Ketika redaksi modern belajar bahwa keramaian belum tentu kepentingan—dan popularitas belum tentu makna
📖 DAFTAR ISI
![]() |
| Dunia pers sedang tidak baik-baik saja, atau ia hanya sedang berganti rupa? |
Bukan sunyi seperti perpustakaan. Sunyi seperti ruang operasi—semua orang serius menatap layar masing-masing, sesekali bergumam, sesekali mengetik cepat, sesekali menghela napas dengan ekspresi yang susah dibedakan antara frustrasi dan pasrah.
Kawan saya—redaktur yang sudah lama melewati fase romantisme profesi dan kini beroperasi di mode pragmatis—tiba-tiba menoleh dari monitor dan berkata dengan nada orang yang baru menemukan benda langka:
"Ini sudah satu jam tayang. Trafiknya sudah seperti jalan raya di pusat kota."
Saya mendekat. Melihat beritanya. Membacanya dua kali.
Kemudian diam sejenak, merenung.
Berita itu ringan. Sangat ringan. Jenis kabar yang di era koran mungkin hanya mendapat jatah dua belas baris di pojok halaman empat, diapit iklan obat sakit kepala dan pengumuman pernikahan seseorang yang tidak kita kenal. Berita yang, kalau dicetak, tintanya tidak perlu sebanyak itu.
Namun di sini—di jagat portal yang bergerak dengan logikanya sendiri—ia melesat.
"Luar biasa," kata saya.
"Kan?" jawab kawan saya, dengan nada yang sudah melewati fase kagum dan langsung mendarat di fase menerima nasib.
Dulu Ada Rapat, Sekarang Ada Dashboard
Izinkan saya mengajak Anda sebentar ke masa lalu. Bukan terlalu jauh—tidak sampai era mesin tik dan tinta ungu stensil. Cukup sampai era koran harian yang masih berjaya, ketika redaksi adalah sebuah institusi dengan hierarki yang nyaris militeristik dan jadwal yang sakral.
Di sana, pagi dimulai dengan rapat redaksi. Bukan rapat biasa—rapat dengan meja besar, kopi yang sudah dingin, dan pemimpin redaksi yang duduk di ujung ruangan dengan karisma seorang hakim sekaligus wasit sekaligus sutradara teater.
Agenda ditetapkan. Berita dipilih. Ada proses panjang yang melibatkan banyak pertimbangan: bobot isu, kepentingan publik, keseimbangan sumber, ruang halaman, dan kadang—mari kita jujur—selera pribadi sang pemred yang tidak bisa kita bantah karena ia yang menandatangani surat perintah liputan.
Itu bukan sistem yang sempurna. Ia punya bias, punya lubang, punya momen-momen di mana berita penting tenggelam karena tidak ada yang mau meliputnya, atau karena narasumber utamanya kebetulan bermain golf dengan pemilik koran. Tidak usah dibohongi.
Tapi ia punya satu hal yang sekarang langka: ketenangan untuk mempertimbangkan.
Tidak ada grafik trafik real-time. Tidak ada notifikasi setiap lima menit. Tidak ada angka yang naik-turun seperti saham di hari penuh gejolak. Redaksi memutuskan apa yang penting. Pembaca membaca. Begitu siklusnya.
Sederhana? Ya. Arogan sedikit? Mungkin. Tapi setidaknya ada satu entitas yang bertanggung jawab menjaga kompas editorial: manusia yang namanya tercantum di kotak redaksi.
Sekarang? Situasinya lebih demokratis—dalam tanda kutip yang ukurannya lumayan besar.
Berita Sebagai Undian Berhadiah
Internet punya selera. Dan selera itu, kalau boleh jujur, kadang membingungkan.
Hal kecil bisa meledak. Hal besar bisa lewat seperti angin sopan yang bahkan tidak menggoyang gorden. Meme lucu bisa mengalahkan laporan investigasi tiga bulan tentang korupsi pengadaan barang. Sebuah slip lidah selebriti bisa menggeser berita kebijakan yang berdampak pada jutaan orang.
Ini bukan tuduhan. Ini observasi. Dan ia cukup mengganggu bila kita duduk diam dan memikirkannya terlalu lama.
Kawan saya pernah menyebutnya dengan tepat: "Nasib berita sekarang seperti undian. Bukan semata soal bobot, tapi soal daya pikat."
