📖 DAFTAR ISI
Jejak Koran Kuning di Era Digital
![]() |
| Cover buku "Dari Tinta ke Piksel" tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital. |
BAB 1
Aroma Tinta dan Kertas Murah
Pagi itu, seperti ribuan pagi lainnya. Hari berjalan seperti biasa orang-orang melakukan aktivitas sesuai kepentingan masing-masing. Terlihat Wajar. Seakan tidak ada yang istimewa.
Di salah satu lampu merah kota, loper koran “berteriak” sambil melambai-lambaikan tumpukan keras buram. Satu eksemplar koran di tangan kanannya dan beberapa eksemplar koran diapit dengan tangan kirinya. Ia melangkah di antara deretan sepeda motor dan mobil, tangannya cekatan dan mulutnya tak henti-hentinya menyebut judul headline dan peristiwa kota: sesekali ia berhenti, menawarkan, menyerahkan, lalu berjalan kadang santai, kadang cepat—seperti berlari kecil—sebelum klakson berubah menjadi orkestra kemarahan.
Tangannya terlihat “kotor” karena tinta yang melekat ke telapak dan jari jemarinya - tinta yang seolah adalah tanda tangan profesinya atau “tanda kehormatan” yang tak perlu dijelaskan lagi.
"Berita terbaru! Berita terbaru!" serunya berulang-ulang.
Koran kuning—begitu mereka menyebutnya.
Bukan karena warna kertasnya yang memang kekuningan dan kusam karena terlalu sering disentuh, tapi isinya yang berani, bahkan kadang terlalu berani.
Di dalamnya menceritakan kisah: kejahatan, kecelakaan, skandal, gosip yang dikemas bombastis, sensasional, dan penuh warna-warni kehidupan yang jarang dilihat di koran-koran "serius".
Koran kuning ini bak teman lama yang cerewet. Dia tahu semua gosip, kadang melebih-lebihkannya, sering kali dramatis. Tapi entah kenapa banyak orang tetap mencari dan membacanya. Bukan karena percaya sepenuhnya.
Tapi karena merasa.
Karena dalam dunia yang semakin dingin oleh angka, trafik, dan “politik jualan kecap"—merasa adalah kemewahan.
Jika koran "serius" menyajikan data tentang kemiskinan lengkap grafik naik turun, angka persentase, diiringi kutipan analis – pakar, ini menjadi sangat kontras dengan penyajian koran kuning.
Koran kuning? Ia akan bercerita tentang seorang ibu yang harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya pendidikan anaknya, atau bahkan untuk membeli obat anaknya yang sedang terbaring sakit di rumah. Dalam penyajiannya tidak ada diagram, tidak ada kutipan akademisi. Hanya cerita.
Dan cerita, seperti yang kita tahu, diam-diam, selalu lebih sulit diabaikan daripada angka.
Alo & Rahasia Dapur Nasib
Namanya Alo. Usianya tiga puluh tiga tahun, memiliki tiga orang anak dari isteri yang dicintainya. Setiap subuh jam empat pagi, dengan jaket lusuh, namun terkadang tanpa jaket, ia sudah berdiri stand by di halaman percetakan koran harian.
Setiap hari sebelum matahari memancarkan sinarnya yang hangat, ia menunggu tumpukan koran yang masih hangat keluar dari mesin cetak.
Napasnya beruap di udara dingin, saat ia menyapa, bercengkrama, bersenda gurau dengan sesama loper juga karyawan percetakan.
Menjelang pagi yang sepi dan dingin itu terkadang pecah gelak tawa riang dari humor-humor mereka. Tanpa diminta terkadang Alo membantu, tangannya dengan cekatan mengepak koran-koran itu, seolah mengerti betul bahwa ada “ritual” tak tertulis yang harus dihormati dirinya sebagai manusia kepada manusia lain.
“Terima kasih, ya… Lo. Kamu sangat membantu kami,” ucap Decky, seorang pensiunan guru, lalu menjadi loper koran yang sudah berumur sekitar 64 tahun, seraya beranjak meninggalkan percetakan itu.
Alo tidak membaca berita-berita isi koran itu. Ia hanya melihat judul-judul yang dirasanya “menjual”, sambil memeriksa sekaligus menghitung dan mengikat koran-koran jatahnya dengan tali. Dua ratus delapan puluh eksemplar untuk wilayahnya. Cukup untuk membayar kontrakan dan kebutuhan rumah tangganya dalam sehari—syukur jika masih ada sisa yang bisa ditabung.
Masa koran kuning belum ada smartphone yang mendominasi seperti era saat ini. Masa itu, koran kuning adalah jendela ke dunia yang lebih “nyata”—dunia lampu merah, skandal, dan tragedi yang menyentuh hati.
