Langsung ke konten utama

Warung Kopi dan Anatomi Sebuah "Media"

Berdiri di Atas Kaki Sendiri (atau Tidak Sama Sekali)

Domain Murah, Idealisme Mahal

Sore itu, warung kopi langganan kami sedang tidak terlalu ramai. Hanya ada suara grinder kopi yang sesekali menderu, dan dua cangkir yang mengeluarkan asap tipis di atas meja kayu yang sudah mulai mengelupas catnya di beberapa sudut.

📖 DAFTAR ISI

    Ilustrasi gaya editorial koran menampilkan dua pria Indonesia sedang berdiskusi serius di meja kayu sebuah kedai kopi. Pria di sebelah kiri mengenakan kemeja batik sambil mengacungkan jari, sementara pria berkacamata di sebelah kanan mendengarkan dengan saksama di dekat cangkir kopi yang mengepul dalam suasana pencahayaan sore yang hangat.
    Obrolan hangat di sudut kedai kopi: Mengurai benang kusut media dan transformasi media di era digital. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI)

    Kawan saya—sebut saja begitu, karena ia selalu enggan namanya disebut dalam tulisan apapun, alasan yang menurut saya ironis mengingat ia menghabiskan separuh hidupnya menulis tentang orang lain—duduk sambil mengaduk kopinya. Bukan mengaduk biasa. Ini mengaduk filosofis. Pelan, berirama, seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih berat dari gula.

    "Kalau sebuah media berdiri hanya untuk mengejar kontrak pemerintah," kata saya, memecah keheningan, "apakah itu masih bisa disebut jurnalisme? Atau itu lebih cocok disebut... biro jasa dengan press card?"

    Kawan saya tidak langsung menjawab. Sendoknya berhenti di tengah cangkir. Lalu ia menghela napas panjang—napas yang seperti membawa beban dua dekade pengalaman di ruang redaksi yang entah berapa kali berganti nama, berganti pemilik, dan berganti idealisme.

    "Kadang masalah media daerah bukan pada wartawannya," katanya akhirnya, suaranya datar tapi tajam. "Masalahnya ada pada niat awal mendirikan medianya. Dari hulu sudah keruh, jangan kaget kalau di hilir airnya juga begitu."

    Saya menunggu. Karena saya tahu, kalau kawan saya sudah memulai dengan kalimat seperti itu, biasanya akan ada satu sesi "kuliah gratis" yang—anehnya—selalu lebih mencerahkan daripada seminar jurnalisme berbayar.

    Bisnis Modal Recehan, Mimpi Sekelas Kementerian

    "Sekarang," ia melanjutkan, "membuat portal berita itu semudah membuat akun media sosial baru setelah putus cinta. Cukup beli domain, sewa hosting bersama—yang murah, yang serempak dengan ribuan situs lain di server yang sama—pasang template gratisan, ganti logo, dan... selesai. Dalam satu sore, sebuah 'media' bisa lahir di internet."

    Ia tersenyum kecil, senyum yang saya kenal betul: senyum getir seorang yang sudah terlalu sering melihat hal yang sama berulang.

    "Modalnya," tambahnya, "kadang tidak lebih mahal dari satu ponsel kelas menengah. Tapi nama medianya? Bisa seberat 'Pos Nasional Investigasi Mandiri Sulawesi Raya'. Padahal isinya cuma satu orang, satu laptop, dan satu grup WhatsApp bernama 'Tim Redaksi' yang anggotanya... ya, dia sendiri, dengan tiga nomor HP berbeda."

    Kami berdua tertawa. Tapi seperti biasa dengan obrolan semacam ini, tawa itu punya rasa pahit yang tertinggal di lidah, seperti kopi yang lupa diberi gula.

    Karena kenyataannya memang begitu. Di banyak tempat, portal berita tidak lahir dari kegelisahan akan informasi yang hilang, dari kebutuhan publik untuk tahu apa yang terjadi di balik pintu kantor pemerintahan. Portal-portal ini lahir dari sesuatu yang lebih sederhana, lebih primal: peluang.

    "Ceritakan modelnya," pinta saya, sambil menyandarkan diri ke kursi, siap menikmati pertunjukan.

    Anatomi "Media Dadakan": Sebuah Studi Kasus Satir

    Kawan saya meletakkan sendoknya, lalu mulai bercerita dengan gaya seorang dokter yang membedah kasus—tapi kasus ini bukan tubuh manusia, melainkan tubuh sebuah "media."

    "Tahap pertama: domain dibeli. Biasanya namanya mengandung kata 'pos', 'tribun', 'ekspres', 'liputan' , 'berita', atau—favorit saya—'mata'. Mata Sulut, Mata Rakyat, Mata LSM. Entah kenapa semua media merasa perlu punya mata, padahal yang dipakai untuk menulis berita kan jari, bukan mata."

