Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?
Terlahir dari keluarga yang—mungkin—tak pernah kenal kata "susah", ia kini memimpin kota yang penuh dengan warga yang sangat akrab dengan kata itu. Inilah perjalanan Caroll Joram Azarias Senduk.
Ayahnya bupati, istrinya dokter, anaknya tujuh. Dan kini, untuk kedua kalinya, ia adalah Wali Kota Tomohon.
📖 DAFTAR ISI
![]() |
| Caroll Senduk, Wali Kota Tomohon yang juga aktif dalam pelayanan gerejawi. (sumber foto: akun facebook caroll joram azarias senduk, sh) |
Ada sebuah pertanyaan lama yang sering menggelitik di warung-warung kopi Tomohon: apakah untuk menjadi pemimpin yang baik, seseorang perlu pernah merasakan susah? Atau cukup tahu bahwa susah itu ada?
Caroll Joram Azarias Senduk, Sarjana Hukum—yang dalam tulisan ini kita panggil Caroll saja, karena nama lengkapnya butuh napas panjang untuk diucapkan—mungkin adalah ujian hidup dari pertanyaan itu.
Ia lahir di Malang, 20 Januari 1969. Tapi bukan Malang dalam arti nasib. Malang dalam arti nama kota. Dan di sanalah perbedaan besar dimulai.
Anak Siapa Dia?
Ayahnya bukan orang sembarangan. Karel Lasut Senduk pernah menjabat Wali Kota Administratif Bitung, lalu menjadi Bupati Kabupaten Minahasa. Boleh dibilang, Caroll tumbuh di rumah di mana kata "jabatan" bukan sesuatu yang asing di meja makan.
Dalam bahasa yang lebih jujur: Caroll besar di lingkungan di mana kata "koneksi" bukan sekadar jargon, melainkan udara yang dihirup setiap hari.
Ia mengenyam pendidikan di SD Katolik Don Bosco Bitung (1976–1982), lalu SMP Katolik Don Bosco Bitung (1982–1985). Saat banyak anak seusianya pontang-panting mencari ongkos sekolah, Caroll kecil mungkin sedang bingung memilih sepatu mana yang akan dipakai hari Senin. Ini bukan sindiran—ini konteks. Dan konteks penting untuk memahami siapa seseorang nanti.
Dari Bitung, ia melanjutkan ke SMA Negeri 1 Manado (1985–1988), sekolah bergengsi yang selalu menjadi incaran anak-anak terbaik Sulawesi Utara. Kemudian ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, dari 1988 hingga 1995. Tujuh tahun untuk meraih gelar Sarjana Hukum memang tergolong lama—tapi dalam dunia akademik Indonesia, itu bukan hal yang perlu terlalu dipersoalkan. Banyak pemikir besar juga santai dengan waktu.
Pengusaha Dulu, Politisi Kemudian
Tapi sebelum semua itu, ada luka yang perlu dicatat.
Pada 2010, Caroll pernah mencoba peruntungan sebagai calon Wali Kota Tomohon—dan gagal. Bagi sebagian orang, kekalahan seperti itu adalah sinyal untuk berhenti. Bagi Caroll, tampaknya itu adalah sinyal untuk belajar.
Ia tidak langsung kembali ke gelanggang politik. Ia justru lebih menggeluti dunia usaha—menjabat Direktur PT Guna Alam Sulawesi dari 2011 hingga 2018. Sebuah perusahaan yang, meski tidak sepopuler nama pemiliknya sekarang, cukup memberinya pengalaman mengelola organisasi dan kepentingan. Ia merasakan bagaimana keputusan bisnis berdampak langsung—bukan sekadar tertulis dalam laporan dan presentasi PowerPoint yang dipenuhi grafik berwarna-warni.
Mendirikan pondasi. Membangun jaringan. Menyerap pengalaman yang berbeda.
Baru pada 2014 ia kembali, kali ini lewat pintu DPRD, sebagai wakil rakyat. Lebih sabar. Lebih taktis. Ia masuk sebagai anggota, kemudian menjabat Wakil Ketua—duduk dua periode di kursi dewan: 2014–2019 dan 2019–2020. Setelah cukup belajar cara legislatif bekerja—dan mungkin juga cukup belajar cara legislatif tidak bekerja—ia memutuskan untuk naik.
Ada yang bilang, politisi terbaik adalah mereka yang pernah kalah dan memilih untuk tidak menyerah. Caroll membuktikan setidaknya separuh dari kalimat itu.
Gereja, Keluarga, dan Akar yang Dalam
Di luar panggung politik, ada dimensi Caroll yang sering luput dari pemberitaan: ia adalah aktivis gereja yang serius.
Namanya tercatat sebagai syamas (kini disebut diaken) hingga penatua di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Kakaskasen PNIEL. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat, Ketua Pria/Kaum Bapa di tingkat jemaat, wilayah, hingga rayon Tomohon, dan bahkan Penasehat Panji Yosua GMIM.
