Sore itu langit tidak hujan, tapi udara terasa berat. Mungkin karena topiknya sensitif—atau mungkin karena kami berdua tahu bahwa di balik percakapan santai ini, ada pertanyaan yang sudah lama mengendap di profesi ini tanpa jawaban yang memuaskan.
"Kau tahu," kata kawan saya pelan, "sebenarnya negeri ini sudah punya sistem uji kompetensi wartawan."
Saya mengangguk. Saya tahu. Saya pernah duduk di ruang itu, mengisi formulir itu, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. "Ya. Ada jenjangnya. Muda, madya, utama."
![]() |
| Gambar hanya ilustrasi mengenai sertifikasi dan integritas wartawan. |
Ketika Negara Membangun Pagar
Sistem itu tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah buah dari perdebatan panjang—tentang siapa yang berhak menyebut dirinya wartawan, tentang standar apa yang layak disyaratkan di era ketika kamera sudah ada di setiap saku celana dan internet tidak meminta izin siapa pun untuk menerbitkan sesuatu.
Dewan Pers, bersama perguruan tinggi, organisasi profesi, dan perusahaan media, merancang sebuah sistem yang dalam bahasa formalnya disebut Uji Kompetensi Wartawan—UKW, atau Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ). Bukan sekadar ujian tertulis tentang teori jurnalistik. Ia dirancang untuk menguji sesuatu yang lebih dalam: pemahaman kode etik, kemampuan verifikasi, keberimbangan dalam meliput konflik, dan yang paling sulit diujikan—rasa tanggung jawab terhadap dampak sosial sebuah berita.
"Itu langkah maju," kata kawan saya. "Setidaknya ada upaya merapikan rumah."
Saya sepakat. Dalam profesi yang selama ini terlalu longgar mendefinisikan dirinya sendiri, sebuah sistem standar adalah sesuatu yang berani. Ia seperti meletakkan cermin di depan profesi ini, memaksa siapa saja yang mau menatapnya untuk melihat: sudahkah cara kerjamu sesuai dengan janji profesi yang kauemban?
Tapi cermin tidak selalu disambut hangat. Ada yang memalingkan muka. Ada yang mencari sudut pandang yang lebih menguntungkan.
Pasar Terbuka yang Tidak Pernah Tutup
"Tapi kenyataannya," ia melanjutkan, "masih banyak yang bergerak tanpa sertifikat."
Saya tidak terkejut. Di era digital, profesi ini telah menjadi sesuatu yang menyerupai pasar terbuka—ramai, semarak, dan hampir tanpa penjaga pintu. Siapa pun bisa mendaftarkan domain. Siapa pun bisa mencetak kartu pers dengan logo yang terdengar resmi. Siapa pun bisa mengklaim dirinya jurnalis hanya karena ia punya akun media sosial dengan ribuan pengikut.
Ini bukan fenomena Indonesia semata. Di seluruh dunia, batas antara jurnalisme, konten kreator, dan propaganda telah menjadi semakin kabur—seperti garis pantai yang terus bergeser karena abrasi. Yang berubah di negeri ini adalah skala dan kecepatannya. Portal berita bermunculan setiap minggu. Banyak yang serius dan berkomitmen. Tapi tidak sedikit yang hanya menjadi alat—alat bisnis, alat tekanan, alat kepentingan yang tidak pernah ditulis secara transparan di halaman "tentang kami."
"Apakah berarti mereka yang tak bersertifikat otomatis tidak kompeten?" tanyanya.
Saya menggeleng pelan. "Tidak sesederhana itu."
Undang-Undang Pers di negeri ini menjamin kebebasan pers sebagai hak konstitusional. Sertifikasi adalah standar profesional, bukan syarat eksistensi hukum. Seseorang dapat bekerja sebagai wartawan tanpa sertifikat dan itu sah. Yang tidak sah adalah ketidaktahuan yang disengaja, arogansi yang menutupi kelalaian, atau kekuasaan yang dipinjam dari identitas profesi ini untuk tujuan yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik.
Soal yang Lebih Dalam dari Sertifikat
Di sinilah percakapan kami memasuki wilayah yang lebih sunyi.
Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya selembar kertas berstempel resmi. Masalah yang sesungguhnya muncul ketika ketidaktahuan soal etika berjalan bergandengan dengan klaim otoritas yang keras. Ketika kartu pers digunakan bukan untuk menggali kebenaran, melainkan untuk mengintimidasi narasumber yang takut diberitakan. Ketika "wawancara" menjadi eufemisme untuk pemerasan. Ketika liputan berubah menjadi transaksi.
Itu bukan jurnalisme. Itu adalah parasitisme yang menumpang pada nama baik profesi ini.
Saya pernah menyaksikannya—bukan sekali. Seseorang dengan kartu pers di dada masuk ke kantor instansi pemerintah, bukan untuk menggali informasi publik, melainkan untuk mencari celah yang bisa dijadikan komoditi. Di sisi lain, saya juga mengenal jurnalis-jurnalis tanpa sertifikat yang bekerja dengan ketelitian seorang dokter bedah—memeriksa setiap kalimat, menelepon ulang narasumber untuk konfirmasi ketiga kalinya, menunda berita satu malam hanya karena ada satu fakta yang belum cukup kuat.
Dunia ini jarang hitam-putih. Dan profesi ini lebih jarang lagi.
"Sertifikat itu penting," katanya lagi. "Tapi apakah ia cukup?"
Saya tersenyum tipis—karena pertanyaan itu adalah pertanyaan yang seharusnya tidak bisa dijawab dengan satu kalimat.
"Sertifikat adalah pengakuan formal. Integritas adalah praktik harian."