Dan ia benar. Viralitas adalah tamu tak diundang yang datang kapan saja, membawa berkah trafik yang membuat dashboard analytics bersinar seperti pohon Natal, atau pergi begitu saja tanpa pamit dan meninggalkan grafik yang tampak seperti peta pegunungan yang terjal.
Tidak ada rumus pasti. Tidak ada jaminan. Berita yang menurut Anda akan meledak kadang jatuh pelan seperti balon kehabisan helium. Berita yang Anda pikir biasa-biasa saja tiba-tiba mendapat ribuan bagikan karena satu kalimat di paragraf ketiga menyentuh sesuatu yang tidak Anda rencanakan.
Di situlah paradoksnya: redaksi modern yang dipersenjatai data justru sering tidak bisa memprediksi apa yang akan viral.
Mereka tahu apa yang sudah viral. Mereka bisa menganalisis mengapa sesuatu viral setelah kejadian. Tapi memprediksinya? Sama susahnya dengan meramal cuaca di Sulawesi Utara musim pancaroba—bisa mendung, bisa panas terik, bisa keduanya dalam satu jam.
SDM: Dari Wartawan Serba Bisa ke Manusia Multi-Platform yang Serba Lelah
Ini bagian yang sering luput dari diskusi soal berita viral versus berita penting: manusianya.
Di redaksi koran era keemasan, ada spesialisasi yang terasa seperti guild abad pertengahan. Reporter lapangan. Redaktur halaman. Fotografer. Korektor. Layouter. Masing-masing punya tugas, punya domain, punya jam kerja yang—setidaknya di atas kertas—cukup manusiawi.
Reporter meliput. Redaktur menyunting. Keduanya duduk di meja yang berbeda dan bisa menikmati jeda makan siang tanpa merasa berdosa.
Kini, bayangkan pemandangan di banyak redaksi digital: satu orang reporter menulis berita, mengambil foto dengan ponselnya, membuat video pendek untuk Reels, menulis caption media sosial, memantau komentar pembaca, dan sesekali disuruh buat grafis karena desainernya sedang mengerjakan yang lain.
Kemudian di sela itu semua, ia diharapkan tetap menjaga standar jurnalistik. Verifikasi fakta. Keberimbangan sumber. Kode etik. Semuanya.
Dengan tenggat waktu yang bukan lagi "naskah masuk sebelum maghrib" tapi "kecepatan adalah segalanya."
Bukan cerita baru. Tapi tetap perlu diucapkan keras-keras sesekali, supaya tidak terasa normal.
Karena ketika sumber daya manusia dicompress terlalu kencang—ketika satu orang diminta melakukan pekerjaan yang sebelumnya dibagi empat—sesuatu pasti akan mengorbankan sesuatu yang lain. Dan yang paling sering dikorbankan adalah hal-hal yang tidak terlihat langsung di dashboard: kedalaman liputan, waktu untuk verifikasi, ruang untuk berpikir.
Berita penting butuh waktu. Ia butuh reporter yang bisa menggali tiga hari untuk satu artikel. Ia butuh redaktur yang membaca naskah dua kali dengan kepala segar. Ia butuh proses.
Viralitas tidak butuh itu semua. Ia butuh kecepatan dan naluri.
Dan di sinilah dua kebutuhan itu sering bertabrakan di ruang yang sama.
Siapa yang Menentukan Agenda?
Pertanyaan lama. Tapi jawabannya kini lebih rumit dari sebelumnya.
Di era koran, jawabannya relatif jelas: pemimpin redaksi, editor, kadang pemilik media—dengan segala konsekuensi kekuasaan dan konflik kepentingan yang menyertainya. Setidaknya ada wajah yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Ada manusia yang bisa dikritik, dipuji, atau diajak debat.
Di era portal digital, jawabannya lebih kabur. Kawan saya menyebutnya dengan ringkas: "Semua orang. Dan sekaligus tak seorang pun."
Publik ikut menentukan lewat perilaku digitalnya—klik, bagikan, tinggalkan, abaikan. Perilaku itu terbaca, terpola, dan kemudian mempengaruhi keputusan editorial: berita apa yang diperbanyak, topik apa yang diulangi, sudut pandang mana yang dianggap laku.
Bukan konspirasi. Hanya mekanisme. Mekanisme yang bekerja sangat efisien dalam mengamplifikasi satu hal: apa yang direspons, bukan apa yang dibutuhkan.
Karena respons dan kebutuhan tidak selalu satu. Sering kali mereka bahkan bertolak belakang.