    "Tahap kedua: situs dipasang. Template-nya? Sama dengan ribuan situs lain. Bedanya cuma warna header dan logo yang—jujur saja—kadang dibuat dalam lima menit pakai aplikasi desain gratisan, dengan font yang terlalu banyak gradasi."

    "Tahap ketiga," ia melanjutkan, suaranya mulai naik seperti pendongeng yang sampai di bagian klimaks, "beberapa berita rilis dimuat. Berita rilis ini biasanya dicopy-paste dari portal lain, atau—kalau lagi rajin—dari siaran pers humas pemerintah, tanpa diedit, tanpa dicek, kadang bahkan tanpa dibaca."

    "Dan tahap keempat, yang paling krusial: kartu nama dicetak."

    Ia berhenti sejenak, seperti memberi waktu untuk efek dramatis.

    "Kartu nama ini," katanya, "adalah produk paling penting dari seluruh proses pendirian media, selain badan hukum. Lebih penting dari konten, lebih penting dari traffic, lebih penting dari apapun. Karena kartu nama inilah yang akan dibawa berkeliling kantor pemerintah, diserahkan dengan dua tangan, sambil bilang, 'Mohon dukungannya, Pak/Bu, media kami baru berdiri.'"

    "Lalu," saya menyambung, mencoba ikut dalam permainan, "kalau kontrak datang?"

    "Maka portal itu hidup. Tiba-tiba ada lima 'wartawan' baru yang entah dari mana. Tiba-tiba ada berita setiap hari—isinya seragam: kunjungan kerja, peresmian, sambutan, dan foto pejabat sedang menggunting pita atau menandatangani sesuatu sambil tersenyum kaku ke kamera."

    "Dan kalau kontrak tidak datang?"

    Kawan saya menjentikkan jarinya. "Maka ia menghilang. Diam-diam. Seperti rumah kosong di ujung kompleks yang ditinggalkan penghuninya tanpa pamit. Domainnya expired, dan tahun depan—siapa tahu—nama yang sama muncul lagi dengan ujung domain berbeda. Dari .com jadi .id, dari .id jadi .news, atau .co, serta .co.id dan lain sebagainya. Reinkarnasi digital."

    Bukan Teknologi yang Salah, Tapi Niat yang Tersesat

    Saya menyeruput kopi, mencoba mencerna. "Tapi kan teknologi yang memudahkan semua ini. Apakah berarti teknologi ini... masalahnya?"

    Kawan saya menggeleng tegas. "Justru sebaliknya. Teknologi membuat jurnalisme semakin mudah diakses—dan itu hal baik. Dulu, untuk mendirikan media, kau butuh percetakan, mesin cetak, distribusi, modal besar. Sekarang? Siapapun dengan koneksi internet dan sedikit niat bisa menyuarakan sesuatu yang penting ke dunia."

    Ia menatap saya lurus. "Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalahnya adalah ketika media didirikan bukan untuk melayani publik, tetapi untuk mengejar anggaran publikasi."

    Kalimat itu menggantung di udara, seperti asap rokok yang perlahan menghilang tapi baunya masih tertinggal.

    Kami sama-sama diam. Kadang kalimat sederhana memang mampu menjelaskan banyak hal yang selama ini hanya dibicarakan setengah-setengah—di forum-forum, di grup WhatsApp organisasi pers, di obrolan basa-basi setelah acara seremonial yang sebenarnya membosankan tapi dihadiri demi "menjaga hubungan baik."

    "Padahal," kata kawan saya lagi, suaranya melunak, "sebenarnya media bisa hidup tanpa bergantung pada satu pintu."

    Saya menatapnya, menunggu kuliah babak kedua.

    Empat Jari, Empat Jalan (yang Sering Diabaikan)

    Ia mengangkat satu jari, seperti dosen ekonomi yang memulai kuliah dadakan di atas meja kopi yang masih basah oleh tumpahan susu.

    "Pertama: membangun pasar iklan yang nyata."

    "Di setiap kota," katanya, "selalu ada hotel, restoran, dealer kendaraan, toko bangunan, klinik kesehatan, kampus, hingga usaha kecil yang membutuhkan promosi. Kalau dikelola profesional, mereka bisa jadi mitra iklan yang stabil."

    "Tapi," ia menambahkan dengan nada menggoda, "masalahnya sering bukan pada ketersediaan pengiklan. Masalahnya pada cara medianya bekerja. Banyak portal berita berharap iklan datang sendiri—seperti nelayan yang menunggu ikan melompat ke perahu sambil dia sendiri tidur di kasur, bukan di perahu."

    Saya tertawa. Analogi itu terlalu tepat untuk tidak disukai.

    "Dunia usaha," lanjutnya, "membutuhkan pendekatan serius: tim pemasaran, proposal yang jelas, hubungan yang dibangun dengan sabar—bukan cuma DM Instagram berisi 'Min, mau pasang iklan kah?'"

    Jari kedua terangkat.

    "Kedua: event dan kegiatan publik."

    "Media punya satu kekuatan yang sering diremehkan—bahkan oleh medianya sendiri: audiens."

