Langsung ke konten utama

Ketika Catatan Berhenti, Wajan Bicara

Facebook mengingatkan saya pada foto ini tadi pagi. Muncul begitu saja di layar—senyum di depan wajan kecil, rompi abu-abu khas jurnalis lapangan, kacamata yang lebih sering dipakai mengejar deadline ketimbang membaca resep. Wajah saya serius, seperti sedang menimbang lead berita, padahal yang sedang berjuang adalah renda kue cucur.

Foto itu diambil sewaktu saya masih jurnalis media cetak di Manado. Masa ketika berita dikejar sebelum pagi, bukan sebelum algoritma.

Foto resolusi tinggi menampilkan seorang pria berkacamata dengan rompi kantong banyak (vest) abu-abu sedang fokus menuangkan adonan kue cucur dari mangkuk kecil ke dalam wajan penggorengan di atas kompor. Di latar belakang, tampak suasana ruangan yang ramai dengan beberapa orang menonton dari tangga dan lantai atas.
Di balik kelezatan kue cucur yang berserat dan renyah di pinggirnya, selalu ada konsentrasi penuh saat menuang adonan ke dalam wajan. Kuliner tradisional yang selalu bikin kangen!. (foto: doc)

Aula itu gaduh. Persis ruang redaksi menjelang cetak. Bedanya, yang menyerbu hidung bukan bau tinta dan kertas—melainkan minyak panas dan gula aren yang mendidih tanpa kompromi.

Lomba membuat kukis cucur. Meja-meja berjejer rapi, penuh adonan, penuh strategi. Para ibu mengaduk seperti sedang menyusun strategi koalisi tingkat tinggi. Para bapak menggoreng sambil sesekali melirik jam—takut cucurnya gosong sebelum bel berbunyi. Dapur dadakan itu menjelma panggung kecil: tegang, riuh, tapi jujur apa adanya.

Saya berdiri di pinggir. Posisi favorit seorang wartawan: aman, mengamati, mencatat.

Sampai seseorang di sudut aula menggoda, "Cobalah, Pak Jurnalis."

Godaan paling berbahaya memang selalu terdengar santai.

Saya menunduk. Bukan lagi ke buku catatan, melainkan ke wajan mungil di atas kompor portabel. Ada sesuatu yang aneh dari perasaan itu—seorang wartawan yang terbiasa jadi saksi, tiba-tiba memilih jadi pelaku.

Ternyata menghadapi minyak panas bisa lebih menegangkan daripada menghadapi narasumber yang enggan bicara.

Adonan mulai dituang. Minyak mendesis. Dan perlahan, pola khas cucur mulai terbentuk—bulat tak sempurna, sedikit miring di tepi, tapi nyata. Ada kepuasan kecil yang tak bisa diukur dengan oplah atau jumlah klik. Rasanya seperti menemukan kalimat pembuka yang pas setelah berkali-kali dihapus.

Saya tidak berniat menang. Apalagi diliput. Ini murni keisengan—semacam cuti singkat dari profesi yang mengharuskan saya selalu berada di barisan luar.

Di momen itu, saya tidak sedang menulis berita. Saya sedang menciptakan kenangan.

Kenangan tidak punya tenggat. Tidak perlu konfirmasi dari dua narasumber berbeda. Tidak perlu disetujui redaktur. Ia hadir begitu saja—dibungkus aroma minyak, suara tawa orang-orang di samping, dan kebahagiaan sederhana karena berani mencoba.

Hidup, rupanya, tidak selalu meminta kita sempurna. Kadang cukup hadir. Lalu ikut mengaduk.

Kini saya tak lagi mengejar headline di koran harian. Tak juga memantau trafik portal berita setiap lima belas menit. Perjalanan itu panjang—dari ruang redaksi yang bising, ke portal yang bergerak dengan kecepatan klik, ke linimasa Facebook yang mengalir deras tanpa tepi, hingga akhirnya ke halaman Blogger ini yang jalannya lebih pelan, napasnya lebih panjang.

Ritme berubah. Tapi pelajarannya tetap sama: di tengah kesibukan apa pun—mengejar berita, mengejar trafik, mengejar relevansi—selalu ada ruang untuk bermain, tertawa, dan terlibat.

Sebab cerita terbaik sering lahir bukan ketika kita hanya mencatat dari pinggir lapangan.

Melainkan saat kita nekat ikut masuk ke dalamnya.

Bahkan kalau yang kita masuki cuma wajan kecil, di sudut aula, sambil menunggu cucur matang. ***

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK.

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

Sekho Mangarek: Menyimpan Kampung Halaman dalam Lagu

Hari itu, Tomohon seperti baru saja selesai disisir angin dari tiga gunung—Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—yang anginnya selalu sejuk, menyenangkan bagi penduduk kota kecil itu. Pusat kotanya terlihat sedikit ramai, orang lalu lalang, mobil hilir mudik.