Kita merespons hal yang menggelitik emosi. Kita butuh hal yang memperjelas pikiran.
Kita merespons hal yang mengonfirmasi apa yang sudah kita percaya. Kita butuh hal yang menantang asumsi kita.
Kita merespons hal yang ringan karena hidup sudah cukup berat. Kita butuh hal yang berat karena demokrasi tidak bisa berjalan dengan informasi yang ringan-ringan saja.
Berita Penting Itu Pendiam, Tapi Ia Tidak Pergi
Ada satu hal yang saya yakini setelah cukup lama mengamati arus ini: berita penting tidak butuh viral untuk bertahan relevan.
Ia bekerja perlahan. Seperti benih yang ditanam di tanah yang tidak terlalu diperhatikan—tidak ada yang merayakannya hari itu, tidak ada yang screenshot dan bagikan dengan kalimat "ini harus viral!", tidak ada grafik yang melesat dalam satu jam pertama.
Tapi ia tumbuh. Dalam ingatan pembaca yang setia. Dalam arsip yang suatu hari menjadi referensi. Dalam percakapan panjang yang terjadi berminggu-minggu setelah tayang, ketika orang-orang mulai merasakan dampak dari sesuatu yang dulu mereka baca tapi tidak terlalu perhatikan.
Kawan saya pernah bilang: "Berita yang paling berdampak justru paling sunyi."
Dan ada ironi yang halus di sana. Sunyi bukan karena tidak penting. Sunyi karena ia tidak dirancang untuk memancing reaksi instan—ia dirancang untuk memberi pengertian yang bertahan lama. Dan pengertian yang bertahan lama tidak pernah laku secepat kontroversi yang segar.
Kompas yang Tidak Boleh Goyah
Di tengah semua ini, satu hal yang tidak boleh berubah: tanggung jawab publik sebagai orientasi utama redaksi.
Bukan trafik. Bukan angka share. Bukan posisi di trending topic.
Tanggung jawab publik.
Kawan saya bilang dengan nada yang tidak dramatis tapi entah kenapa terasa berat: "Kami tetap harus menulis yang penting. Walau kadang kalah gaduh."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi ia adalah pernyataan iman profesi yang diucapkan oleh orang yang tahu persis betapa lelahnya memperjuangkan berita yang tidak akan viral, di ruangan yang dashboardnya tidak pernah berhenti berkedip, oleh redaksi yang sumber dayanya tidak bertambah tapi tuntutannya terus tumbuh.
Itu bukan romantisme. Itu perlawanan kecil yang dilakukan setiap hari, di banyak redaksi, oleh orang-orang yang namanya jarang masuk byline tapi kerjanya menentukan apakah jurnalisme masih layak disebut profesi atau sudah sepenuhnya menjadi industri hiburan informasi.
Cuaca dan Iklim
Viralitas itu cuaca. Berubah cepat, tidak bisa diprediksi, kadang spektakuler, sering tidak masuk akal.
Pentingnya berita itu iklim. Bergerak lambat, terasa bertahun-tahun kemudian, dan menentukan apakah kita hidup di ekosistem informasi yang sehat atau di padang pasir digital yang hanya menghasilkan fatamorgana.
Redaksi modern hidup di antara keduanya—dituntut merespons cuaca setiap jam sambil tetap menjaga iklim dalam jangka panjang. Itu bukan pekerjaan yang mudah. Itu bukan pekerjaan yang selalu bisa dilakukan dengan sempurna.
Tapi ia tetap pekerjaan yang perlu dilakukan. Dengan serius. Dengan kerendahan hati untuk mengakui bahwa trafik hari ini bukan ukuran terakhir dari nilai sebuah berita.
Monitor di ruangan kecil itu kembali berkedip. Angka bergerak lagi. Dunia digital terus berisik seperti biasa.
Dan di sana, di antara grafik yang naik-turun dan tenggat yang tidak pernah benar-benar selesai, masih ada orang-orang yang diam-diam memperjuangkan berita yang mungkin tidak viral hari ini—namun penting bagi esok yang lebih panjang.
Semoga kita tidak lupa menghargai mereka.
Dan semoga kita, sebagai pembaca, sesekali mau meluangkan waktu untuk berita yang tidak memancing emosi kita—tapi memperluas pengertian kita.
Karena pada akhirnya: keramaian berlalu. Yang penting, tinggal.
Di tengah arus yang serba viral ini—berita seperti apa yang layak kita jaga bersama?

Komentar
Posting Komentar