Tapi bagi Alo, koran kuning bukan jendela. Ia adalah perjalanan setiap hari, jalur yang sudah ia hafal, lika-liku kota, lorong-lorong sempit, setiap persilangan jalan yang ada lampu merahnya, sampai setiap lubang aspalnya sudah ia ketahui. Perjalanannya itu lebih tepat disebut perjuangan atau petualangannya, sekadar untuk mendapatkan rupiah.
Di sebuah warung kopi yang berada di pojok perempatan jalan, Pak Bobby—satpam sebuah bank swasta yang baru selesai piket malam—memanggilnya. Alo mendekat dan memperlihatkan koran yang dibawanya. Bobby mengambil satu eksemplar lalu merogoh celana dinasnya dan mengeluarkan sejumlah rupiah—membayar.
Mata lelahnya langsung tancap halaman satu yang berita utamanya berjudul:
“Pejabat Tilep Uang Rakyat Miliaran Rupiah.”
Selesai membacanya dia langsung beralih ke halaman tiga—tak peduli halaman lainnya. Di situ ditemukannya berita berjudul:
“Noni si Nona Nikmat Menghilangkan Penat di Otakku” atau kisah: istri yang menemukan suaminya makan siang bersama "perempuan misterius" di rumah makan seafood pinggir jalan.
"Betul tidak ini, Lo?" tanyanya, menunjuk foto yang agak buram itu.
"Benar, Pak. Wartawannya sendiri yang wawancara dan motret."
Bobby manggut-manggut. Ada kepuasan di wajahnya. Bukan karena senang ada yang korupsi dan berselingkuh, tapi karena kenyataan membuktikan bahwa kehidupan memang serumit yang ia rasakan setiap hari. Bahwa ia tidak sendirian dalam kekacauan ini.
Dapur Redaksi Koran Kuning
Bau rokok kretek bercampur dengan aroma kertas agak apek—semacam kombinasi yang tidak akan Anda temukan di mana pun selain di tempat itu.
Mesin komputer tua masih berdiri di beberapa meja, meski komputer yang lebih canggih—pentium—sudah mulai merangsek.
Seperti itulah kira-kira sedikit gambaran ruang redaksi koran kuning pertengahan tahun 1990-an.
Redaktur pelaksananya—sebut saja Pak Ventje—duduk di kursi yang sandarannya miring ke kiri, sudah hampir patah tapi tidak pernah diganti.
Di atas mejanya: asbak penuh puntung rokok, kamus besar bahasa Indonesia yang sudah kucel, handy talky dengan suara seraknya, serta sebuah radio transistor yang terus menyala meski tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
"Di sini tidak ada berita yang terlalu kecil," katanya dengan pongah seraya menghembuskan asap rokok. "Yang ada adalah berita yang belum cukup besar. Tugas kamu: membesarkannya. Tapi jangan bohong. Itu satu-satunya aturan yang tidak boleh dilanggar."
Satu aturan. Tidak boleh dilanggar.
Kedengarannya sederhana. Tapi saya butuh waktu cukup lama untuk benar-benar memahami jarak antara "membesarkan" dan "berbohong" – dan betapa tipisnya garis pemisah di antara keduanya.
Mungkin karena pesan satu aturan itu, wartawan koran kuning bekerja dengan ritme yang berbeda dari koran mainstream.
Mereka tidak mengejar sumber resmi. Mereka mengejar saksi mata. Bukan juru bicara pemerintah, tapi tetangga yang kebetulan melihat. Bukan laporan polisi, tapi keterangan warga, kepala lingkungan, pedagang kaki lima, pelayan rumah makan, karyawan toko, ibu kos, atau siapapun yang tahu cerita di balik cerita.
Ada semacam epistemologi tersendiri di sini: kebenaran bukan sesuatu yang diumumkan dari atas, tapi sesuatu yang beredar di antara orang-orang biasa.
Michael Schudson, sosiolog media dari Columbia University, mencatat logika ini dalam karyanya tentang sejarah sosial pers Amerika - bahwa jurnalisme populer bukan sekadar sensasi murahan, melainkan cara alternatif membangun otoritas informasi di luar kanal resmi yang sering kali berjarak dari kehidupan nyata.
Sumber: Michael Schudson, Discovering the News: A Social History of American Newspapers (Basic Books, 1978); The Sociology of News (W.W. Norton, 2003).
