Langsung ke konten utama

Pemimpin Redaksi yang Tidak Pernah Minum Kopi

Bagaimana algoritma menjadi bos tanpa pernah melamar pekerjaan, dan mengapa kita membiarkannya.

Ilustrasi editorial bergaya sapuan tinta hitam-putih (ink-wash) dengan sentuhan warna jingga ambar sebagai aksen. Sebuah robot besar duduk di ujung meja rapat mengenakan tanda pengenal bertuliskan "Editor in Chief". Di sekeliling meja, empat jurnalis manusia tampak tegang dan cemas sambil memegang cangkir kopi dan buku catatan. Di papan tulis belakang robot, terdapat grafik berjudul "News Priorities" yang menunjukkan tren volume "Cat Videos" melonjak tajam dengan warna jingga, sementara tren "Corruption Investigation" bergerak datar di garis bawah.
Saat kecerdasan buatan menjadi penentu agenda berita, apakah nurani jurnalisme masih punya ruang untuk bersuara? (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI)

Kawan saya—sebut saja Bram, wartawan dengan kebiasaan buruk minum empat cangkir kopi per hari dan kebiasaan baik tidak pernah omong kosong—datang ke meja saya dengan wajah seperti orang baru menyadari bahwa dompetnya tertinggal di angkot.

Padahal ia baru saja pulang dari rapat redaksi.

Rapat yang, menurut laporan saksi mata, berlangsung satu jam dua puluh menit dan menghasilkan satu keputusan penting: berita investigasi tentang korupsi pengadaan ambulans yang dikerjakan tiga minggu itu perlu "dipertimbangkan ulang timing-nya" karena ada video wanita seksi lucu sedang viral dan "dashboard engagement lagi bagus kalau kita ikut arus dulu."

Bram "Kadang saya merasa pemimpin redaksi paling berkuasa sekarang bukan manusia."

Kalimat itu ia ucapkan sambil menjatuhkan badannya ke kursi di hadapan saya. Bukan dramatis. Justru datar. Dan karena diucapkan datar, ia terdengar lebih serius dari semua kalimat dramatis yang pernah saya dengar di ruang redaksi.

"Algoritma?" tanya saya.

Ia mengangguk dengan cara orang mengangguk ketika jawabannya menyedihkan dan mereka tidak punya energi lagi untuk menjelaskan betapa menyedihkannya itu.

Izinkan saya cerita sedikit tentang makhluk yang bernama algoritma ini—supaya kita bisa berduka bersama dengan lebih terstruktur.

Algoritma adalah entitas yang lahir dari data dan hidup dari atensi. Ia tidak tidur, tidak sarapan, tidak pernah berkeluh kesah soal honorarium yang telat cair. Ia hanya membaca pola: apa yang diklik, berapa lama dibaca, kapan orang memilih scroll ke bawah karena bosan. Semua itu diolah, dianalisis, dan dijadikan keputusan distribusi—mana konten yang disebarkan luas, mana yang dikubur di halaman dua puluh tujuh mesin pencari.

Bayangkan editor yang tak pernah bisa diajak ngopi, tidak mengenal perdebatan soal angle berita, dan tidak punya rasa bersalah. Itulah algoritma. Ia bukan jahat. Ia hanya... tidak memiliki nurani. Seperti meteran parkir—bekerja dengan presisi tinggi tanpa sekali pun mau dengar alasanmu terlambat.

"Berita bagus belum tentu dibaca. Berita biasa-biasa saja bisa meledak. Semua tergantung bagaimana sistem mendistribusikannya."

Bram meneguk kopinya. "Dulu kita berdebat soal angle, kedalaman, dampak publik," katanya. "Sekarang ada variabel baru yang tidak bisa diajak diskusi, tidak bisa diyakinkan dengan argumen moral."

"Mesin rekomendasi."

"Tepat." Ia mengetuk meja. "Dan yang lebih gawat—sebagian redaksi sudah mulai berpikir seperti mesin itu. Bukan karena mereka tidak paham jurnalisme. Tapi karena mereka sangat paham bahwa trafik menentukan napas perusahaan."

Di sinilah bagian yang menarik—dan juga bagian yang perlu kita jujur satu sama lain.

Algoritma, pada dasarnya, adalah cermin. Ia memperlihatkan apa yang benar-benar kita klik, bukan apa yang kita klaim kita minati. Dan cermin itu, sayangnya, sering memperlihatkan wajah yang tidak terlalu kita sukai.

Kita ingin berita bermutu. Tapi kita klik judul yang memancing rasa penasaran murahan. Kita ingin kedalaman analisis. Tapi kita scroll habis artikel panjang dalam dua belas detik. Kita menuntut jurnalisme berkualitas. Tapi kita berbagi konten yang mengonfirmasi apa yang sudah kita percaya.

Algoritma tidak berbohong. Ia hanya melaporkan.

Bram "Masalahnya, redaksi tetap harus hidup. Trafik itu nyata. Angka itu menentukan napas perusahaan. Kamu tidak bisa makan idealisme."

"Bisa," kata saya. "Tapi rasanya pahit dan tidak mengenyangkan."

Ia tertawa. Pertama kalinya sejak duduk di depan saya.

"Ini bukan konflik hitam-putih," katanya lebih pelan. "Bukan protagonis versus antagonis. Ini lebih mirip tarik-menarik abadi antara idealisme dan keberlangsungan hidup. Dan keduanya—keduanya—punya argumen yang masuk akal."

Saya mengangguk. Ini yang paling sulit diterima: bahwa tidak ada penjahat yang sederhana dalam cerita ini. Pemilik media yang memilih konten viral bukan selalu pengkhianat idealisme—kadang mereka hanya orang yang tidak mau kantornya tutup dan dua puluh wartawannya kehilangan pekerjaan. Dan wartawan yang terus mengejar berita sepi peminat bukan selalu pahlawan—kadang mereka juga punya kenyamanan yang dilindungi oleh sistem yang tidak mereka pertanyakan.

Tapi ada yang mengganggu saya dari seluruh percakapan itu.

Ada yang lebih berbahaya dari algoritma yang menentukan distribusi berita. Yaitu: redaksi yang mulai berpikir dalam bahasa algoritma.

Bukan sekadar menggunakannya sebagai alat ukur. Tapi menjadikannya kompas moral. "Ini tidak akan dapat trafik" mulai terdengar lebih seperti "ini tidak penting" ketimbang "ini sulit dijual." Dua kalimat itu berbeda jauh, tapi di ruang rapat yang sesak jadwal dan ketat anggaran, perbedaan itu bisa menguap begitu saja.

Bram "Redaksi sekarang bukan cuma memilih berita. Mereka terus-menerus bernegosiasi dengan ekosistem distribusi. Wartawan bukan lagi sekadar pencari fakta—mereka penghuni arena atensi."

"Arena atensi," saya mengulang. Frasa itu terasa tepat dan muram sekaligus. Berita bersaing bukan hanya dengan media lain, tapi dengan seluruh isi internet. Dengan video wanita seksi lucu, dengan skandal selebriti, dengan thread Twitter yang mengalir deras.

Dan di arena itu, berita yang penting sering kalah dari berita yang mengejutkan. Bukan karena publik bodoh—tapi karena otak manusia memang lebih cepat bereaksi pada hal yang mengejutkan, mengancam, atau menggelikan. Algoritma tahu ini. Dan ia menggunakannya dengan sangat efisien.

"Berita penting sering tidak ramah klik," gumam Bram. "Tidak semua orang suka membaca hal yang membuat dahi berkerut."

"Padahal," kata saya, "sejarah lebih sering diubah oleh berita yang membuat dahi berkerut daripada yang membuat mulut tertawa."

Ia mengangguk pelan. "Tapi sejarah tidak membayar bandwidth server."

Catatan samping yang mungkin relevan: Seorang editor senior pernah bercerita bahwa laporan investigasi terbaik yang pernah diterbitkan kantornya — yang akhirnya mengubah kebijakan publik dan memenangkan penghargaan — mendapat trafik seperduapuluh dari artikel tentang "10 Makanan Khas Daerah Ini yang Ternyata Berasal dari Luar Negeri." Ia menceritakannya bukan dengan pahit, tapi dengan lelah yang sudah melampaui kepahitan.

Saya bertanya kepada Bram: "Tapi algoritma tidak bisa menggantikan penilaian editorial, kan?"

Ia langsung mengangguk. Cepat. Seperti sudah terlalu sering meyakinkan dirinya sendiri soal hal yang sama.

"Tidak bisa. Dan tidak boleh," katanya. "Algoritma memberi data. Nurani redaksi memberi arah. Masalah muncul ketika orang mulai mencampuradukkan keduanya. Ketika data dianggap sebagai kebenaran, bukan sekadar sinyal."

Ini distinktif yang penting. Data bisa mengatakan bahwa artikel tentang konflik rumah tangga artis dibaca tiga ratus ribu kali. Tapi data tidak bisa mengatakan apakah kita seharusnya memproduksinya. Itu adalah wilayah penilaian yang masih—dan harus—milik manusia.

Algoritma tidak mengenal seharusnya. Ia hanya mengenal terjadi.

Percakapan kami menggantung sebentar di sunyi yang bukan sunyi canggung—melainkan sunyi orang yang sedang memikirkan sesuatu dengan serius.

Di luar jendela, kota bergerak seperti biasa. Di balik layar, angka-angka terus bergulir—jumlah klik, durasi baca, rasio bounce, share, save. Mesin rekomendasi memproses semua itu tanpa lelah, memutuskan dalam sepersekian detik konten mana yang layak sampai ke mata siapa.

"Jadi bagaimana seharusnya?" tanya saya pada akhirnya.

Bram menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Redaksi tetap harus menjadi manusia," jawabnya. "Data penting. Tapi keputusan tetap harus punya hati."

Saya menyukai jawaban itu. Bukan karena sederhana—tapi karena di balik kesederhanaannya ada pengakuan yang jujur: bahwa jurnalisme pada akhirnya bukan urusan mesin, melainkan urusan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dioptimasi. Ia hanya bisa dirawat, perlahan, berita demi berita, keputusan demi keputusan.

Monitor masih menyala. Algoritma tetap bekerja—tanpa lelah, tanpa emosi, tanpa secangkir kopi pun. Tetapi di meja kecil itu, saya melihat sesuatu yang tidak akan pernah bisa diprogram oleh mesin mana pun: kegelisahan untuk tetap setia pada hal yang tidak pernah benar-benar trendi, tapi selalu relevan.

Tanggung jawab pada publik.

Dan mungkin, itulah pertarungan sesungguhnya di era digital. Bukan manusia melawan mesin—tapi manusia melawan godaan untuk berhenti menjadi manusia.

Sementara itu, video wanita lucu itu sudah ditonton dua juta kali.

Algoritma senang.

Bram pergi dengan cangkir kosong dan pertanyaan yang tidak sepenuhnya terjawab. Saya tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk. Tapi setidaknya pertanyaannya masih ada—dan selama pertanyaan itu masih diajukan oleh manusia, mungkin kita belum sepenuhnya kalah.

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK.

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

Sekho Mangarek: Menyimpan Kampung Halaman dalam Lagu

Hari itu, Tomohon seperti baru saja selesai disisir angin dari tiga gunung—Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—yang anginnya selalu sejuk, menyenangkan bagi penduduk kota kecil itu. Pusat kotanya terlihat sedikit ramai, orang lalu lalang, mobil hilir mudik.