Sebuah curriculum vitae keagamaan yang panjang. Dan ini bukan sekadar ornamen. Di Sulawesi Utara, hubungan antara gereja dan kekuasaan politik memiliki sejarah yang panjang dan dalam—keduanya sering berjalan beriringan, saling menopang, dan sesekali saling meminjam legitimasi.
Persoalannya, tentu saja—dan ini bukan tuduhan, melainkan catatan—ketika seseorang membawa nilai-nilai religius ke dalam kursi kekuasaan, ekspektasi publik pun ikut naik. Masyarakat tidak hanya berharap pemimpin yang efektif. Mereka berharap pemimpin yang baik dalam pengertian yang lebih dalam dari sekadar administratif.
Caroll menikahi Jean D'Arc Florentia Karundeng, seorang dokter PNS. Nama "Jean D'Arc" itu sendiri sudah bicara banyak—ada kesan heroik, bahkan martir di sana. Entah kebetulan atau tidak, istri seorang wali kota memang sering harus menanggung banyak beban simbolis yang tidak pernah masuk dalam deskripsi jabatan resmi. Dari pernikahan mereka, lahir tujuh orang anak. Tujuh. Di zaman program keluarga berencana, itu adalah pernyataan kepercayaan diri yang cukup berani.
Mereka kini menetap di Lingkungan VIII, Kelurahan Kakaskasen 2, Kecamatan Tomohon Utara.
Periode Pertama: Ketika Wakil Memilih Pergi
Pada 2021, Caroll resmi dilantik sebagai Wali Kota Tomohon, berpasangan dengan Wenny Lumentut sebagai wakil. Pasangan yang kelihatannya harmonis—setidaknya di atas kertas dan di spanduk-spanduk kampanye.
Tapi politik punya cara tersendiri untuk menguji harmoni. Wenny Lumentut kemudian mengundurkan diri. Bukan berhenti karena alasan kesehatan atau panggilan ilahi. Ia mengundurkan diri karena ia sendiri ingin menjadi wali kota—dan memutuskan untuk berkompetisi melawan Caroll di Pilkada 2024.
Dalam khazanah politik lokal Indonesia, ini adalah sebuah drama yang tidak asing. Wakil yang kemudian menjadi pesaing atasan sendiri. Sekutu yang bertransformasi menjadi rival. Jabat tangan yang berubah menjadi adu jotos di kotak suara.
Menarik untuk dibayangkan: bagaimana suasana di ruang-ruang rapat Balai Kota Tomohon di hari-hari terakhir sebelum Wenny mundur? Apakah mereka masih menyapa satu sama lain dengan hangat? Apakah kopi pagi mereka masih sama-sama? Atau sudah ada jarak tak kasat mata yang tumbuh di antara kursi-kursi pejabat itu?
Pilkada 2024: CSSR Melawan Bayangan Sendiri
Di Pilkada 2024, Caroll tampil bersama Sendy Gladys Adolfina Rumajar sebagai calon wakil wali kota. Sendy bukan nama baru di peta politik Tomohon—ia adalah putri Jefferson Soleiman Montesque Rumajar, mantan Wali Kota Tomohon. Mereka dikenal dengan akronim CSSR—singkatan yang terasa seperti nama band rock era 80-an, tapi nyatanya adalah kombinasi nama dua kandidat yang berambisi memimpin Tomohon lima tahun ke depan.
Arena Pilkada 2024 ternyata tidak sederhana. Caroll menghadapi dua wajah yang sudah sangat ia kenal—bukan dari foto kampanye, melainkan dari ruang-ruang kerja yang pernah mereka tempati bersama. Pertama, Wenny Lumentut, mantan wakilnya sendiri yang memilih turun gelanggang sebagai pesaing. Kedua, Micky Junita Linda Wenur—mantan Ketua DPRD Kota Tomohon, perempuan yang pernah duduk tepat di atas Caroll ketika ia masih menjabat Wakil Ketua DPRD. Kini posisi itu berbalik: mereka berdiri sejajar di kertas suara, memperebutkan kepercayaan yang sama.
Pilkada yang seperti reuni—tapi tanpa hidangan dan tanpa jabat tangan yang tulus.
Dan di sisi Caroll, berdiri Sendy—anak mantan Wali Kota yang berpasangan dengan anak mantan Bupati. Tomohon, kota kecil di kaki Lokon, rupanya punya cara tersendiri untuk memutar roda sejarahnya.
CSSR memenangkan Pilkada Kota Tomohon. Caroll pun resmi menjabat untuk masa bakti 2025–2030.
Kemenangan ini memberikan legitimasi yang berbeda. Mengalahkan mantan wakil sekaligus mantan atasan di lembaga legislatif bukan perkara kecil. Ini bukan hanya kemenangan atas kontestan lain. Ini semacam penegasan: rakyat memilih, dan pilihan itu jatuh kembali padanya.
Tentu saja, dalam demokrasi lokal Indonesia, "rakyat memilih" adalah frasa yang sering kali menyimpan lebih banyak cerita di baliknya daripada yang terlihat di permukaan. Tapi itulah permainan yang disepakati bersama. Dan Caroll memainkannya dengan hasil yang tidak bisa dipungkiri.