Saat mampir dan berbincang di salah satu warung kopi di pinggir jalan, seorang aktivis LSM—sebut saja Pak Rizal, sambil mengaduk kopi dan menyulut api ke sebatang rokok yang sudah bertengger di bibirnya, pernah berkata:
"Kebenaran itu, bukan seperti papan pengumuman di terminal bus yang harus menunggu jadwal. Dia itu seperti obrolan di warung kopi seperti ini - mengalir dari mulut ke mulut, dari hati ke hati."
Saya tersenyum mendengarnya. Tanpa disadari, Pak Rizal, sebenarnya baru saja merangkum dalam satu kalimat apa yang butuh ratusan halaman untuk dijelaskan Schudson.
Bayangkan begini. Dulu sekali, di Amerika sana, berita itu barang mewah—harganya enam sen, hanya kaum berdasi yang sanggup beli.
Lalu datanglah Penny Press di tahun 1830-an: berita jadi satu sen, semua orang bisa ikut nimbrung. Tukang ojek, ibu rumah tangga, kuli panggul—semua tiba-tiba punya akses ke percakapan publik.
Schudson menyebut ini demokratisasi informasi: kebenaran yang tadinya eksklusif, kini menjadi inklusif, turun dari podium dan membaur di keramaian pasar dan terminal.
Koran kuning Indonesia adalah anak zaman dari demokratisasi yang sama. Hanya konteksnya berbeda—bukan enam sen vs satu sen, tapi antara bahasa baku yang menggurui dan bahasa jalanan yang mengundang.
Koran yang Punya Malu & yang Tidak
“Koran... koran… koran. Pak, ada berita artis cerai, maling tertangkap, pak kades selingkuh…” Suara loper koran itu melengking di lampu merah.
Di dalam mobil sedan mengkilap, Pak Tom, seorang eksekutif muda dengan kemeja rapi dan dasi licin, sebenarnya sedang terburu-buru ke kantor—dengan perasaan sedikit dongkol karena terjebak lampu merah—ia melihat dan membaca sekilas judul berita yang ada di halaman satu. Tertarik. Tangannya gatal ingin meraih. Ragu-ragu… matanya lalu melirik kaca spion mobil. Aman. Tidak ada rekan bisnis. Tidak ada karyawannya. Isterinya sedang arisan, anak-anak sekolah. Tak ada yang melihat.
Dengan gerakan cepat, ia menyambar dan membayar satu eksemplar koran itu, menyelipkannya di antara tumpukan koran “serius” yang lebih dianggap “beradab” di jok samping dengan perasaan lega. Sebuah “ritual pagi” yang tak pernah absen, namun selalu diselimuti rasa bersalah yang tipis. Ini bukan sekadar membaca berita, ini adalah sebuah pengakuan “dosa” kecil, sebuah “perselingkuhan intelektual” yang tak terucapkan.
Adegan seperti inilah yang diamati James T. Siegel, antropolog dari Cornell University, saat meneliti Jakarta di era Orde Baru.
Dalam karyanya A New Criminal Type in Jakarta: Counter-Revolution Today, Siegel menyebut Pos Kota - tonggak utama koran kuning Indonesia yang terbit sejak 15 April 1970 - sebagai koran yang unik. Bukan hanya karena daya pikatnya pada kelas bawah, tapi juga karena ia menjadi sumber rasa malu bagi kelas menengah Indonesia yang kedapatan memegangnya.
Sumber: James T. Siegel, A New Criminal Type in Jakarta: Counter-Revolution Today (Duke University Press, 1998), hlm. 42.
Bayangkan, di era Orde Baru yang serba "rapi" berbalut “Pembangunan”, kelas menengah Jakarta dididik untuk menjadi modern, terpelajar dan berbudaya. Membaca Pos Kota dianggap kampungan, penuh sensasi, tidak mendidik.
Namun di balik narasi itu ada rahasia kecil yang disimpan rapat-rapat: di kamar mandi, di balik kemudi mobil yang macet, atau saat sendirian di rumah, lipatan koran itu terbuka. Mata-mata kelas menengah itu melahap habis berita-berita "rendahan" yang justru terasa begitu hidup dan nyata.
“Dosa” Indah di Balik Lipatan Koran Kuning
Di sebuah ruang tamu yang sejuk oleh embusan kipas angin yang tergantung di langit-langit rumah, Pak Tom duduk dengan punggung tegak di atas kursi jati penuh ukiran. Di tangannya, sebuah koran “serius” terbentang lebar, menutupi wajahnya yang nampak serius. Istrinya, Ibu Marry, sedang sibuk menata taplak meja renda putih di atas meja jati, memastikan setiap sudutnya terlihat simetris.
Di dinding, kalender dari sebuah bank pemerintah bersanding dengan foto keluarga yang semuanya seragam mengenakkan kemeja batik, terselip senyum kaku namun "sejahtera".
