POPULER
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sekho Mangarek: Menyimpan Kampung Halaman dalam Lagu
Di Balik Meja Kasir, Ada Lagu yang Tak Pernah Pensiun: Kisah Sekho Mangarek dan Makantar
Hari itu, Tomohon seperti baru saja selesai disisir angin dari tiga gunung—Gunung Lokon, Mahawu, dan Masarang—yang anginnya selalu sejuk, menyenangkan bagi penduduk kota kecil itu. Pusat kotanya terlihat sedikit ramai, orang lalu lalang, mobil hilir mudik.
![]() |
| Edy 'Sekho' Mangarek dan Fetty Tampemawa. (foto: facebook Sekho Mangarek) |
Saya berhenti di sebuah toko kecil di pusat kota. Papan nama dengan font hitam dan merah terpampang di depannya. Tidak ada spanduk berisik. Hanya etalase sederhana dan seorang pria bersama isterinya, yang duduk santai di balik meja kasir, seperti tidak sedang menyimpan sejarah.
“Cari apa?” tanyanya ringan.
“Cerita,” jawab saya.
Ia tertawa kecil. “Kalau cerita, biasanya mahal. Tapi kalau cuma mau dengar, gratis.”
Namanya Edy 'Sekho' Mangarek. Tapi di sini, ia lebih sering dipanggil, “Sekho,” atau sekadar, “Bos.” Lucunya, tidak semua orang yang mampir sadar bahwa mereka sedang bercakap-cakap dengan suara yang dulu diam-diam menemani masa muda mereka.
Di sebelahnya, seorang perempuan melayani pembeli dengan cekatan. Wajahnya terasa tidak asing, seperti pernah lewat di layar televisi atau sampul kaset lama yang berdebu tapi enggan dilupakan. Ia adalah Fetty Tampemawa—istri Sekho, sekaligus bagian dari sejarah yang sama.
“Kadang orang baru sadar setelah pulang,” kata salah satu 'member' rumah kopi yang ada di depan toko itu, setengah berbisik, seolah membocorkan rahasia kecil yang tidak terlalu penting, tapi menyenangkan.
“Semua ini mulai dari gereja,” kata Sekho kemudian, seraya matanya melihat ke arah jalan raya yang ramai.
Tahun 1997. Sekelompok anak muda dari Jemaat Fungsional Sion Tomohon bernyanyi bukan untuk panggung, tapi untuk langit-langit gereja. Mereka tidak berpikir soal industri, pasar, atau trending. Mereka hanya ingin suara mereka sampai—kalau bisa ke Tuhan, kalau tidak, minimal ke hati sendiri.
Nama kelompok itu: Makantar.
“Waktu itu kami belum tahu kalau suara bisa jadi jalan hidup,” ujar Sekho. “Kami cuma tahu, kalau tidak menyanyi, rasanya ada yang kurang.”
Dari situ, mereka nekat masuk studio. DL Records di Manado menjadi saksi lahirnya album pertama: "Om Manis + O." Judulnya saja sudah seperti senyum—aneh, tapi hangat.
Setahun kemudian, mereka merilis "Haleluya." Dan entah bagaimana, dari situ musik mereka seperti menemukan napas: spiritual, tapi tidak menggurui; lokal, tapi tidak sempit.
“Lagu itu seperti orang,” kata Sekho. “Kalau dia jujur, dia akan menemukan jalannya sendiri.”
Di luar, seorang pelanggan masuk, membeli sesuatu, lalu keluar lagi. Hidup berjalan seperti biasa. Tapi di dalam percakapan ini, waktu seperti sengaja diperlambat.
“Lagu 'Rindu For Ngana’ itu…” saya mulai.
Sekho tersenyum, seperti seseorang yang tiba-tiba diingatkan pada cinta pertama.
“Tahun 1999,” katanya. “Kami tidak menyangka lagu itu akan sejauh itu.”
Setelah itu, judul-judul lain menyusul seperti tamu yang tidak perlu diundang: "Hati Busu", "Seni dan Budaya Minahasa", sampai "BOM (Bumbu Orang Manado)." Nama-namanya kadang terasa seperti bercanda, tapi isinya tidak pernah main-main.
“Musik itu seperti masakan,” lanjutnya. “Kalau bumbunya pas, orang akan ingat. Kalau tidak, ya… lewat saja.”
Saya tertawa. Ia tidak.
