Pagi ini saya tak mengejar berita—hanya angin, kenangan, dan satu-dua kalimat yang ingin pulang ke hati. Dulu jari saya berlari mengejar deadline; kini ia berjalan santai, sambil ngopi dan mengingat-ingat, bekerja dengan kenangan dan peristiwa yang tak pernah benar-benar libur.
![]() |
| Donny Turang, dulu Jurnalis sekarang Penulis. |
Angin pagi berhembus pelan, seperti yang sudah hafal jalur liputan: tenang, tapi tahu ke mana harus melangkah. Ia membawa aroma kenangan—kenangan saat hidup diukur oleh oplah, deadline, dan kopi yang selalu datang sebelum berita selesai.
Di sela hembusan itu, saya merenung. Bukan sebagai orang yang menyerah pada profesi, melainkan seseorang yang sedang berdamai dengannya. Ada fase ketika kita berhenti berlari, bukan karena kalah, tetapi karena ingin memastikan arah langkah masih benar.
Dulu, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan. Ia panggilan. Panggilan untuk menyalakan lampu di lorong yang orang lain anggap gelap. Dalam kepala tersimpan ratusan cerita: tentang warga kecil yang suaranya nyaris hilang, tentang harapan yang tumbuh diam-diam, juga tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme yang selalu pandai bersembunyi.
Namun, di antara semua itu, ada lelah yang manusiawi. Lelah yang bukan ingin berhenti, tapi ingin jeda. Dan dalam jeda itu, saya kembali diingatkan: jurnalis bukan hanya penulis berita, melainkan penjaga makna.
Esensi jurnalisme, apa pun platformnya, selalu sama: melayani hak publik untuk tahu. Ia adalah pilar demokrasi—tidak megah, tapi menyangga banyak hal. Tanpanya, masyarakat mudah tergelincir oleh kabar angin yang lebih cepat dari fakta.
Jurnalis adalah pencari dan penjaga kebenaran. Ia menggali fakta, memeriksanya berkali-kali, lalu menyajikannya dengan tanggung jawab. Di dunia yang serba instan, ia memilih lambat asal tepat. Seperti memasak sayur, bukan mi instan.
Ia juga mata dan telinga masyarakat—watchdog yang kadang menggonggong, kadang menggigit. Mengawasi kekuasaan agar tetap ingat batas, dan memastikan penyimpangan tidak dibiarkan jadi kebiasaan. Tanpa peran ini, banyak hal buruk akan lolos begitu saja, sambil tersenyum.
Tak berhenti di situ, jurnalisme juga mendidik dengan cara yang paling manusiawi. Ia menjawab siapa yang terlibat, apa yang sebenarnya terjadi, di mana peristiwa berlangsung, kapan ia terjadi, mengapa itu penting bagi publik, dan bagaimana semua itu saling berkaitan. Isu yang semula rumit dipreteli pelan-pelan, dijahit kembali menjadi cerita yang utuh dan masuk akal—agar publik tak hanya tahu apa yang terjadi, tetapi juga paham mengapa ia patut dipedulikan. Dari sanalah diskusi tumbuh, perbedaan pendapat dirawat tanpa saling meninggikan suara, dan akal sehat diajak duduk bersama di meja yang sama.
Semua itu dijaga oleh etika. Kode Etik Jurnalistik bukan pajangan dinding, melainkan kompas. Ia mengingatkan agar jurnalis tetap independen, jujur, dan tak tergoda jalan pintas. Karena kredibilitas, sekali retak, sulit ditambal.
Kini, saya tak lagi meliput acara besar. Tak ada pejabat yang dikejar atau breaking news yang memaksa jari menari cepat. Saya hanya ingin menulis—bukan untuk headline, melainkan untuk hati sendiri. Mendengar kembali suara batin yang dulu sering kalah oleh kebisingan berita.
Menulis tampak sederhana. Padahal, di baliknya ada kisah manusia yang tak pernah benar-benar remeh. Dari obrolan warung kopi hingga percakapan singkat di bangku taman, semuanya layak diceritakan—jika kita mau berhenti sejenak dan melihat.
Dalam perenungan itu, saya sadar: jurnalisme bagi saya bukan profesi semata. Ia napas. Media boleh berubah, platform boleh berganti, tapi dorongan menulis tetap menyala—entah sebagai berita, refleksi, atau status konyol yang bikin orang tersenyum.
Sekarang saya tak lagi mengejar narasumber yang susah dihubungi. Saya mengejar ide yang muncul tiba-tiba saat ngopi atau nongkrong santai. Dulu tulisan saya bisa mengubah opini publik. Sekarang, paling-paling mengubah mood teman Facebook, dan kini melalui blog sederhana saya ini. Dan itu tak apa-apa.
Bukankah itu juga jurnalistik kecil? Bedanya, dulu pembaca saya anonim. Kini mereka sahabat dunia maya—yang tak segan berkomentar, menertawakan, bahkan menafsirkan tulisan sesuka hati. Demokrasi versi kolom komentar.
Saya mungkin tak lagi duduk di redaksi besar. Tapi di setiap kalimat yang saya tulis, semangatnya sama: berbagi makna, dengan hati, bukan sekadar berita. Karena pada akhirnya, kata-kata yang jujur selalu menemukan jalannya sendiri.
Ini catatan sederhana seorang jurnalis “pensiun”, tapi tetap—mencoba—setia menulis buku fiksi dan non fiksi yang saya terbitkan secara mandiri melalui platform Google Play Books dan Draft2Digital. Kali ini dengan hati lebih ringan, dan senyum lebih lebar.
Sekarang, editor saya adalah sinyal dan kuota internet. Kalau sinyal hilang dan kuota habis—ya tulisan pun ikut cuti. Begitulah nasib jurnalis era digital.
Salam sehat dan bahagia. Karena menulis, seperti hidup, paling nikmat dijalani dengan rasa syukur.***

Komentar
Posting Komentar