Kamis, 11 Juni 2026. Di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kamasi dan Woloan, terjadi sebuah peristiwa langka—nyaris setara penampakan. Dua truk material, dan satu unit double drum roller mungil, hadir bersama-sama di lokasi yang sama, di hari yang sama, untuk tujuan yang sama: memperbaiki jalan.
📖 DAFTAR ISI
Warga sekitar awalnya curiga ini hologram. Atau bagian dari pengambilan gambar film dokumenter tentang "Hal-Hal yang Konon Pernah Terjadi di Sulut." Tapi setelah didekati, debu yang beterbangan terasa nyata. Aspal panas yang disiramkan ke lubang juga mengepulkan asap sungguhan. Ini bukan ilusi. Jalan Kamasi-Woloan, yang rusaknya sudah jadi semacam warisan budaya tak benda, benar-benar sedang diperbaiki.
Reuni Lubang-Lubang Lama
Bagi yang belum tahu, jalan ini punya sejarah panjang—mungkin lebih panjang dari sinetron-sinetron yang tayangnya sampai ratusan episode. Setiap musim hujan, lubang-lubang di jalan ini berkembang biak seperti mereka punya program keluarga berencana sendiri, dan sayangnya program itu gagal total.
Tahun lalu ditambal. Tahun ini bolong lagi. Tambal lagi. Bolong lagi. Pola ini begitu konsisten sehingga seorang sopir angkot trayek Tomohon-Tombariri, yang sudah menghafal posisi tiap lubang seperti menghafal rute jalan tikus, sampai punya nama panggilan untuk lubang-lubang favoritnya.
"Itu lubang yang di dekat bog (tikungan), dia datang lagi tahun ini. Rindu sepertinya," katanya sambil tertawa getir, lalu menyeruput kopi hitamnya di warung tempat biasanya dia dan teman-temannya mangkal.
Maka ketika truk-truk material itu muncul Kamis siang, ada semacam perasaan campur aduk di antara warga. Senang, jelas. Tapi juga waswas. Seperti melihat mantan yang tiba-tiba baik lagi—indah, tapi insting bilang "jangan terlalu berharap."
Proses Tanpa Plot yang Jelas
Di lokasi, pemandangannya cukup sinematik kalau mau jujur. Sebuah toko yang belum selesai dengan tembok bata merah jadi latar, terparkir satu unit excavator kuning berdiri gagah. Sementara di kejauhan, jejeran pohon dengan buah merah menyala seolah merayakan momen ini dengan kembang api alami. Sayangnya, perayaan itu tidak diiringi sesuatu yang seharusnya jadi standar minimum: papan proyek.
Tidak ada papan nama proyek. Tidak ada informasi soal siapa kontraktornya, berapa anggarannya, kapan target selesainya, atau nomor pengaduan kalau ada masalah. Bagi warga, ini seperti diundang ke pesta tanpa tahu siapa yang ulang tahun, di mana lokasinya pasti, dan kapan acara itu berakhir—tahu-tahu makanan sudah habis dan tamu sudah pulang.
Lebih menarik lagi, tidak ada pengaturan lalu lintas sama sekali. Bukan dari kontraktor, bukan pula dari pihak berwajib. Padahal di tengah jalan ada genangan aspal basah yang baru disiram, siap dipadatkan—dan kendaraan tetap melintas seperti biasa, kadang dengan kecepatan yang menunjukkan pengemudinya sedang terburu-buru menuju takdir masing-masing.
Hasilnya? Beberapa kendaraan terpaksa "icip-icip" lubang yang sedang dalam proses penyembuhan. Roda masuk ke genangan aspal segar, lalu keluar lagi membawa sedikit "oleh-oleh" hitam lengket di bannya. Ironis: jalan yang sedang diperbaiki justru jadi sumber kerusakan baru—kali ini bukan untuk aspalnya, tapi untuk ban dan kesabaran pengendara.