Tahun 2002, cerita berubah arah. Kesibukan membuat formasi lama tak lagi utuh. Tapi bukannya berhenti, mereka justru terus berinovasi. Lahir Makantar Makaaruyen—nama yang terdengar seperti akar yang menolak tercerabut.
“Bukan mulai dari nol,” kata Sekho, “tapi mulai dari dalam.”
Formasi baru, energi baru. Album "Haleluya" Makaaruyen muncul seperti pernyataan: bahwa tradisi tidak harus diam di tempat. Ia bisa menari, bahkan kadang sedikit melompat.
Mereka bereksperimen. Bahkan sampai ke hip hop dan rap dalam "Tete Tambah Gas" (2007).
“Anak muda itu tidak bisa dipaksa mendengar masa lalu,” katanya. “Tapi kita bisa mengantar masa lalu masuk ke telinga mereka.”
Kalimat itu menggantung. Saya mencatatnya diam-diam, seperti mencuri sesuatu yang tidak dijaga.
“Album ‘Tinggal di Kobong’ itu meledak,” katanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih ringan, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan keberhasilan.
Di satu sisi, ada kebanggaan. Di sisi lain, ada kesadaran: bahwa popularitas itu seperti tamu. Ia datang, duduk sebentar, lalu pamit tanpa banyak alasan.
“Tapi yang penting bukan meledaknya,” tambahnya. “Yang penting, masih ada yang merasa itu bagian dari hidup mereka.”
Kami berhenti sejenak. Dari sebuah handphone seseorang yang sedang menikmati kopi di depan toko, lagu lama mengalun pelan. Bukan lagu Makantar. Tapi suasananya sama: hangat, sedikit sendu, dan jujur.
“Dulu di rumah ada kolintang,” kata Sekho tiba-tiba.
Saya menoleh.
“Itu yang pertama kali bikin saya jatuh cinta pada musik. Bukan karena hebat, tapi karena dekat.”
Ia bercerita tentang ayahnya. Tentang bunyi kayu yang dipukul dengan sabar. Tentang tamu yang sering datang—salah satunya Sonny Lengkong—pelukis—yang membawa warna ke dalam hidup yang sebelumnya hanya berisi nada.
“Dari situ saya tahu,” katanya pelan, “seni itu tidak harus besar. Cukup hadir, dan jujur.”
“Pernah tur ke Amerika,” katanya santai, seperti sedang bercerita tentang pergi ke pasar.
Saya mendengar dengan rasa penasaran, sambil menyeruput kopi hitam.
“Tapi yang paling jauh itu bukan Amerika,” lanjutnya. “Yang paling jauh itu kalau lagu kita bisa sampai ke orang yang rindu kampung halaman.”
Ada jeda di situ. Jeda yang tidak bisa diisi dengan kata-kata.
Di dinding toko, tidak ada piala yang dipajang. Padahal, kalau mau, ada cukup alasan untuk itu—penghargaan dari festival, pengakuan dari lembaga, hingga kemenangan di Indonesia Song Festival 2006.
Tapi mungkin, bagi Sekho, penghargaan terbaik adalah sesuatu yang tidak bisa dipigura: ingatan orang.
“Musik itu bukan untuk disimpan di lemari,” katanya. “Dia harus hidup. Diputar, dinyanyikan, bahkan kalau bisa—diperdebatkan.”
Sore mulai turun pelan-pelan. Toko itu tetap sederhana. Sekho tetap di kursinya. Fetty tetap melayani pelanggan dengan senyum yang sama.
Tidak ada panggung. Tidak ada lampu sorot. Tapi anehnya, semuanya terasa cukup.
“Saya ini cuma penjaga,” kata Sekho tiba-tiba.
“Penjaga apa?”
“Irama yang hampir hilang.”
Ia tersenyum, kali ini lebih lama.***
“Kalau generasi muda mau ambil alih, itu bagus. Tapi jangan lupa—akar itu tidak terlihat, tapi dia yang menahan pohon tetap berdiri.”
Di luar, angin kembali lewat. Mungkin dari Lokon. Mungkin dari Mahawu. Mungkin dari Masarang. Atau mungkin dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan di toko kecil itu, seorang lelaki bernama Sekho tetap duduk, menjaga sesuatu yang tidak kasatmata—tapi diam-diam, sangat penting: ingatan.***
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
All Rights Reserved

Komentar
Posting Komentar