📖 DAFTAR ISI
Selamat Datang di Rapat yang Sangat Penting
Pukul sembilan pagi. Sebuah aula di kantor dinas pendidikan kota—mana saja, pilih sendiri, karena hampir semuanya serupa. Kursi plastik berwarna merah berbaris rapi. Di depan, sebuah banner besar bergambar anak-anak membaca buku dengan wajah bahagia—wajah yang tampaknya belum pernah dimiliki oleh anak mana pun yang sesungguhnya dipaksa membaca di perpustakaan sekolah yang pengap.
Di podium, seorang pejabat dinas membuka rapat koordinasi program literasi. Suaranya mengalun penuh keyakinan.
"Kita semua di sini punya tanggung jawab yang sama: membangun budaya membaca di masyarakat kita."
Tepuk tangan. Kamera wartawan menyala. Notulen mencatat.
Di baris ketiga dari belakang, seorang kepala perpustakaan mengangguk khusyuk. Di bawah meja, ibu jarinya bergerak pelan—menggulir beranda Facebook, membaca komentar-komentar di sebuah video viral tentang artis yang baru saja bercerai.
Di sebelahnya, seorang guru bahasa Indonesia sedang membuka aplikasi belanja daring. Diskon 11.11 baru saja dimulai. Ia perlu memantau harga rice cooker yang sudah diincar sejak dua minggu lalu.
Di barisan paling depan—tepat di bawah banner anak-anak bahagia membaca itu—seorang koordinator program literasi sekolah sedang mengetik pesan WhatsApp ke istrinya: "Makan siang nitip ayam geprek ya, yang level 3."
Rapat tentang literasi berjalan lancar. Semua poin tercatat. Semua komitmen ditandatangani. Dan tidak ada satu pun buku yang dibuka.
Pertanyaan yang Tidak Pernah Ada di Kuesioner
Di tengah seluruh arsitektur besar kampanye literasi Indonesia—dengan segala GLS-nya, indikator-indikatornya, pojok bacanya, Duta Bacanya—ada satu pertanyaan yang secara konsisten tidak pernah ditanyakan:
Apakah para pemangku kepentingan literasi itu sendiri suka membaca?
Bukan membaca laporan. Bukan membaca surat edaran. Bukan membaca caption di Instagram.
Membaca. Sungguhan. Buku. Artikel panjang. Esai. Jurnal.
Pertanyaan ini terdengar tidak sopan—bahkan mungkin dianggap lancang. Siapa yang berani bertanya kepada kepala perpustakaan kota apakah ia tahu judul buku terbaru yang sedang relevan dengan isu pendidikan? Siapa yang berani menanyai koordinator GLS apakah ia pernah, dalam dua bulan terakhir, membaca satu buku non-fiksi sampai selesai—bukan karena tugas, tapi karena memang ingin?
Tidak ada kuesioner resmi yang menanyakan ini. Tidak ada instrumen evaluasi yang mengukurnya. Tidak ada audit literasi untuk para pelaksana program literasi.
Dan justru ketiadaan pertanyaan itulah yang paling berbicara.
Anatomi Seorang Pemangku Kepentingan Literasi
Mari kita berkenalan dengan beberapa karakter—bukan rekaan semata, melainkan komposit dari wajah-wajah yang mudah kita kenali jika kita sering hadir di rapat-rapat dinas, kunjungan perpustakaan, atau pelatihan guru.
Pak Edwin, Kepala Perpustakaan Kota.
Usia 53 tahun. Sudah menjabat enam tahun. Ruangannya rapi—ada foto bersama pejabat daerah di dinding, ada piagam penghargaan "Perpustakaan Terbaik" dari tiga tahun lalu, ada kalender bergambar pemandangan pantai yang belum diganti sejak Februari.
Di mejanya: setumpuk dokumen administrasi, formulir pengadaan buku, dan satu buku tebal berjudul Manajemen Perpustakaan Modern yang ternyata, jika diperhatikan lebih dekat, masih tersegel plastik. Buku itu sudah di sana sejak delapan bulan lalu—hadiah dari pelatihan nasional di Jakarta yang ia hadiri dengan semangat, pulang dengan sertifikat, dan lupa dengan isinya.
Pak Edwin rajin posting di Facebook. Foto-fotonya selalu: suasana perpustakaan yang bersih, anak-anak yang tampak membaca (biasanya difoto dari belakang, karena dari depan ekspresi mereka kurang mendukung narasi), dan sesekali kutipan motivasi tentang betapa pentingnya membaca—yang ia temukan dengan cara meng-copy-paste dari grup WhatsApp "Pemerhati Literasi Nusantara."
Kapan terakhir ia membaca buku? Ia harus berpikir sebentar. "Kalau koran... setiap hari, Pak. Di HP." Koran apa? "Biasanya yang masuk di grup WA. Yang viral-viral itu."
Bu Meike, Guru Bahasa Indonesia Kelas 10.