Keluarga ini adalah gambaran kelas menengah di Jakarta era 80-an, membaca koran “serius” adalah sebuah pernyataan “iman”. Mereka seakan ingin membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat modern yang terpelajar, yang peduli pada isu makroekonomi dan kebijakan luar negeri.
Membaca Pos Kota? Ah, itu dianggap "kampungan". Pos Kota bagi kalangan menengah dianggap koran yang dikonsumsi oleh tukang ojek, kuli bangunan, pedagang kaki lima, sopir angkot atau mereka yang hidup di gang-gang sempit yang becek. Isinya hanya kriminalitas, perselingkuhan, dan gambar-gambar yang membuat dahi para intelektual berkerut jijik.
Namun, mari kita intip apa yang terjadi ketika Pak Tom masuk ke kamar mandi. Di balik pintu yang terkunci, citra "manusia modern" itu luruh bersama bunyi kucuran air. Dari balik lipatan handuk, atau mungkin diselipkan di antara majalah-majalah populer yang sudah tamat dibaca, ia mengeluarkan harta karunnya: satu eksemplar koran bernama Pos Kota yang sudah agak lecek. Koran itu dibelinya dari loper yang menjajakan koran di lampu merah. Matanya yang tadi lelah membaca analisis politik yang berat tentang "stabilitas nasional", kini berbinar-binar saat mendarat di rubrik Nah Ini Dia.
Di sana, ia seakan menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan kehidupan yang dipoles oleh narasi keberhasilan swasembada pangan, melainkan drama manusia yang mentah. Ada kisah tentang "Si Anu" yang tertangkap basah di hotel melati, atau "Si Itu" yang nekat mencuri jemuran demi membeli susu anak. Bahasanya lugas, nakal, dan penuh satire yang membuat Pak Tom sering tersenyum simpul.
Ada kehangatan yang aneh dalam berita-berita "rendahan" itu. Kala itu hanya ada satu televisi, milik pemerintah pula. Televisi itu setiap malam menyuguhkan laporan pembangunan yang serba seragam dan kaku. Pos Kota menyuguhkan denyut nadi Jakarta dengan jujur—yang berbau keringat, bensin dan bumbu dapur.
Tak sampai di situ, diam-diam Pak Tom, juga melirik Lembergar (Lembaran Bergambar). Ia akan terkekeh melihat tingkah Ali Oncom yang giginya menonjol dan topinya yang miring, atau Doyok yang selalu sial dengan blangkonnya. Karakter-karakter ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi mereka yang lelah menjadi "warga teladan" setiap hari. Di sana, ia menemukan cermin dari kegelisahannya sendiri sebagai warga kota yang terjepit di antara ambisi menjadi modern dan realitas yang seringkali tidak masuk akal.
Fenomena ini adalah rahasia umum yang disimpan rapat-rapat di balik pagar-pagar rumah beton. Kelas menengah saat itu sedang menjalani "skizofrenia budaya". Di luar, mereka harus tampil sebagai subjek pembangunan yang patuh dan berkelas. Namun di dalam, mereka merindukan sesuatu yang "hidup", yang tidak disensor oleh etika kelas yang kaku.
Jadilah Pos Kota tempat pelarian. Ia adalah jendela kecil untuk melihat Jakarta yang tidak ada dalam brosur‑brosur pariwisata atau pidato kenegaraan. Ia adalah pengingat bahwa di balik kerapian Orde Baru, ada manusia-manusia yang tetap bisa tertawa di tengah kemacetan, tetap bisa berselingkuh di tengah kampanye moralitas, dan tetap bisa bertahan hidup dengan cara-cara yang ajaib.
Maka, ketika Pak Tom keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, penuh senyum, ia kembali menjadi manajer yang berwibawa. Ia akan melipat koran “serius”, dengan rapi, berangkat kerja dengan mobil mengkilapnya. Namun di dalam laci dasbor mobilnya, masih terselip satu lipatan Pos Kota, untuk dibacanya saat terjebak macet.
Karena terkadang, untuk tetap waras di tengah keteraturan yang dipaksakan, dibutuhkan sedikit "kekacauan" yang jujur dari halaman-halaman koran yang dianggap kampungan itu.
Mungkin semua punya Pos Kota, masing-masing hari ini. Sesuatu yang dianggap rendah di depan publik, tapi dilahap habis saat sendirian. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya butuh asupan intelektual yang berat; juga butuh cerita yang membuat merasa... manusiawi.
Siegel melihat ini sebagai kontradiksi yang menarik. Rasa malu itu, menurutnya, adalah semacam pengakuan tak langsung bahwa ada bagian dari diri kelas menengah yang masih terhubung dengan realitas "bawah" yang seringkali ingin mereka jauhi.
