Langsung ke konten utama

Perebutan Perhatian di Era Algoritma

Ketika Berita Tidak Lagi Milik Wartawan

Masa depan media; bagaimana portal berita bersaing dengan media digital seperti Facebook di era algoritma. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI.
Masa depan media; bagaimana portal berita bersaing dengan media digital seperti Facebook di era algoritma. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan AI.

Jam menunjukkan pukul 16.47 ketika Andries menarik kursinya lebih dekat ke layar.

Ruang redaksi itu—kalau masih layak disebut ruang redaksi—sebenarnya hanya sebuah kamar di lantai dua sebuah ruko yang disewa patungan. Kipas angin di sudut berputar dengan suara seperti orang mengunyah kerikil. Dua meja panjang berjejer. Di atasnya, laptop-laptop terbuka seperti mulut yang kelelahan. Kabel charger melilit seperti tanaman menjalar yang tidak tahu arah.

Andries, wartawan senior di portal berita lokal itu, baru saja menyelesaikan laporan yang telah ia kerjakan selama tiga hari.

Bukan laporan sembarangan.

Ia turun ke lapangan. Mewawancarai enam narasumber. Mengecek dokumen. Menelepon pihak yang bersangkutan dua kali—dan dua kali pula mendapat jawaban yang elak. Ia menulis ulang lead-nya empat kali sebelum akhirnya merasa cukup. Redaktur memeriksa. Beberapa kata diganti. Sebuah kalimat dipindah. Foto dikurasi.

Pukul 16.52, berita itu tayang.

Ia menarik napas. Mengambil gelas plastik berisi kopi yang sudah dingin. Meminumnya seperti orang yang baru selesai berlari.

Dua menit kemudian, ia membuka Facebook.

Dan di situlah sesuatu yang aneh terjadi.

Beritanya sudah ada di sana—tetapi bukan seperti yang ia bayangkan.

Sebuah akun dengan foto profil seorang pria berpose di depan mobil mewah telah mengambil judul dan foto utama beritanya. Ditempel di sebuah grup dengan 47.000 anggota. Captionnya singkat: "Nah ini baru tulisan yang berani. 👏👏"

Komentar mengalir deras. Tiga puluh. Delapan puluh. Seratus dua puluh.

Orang-orang berdebat, berteriak, menertawakan, menghujat—semuanya di bawah postingan itu.

Nama portal tempat Andries bekerja? Hampir tidak terlihat. Ia harus men-scroll ke bawah, melewati foto besar, melewati caption, melewati puluhan emoji—baru nama medianya muncul, kecil, dalam format tautan yang warnanya hampir sama dengan latar belakang.

Andries menatap layarnya beberapa saat.

Lalu ia membuka tab lain—Google Analytics. Melihat grafik trafik situsnya.

Datar.

Ia mengedipkan mata. Memperbarui halaman. Masih datar.

"Hei," panggilnya ke arah meja sebelah. "Lydia."

Lidya—redaktur muda yang rambutnya selalu dikepang dan selalu memakai earphone di satu telinga—mengangkat kepala. "Apa?"

"Berita kita tadi. Yang soal anggaran itu."

"Sudah tayang tadi, kan?"

"Sudah. Tapi lihat ini." Andris memutar laptopnya.

Lidya berjalan mendekat. Melihat layar Facebook di satu sisi, grafik trafik di sisi lain.

Ia diam sebentar.

Lalu tertawa pelan. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti tawa orang yang baru mengerti lelucon yang tidak lucu.

"Berita kita viral di Facebook," katanya. "Tapi trafik ke situs tidak ikut viral."

"Kenapa?" tanya Andris, meski ia sudah tahu jawabannya.

"Karena orang sudah cukup membaca ringkasannya di grup."

Mereka tertawa.

Tapi tidak lama.

Ini bukan cerita tentang satu berita.

Ini tentang sesuatu yang lebih besar—perubahan yang terjadi perlahan, seperti air yang mengikis batu tanpa suara. Perubahan yang tidak ada pengumumannya, tidak ada rapat redaksinya, tidak ada keputusan resminya.

Ia hanya terjadi. Dan ketika orang-orang sadar, peta sudah berubah.

Dulu, peta persaingan media cukup rapi. Portal berita melawan portal berita. Koran dengan koran. Televisi dengan televisi. Semua punya wilayahnya masing-masing, semua bermain dengan aturan yang kurang lebih sama—kecepatan, akurasi, jangkauan.

Sekarang? Peta itu seperti digulung, dilempar ke tengah keramaian, lalu semua orang berebut mengambilnya.