    "Dengan audiens itu," ia menjelaskan, "media bisa mengadakan diskusi publik, seminar pendidikan, festival UMKM, lomba menulis, atau forum komunitas. Sponsor tertarik karena mereka ingin terhubung dengan pembaca media itu."

    "Dalam model ini," katanya, mengetuk meja untuk penekanan, "media bukan sekadar penyampai berita—tetapi juga penggerak ruang publik. Bukan cuma jadi corong, tapi jadi panggung."

    Jari ketiga.

    "Ketiga: keanggotaan pembaca dan kontribusi langsung."

    "Model ini makin populer di media-media modern. Pembaca yang percaya pada kualitas jurnalisme bisa jadi anggota atau pelanggan dengan biaya kecil setiap bulan, atau memberi kontribusi seikhlasnya."

    "Sebagai imbalan," ia melanjutkan, "mereka dapat buletin khusus, artikel eksklusif, tulisan yang layak dipercaya—bukan listicle '7 Fakta Mengejutkan' yang faktanya cuma ada tiga dan semuanya sudah pernah dibahas tahun lalu."

    Lalu ia tersenyum, senyum yang lebih hangat kali ini. "Bayangkan kalau seribu pembaca saja bersedia membayar harga satu kopi setiap bulan. Itu sudah cukup untuk menggaji beberapa reporter."

    "Harga kopi di sini," saya menyela, melirik menu, "atau harga kopi di kafe hits yang fotonya estetik itu?"

    "Yang mana saja," ia menjawab sambil terkekeh. "Intinya, solusi memang kadang sesederhana itu—asal dijalankan dengan konsisten. Bukan cuma jadi wacana di rapat redaksi yang berakhir dengan, 'nanti kita bahas lagi.'"

    Jari keempat, dan terakhir.

    "Keempat: produksi konten kreatif."

    "Banyak perusahaan butuh video profil, pengelolaan media sosial, kampanye digital. Tim media yang sudah terbiasa menulis, memproduksi video, mengelola informasi—sebenarnya punya modal besar untuk mengerjakan proyek seperti ini secara profesional."

    Ia mengangkat telunjuknya lagi, kali ini dengan nada serius yang jarang muncul.

    "Tapi dengan satu syarat penting: garis pemisah antara konten editorial dan konten komersial harus dijaga jelas. Begitu garis itu kabur, kredibilitas media ikut kabur. Dan kredibilitas, sekali hilang, lebih sulit dicari daripada sinyal di daerah pegunungan."

    Kelas Ekonomi Media yang Tidak Direncanakan

    Percakapan kami mulai terasa seperti kelas kecil tentang ekonomi media yang tidak sengaja terjadi di sebuah warung kopi—tanpa slide presentasi, tanpa sertifikat, tapi mungkin lebih jujur daripada banyak seminar.

    "Jadi sebenarnya," kata saya akhirnya, "pilihan selalu ada."

    Kawan saya mengangguk pelan, tapi matanya menerawang ke luar jendela, ke arah jalan yang mulai ramai oleh motor-motor yang pulang kerja.

    "Masalahnya bukan ada atau tidaknya pilihan," katanya.

    Ia diam sejenak, seolah mengukur kalimat berikutnya dengan sangat hati-hati—seperti seorang editor yang membaca ulang judul sebelum dipublikasikan, tahu betul satu kata yang salah bisa mengubah seluruh makna.

    "Masalahnya adalah apakah media benar-benar ingin berdiri di atas kakinya sendiri."

    Ia berhenti lagi. Lalu menambahkan, lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri:

    "Karena media yang terlalu bergantung pada satu sumber uang, pada akhirnya akan sulit berkata tidak kepada pemberinya."

    Penutup yang Tidak Benar-Benar Penutup

    Saya mengangguk. Di luar, matahari mulai turun, memberi warna jingga pada jalanan kecil di depan warung kopi. Seorang pengendara motor lewat sambil membawa map plastik berisi—mungkin—proposal kerja sama, atau surat tugas, atau entah apa. Saya tidak tahu. Tapi tiba-tiba semuanya terasa seperti metafora yang terlalu pas untuk diabaikan.

    Dan mungkin, di situlah makna kemandirian media yang sebenarnya: bukan sekadar soal bisnis, model pendapatan, atau diversifikasi sumber dana. Tapi tentang kemampuan—dan keberanian—untuk mengajukan pertanyaan tanpa rasa takut akan kehilangan sesuatu.

    Karena pada akhirnya, media yang takut bertanya bukan lagi media. Ia hanya... kanal informasi dengan logo.

    Kami menghabiskan kopi yang sudah dingin. Tidak ada yang berkata apa-apa lagi. Tapi entah kenapa, keheningan itu terasa lebih jujur daripada banyak rapat redaksi yang pernah saya ikuti.

    PENULIS

    Foto Donny Turang

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

    Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

    Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

    DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

    Kota Bunga di Musim Efisiensi

     Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

    Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

    Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

    Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

    Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?