Pos Kota adalah cermin retak yang menampilkan wajah Jakarta yang sesungguhnya, jauh dari citra kota metropolitan yang gemerlap ala Orde Baru.
"Saya ingin koran saya dibaca kalangan bawah." - Harmoko, pendiri Pos Kota, dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983–1984
Dikutip dalam Tirto.id, "Profil & Kisah Hidup Harmoko," 14 Maret 2022; Historia.id, "Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan," 5 Juli 2021.
Pernyataan Harmoko itu meluncur seperti sebuah manifesto. Ia tahu, untuk menjangkau jutaan rakyat yang masih berjuang dengan literasi, ia tidak bisa datang dengan bahasa yang kaku dan berita yang berjarak. Ia harus turun ke jalan, berbicara dengan bahasa mereka, menyentuh isu-isu yang paling dekat dengan perut dan hati mereka.
Bahasa sensasional, headline bombastis, fokus pada kriminalitas dan kisah keseharian yang penuh drama—itu bukan tujuan akhir Harmoko. Itu adalah alat masuk. Setelah Pos Kota mendapat pasaran yang kuat, ia perlahan menaikkan standar bahasanya - apa yang Harmoko sendiri sebut sebagai "mendidik pembaca". Sebuah pedagogi yang tak lazim, namun terbukti efektif.
Sumber: Historia.id, "Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan," 5 Juli 2021, mengutip wawancara Harmoko dengan majalah Matra.
Visi Harmoko untuk "kalangan bawah" ternyata memiliki jangkauan yang lebih luas dari yang ia duga sendiri - menembus sekat-sekat kelas, meskipun dengan cara yang tak terduga.
Pos Kota bukan hanya koran. Ia adalah fenomena sosial.
Antara Logika Negara & Air Mata Tetangga
Ibu Yenny, pemilik warung sederhana yang menyediakan nasi campur dan kopi di pinggir jalan - tempat banyak orang berkumpul sejak pagi hingga sore hari - berlangganan dua koran sekaligus: satu koran nasional untuk "tahu situasi negara", dan satu koran kuning untuk "tahu apa yang terjadi".
Baginya keduanya bukan kompetitor. Mereka menjawab pertanyaan yang berbeda.
"Koran besar bilang harga beras naik. Koran kuning bilang ibu-ibu di pasar tradisional sedih, ada yang sampai menangis, waktu dengar kabar itu," katanya sambil menyiapkan kopi pesanan bapak-bapak yang mulai berkumpul.
"Dua-duanya benar. Tapi yang bikin saya nge, yang kedua."
Inilah yang sering luput dari analisis media: dimensi afektif dari berita. Informasi tanpa emosi adalah data. Berita yang baik - terlepas dari segmen pasarnya—selalu punya jantung yang berdetak.
Fenomena Koran Kuning di Manado
Fenomena koran kuning bukan hanya milik Jakarta. Ia tumbuh di mana saja ada kota yang mulai ramai, ada kesenjangan yang tidak terucapkan, dan ada orang-orang yang butuh cerita tentang kehidupan mereka sendiri—bukan tentang kehidupan orang lain di tempat yang jauh.
Di Sulawesi Utara, koran kuning hadir dengan wajah yang sedikit berbeda tapi jiwanya sama. Ia dihadirkan oleh induknya sendiri—koran "serius" lokal yang masih satu penerbit, satu kantor, satu percetakan—untuk merekam fenomena sosial masyarakat sekitar. Koran "serius" itu punya segmen pembacanya sendiri. Koran kuning lokalnya menyisir segmen yang berbeda. Dua produk, satu dapur, dua selera.
Saya masih ingat suasana di sekitar Pasar Calaca dan Pasar Karombasan di Manado, pertengahan tahun 1990-an. Pasar Calaca, sekarang lebih dikenal dengan nama Pasar Bersehati—letaknya dekat pelabuhan. Di jam-jam tertentu pasar itu berjubel, pedagang dan pembeli saling berdesakan tak peduli panasnya udara Kota Manado. Sayuran ditumpuk di mana-mana, buah-buahan berjejer, dan bau ikan laut—cakalang, tuna, tude, goropa, oci—merebak ke mana-mana. Ikan-ikan itu ada yang masih segar karena baru diangkat dari perahu nelayan, atau diambil dari tempat pelelangan yang letaknya tidak jauh dari situ.
Di sela kesibukan pasar itu, ada yang membaca koran.
Bukan koran nasional dari Jakarta. Koran kuning lokal—terlihat jelas dari judulnya yang bombastis, sensasional. Koran-koran itu dijual di kios sederhana di dalam kompleks pasar, bersanding dengan komik silat, novel, buku Kho Ping Ho, roman picisan, majalah, tabloid, dan TTS. Koran terbitan Jakarta pun tersedia—tapi selalu tiba sehari setelah terbit, terlambat, meski tetap ada pembeli setianya.
Om Ronny, pemilik kios itu, sudah hafal betul mana yang paling laku.
"Majalah dan koran harian dari Jakarta, lumayan juga pembacanya. Ada yang berlangganan, ada yang beli eceran. Tapi koran ini," - ia menyebut nama koran kuning lokal itu—"yang paling banyak pembacanya. Langganannya banyak, yang datang beli eceran juga banyak."
Jawabannya tidak mengherankan. Koran kuning lokal itu ditulis dengan kalimat yang dekat dengan percakapan sehari-hari warga Manado. Ada campuran Melayu Manado yang hangat—bahasa yang sama dipakai orang ketika bertengkar di warung, berdamai di gereja, bergosip di pasar. Bukan bahasa baku yang dingin dan berjarak.
Halaman satu dan halaman tiga adalah yang paling ditunggu. Di sana bercerita tentang skandal pejabat lokal, drama rumah tangga, kasus pencurian di pertokoan kawasan Pasar 45—shoping center— perkelahian anak sekolah, perselingkuhan, penikaman, pembunuhan—sampai drama artis lokal. Semua dikemas dengan cara yang membuat pembacanya merasa: ini tentang kita, bukan tentang mereka.
Wartawan koran kuning lokal pun ditugaskan bukan di kantor-kantor pemerintah. Mereka nongkrong di UGD rumah sakit, di pasar, di terminal, di kawasan rawan tindak pidana—tempat-tempat di mana cerita sesungguhnya beredar sebelum sempat menjadi laporan resmi.
Salah satu pembaca setianya adalah Pak Ferdy—einaar (dari bahasa Belanda eigenaar, artinya pemilik; begitulah orang Manado menyebut pemilik angkot) sopir yang setia melayani rute Karombasan-Pasar 45 yang sudah puluhan tahun mangkal di terminal. Setiap pagi sebelum angkotnya beroperasi, sambil menikmati kopi buatan istrinya di rumahnya di bilangan Wanea, koran lokal langganannya sudah tergeletak di meja—dibawa loper sejak subuh.
"Koran besar dari Jakarta itu bagus. Tapi isinya jauh dari realita kita di sini. Biasanya berisi kebijakan ini, kebijakan itu. Saya tidak tahu siapa orangnya," katanya dengan logat Manado kental, sambil melipat koran yang sudah selesai dibacanya. "Koran sini beda. Saya baca, saya kenal orangnya. Atau paling tidak, saya tahu tempatnya."
Kedekatan geografis ternyata bukan hanya soal jarak kilometer. Ia adalah soal rasa memiliki. Ketika sebuah koran menulis tentang kecelakaan di Jalan Sam Ratulangi, atau ruas jalan Manado-Tomohon, skandal di kantor yang semua orang tahu letaknya, atau perkelahian di pasar yang sama tempat pembaca berbelanja setiap hari—berita itu bukan sekadar informasi. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah kota sendiri.
Itulah yang membuat koran kuning lokal punya kekuatan yang berbeda dari versi nasionalnya. Pos Kota berbicara kepada jutaan orang yang anonim di Jabotabek. Koran kuning lokal berbicara kepada komunitas yang saling kenal—atau setidaknya saling tahu.
Koran kuning lokal ini pun menyebar ke seantero Sulawesi Utara, banyak yang membeli eceran atau berlangganan. Berita-berita yang disajikannya kerap menjadi buah bibir bukan hanya warga Manado, tapi juga warga yang tersebar di Tomohon, Tondano, Bitung, Airmadidi, Kawangkoan, Langowan, Tombariri, Tumpaan, Amurang, Kotamobagu, hingga ke desa-desa di pelosok.
Dan dalam komunitas seperti itu, sensasi bukan hanya hiburan. Ia adalah bahan pembicaraan. Modal sosial yang bisa dibawa ke warung kopi, ke pangkalan ojek, ke terminal, ke pasar, ke lobi kantor, ke pinggir pantai tempat nelayan menarik jaring, ke ladang tempat petani beristirahat di siang hari. Ke meja makan malam.
"Kamu sudah baca? Yang di halaman satu itu, atau halaman tiganya?"
Kalimat itu - dalam berbagai variasinya—adalah cara masyarakat sebuah kota mengukuhkan kebersamaan mereka. Koran kuning, tanpa pernah berpretensi demikian, adalah perekat komunitas yang tidak pernah minta diakui.