Apa yang Sebenarnya Dibangun Setiap Hari
Banyak profesi mensyaratkan lisensi. Dokter. Pengacara. Akuntan publik. Pilot. Mereka semua punya sertifikasi formal yang harus diperbarui, yang bisa dicabut, yang menjadi bukti bahwa seseorang telah melewati ujian minimum kelayakan.
Tapi tidak ada lisensi yang otomatis menghasilkan integritas. Sejarah penuh dengan dokter yang malpraktik sambil menyimpan sertifikatnya rapi di balik kaca bingkai. Pengacara yang memenangkan kasus dengan cara yang tidak bisa mereka ceritakan di depan anaknya sendiri.
Integritas bukan hasil ujian. Ia adalah akumulasi—dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat berulang-ulang dalam situasi yang tidak ada kameranya, tidak ada audiensnya, tidak ada tepuk tangannya. Dalam jurnalisme, ia terbangun dari momen-momen seperti: menolak amplop di ruang tamu setelah wawancara panjang yang melelahkan. Memilih tidak menerbitkan berita yang secara teknis akurat tetapi secara etis akan menghancurkan seseorang yang tidak layak hancur. Menerbitkan koreksi meski tidak ada yang memintanya, hanya karena faktanya keliru satu angka.
"Lalu bagaimana publik menyikapinya?" kawan saya kembali ke pertanyaan yang selalu menjadi simpul.
"Dengan membaca rekam jejak, bukan hanya kartu identitas," jawab saya.
Publik—dan redaktur, dan narasumber, dan kolega—pada akhirnya mengukur wartawan dari hal-hal yang lebih sulit dipalsukan: Apakah medianya konsisten menjalankan kode etik bahkan saat tekanan datang dari pengiklan terbesar? Apakah ada koreksi yang diterbitkan dengan kepala tegak ketika keliru? Apakah liputannya berimbang ketika satu sisi adalah teman dekat? Apakah ia berani mengkritik pihak yang paling dekat dengannya?
Fondasi dan Bangunan di Atasnya
Uji kompetensi, dalam kapasitas terbaiknya, adalah fondasi. Ia menetapkan bahasa bersama—standar minimum yang menjadi titik awal percakapan tentang kualitas. Ia penting, terutama untuk memperjelas siapa yang siap memimpin redaksi, siapa yang layak menjadi penanggung jawab di hadapan hukum pers, siapa yang memahami bahwa kebebasan pers bukan hak tanpa batas tetapi hak yang datang bersama tanggung jawab yang setara beratnya.
Tanpa fondasi itu, profesi ini bisa berdiri—tapi di atas pasir. Dan kita tahu apa yang terjadi pada bangunan di atas pasir ketika musim berubah.
Namun fondasi bukanlah bangunan itu sendiri. Seseorang bisa menguasai semua materi ujian kompetensi dan tetap gagal dalam ujian yang sesungguhnya—ujian yang tidak ada soal pilihannya, tidak ada kunci jawabannya, dan tidak ada nilainya karena konsekuensinya adalah nama baik seseorang, atau kepercayaan publik pada institusi pers secara keseluruhan.
"Jadi profesi ini tetap soal pilihan pribadi?" tanyanya.
"Pilihan yang diulang setiap hari," jawab saya. "Dan pilihan itu tidak pernah selesai."
Yang Lebih Sulit Dibangun dari Website
Di luar, senja mulai turun perlahan. Di suatu tempat di kota ini—dan di puluhan kota lain di negeri kepulauan ini—seseorang sedang mendaftarkan domain baru, menyiapkan logo media baru, mencetak kartu pers baru. Lanskap informasi terus bergerak, terus membuka diri bagi siapa saja yang mau masuk.
Itu bukan kabar buruk secara otomatis. Demokratisasi informasi adalah pencapaian sejarah yang tidak boleh diremehkan. Suara-suara yang dulu tak punya akses ke ruang redaksi besar kini bisa berbicara. Berita dari desa terpencil kini bisa dibaca di ibu kota. Kekuasaan yang dulu bersembunyi di balik minimnya pers lokal kini bisa lebih diawasi.
Tapi kebebasan yang besar selalu membawa godaan yang besar pula.
Dan di tengah kebebasan yang luas ini, yang paling kita butuhkan mungkin bukan hanya sertifikasi—meskipun sertifikasi tetap penting dan perlu diperluas jangkauannya. Yang paling kita butuhkan adalah sesuatu yang lebih tua dari sistem ujian mana pun: kesadaran bahwa setiap berita adalah jejak. Setiap keputusan editorial adalah tanda tangan. Dan nama baik—sekali tercemar oleh satu berita yang asal terbit, satu tuduhan yang tak terverifikasi, satu narasumber yang dikhianati — lebih sulit dipulihkan daripada membangun website dari awal.
Domain bisa dijual. Template bisa diganti. Logo bisa didesain ulang dalam satu jam.
Tapi kepercayaan publik? Ia dibangun dalam tahun-tahun, dan bisa runtuh dalam satu malam yang salah.
Percakapan akhirnya berhenti. Kopi sudah lama dingin. Langit di luar sudah gelap sepenuhnya.
Tapi seperti biasa dalam percakapan tentang profesi ini—pertanyaannya tidak ikut berhenti. Ia hanya berpindah tempat: dari meja warung kopi ke ruang-ruang redaksi, ke layar ponsel, ke setiap momen ketika seorang wartawan berdiri di persimpangan antara apa yang mudah dan apa yang benar.
Dan di persimpangan itulah, sertifikat atau tidak, nama baik sesungguhnya dipertaruhkan.***

Komentar
Posting Komentar