Perempuan bersemangat, 48 tahun, penuh komitmen pada profesinya. Ia yang selalu hadir paling awal di rapat GLS, yang paling banyak berbicara tentang pentingnya minat baca, yang paling rajin membuat laporan kegiatan pojok baca di kelasnya.
Di kelasnya ada pojok baca—delapan buku, tersusun rapi di rak kecil dari kayu triplek yang ia cat sendiri dengan warna merah muda. Dua buku di antaranya adalah Laskar Pelangi dan Bumi Manusia—klasik yang wajib ada, seperti pot bunga plastik di resepsionis.
Sisanya adalah buku-buku sumbangan yang kondisinya sudah... berpengalaman.
Bu Meike sendiri, kalau ditanya jujur, lebih sering menghabiskan waktu luangnya menonton drama Korea di platform streaming. Bukan hal yang memalukan—itu pilihan yang sah. Tapi ketika ia diminta merekomendasikan buku kepada siswanya, ia selalu menyebut tiga judul yang sama: Laskar Pelangi, Bumi Manusia, Negeri 5 Menara. Tiga buku yang terakhir ia baca adalah tiga buku yang sama yang ia rekomendasikan. Bertahun-tahun yang lalu.
"Saya juga ingin banyak baca," katanya suatu hari kepada rekan sejawat, dengan nada yang sangat tulus. "Tapi sibuk, Pak. Administrasi, laporan, RPP, e-kinerja. Belum lagi grup WA orang tua murid yang isinya pertanyaan terus."
Ini jujur. Dan justru kejujuran itu yang membuat kita perlu berhenti sebentar dan berpikir.
Ibu Grace, Pengelola Perpustakaan Kelurahan.
Bukan pustakawan profesional—ia adalah staf kelurahan yang "dipindahkan" ke perpustakaan karena perpustakaan memerlukan orang dan ia kebetulan sedang tidak ada tugas lain. Ia menerima dengan ikhlas, meski awalnya tidak mengerti harus berbuat apa.
Perpustakaannya kecil: satu ruangan berukuran 4x5 meter, rak buku yang sebagian sudah miring, koleksi terakhir diperbarui entah kapan. Ada buku resep masakan terbitan 1997. Ada majalah Bobo dari tahun 2009. Ada kamus besar bahasa Indonesia yang sudah kehilangan sampulnya.
Ibu Grace duduk di balik meja dengan satu pekerjaan utama: menunggu. Pengunjung datang rata-rata dua sampai tiga orang per hari—biasanya anak-anak yang sekadar berteduh dari panas, atau ibu-ibu yang menemani anaknya mencari tugas sekolah. Bukan karena minat baca. Bukan karena literasi. Karena AC-nya menyala dan di luar sedang terik.
Di mejanya, selain buku pengunjung, ada HP yang selalu terhubung ke WiFi kelurahan. Ia sedang menonton YouTube, atau Facebook Reels—tutorial memasak rendang, durasi 22 menit, sudah ditonton 1,4 juta kali.
Ibu Grace bukan orang jahat. Ia bukan orang malas. Ia adalah korban dari sistem yang menempatkan orang di posisi "penjaga literasi" tanpa pernah memastikan bahwa penjaga itu sendiri memiliki bekal yang cukup—atau setidaknya cukup waktu dan ruang untuk mencintai apa yang dijaganya.
Guru dan Dopamin: Sebuah Pengakuan yang Terasa Familiar
Tahun 2023, sebuah survei kecil dilakukan oleh sekelompok peneliti pendidikan terhadap 200 guru di beberapa kota di Indonesia. Mereka tidak bertanya tentang program literasi. Mereka bertanya satu hal sederhana: Dalam satu bulan terakhir, berapa buku yang Anda baca sampai selesai?
Hasilnya tidak dipublikasikan secara luas—mungkin karena angkanya tidak cukup menggembirakan untuk dijadikan bahan press release. Tapi dari data yang beredar di kalangan peneliti: mayoritas menjawab nol sampai satu buku. Buku terakhir yang dibaca sebagian besar dari mereka adalah buku teks mata pelajaran—yang dibaca bukan karena ingin, tapi karena harus mengajarkannya.
Ini bukan data yang mengejutkan. Ini data yang, jika kita jujur, sudah kita duga sejak lama.
Guru-guru Indonesia bekerja di bawah beban administratif yang luar biasa. Kurikulum yang berganti setiap beberapa tahun—dari KTSP ke K-13 ke Kurikulum Merdeka, masing-masing dengan pelatihan baru, format baru, istilah baru yang harus cepat dikuasai. Ada e-kinerja yang harus diisi. Ada rapor yang harus diselesaikan. Ada grup WhatsApp orang tua murid yang rata-rata berisi 47 pesan per hari, sebagian besar adalah pertanyaan yang jawabannya sudah ada di surat edaran yang tidak dibaca.
Di tengah semua itu, apakah wajar mengharapkan guru untuk membaca satu buku per bulan di luar kewajiban profesinya?
