Sebuah esai panjang tentang apa yang tersisa dari jurnalisme ketika semua yang lain sudah dikorbankan demi algoritma
Postingan
Menampilkan postingan dari Juni, 2026
Negeri yang Sedang Demam: Catatan Satu Minggu Ketika Keranda, Ijazah, dan Emas Bertemu di Headline yang Sama
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kamis, 11 Juni 2026. Di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kamasi dan Woloan, terjadi sebuah peristiwa langka—nyaris setara penampakan. Dua truk material, dan satu unit double drum roller mungil, hadir bersama-sama di lokasi yang sama, di hari yang sama, untuk tujuan yang sama: memperbaiki jalan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu
DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Facebook mengingatkan saya pada foto ini tadi pagi. Muncul begitu saja di layar—senyum di depan wajan kecil, rompi abu-abu khas jurnalis lapangan, kacamata yang lebih sering dipakai mengejar deadline ketimbang membaca resep. Wajah saya serius, seperti sedang menimbang lead berita, padahal yang sedang berjuang adalah renda kue cucur. Foto itu diambil sewaktu saya masih jurnalis media cetak di Manado. Masa ketika berita dikejar sebelum pagi, bukan sebelum algoritma.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya