MURI—itulah Tomohon yang sesungguhnya.
Tenang. Teguh. Berbunga-bunga.
Tomohon, kota kecil di antara tiga gunung, masih terus tumbuh. Dan kemungkinan besar, masih terus merencanakan rekor berikutnya.

Komentar
Posting Komentar