Langsung ke konten utama

Fondasi yang Tak Pernah Dipuji

Sebuah percakapan kecil tentang SEO, Algoritma, dan Hal-Hal yang Lebih Berat dari Sekadar Trafik

SEO yang Katanya Sudah Ketinggalan Zaman

Pembicaraan dua wartawan tentang SEO dan algoritma. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan teknologi AI.
Pembicaraan dua wartawan tentang SEO dan algoritma. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan teknologi AI.

Matahari sore Manado sedang berada di posisi paling malas: sudah tidak tinggi, belum mau turun. Cahayanya mampir sebentar di kaca jendela rumah kopi, lalu kabur begitu saja. Di dalam, bau kopi robusta bercampur dengan aroma percakapan dari berbagai meja—ada yang serius, ada yang hanya pura-pura serius.

Di pojok favorit kami, ia sudah duluan. Gelas kopinya setengah isi, atau setengah kosong—tergantung seberapa optimis seseorang memandang hidup di industri media digital.

Ia wartawan muda. Energik, kritis, dan punya keyakinan teguh bahwa siapa pun yang belum mengikuti tren terbaru adalah fosil berjalan. Bukan hal yang buruk, sebenarnya. Jurnalisme butuh orang-orang yang merasa dunia baru saja dimulai.

"SEO itu sudah tertinggal jauh, Om."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan, tanpa ancang-ancang, seperti bola yang dilempar santai tapi ternyata mengarah tepat ke wajah lawan bicara.

Saya mengangkat alis. Gerakan kecil yang sudah menjadi refleks selama dua dekade meliput berbagai peristiwa—tanda bahwa sesuatu layak mendapat perhatian lebih. Di dunia media digital, menyebut SEO ketinggalan zaman terasa seperti menyebut pensil tak lagi relevan di era laptop. Bisa saja. Tapi coba ambil pensil itu dari meja seorang editor—lihat reaksinya.

"Sudah tertinggal?" tanya saya, berusaha terdengar santai.

Meski sejujurnya, rasa ingin tahu diam-diam sudah mencondongkan tubuh saya ke depan beberapa sentimeter.

"Iya lah," jawabnya cepat, dengan nada orang yang baru saja menemukan kebenaran kosmis. "Sekarang semua mainnya algoritma. Orang sudah jarang cari berita. Berita yang cari orang."

Saya tersenyum kecil. Bukan senyum meremehkan—lebih kepada senyum mengenali sesuatu yang familiar. Pernyataan itu terdengar cerdas, modern, dan sangat cocok dijadikan caption Instagram seorang praktisi digital. Masalahnya, banyak hal terdengar meyakinkan justru karena sudah disederhanakan sampai kehilangan kedalaman aslinya.

Seperti kopi sachet. Praktis. Cepat. Tapi ada sesuatu yang hilang di jalan.

"Algoritma memang berkuasa," kata saya, pelan. "Tapi mesin pencari belum pensiun, kan?"

Ia terkekeh. Tawa orang yang merasa sedang menghadapi argumen klasik dari generasi yang sedikit terlambat.

"Masih ada, tapi bukan pemain utama lagi."

Angin sore masuk lewat pintu yang terbuka setengah. Membawa aroma jalanan—campuran asap motor, gorengan dari warung sebelah, dan entah apa lagi. Dunia di luar rumah kopi itu sibuk sekali. Persis seperti lini masa media sosial: penuh, riuh, dan bergerak tanpa henti.

Saya menyeruput kopi. Memberi jeda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena beberapa gagasan butuh ruang napas sebelum diucapkan.

"Begini," lanjut saya akhirnya. "Bayangkan dua skenario. Pertama: kamu berdiri di pinggir jalan ramai, membagi-bagikan koran. Orang lewat, beberapa tertarik, ambil, baca sebentar, lalu taruh di kursi dan lupa. Kedua: kamu punya toko. Orang yang datang ke sana, datang karena memang sedang mencari sesuatu."

Ia menatap saya.

"Media sosial itu seperti koran di pinggir jalan. SEO itu toko."