Media tidak lagi hanya bersaing dengan media lain.

Ia bersaing dengan siapa saja yang punya akun, pengikut, dan sedikit keahlian memancing perhatian.

Tom sudah 17 tahun di dunia jurnalisme.

Ia mulai dari koran cetak—meliput berita kota, duduk di depan mesin ketik tua yang tombol huruf "A"-nya harus ditekan dua kali. Pindah ke tabloid. Lalu ke portal digital ketika portal digital masih dianggap eksperimen yang mungkin tidak bertahan lama.

Sekarang ia mengepalai redaksi sebuah media lokal yang sudah eksis 11 tahun.

Malam itu, ia duduk di warung kopi dua blok dari kantor. Memesan kopi hitam, tidak minta gula, dan membuka laptopnya dengan gerakan orang yang sudah melakukan itu ribuan kali.

"Saya dulu kira masalah terbesar media digital adalah soal model bisnis," katanya, menyeruput kopi. "Bagaimana cara dapat iklan. Bagaimana cara dapat pembaca berbayar. Itu yang selalu kita bahas di forum-forum."

Ia menutup laptopnya setengah.

"Sekarang saya sadar, itu bukan masalah terbesar. Masalah terbesarnya adalah distribusi. Siapa yang menentukan berita kita sampai ke pembaca—atau tidak sampai sama sekali."

Jawaban atas pertanyaan itu, kata Tom, sudah berpindah tangan.

Tidak ke media lain. Tidak ke pembaca. Ke platform.

Dalam banyak kajian media, fenomena ini disebut dengan istilah yang terdengar akademis: platformisasi distribusi berita. Artinya sederhana—media masih memproduksi berita, tetapi penyebarannya semakin dikendalikan oleh platform.

Facebook tidak menulis berita. Twitter tidak punya wartawan. TikTok tidak memiliki redaksi. Tapi merekalah yang menentukan apakah sebuah berita muncul di linimasa jutaan orang—atau tenggelam tanpa sempat dilihat.

Dulu, redaktur adalah penjaga gerbang.

Sekarang, algoritma ikut berdiri di pintu yang sama.

Dan masalahnya, algoritma tidak mengenal etika jurnalistik. Ia tidak membaca kode etik. Ia tidak peduli verifikasi. Ia tidak bertanya: apakah berita ini akurat? Apakah narasumbernya berimbang? Apakah redaktur sudah memeriksa fakta-faktanya dua kali?

Ia hanya membaca perilaku kita.

Apa yang kita klik. Apa yang membuat kita berhenti menggulir. Apa yang kita komentari dengan emosi. Apa yang kita bagikan karena marah, karena senang, karena merasa menemukan sesuatu yang membenarkan apa yang sudah kita percaya.

Itulah yang ia dorong kembali ke kita.

Akibatnya, berita yang emosional lebih cepat menyebar. Yang memancing debat lebih lama bertahan. Yang kontroversial lebih mudah viral. Yang penting tapi tenang—laporan investigasi panjang, analisis kebijakan yang hati-hati, liputan yang membutuhkan kedalaman untuk dipahami—sering kali lewat begitu saja.

"Sistem ini tidak didesain untuk kepentingan publik," kata Tom, malam itu di warung kopi. "Sistem ini didesain untuk kepentingan engagement. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebenarnya sangat berbeda."

Ia meneguk kopinya.

"Dan kita—media—entah sadar atau tidak, sudah mulai menyesuaikan diri dengan logika itu."

Satu sore di sebuah grup Facebook dengan lebih dari 80.000 anggota.

Sebuah berita baru saja dibagikan oleh sebuah akun komunitas. Judul beritanya diubah sedikit—lebih tajam, lebih provokatif dari judul aslinya. Foto yang sama. Tautan yang sama.

Dalam dua jam, postingan itu mendapat 340 komentar dan dibagikan 78 kali.

Berita aslinya, di portal yang memproduksinya? Dibaca 1.200 orang. Waktu rata-rata di halaman: 47 detik. Kurang dari setengah artikel.

Yang menarik dari angka-angka itu bukan ukurannya. Yang menarik adalah apa yang mereka ceritakan tentang perhatian manusia di era digital.

Orang membaca judul. Orang melihat foto. Orang membaca komentar orang lain tentang berita itu. Lalu mereka sudah punya pendapat—tanpa pernah membaca beritanya sendiri.

Ini bukan kemalasan. Ini adalah bagaimana otak manusia beradaptasi dengan banjir informasi. Ketika terlalu banyak yang harus diproses, otak mengambil jalan pintas. Dan platform—dengan desain yang sangat cermat, dengan notifikasi yang terus-menerus, dengan linimasa yang tidak pernah berakhir—telah menjadi ahli dalam menciptakan jalan pintas itu.

Perhatian menjadi komoditas.

Semakin banyak orang melihat, semakin besar nilainya. Dan siapa pun yang bisa menarik perhatian—media atau bukan, jurnalis atau bukan, benar atau salah—punya peluang yang sama untuk masuk ke linimasa seseorang.

"Lucu kalau dipikir," kata Pricilia, wartawan muda yang baru tiga tahun di profesi ini.

Kami berbicara di sela-sela acara diskusi jurnalisme di sebuah aula yang terlalu dingin karena AC-nya tidak bisa diatur. Kursi plastik berwarna oranye pudar berjejer di depan sebuah panel. Di luar, hujan turun deras.

Pricilia mengaduk kopi sachetnya dengan pena.

"Saya kuliah empat tahun belajar jurnalisme. Belajar cara verifikasi. Belajar etika. Belajar cara wawancara yang benar, cara menulis yang jelas, cara membangun narasi yang adil untuk semua pihak." Ia menatap kopi adukan itu. "Lalu saya masuk ke dunia nyata, dan ternyata yang paling banyak dibaca adalah postingan akun yang tidak punya latar belakang jurnalisme sama sekali."

"Lalu?"

"Lalu saya bertanya-tanya—apakah kita belajar hal yang benar? Atau kita belajar hal yang benar tapi untuk dunia yang sudah tidak ada lagi?"

Pertanyaan itu bergantung di udara, bersaing dengan suara hujan dan dengungan AC.

Saya tidak menjawabnya. Karena saya tidak yakin saya punya jawaban yang jujur.

Ada satu perubahan yang sering luput dari percakapan tentang media dan algoritma.

Bukan hanya soal siapa yang membaca. Bukan hanya soal trafik dan distribusi.

Tapi soal siapa yang sekarang dianggap sebagai sumber.

Di ruang redaksi generasi sebelumnya, ada hierarki yang jelas: ada wartawan, ada editor, ada narasumber yang diakui. Ada proses yang harus dilalui sebelum sebuah klaim bisa disebut berita. Verifikasi. Konfirmasi. Pemeriksaan fakta. Penyuntingan.

Sekarang, di linimasa yang sama, berdiri berdampingan:

- Sebuah laporan investigasi yang memakan waktu tiga minggu.
- Sebuah postingan opini dari akun anonim yang ditulis dalam 10 menit.
- Sebuah video pendek yang diambil dari sudut sempit dan tanpa konteks.
- Sebuah meme yang mengolah data dengan cara yang keliru tapi meyakinkan.

Dan algoritma—sekali lagi—tidak membedakan mana yang mana.

Yang membedakan adalah siapa yang lebih pandai memainkan sinyal engagement: like, komentar, share, waktu tonton.

"Bukan soal siapa yang menulis dulu," kata seorang kawan wartawan, setengah bercanda, setengah serius. "Tapi siapa yang posting duluan."

Ia tertawa. Lalu mengernyitkan kening. Seperti orang yang baru menyadari bahwa kalimat yang baru ia ucapkan lebih menyedihkan dari yang ia kira.

Tapi di sinilah cerita ini menjadi lebih rumit dari sekadar narasi "media kalah dari media sosial."

Karena tidak semua media menyerah pada logika algoritma. Dan tidak semua yang bertahan melakukannya dengan cara yang sama.

Ada media yang memilih untuk berlomba. Menulis lebih cepat. Judulnya lebih provokatif. Isinya lebih pendek. Selalu ada kontroversi, selalu ada konflik, selalu ada elemen yang membuat orang mau klik meski belum tentu mau baca.

Mereka mendapat klik. Mereka mendapat trafik. Tapi mereka juga perlahan kehilangan sesuatu yang lebih sulit diukur: kepercayaan.

Ada media lain yang memilih sebaliknya. Tidak berlomba kecepatan. Tidak mengejar viralitas. Fokus pada kedalaman—laporan yang panjang, analisis yang matang, konten yang memerlukan waktu untuk dicerna. Mereka kehilangan pembaca kasual. Tapi mereka mendapatkan pembaca yang setia, yang kembali lagi, yang mempercayai apa yang mereka baca.

Tom, malam itu di warung kopi, menyebutnya dengan cara yang sederhana.

"Ini seperti restoran," katanya. "Ada yang memilih jadi restoran cepat saji—banyak yang makan, cepat habis, besok lupa. Ada yang memilih jadi restoran dengan chef yang masak dengan hati-hati. Antreannya lebih pendek. Tapi yang datang tidak akan lupa rasanya."