Sebenarnya, Begini Cara yang (Mungkin) Benar
Di sinilah letak humor getirnya. Karena sebenarnya, dunia perkerasan jalan sudah punya resep yang jelas untuk urusan tambal-menambal lubang ini—dan resepnya bukan rahasia dapur sekelas masakan nenek yang harus dirahasiakan turun-temurun. Tahapannya kira-kira begini:
Pertama, lubang harus dibersihkan total. Bukan disapu ala kadarnya, tapi benar-benar disingkirkan dari air, debu, kerikil lepas, dan segala material yang sudah tidak punya niat untuk menempel lagi. Kalau perlu pakai blower, bukan cuma sapu lidi yang nasibnya kalah sama sapu di rumah tangga.
Kedua, tepi lubang dipotong rapi membentuk kotak atau persegi panjang—bukan dibiarkan menganga dengan bentuk abstrak seperti peta pulau yang digambar anak TK. Tepi yang rapi membuat aspal baru bisa melekat lebih kuat, alih-alih menempel di pinggiran yang rapuh dan gampang copot lagi.
Ketiga—dan ini bagian yang sering "lupa" alias sengaja dilupakan—diberi lapisan perekat (tack coat atau prime coat) sebelum aspal baru dituang. Lapisan ini berfungsi sebagai perekat antara aspal lama dan aspal baru, ibarat lem sebelum menempelkan stiker, bukan langsung tempel dan berharap nempel sendiri karena "kan sama-sama aspal."
Keempat, baru diisi campuran aspal—baik hotmix maupun aspal dingin, tergantung kondisi—lalu dipadatkan dengan alat yang sesuai hingga rata dengan permukaan sekitarnya. Setelah pemadatan, tambalan idealnya didiamkan dulu agar mengeras sebelum dilewati kendaraan, sekitar 30 sampai 60 menit untuk aspal panas—bukan langsung diserbu ban motor dan mobil yang tidak sabaran.
Kelima, dan ini yang paling sering terlewat di lapangan: drainase. Banyak kerusakan jalan aspal bermula dari retakan kecil yang dibiarkan, sehingga air meresap dan merapuhkan lapisan-lapisan jalan, lalu lubang kecil itu membesar. Tanpa saluran air yang memadai di sisi jalan, air hujan akan terus menggenang, meresap ke struktur jalan, dan—seperti tamu tak diundang yang datang setiap musim hujan—membuat lubang baru tumbuh persis di sebelah lubang yang baru saja ditambal.
Singkatnya: perbaikan yang asal tambal tanpa pembersihan dan pemadatan yang baik hanya akan menghasilkan tambalan yang cepat rusak lagi. Dan perbaikan jalan sejatinya bukan cuma soal menutup lubang, tapi memastikan struktur di bawahnya kembali kuat dan tahan terhadap beban serta cuaca.
Jadi ketika di ruas Kamasi-Woloan terlihat lubang hanya disiram lalu langsung ditimbun tanpa terlihat proses pembersihan menyeluruh, pemotongan tepi yang rapi, atau lapisan perekat—dan tanpa ada perhatian sama sekali pada drainase di kiri-kanan jalan—maka jangan heran kalau "tahan lama" yang diharapkan warga itu mungkin akan berumur sependek janji kampanye.
Harapan yang (Lagi-Lagi) Sederhana
Yang menarik dari respons warga bukanlah kemarahan meledak-ledak. Justru sebaliknya—ada kelegaan yang dibungkus dengan kewaspadaan. Tukang ojek pangkalan dan online, yang setiap hari menyusuri jalan ini untuk mengantar penumpang dan barang dari Tomohon ke Woloan-Taratara-Ranotongkor hingga Tanawangko (Tombariri), dan sebaliknya, mengungkapkan harapannya dengan kalimat sederhana: agar perbaikan kali ini bisa tahan lama.
Permintaan itu sebenarnya bukan permintaan besar. Tidak ada tuntutan jalan selebar tol, tidak ada mimpi soal lampu hias atau trotoar bergaya Eropa. Hanya satu: tahan lama. Tapi justru kesederhanaan permintaan itu yang menyimpan kritik paling tajam. Ketika "jalan yang tidak cepat rusak lagi" sudah dianggap sebagai pencapaian besar, itu artinya standar yang ada selama ini memang sudah begitu rendah hingga menyentuh dasar comberan.