Hening sejenak. Bukan hening canggung—hening yang produktif, di mana seseorang sedang mendudukkan sebuah analogi di dalam kepalanya dan melihat apakah ia muat.

"Analogi Om ini," katanya akhirnya, "selalu terasa seperti kuliah yang menyamar jadi obrolan."

Saya tertawa. Tuduhan yang sulit dibantah. Dan sepertinya tidak perlu dibantah.

Tapi ada sesuatu yang saya rasa belum selesai.

"Ada perbedaan mendasar yang sering luput," kata saya. "Media sosial bermain pada perhatian. Mesin pencari bermain pada niat."

Ia mengaduk kopinya. Gerakan mekanis yang selalu menarik—bisa tanda sedang berpikir, bisa tanda sedang mencari jeda sebelum membalas dengan sanggahan.

"Di timeline," lanjut saya, "orang membaca karena tertarik. Di mesin pencari, orang membaca karena membutuhkan."

"Tapi trafik sekarang banyaknya dari media sosial," sanggahnya. Nadanya tidak defensif—lebih kepada orang yang ingin memastikan data ikut berbicara.

"Benar," jawab saya. "Tapi umur perhatian di sana pendek. Viral hari ini, hilang besok. Bahkan kadang hilang dalam hitungan jam."

Ia mengangguk tipis. Wartawan digital, betapapun keras berdebat, tetap akrab dengan statistik. Angka adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan—ia berbicara sendiri, kadang dengan suara yang cukup keras untuk membuat orang tidak nyaman.

"SEO itu bukan soal mengejar mesin," kata saya. "Ia soal memastikan berita bisa ditemukan saat orang benar-benar mencarinya. Bukan hanya saat algoritmanya sedang baik hati."

"Kedengarannya ideal sekali," katanya, sedikit memiringkan kepala.

"Justru sangat praktis," balas saya. "Bayangkan investigasi panjang tentang korupsi pengadaan barang di sebuah kabupaten. Penulisnya kerja keras dua bulan. Artikelnya penting. Tapi karena judulnya tidak dioptimasi, tidak ada struktur yang benar, tidak ada metadata yang jelas—tiga bulan kemudian tidak bisa ditemukan di halaman pertama mesin pencari. Padahal orang masih mencarinya. Masih relevan. Tapi seolah tidak pernah ada."

Ia terdiam lebih lama kali ini.

Di luar, seseorang sedang berteriak memanggil nama temannya di parkiran. Suara motor mendekat lalu menjauh. Dunia terus berlari.

"Masalahnya," kata ia akhirnya, "SEO sering identik dengan judul-judul aneh. Yang penting ada kata kuncinya, meski kalimatnya terdengar seperti ditulis oleh robot yang sedang belajar bahasa manusia."

"Nah," kata saya, dan kali ini saya tidak bisa menahan senyum lebih lebar, "itu bukan SEO. Itu kecemasan trafik yang salah kostum."

Ia tertawa keras. Tawa yang tulus—bukan tawa sopan untuk menghargai lelucon yang sebetulnya tidak lucu. Beberapa kepala di meja sebelah menoleh, mungkin mengira kami sedang membahas sesuatu yang sangat menghibur, padahal topiknya justru cukup serius untuk membuat banyak redaksi kehilangan tidur.

"Clickbait itu godaan lama," lanjut saya setelah tawa mereda. "Sejak dulu jurnalisme sudah akrab dengan dramatisasi. Koran kuning lahir jauh sebelum internet ditemukan. Bedanya, sekarang dampaknya instan. Satu judul bisa membakar reputasi redaksi dalam dua belas jam."

"Dan satu judul bisa bikin pembaca marah," gumamnya, separuh bicara pada diri sendiri.

"Karena judul sekarang bukan sekadar pintu," jawab saya. "Ia kadang sudah dianggap isi. Orang membagikan judul, bukan artikelnya. Mereka berkomentar tentang judul, bukan tentang apa yang ada di dalam."