Ia menutup laptopnya dengan pelan.

"Pertanyaannya—kita mau jadi yang mana?"

Andries pulang malam itu dengan naik ojek.

Hujan sudah reda, tapi jalanan masih basah. Lampu-lampu kota memantul di genangan air. Di kiri kanan jalan, baliho-baliho iklan bersinar—wajah-wajah tersenyum yang menawarkan properti, asuransi, produk kecantikan.

Di sakunya, ponselnya terus bergetar.

Notifikasi. Notifikasi. Notifikasi.

Ia tidak membukanya.

Ia memikirkan berita yang ia tulis hari ini. Tiga hari kerja. Enam narasumber. Berapa jam wawancara, berapa jam menulis, berapa kali menulis ulang. Dan hasilnya: 1.200 pembaca di situsnya, sementara versi ringkasannya yang tidak akurat beredar ke 47.000 orang di sebuah grup Facebook.

Siapa yang menang dalam hitungan itu?

Ia tidak tahu.

Yang ia tahu adalah ini: ia masih percaya bahwa apa yang ia lakukan punya nilai. Bahwa verifikasi bukan sekadar prosedur birokrasi. Bahwa cover both sides bukan sekadar slogan. Bahwa berita yang dibuat dengan hati-hati—meskipun tidak selalu viral—meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama dari sekadar klik.

Tapi keyakinan itu, malam itu, terasa seperti sesuatu yang harus ia jaga dengan lebih keras dari sebelumnya.

Di titik tertentu, grup besar atau akun pribadi dengan banyak pengikut bisa memiliki jangkauan lebih besar dari media itu sendiri.

Ini bukan hanya persoalan jurnalisme. Ini adalah persoalan ekosistem informasi publik.

Ketika distribusi berita tidak lagi sepenuhnya milik media—ketika algoritma yang tidak mengenal etika menjadi kurator utama—maka yang terjadi bukan hanya media yang kesulitan. Yang terjadi adalah masyarakat yang semakin sulit membedakan mana informasi yang bisa dipercaya dan mana yang tidak.

Dan kepercayaan—ini yang penting—tidak bekerja seperti trafik. Ia tidak bisa didapat dalam semalam. Ia dibangun pelan-pelan, dari berita ke berita, dari keputusan editorial ke keputusan editorial berikutnya.

Tapi ia bisa hancur jauh lebih cepat.

Pricilia, di akhir percakapan kami di aula yang dingin itu, mengatakan sesuatu yang terus saya ingat.

"Mungkin masalahnya bukan pada algoritmanya," katanya. "Algoritma itu hanya cermin. Ia memantulkan apa yang kita inginkan—atau lebih tepatnya, apa yang kita tunjukkan bahwa kita inginkan melalui perilaku kita."

Ia meletakkan penanya.

"Kalau kita lebih banyak mengklik berita yang membenarkan kemarahan kita, algoritma akan terus menyajikan itu. Kalau kita memberi waktu untuk membaca berita yang dalam dan sulit, algoritma pun akan belajar."

Ia mengangkat bahu.

"Tapi itu artinya persoalan ini bukan hanya di tangan media. Bukan hanya di tangan platform. Tapi di tangan kita—pembaca—juga."

Di luar, hujan mulai lagi. Ringan, seperti suara ketikan.

Lampu-lampu kota menyala ketika malam semakin dalam.

Di suatu ruang redaksi, seseorang masih mengetik. Di suatu warung kopi, seseorang masih membuka laptop. Di suatu grup Facebook, seseorang baru saja membagikan sesuatu—dan ribuan orang akan melihatnya besok pagi, sebelum mereka sempat membuka beritanya sendiri.

Algoritma tidak tidur. Notifikasi tidak berhenti.

Dan di tengah semua kebisingan itu, ada sebuah pertanyaan yang terus bergantung—bukan hanya di ruang-ruang redaksi, tapi di setiap layar yang menyala di tangan kita masing-masing:

"Siapa, dan apa, yang akan kita percaya?"

Karena algoritma boleh menentukan apa yang terlihat.

Tapi kepercayaan—kepercayaan yang sesungguhnya, yang dibangun dari konsistensi dan integritas—tetap menentukan siapa yang dipercaya.

Dan tanpa kepercayaan itu, berita—seberapa pun sering dibagikan, seberapa pun viralnya—hanya akan lewat seperti tamu yang singgah sebentar.

Lalu dilupakan. ***

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)