Koran Kuning yang “Jujur” hingga Melejit
Koran kuning bukan sekadar media sensasional. Ia adalah bentuk jurnalisme yang paling jujur tentang apa yang benar-benar dipikirkan dan dirasakan masyarakat kelas bawah.
Sementara koran "serius" berbicara tentang kebijakan makroekonomi, koran kuning berbicara tentang kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan dan kejutan.
Ada paradoks menarik di sini.
Koran yang disebut "tidak serius" justru memperlakukan pembacanya dengan sangat serius. Ia tidak berasumsi bahwa pembaca harus dididik untuk memahami berita. Ia bertemu pembaca di tempat mereka berada—di warung kopi, di lampu merah, di lapak-lapak trotoar, di antara kelelahan dan tawa kecil sebelum tidur.
Data membuktikan formula ini bekerja. Menurut survei Media SPS tahun 2000, pembaca Pos Kota di Jabotabek mencapai 2.304.000 orang - jauh melampaui Kompas yang memiliki 1.521.000 pembaca di wilayah yang sama. Ini bukan angka koran marjinal. Ini angka koran yang paling dekat dengan kehidupan nyata pembacanya.
Sumber: Media SPS, Edisi 02/Tahun I, November–Desember 2000, dikutip dalam Iwan Awaluddin Yusuf, "Menelisik Sejarah Koran Kuning di Indonesia," BincangMedia.wordpress.com, 30 April 2010.
Industri media terlalu lama menganggap "serius" dan "populer" sebagai dua kutub yang berlawanan. Padahal yang benar-benar dibutuhkan pembaca adalah media yang bisa bergerak di antara keduanya dengan lincah—seperti dokter yang juga bisa bicara bahasa pasiennya.
Berhentilah memuja menara gading atau terjebak di kubangan sensasi. Mari mulai bicara "bahasa pasien". Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan tentang seberapa pintar sang penulis terlihat, melainkan seberapa besar manfaat dan pemahaman yang dibawa pulang oleh pembacanya—sambil tersenyum, tentu saja.
Menjadi populer tidak berarti menjadi dangkal, dan menjadi serius tidak harus menjadi kaku. Kebijaksanaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan yang cerdas. Bukankah hal-hal paling bermakna dalam hidup seringkali disampaikan lewat percakapan yang hangat di meja makan?
Wartawan di Antara Dua Dunia
Menjadi wartawan koran kuning pada era itu adalah mengambil posisi yang tidak nyaman: dihormati oleh sumber-sumber di lapangan, tapi “diremehkan” oleh sesama jurnalis dari media "bergengsi".
Suatu waktu digelar konferensi pers di kantor gubernur.
Para wartawan dari koran besar duduk di deretan kursi depan, notes dan pena di tangan, laptop di pangkuan.
Wartawan koran kuning—berdiri di belakang, mencatat di buku notes tipis berukuran saku.
Tapi di lorong keluar, justru para pejabat itu yang menghampiri wartawan koran kuning dengan berbisik.
"Jangan tulis tentang ini di halaman satu, ya. Tapi kalau ada yang mau tahu soal pengadaan itu, hubungi saya."
Mereka takut pada koran besar, tapi mereka juga tahu bahwa informasi kadang lebih aman beredar di koran kecil yang tidak terlalu diawasi. Ada dinamika kuasa yang aneh di sini. Koran kuning sering menjadi tempat bocornya informasi yang tidak berani dimuat oleh media mainstream—bukan karena koran kuning lebih berani, tapi karena konsekuensinya dianggap lebih kecil.
Ironi yang menyedihkan: media yang dianggap paling tidak serius justru sering memuat cerita yang paling nyata.
Salah satu wartawan senior pernah berkata:
"Wartawan koran kuning itu seperti dokter umum di kampung. Semua orang datang ke dia. Semua orang cerita ke dia. Bukan karena dia paling pintar, tapi karena dia paling dekat."
Pembaca yang Tak Pernah Salah
Ada sebuah teori dalam jurnalisme yang disebut "agenda setting"—media menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Tapi teori ini bekerja secara berbeda untuk koran kuning.
Pembaca koran kuning tidak menunggu editor menentukan apa yang penting. Mereka sudah tahu apa yang penting untuk mereka. Mereka membeli koran bukan untuk diarahkan, tapi untuk dikonfirmasi. Konfirmasi bahwa hidup mereka, dengan segala kerumitannya, adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar rutinitas pribadi.
Soal 'agenda setting' ini sebenarnya menarik. Teori jurnalisme yang bilang media itu semacam kompas—penunjuk arah bagi masyarakat.
“Ini ada isu penting, ini yang harus kamu pikirkan”
Pembaca biasanya mengikuti saja, mengangguk-angguk,
“oh, iya, benar juga”.
