Langsung ke konten utama

Dari Koran Kuning ke Portal Klik

Saat Sensasi Berganti Wajah

Dari Koran Kuning ke Portal Klik

Pernah merasa sedikit… tertipu?

Bukan yang dramatis seperti di film—tidak ada musik latar, tidak ada adegan lambat. Hanya satu momen kecil: ketika Anda mengklik sebuah judul yang terdengar “wah”… lalu menemukan isinya biasa saja. Bahkan terlalu biasa.

Seperti kopi yang aromanya menjanjikan, tapi rasanya lupa datang.

Pagi itu hujan turun tipis. Bukan jenis hujan yang membuat orang berlari, tapi cukup untuk membuat langkah kaki melambat—seolah kota sedang berpikir sebelum berbicara.

Di depan saya, secangkir kopi sudah setengah dingin. Saya belum selesai meminumnya, tapi entah kenapa juga tidak benar-benar ingin menghabiskannya.

Seorang kawan duduk di seberang. Wajahnya tampak santai, tapi pertanyaannya seperti batu kecil yang dilempar ke kolam tenang.

Sekarang ini… masih ada koran kuning?”

Saya tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu sederhana, tapi seperti laci lama yang tiba-tiba terbuka—mengeluarkan debu, kenangan, dan sedikit kegelisahan yang ternyata belum selesai.

Banyak orang kira istilah itu dari warna kertasnya,” saya akhirnya berkata, pelan. Sendok masih saya putar, meski kopi sudah tidak butuh diaduk lagi.

Padahal bukan.”

Saya mulai bercerita. Tentang akhir abad ke-19, jauh sebelum notifikasi berbunyi setiap lima menit.

Di sana, di Amerika, dua nama sering muncul dalam sejarah: Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst.

Mereka bukan sekadar penerbit. Mereka seperti dua pemain catur yang menyadari satu hal penting lebih dulu dari yang lain: perhatian publik bisa dipancing.

Dan kalau sudah terpancing… ia bisa dijual.

Judul dibuat besar.
Cerita dibuat dramatis.
Kadang dilebihkan sedikit.
Kadang dipelintir pelan—cukup untuk membuat orang berhenti, menoleh, lalu membeli.

Itu awalnya ya?” tanya kawan saya.

Saya mengangguk. 

Awalnya… dan mungkin juga pola yang tidak pernah benar-benar pergi.”

Kami diam sebentar. Hujan masih turun, seperti ikut mendengarkan.

Berarti godaan media itu sudah dari dulu?” ia melanjutkan.

Saya tersenyum kecil. 

Yang berubah cuma bungkusnya.”

Dulu, sensasi dijual lewat tinta di atas kertas.

Sekarang, ia pindah ke layar—lebih terang, lebih cepat, dan… lebih sabar menunggu kita mengklik.

Di dunia digital hari ini, perhatian bukan lagi sekadar efek samping. Ia adalah mata uang.

Portal berita tidak hanya berlomba menyajikan informasi. Mereka berebut detik. Berebut klik. Berebut tempat di antara algoritma yang diam-diam menentukan siapa yang dilihat… dan siapa yang tenggelam.

Dan dari situlah lahir istilah yang kita kenal baik: clickbait.

Judul yang seperti umpan. Menggoda. Memancing. Kadang sedikit nakal.

Anda tahu rasanya.

Judulnya membuat alis terangkat.

Isinya… ya, kadang hanya mengangkat bahu.

Kawan saya tertawa kecil. 

Jadi… koran kuning itu tidak hilang?”

Saya menggeleng.

Tidak. Dia cuma ganti baju.”

Warna kuningnya memang tidak terlihat lagi.

Tapi nadanya masih bisa kita dengar—di judul yang terlalu heboh, di cerita yang terlalu cepat, di berita yang terasa lebih ingin viral daripada benar.

Hujan di luar masih turun pelan. Seperti ikut mengangguk.

Beberapa saat kemudian, hujan mulai reda. Tidak benar-benar berhenti—hanya memberi jeda.

Kawan saya menutup laptopnya, tapi pikirannya jelas belum selesai.

Kalau begitu… masalahnya bukan cuma di wartawan ya?”

Saya mengangguk. Kali ini lebih mantap.

Bukan.”

Saya mencoba menjelaskan tanpa terdengar seperti kuliah pagi.

Bayangkan berita itu seperti kacamata,” kata saya. “Kalau kacamatanya buram atau terdistorsi, yang kita lihat bukan dunia—tapi versi dunia yang sudah dibelokkan.”

Ia mengangguk pelan.

Dan dari situlah masalah tumbuh.

Peristiwa kecil bisa tampak besar.
Yang biasa terasa luar biasa.
Yang seharusnya dipahami… malah langsung dihakimi.

Makanya orang cepat sekali marah di kolom komentar,” katanya.

Karena yang disentuh duluan emosinya,” jawab saya, “bukan pikirannya.”

Kami terdiam sebentar.

Bukan karena kehabisan kata. Tapi karena menyadari sesuatu yang agak mengganggu:

kita semua pernah jadi bagian dari itu.

Pernah terpancing.
Pernah percaya terlalu cepat.
Pernah membaca judul… tanpa benar-benar membaca isi.

Termasuk saya. Termasuk mungkin Anda.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?” tanya kawan saya lagi.

Saya tidak memberi jawaban panjang. Tidak ada teori yang rumit.

Perhatikan polanya,” saya bilang.

Kalau judul terasa terlalu heboh—curiga sedikit.
Kalau sumbernya cuma satu—tahan dulu.
Kalau beritanya terlalu cepat tanpa konteks—jangan buru-buru percaya.

Jurnalisme yang sehat memang tidak selalu paling ramai.

Ia tidak selalu jadi yang pertama.
Tapi ia sabar.
Memeriksa.
Menimbang.

Dan, kadang, berani untuk tidak tergesa-gesa.

Di luar, jalanan mulai ramai lagi. Motor lewat. Klakson kembali terdengar. Kota seperti kembali ke ritmenya—seolah tidak pernah berhenti.

Kawan saya berdiri, meraih tasnya.

Berarti sekarang bukan cuma wartawan yang harus cerdas,” katanya.

Saya ikut berdiri. Kopi di meja sudah benar-benar dingin, tapi entah kenapa rasanya tetap layak dikenang.

Sekarang pembaca juga,” jawab saya.

Karena pada akhirnya, kualitas jurnalisme bukan hanya ditentukan oleh siapa yang menulis—tapi juga oleh siapa yang membaca… dan bagaimana ia memilih untuk percaya.

Dan mungkin, di zaman ini, menjadi pembaca yang kritis adalah bentuk tanggung jawab kecil yang sering kita abaikan.

Bukan untuk melawan media.

Tapi untuk menjaga agar kebenaran tidak kalah oleh yang sekadar menarik perhatian.

Kita selalu punya pilihan:

berhenti di judul… atau melangkah sedikit lebih jauh, mencari makna.

Karena pada akhirnya, kualitas jurnalisme tidak hanya lahir dari ruang redaksi—tetapi juga dari keputusan sederhana kita: untuk percaya, meragukan, atau memahami.

CATATAN KECIL:

Jika Anda ingin menyelami lebih jauh tentang fenomena “koran kuning” dan bagaimana ia berevolusi hingga era digital hari ini, kisah lengkapnya telah tersedia di platform Google Play Books dan Draft2Digital.

Siapa tahu, di sana, Anda menemukan bukan hanya cerita tentang media—tapi juga cermin kecil tentang cara kita membaca dunia.***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?