Langsung ke konten utama

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari WordStar hingga Smartphone

BAB 1

Belajar Jurnalisme dari "Coretan Merah"

cover buku berjudul: menjemput berita, menembus waktu, tersedia di google play books dan draft2digital
Cover buku Menjemput Berita, Menembus Waktu, tersedia di Google Play Books dan Draft2digital.

Tidak semua wartawan belajar jurnalisme di ruang kuliah. Banyak yang justru belajar dari "coretan merah" di layar komputer—dan dari suara redaktur yang tiba-tiba naik satu oktaf tepat saat deadline semakin dekat. Aneh memang. Justru dari tempat yang kadang paling ribut itulah lahir berita yang paling rapi, dan wartawan yang paling terlatih.

Di ruang redaksi, kata-kata bisa beterbangan lebih cepat daripada uap kopi panas. Ada suara kursi diseret. Meja ditepuk. Sesekali umpatan khas daerah meluncur begitu saja—seperti bumbu dapur yang tidak pernah diundang, tetapi hampir selalu hadir di waktu yang paling tepat.

Bagi orang luar, suasana itu mungkin terlihat seperti arena adu argumen tanpa wasit. Tetapi bagi orang yang pernah hidup di dalamnya, ruang redaksi adalah semacam laboratorium kecil jurnalisme—tempat kalimat diuji, fakta diperdebatkan, dan ego perlahan-lahan dipangkas, satu paragraf dalam satu waktu.

Saya masih ingat satu sore yang cukup membekas. Seorang redaktur membaca naskah yang baru saja saya selesaikan, menatap layar beberapa detik—detik‑detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya — lalu berkata singkat:

"Ini berita… atau catatan harian?"

Beberapa wartawan di meja sebelah tertawa kecil. Salah satunya bahkan tidak repot-repot menyembunyikan senyumnya.

Naskah itu dikembalikan dengan "coretan merah" di mana-mana. Tentu saja waktu itu kami sudah tidak benar-benar memakai tinta merah—naskah sudah diketik di komputer desktop, dari zaman mesin IBM sampai Pentium. Tetapi di ruang redaksi, setiap kalimat yang dihapus redaktur tetap terasa seperti coretan merah di layar. Kalimat dipangkas. Judul diganti. Sudut pandang berita diputar hampir seratus delapan puluh derajat.

Sering kali redaktur hanya berkata pendek:

"Paragraf ini terlalu gemuk."
"Ini terlalu bertele-tele."

Lalu terdengar bunyi klik keyboard. Satu paragraf hilang begitu saja—secepat perintah Ctrl+A lalu Delete. Tidak ada negosiasi. Tidak ada banding.

Di situlah kami belajar bahwa menulis berita bukan sekadar menumpahkan kata-kata. Menulis berita adalah latihan disiplin berpikir—dan kadang, latihan menerima kenyataan bahwa tulisan yang kita kira sempurna ternyata masih bisa diringkas menjadi setengahnya.

Di ruang redaksi lama, prinsip-prinsip jurnalisme tidak diajarkan lewat kuliah panjang. Ia diajarkan lewat praktik sehari-hari—dan kadang lewat bentakan yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Seorang redaktur senior pernah mengetuk meja sambil berkata:

"Kalau pembaca harus menebak maksud berita ini, berarti wartawannya belum bekerja."

Kalimat itu sederhana. Tetapi keras. Dan anehnya, justru kalimat seperti itu yang paling lama tinggal di kepala—jauh lebih lama daripada kalimat-kalimat panjang dari buku panduan jurnalisme mana pun.

Suatu hari saya menyadari sesuatu yang agak lucu: saat saya naik posisi menjadi redaktur, nada suara saya ikut naik setengah oktaf setiap kali deadline semakin dekat. Bukan karena ingin galak. Bukan karena menikmati posisi berkuasa. Tetapi karena waktu di ruang redaksi bergerak seperti kereta ekspres—ia tidak menunggu siapa pun, tidak peduli seberapa bagus alasan keterlambatan Anda. Mungkin itulah yang membuat ruang redaksi menjadi tempat yang unik. Ia mendidik bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tekanan.

Saat deadline tiba, ruang redaksi sering berubah seperti ruang rapat yang terlalu sempit untuk semua ide yang ingin keluar sekaligus. Diskusi menjadi tajam. Kadang terdengar seperti orang bertengkar. Ada yang menggebrak meja untuk menegaskan argumen. Ada yang mati-matian mempertahankan judul hasil renungan dua jam. Ada pula yang tiba-tiba mengusulkan sudut berita baru di menit terakhir—seolah-olah waktu masih berlimpah.

Tersedia di: 

Google Play Books

Draft2Digital

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website