Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Kepercayaan Publik: Mata Uang Terakhir yang Tak Bisa Dicetak Sendiri

Sebuah esai panjang tentang apa yang tersisa dari jurnalisme ketika semua yang lain sudah dikorbankan demi algoritma

Negeri yang Sedang Demam: Catatan Satu Minggu Ketika Keranda, Ijazah, dan Emas Bertemu di Headline yang Sama

Sebuah perjalanan dari halaman belakang Sulawesi Utara menuju ruang sidang Jakarta—dan kembali lagi—untuk memahami kenapa Indonesia Juni 2026 terasa seperti satu episode sinetron yang terlalu banyak subplot.

Burnout di Redaksi: Lelah yang Jarang Masuk Headline

Menjelang sore, ritme ruangan itu mulai bergeser. Bukan dramatis. Tidak ada yang tiba-tiba menangis di depan meja atau melempar mouse ke dinding. Hanya semacam penurunan tekanan yang gradual, seperti ban motor yang kempes perlahan—masih bisa dikendarai, tapi sudah tidak sama.

1.186 Masjid yang Berbicara: Saat Data BPS Sulawesi Utara Mengungkap Cerita Migrasi dan Toleransi

Sebuah Provinsi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Satu Kalimat

Pokir dan Janji yang Tidak Pernah Tiba

Delapan Wakil Rakyat, Satu Pertanyaan Lama: Sebenarnya Kalian di Sana Sedang Apa?

Netizen, Kolom Komentar, dan Ujian Kesabaran yang Tidak Pernah Lulus

Ketika Internet Memberi Semua Orang Mikrofon, tapi Lupa Memasang Tombol Mute

Warung Kopi dan Anatomi Sebuah "Media"

Berdiri di Atas Kaki Sendiri (atau Tidak Sama Sekali) Domain Murah, Idealisme Mahal

Anjing Penjaga yang Lupa Cara Menggigit

 Mengapa Birokrasi Selalu Lolos dari Sorotan

Delapan Kursi, Satu Dapil: Potret Lengkap Wakil Rakyat Minahasa-Tomohon di DPRD Provinsi Sulut

Sebuah Audit Tidak Resmi terhadap Mereka yang Katanya Mewakili Kita

Tambal Sulam: Sebuah Drama di Ruas Kamasi-Woloan

Kamis, 11 Juni 2026. Di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kamasi dan Woloan, terjadi sebuah peristiwa langka—nyaris setara penampakan. Dua truk material, dan satu unit double drum roller mungil, hadir bersama-sama di lokasi yang sama, di hari yang sama, untuk tujuan yang sama: memperbaiki jalan.

Tuntas Pratama dan Ambisi yang Belum Selesai

Tomohon Terbaik se-Sulut—Tapi Terbaik dari Apa?

Sekolah di Bawah Asap Lokon

Catatan dari Kota yang Belajar Keras—dan Membuktikannya

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Berita Viral vs Berita Penting: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Agenda?

Ketika redaksi modern belajar bahwa keramaian belum tentu kepentingan—dan popularitas belum tentu makna

Pemimpin Redaksi yang Tidak Pernah Minum Kopi

Bagaimana algoritma menjadi bos tanpa pernah melamar pekerjaan, dan mengapa kita membiarkannya.

Ketika Semua Orang Merasa Jadi Wartawan

Sebuah elegi untuk verifikasi, duka cita untuk editor, dan surat terbuka kepada ibu jari yang terlalu lincah

Anak Pendek, Piala Tinggi: Ironi Manis Perjuangan Tomohon Melawan Stunting

Ketika sebuah kota menang penghargaan karena berhasil mengurangi anak yang gagal tumbuh, ada yang harus kita rayakan—dan ada yang harus kita pertanyakan dengan serius.

Ketika Catatan Berhenti, Wajan Bicara

Facebook mengingatkan saya pada foto ini tadi pagi. Muncul begitu saja di layar—senyum di depan wajan kecil, rompi abu-abu khas jurnalis lapangan, kacamata yang lebih sering dipakai mengejar deadline ketimbang membaca resep. Wajah saya serius, seperti sedang menimbang lead berita, padahal yang sedang berjuang adalah renda kue cucur. Foto itu diambil sewaktu saya masih jurnalis media cetak di Manado. Masa ketika berita dikejar sebelum pagi, bukan sebelum algoritma.

Bangku Taman dan Seni Menunggu

Pelajaran Diam dari Benda yang Tak Pernah Kemana-Mana

Mereka Melayani Siapa?

 Ketika Rakyat Menyuapi Kekuasaan yang Sudah Kenyang