Tapi begitu bicara koran kuning, penunjuk arah arah itu mendadak berubah fungsi menjadi cermin. Bukan cermin yang memantulkan realitas secara harfiah. Lebih mirip cermin di rumah hantu, yang sedikit mendistorsi, membesar-besarkan, tapi esensinya tetap ada: refleksi dari apa yang sudah ada di benak pembacanya.
Pembaca koran kuning itu, mereka bukan tipe yang menunggu “disuapi”. Mereka datang ke kios koran dengan bekal “agenda” mereka sendiri. Agenda yang sudah matang, terfermentasi oleh gosip tetangga, obrolan di warung kopi, atau mungkin bisikan-bisikan dari alam bawah sadar.
Mereka tidak butuh editor yang bijak bestari untuk memberi tahu, “inflasi sedang naik, itu penting!” Atau, “Perdebatan politik di parlemen itu krusial!” Ah, basi.
Bagi mereka, yang penting itu bukan inflasi, tapi harga cabai di pasar. Bukan perdebatan politik, tapi siapa artis yang baru saja ketahuan selingkuh. Kenapa? Karena itu lebih dekat dengan denyut nadi kehidupan mereka. Lebih “relatable”, kalau kata anak sekarang.
Koran kuning, dengan segala sensasi dan dramanya, seolah berbisik, “lihat, hidupmu yang penuh drama ini, yang kadang terasa absurd, itu bukan cuma kamu yang merasakan. Ada orang lain yang lebih parah, atau setidaknya, sama-sama ruwetnya”.
Analogi—Anda sedang di pesta. Ada orang yang datang untuk mencari tahu siapa yang paling penting di ruangan itu, siapa yang harus diajak bicara untuk urusan bisnis.
Itu pembaca koran “serius”.
Tapi ada juga yang datang hanya untuk melihat siapa yang pakai baju paling heboh, siapa yang jogetnya paling aneh, atau siapa yang diam-diam memasukkan lauk-pauk ke dalam tas kreseknya.
Nah, itu pembaca koran kuning.
Mereka sudah tahu apa yang mereka cari, dan mereka hanya butuh koran itu untuk mengkonfirmasi bahwa “prediksi” mereka benar adanya.
Jadi, “agenda setting” di koran kuning itu bekerja secara terbalik. Bukan media yang membentuk opini publik, tapi opini publik—atau setidaknya, hasrat dan rasa ingin tahu publik—yang membentuk isi media. Koran kuning itu seperti teman lama yang selalu mengerti kegelisahan sahabatnya, bahkan sebelum mengucapkannya. Mereka tidak mengajari kita apa yang harus dipikirkan, tapi mengiyakan apa yang sudah kita pikirkan.
Dua “Hidangan” yang Saling Lengkapi
Analogi kecilnya mungkin seperti ini, jika koran-koran mainstream adalah makanan “wah” di restoran mewah, koran kuning adalah gorengan hangat di pinggir jalan—katanya tidak sehat secara akademis, tapi bikin ketagihan dan memenuhi perut dengan cara yang paling manusiawi.
Restoran mewah punya chef bergelar, bahan organik bersertifikat, dan plating yang indah. Ia menjawab pertanyaan:
"Apa yang seharusnya kamu makan?"
Warung gorengan di pinggir jalan punya minyak yang sudah tiga hari tidak diganti, tempe yang digoreng sampai kulitnya krispi sempurna, dan penjual yang hafal pesanan pelanggan tetapnya. Ia menjawab pertanyaan berbeda:
"Apa yang kamu butuhkan sekarang?"
Kedua pertanyaan itu sah. Keduanya perlu dijawab. Masalah muncul ketika kita hanya menghargai salah satunya.
Koran Kuning & Kebutuhan Manusia
Mengapa kita membenci sekaligus mencintai berita sensasional?
Apakah karena mereka menceritakan kebenaran yang ingin kita hindari?
Atau karena mereka memberikan validasi bahwa kehidupan kita, meski penuh kesulitan, adalah bagian dari cerita yang lebih besar?
Kita membenci berita sensasional karena ia membuat kita merasa mudah dimanipulasi. Ada sesuatu yang memalukan dalam kenyataan bahwa kita tahu sebuah berita dibesar‑besarkan, tapi tetap membacanya sampai habis. Seperti tahu bahwa sinetron itu tidak realistis, tapi tetap menonton tiga episode berturut-turut.
Kita mencintainya karena
Baca selengkapnya di Google Play Books atau Draft2Digital—tersedia versi lengkap "Dari Tinta ke Piksel".

Komentar
Posting Komentar