Visi yang Membubung, Program yang Membumi
Setiap kandidat dalam sejarah demokrasi Indonesia—dari tingkat kelurahan hingga presiden—hampir pasti memiliki visi yang ambisius dan misi yang puitis. Caroll dan Sendy tidak terkecuali.
Visi mereka: "Tomohon Maju, Berdaya Saing, dan Sejahtera Menuju Indonesia Emas 2045."
Sebuah visi yang, jika dibaca dengan cermat, sebetulnya tidak berbeda jauh dari visi kota-kota lain di seluruh nusantara. "Maju", "berdaya saing", "sejahtera"—kata-kata ini sudah begitu sering digunakan dalam dokumen perencanaan pembangunan sehingga nyaris kehilangan daya getarnya. Tapi tidak apa-apa. Dalam politik, semangat kadang lebih penting dari orisinalitas kata.
Yang menarik adalah program konkret mereka, yang diberi nama: "Gratis untuk Rakyat".
Nama yang sederhana. Jujur. Dan secara psikologis, sangat ampuh.
Siapa yang tidak suka gratis?
Gratis: Kata Paling Populer dalam Bahasa Politik
Mari kita telaah program "Gratis untuk Rakyat" ini dengan pikiran terbuka—dan sedikit kritis, karena itu adalah tugas jurnalisme.
Di bidang pertanian, ada traktor gratis, pupuk gratis, dan benih gratis. Bagi petani Tomohon yang sehari-harinya bergulat dengan tanah bukit dan cuaca yang tak selalu ramah, ini bukan sekadar janji manis. Ini bisa jadi perbedaan antara panen yang cukup dan tahun yang sulit.
Di bidang pendidikan dan teknologi, ada internet publik gratis dan kuota gratis untuk generasi milenial. Di era ketika sinyal internet sudah menjadi kebutuhan dasar seperti air bersih, program ini bukan kemewahan. Ini adalah keadilan akses.
Di bidang administrasi kependudukan, dokumen-dokumen seperti akta kelahiran hingga akta kematian bisa diurus tanpa biaya. Ini menyentuh sesuatu yang sangat fundamental: hak setiap warga untuk diakui keberadaannya secara legal, dari lahir hingga meninggal, tanpa harus merogoh kocek.
Di bidang kesehatan, daftarnya paling panjang: pengantaran pasien gratis, biaya persalinan gratis, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan gratis, hingga layanan ambulans gratis. Ini adalah jaring pengaman sosial yang—jika benar-benar dijalankan—bisa mengubah kualitas hidup banyak keluarga di Tomohon secara nyata.
Pertanyaannya selalu sama di setiap program seperti ini: dari mana anggarannya? Bagaimana keberlanjutannya? Siapa yang mengawasi pelaksanaannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk meragukan niat baik. Justru sebaliknya — niat baik yang tidak dibarengi tata kelola yang kuat hanyalah pameran niat. Dan rakyat Tomohon, seperti rakyat di mana pun, berhak mendapatkan lebih dari sekadar niat.
Kota Kecil, Mimpi Besar, dan Pertaruhan Kepercayaan
Tomohon adalah kota yang unik. Kecil secara geografis, tapi kaya secara karakter. Dikelilingi gunung berapi yang masih aktif—Lokon dan Mahawu berdiri seperti penjaga abadi di cakrawala—kota ini seolah selalu hidup di antara keindahan dan bahaya laten. Tanah yang subur, udara yang sejuk, bunga yang mekar di mana-mana. Dan di tengah semua itu, manusia-manusianya yang keras bekerja, tekun berdoa, dan sesekali berdebat soal siapa yang paling layak memimpin mereka.
Caroll Joram Azarias Senduk kini telah dua kali menjawab pertanyaan itu. Dua kali dipilih. Dua kali diberi kepercayaan.
Ia bukan pemimpin sempurna—tidak ada yang sempurna. Ia lahir dari privilege yang tidak semua orang miliki. Ia tumbuh di lingkungan kekuasaan yang kadang membuat orang lupa bagaimana rasanya berdiri di luar lingkaran itu. Tapi ia juga seorang manusia yang, dari rekam jejak yang ada, tampaknya tidak sepenuhnya abai terhadap tanggung jawab yang diembannya.
Yang jelas: rakyat Tomohon sudah menaruh kepercayaan. Dan kepercayaan—seperti tanah di lereng Gunung Lokon—harus dirawat dengan serius. Kalau tidak, longsor bisa datang tanpa permisi.
Semoga visi itu bukan sekadar kalimat di spanduk yang pudar diterpa hujan.
Semoga misi itu bukan sekadar halaman dalam dokumen yang berdebu di laci pejabat.
Dan semoga "Gratis untuk Rakyat" benar-benar gratis—bukan gratis di mulut, berbayar di lapangan.
Tomohon menunggu.***

Komentar
Posting Komentar