Pertanyaan yang Selalu Sama
Jalan Kamasi-Woloan adalah jalan provinsi. Artinya tanggung jawabnya ada di tangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Bukan urusan kelurahan, bukan pula urusan kecamatan yang biasanya jadi sasaran keluhan pertama warga. Dan warga memang sudah bertahun-tahun mengeluhkan kondisi jalan ini, bukan hanya ruas Kamasi-Woloan, tapi terus lagi ke Taratara, melewati beberapa desa hingga ke pusat kota Tanawangko (Tombariri).
Jika keluhan warga disampaikan ke Pemerintah Kota Tomohon, pasti alasan yang keluar adalah itu adalah jalan provinsi. Dan alasan ini didukung sepenuhnya oleh para pembela (kalau tidak disebut buzzer atau influenser pemerintah kota saat ini—apakah mereka dibayar atau gratis).
Tapi seperti banyak proyek infrastruktur di daerah, jalan provinsi sering berada di "zona abu-abu pengawasan"—terlalu jauh dari pusat kota—jalan ini malah dekat dengan pusat kota Tomohon—untuk dapat perhatian rutin, tapi terlalu vital untuk benar-benar dilupakan. Hasilnya adalah pola perbaikan yang reaktif: jalan rusak parah, viral di media sosial atau jadi bahan obrolan warung kopi, baru kemudian ada tindakan—biasanya berupa tambal sulam, bukan perbaikan menyeluruh.
Tambal sulam punya logika ekonominya sendiri. Lebih murah dalam jangka pendek, terlihat "ada progres," dan secara administratif bisa dilaporkan sebagai "pekerjaan telah dilaksanakan." Tapi dalam jangka panjang, ia justru lebih mahal—karena siklus rusak-tambal-rusak-lagi ini berulang terus, menyedot anggaran setiap tahun untuk masalah yang sama, tanpa pernah menyentuh akar persoalan: kualitas pengerjaan, drainase yang buruk, atau beban kendaraan yang melebihi kapasitas jalan—apalagi jalan ini sering dilewati truk kontainer yang memuat rumah panggung Woloan yang laku terjual.
Antara Optimisme dan Realisme
Ada satu hal yang patut diapresiasi dari peristiwa Kamis siang itu: ada pekerjaan, ada alat, ada material. Itu lebih baik daripada tidak ada apa-apa sama sekali, dan warga pun tidak menyangkalnya.
Tapi infrastruktur yang baik bukan hanya soal "ada pekerjaan." Ia juga soal transparansi—papan proyek yang jelas, informasi yang terbuka. Soal keselamatan—pengaturan lalu lintas saat ada pekerjaan jalan, supaya warga tidak harus jadi kelinci percobaan aspal basah. Soal teknik—pembersihan lubang, pemotongan tepi yang rapi, lapisan perekat, pemadatan yang tepat, dan waktu pengerasan yang cukup sebelum dilintasi. Dan yang paling penting, soal drainase—karena tanpa saluran air yang memadai, tambalan sebagus apa pun hanya menunggu giliran untuk bolong lagi.
Karena pada akhirnya, jalan bukan sekadar permukaan aspal yang dilewati roda kendaraan. Ia adalah cermin—dari bagaimana pemerintah memperlakukan warganya, dari seberapa serius "perencanaan" diterjemahkan menjadi kenyataan di lapangan, dan dari seberapa jauh kata "tahan lama" benar-benar berarti, atau hanya jadi harapan yang diucapkan berulang kali setiap kali truk material datang lagi ke ruas yang sama.
Warga Kamasi-Woloan-Taratara, hingga Tombariri, untuk saat ini, memilih percaya. Sambil menyiapkan hati—kalau-kalau lubang itu datang lagi tahun depan, membawa oleh-oleh yang sama, lengkap dengan genangan air baru di pinggir jalan yang masih saja tidak punya tempat untuk pergi.

Komentar
Posting Komentar