Ia memutar gelasnya perlahan. Melihat ke arah meja, bukan ke saya—sinyal bahwa ia sedang memikirkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

"Algoritma pun begitu," lanjut saya. "Ia hanya membaca pola. Engagement, waktu baca, klik, berbagi. Ia tak bisa membedakan mana berita penting yang mengubah kebijakan publik, mana sekadar sensasi yang habis dalam sehari."

"Yang penting tetap ramai," katanya, nadanya kini tidak lagi menantang. Lebih seperti orang yang sedang mengakui sesuatu.

"Bagi mesin, iya. Bagi jurnalisme, belum tentu."

Sunyi lagi. Kali ini lebih dalam. Di dunia percakapan, jeda yang panjang sering lebih jujur daripada kata-kata yang terburu-buru.

"Berita serius memang jarang ramah klik," katanya pelan. Suaranya berubah—tidak lagi debat, lebih seperti pengakuan.

"Tapi sering ramah sejarah," jawab saya.

Ia menatap saya cukup lama. Lalu tersenyum—senyum seseorang yang sedang mengakui sesuatu tanpa benar-benar mengatakannya dengan kata-kata.

Kedai makin ramai menjelang malam. Pesanan baru masuk, sendok beradu dengan gelas, seseorang di sudut sana tertawa terlalu keras untuk cerita yang mungkin tidak terlalu lucu. Notifikasi di ponselnya sesekali menyala—merah, biru, abu-abu—seperti kerlip kota kecil yang tidak pernah benar-benar tidur.

"Jadi menurut Om, SEO belum ketinggalan zaman?"

"Sama sekali tidak," jawab saya. "Ia hanya tak lagi glamor. Tak ada konferensi besar yang mengundang pembicara untuk membahas meta description. Tidak ada influencer yang memposting foto dirinya sedang mengoptimasi struktur URL dengan caption hustle culture."

Ia tertawa lagi—lebih pelan kali ini, tapi lebih dalam.

"SEO itu seperti fondasi rumah," lanjut saya. "Jarang dipuji. Tidak pernah difoto untuk Instagram. Tapi ia yang menentukan apakah bangunan berdiri bertahun-tahun, atau roboh saat hujan pertama."

Ia mengangguk pelan. Anggukan yang berbeda dari tadi—bukan anggukan basa-basi, melainkan anggukan orang yang sedang menyimpan sesuatu ke dalam laci memori jangka panjang.

Kopi di gelasnya hampir habis. Di luar, lampu jalanan mulai menyala satu per satu—malu-malu, seperti baru sadar sudah malam.

Kami tidak menyimpulkan apa-apa secara resmi. Tidak ada jabat tangan dramatis, tidak ada momen ketika salah satu dari kami berdiri dan berkata, "Kamu benar, saya salah." Percakapan yang baik memang jarang berakhir seperti itu.

Ia hanya berkata, "Makasih, Om. Nanti saya pikir lagi."

Dan saya tahu, seperti semua diskusi redaksi yang baik—yang dimulai dari pertanyaan kecil tapi tumbuh ke tempat yang tidak terduga—percakapan ini tidak benar-benar berakhir di meja itu. Ia hanya berhenti sementara, menunggu dilanjutkan di kepala masing-masing.

Atau di kopi berikutnya.

Jurnalisme yang baik bukan hanya soal berita yang ramai hari ini. Ia soal berita yang masih bisa ditemukan—dan masih relevan—esok, lusa, dan bertahun-tahun kemudian. SEO bukan musuh redaksi. Ia alat. Seperti pensil di tangan editor: sederhana, tidak glamor, tapi di tangan yang tepat, bisa menentukan segalanya.

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.

Redaksi Kecil, Mimpi Besar

  Tak ada yang tampak revolusioner pagi itu. Kopi biasa, kursi biasa, koneksi internet yang juga biasa-biasa saja. Tapi seperti banyak hal besar dalam hidup, percakapan tentang membangun—kali ini tentang portal berita—justru lahir dari tempat paling sederhana: meja rumah kopi. Ketika Website Tak Lagi Sekadar Website