Wajar atau tidak, itu adalah standar minimum yang seharusnya menjadi bagian dari definisi seorang pendidik yang literat.
Dan inilah paradoks yang menyakitkan: kita meminta guru mengajarkan cinta membaca kepada siswa, sementara sistem yang mengelilingi guru itu sendiri tidak memberikan ruang—waktu, energi, bahkan insentif—untuk mencintai membaca.
Seorang guru yang kelelahan, yang menghabiskan malam mengisi formulir administrasi digital, yang akhir pekannya habis untuk menghadiri pelatihan sertifikasi, yang sisa energinya digunakan untuk menggulir media sosial karena itu adalah satu-satunya bentuk relaksasi yang masih tersisa—guru itu bukan pemalas. Ia adalah orang yang dopaminnya sudah habis dieksploitasi oleh sistem sebelum ia sempat menggunakannya untuk membaca.
Perpustakaan Kecamatan: Sebuah Kunjungan Lapangan
Bayangkan sebuah kunjungan ke perpustakaan kecamatan di sebuah wilayah urban pinggiran kota besar.
Gedungnya ada. Itu sudah merupakan pencapaian tersendiri—di banyak kecamatan, perpustakaan hanya ada dalam anggaran, bukan dalam kenyataan. Gedung ini nyata: satu lantai, catnya sudah agak kusam di bagian bawah, papan namanya masih terbaca meski satu hurufnya sudah miring.
Di dalam, rak-rak buku tersusun rapi. Koleksinya terakhir diperbarui dua tahun lalu berkat anggaran pengadaan yang akhirnya cair setelah tertunda tiga kuartal. Ada sekitar 1.200 judul—campuran buku pelajaran, ensiklopedia lama, beberapa novel populer, dan sejumlah buku yang tampaknya dipesan berdasarkan harga per kilogram, bukan relevansi.
Pengunjung hari itu: empat orang. Dua pelajar SMP yang mengerjakan PR. Satu bapak-bapak yang tidur di sofa sudut dengan buku terbuka di atas wajahnya—mungkin sedang meditasi literasi. Satu remaja perempuan yang dengan tekun menatap layar laptopnya, yang ternyata sedang menonton serial Netflix dengan earphone.
Petugas perpustakaan—seorang perempuan muda, lulusan D3 administrasi—duduk di meja layanan dengan senyum profesional. Di depannya, buku tamu dengan kolom tanda tangan yang jarang terisi. Di sampingnya, sebuah novel tipis yang tergeletak dengan bookmark di halaman 23.
"Itu buku ibu?" tanya seorang pengunjung.
"Iya, Pak. Tapi sudah dua minggu di halaman yang sama." Ia tertawa kecil. "Sibuk terus."
Dua minggu di halaman 23. Novel tipis. Petugas perpustakaan.
Tidak ada yang perlu ditambahkan.
Rapat Koordinasi dan Fenomena "Literasi Performatif"
Ada sebuah istilah yang belum resmi tapi sangat relevan untuk menggambarkan apa yang terjadi di banyak rapat koordinasi program literasi: literasi performatif.
Literasi performatif adalah ketika semua orang di dalam ruangan sepakat bahwa membaca itu penting, menyatakan komitmen penuh untuk meningkatkan budaya baca, menandatangani berita acara dengan serius—tapi tidak ada satu pun dari mereka yang, dalam kehidupan nyata, mempraktikkan apa yang baru saja mereka serukan.
Ini bukan kemunafikan dalam arti yang sengaja. Ini lebih kepada sebuah disonansi kognitif kolektif yang sudah begitu terbiasa sehingga tidak lagi terasa janggal. Semua orang tahu bahwa membaca itu baik. Semua orang tahu bahwa mereka seharusnya membaca lebih banyak. Dan semua orang, pulang dari rapat, membuka HP dan menggulir beranda sampai mengantuk.
Yang menarik adalah bagaimana literasi performatif ini memiliki ekosistemnya sendiri yang sangat produktif secara administratif. Ada laporan kegiatan yang ditulis dengan rapi. Ada foto dokumentasi yang diunggah ke website dinas. Ada press release yang dikirim ke media. Ada spanduk yang dipasang. Ada sertifikat yang dibagikan. Semuanya menunjukkan bahwa program berjalan—dan secara teknis, program memang berjalan.
Yang tidak berjalan adalah literasinya.
Di salah satu kota, sebuah program "Gerakan Satu Buku Satu Bulan" diluncurkan untuk guru-guru dengan meriah—lengkap dengan upacara peluncuran, liputan media, dan komitmen tertulis dari ratusan guru yang menandatangani pernyataan kesediaan membaca satu buku per bulan.
Enam bulan kemudian, tidak ada monitoring. Tidak ada evaluasi. Tidak ada yang menanyakan buku apa yang sudah dibaca. Tidak ada yang mengumpulkan ringkasan atau refleksi bacaan.
Program itu selesai di hari peluncurannya. Sisanya adalah urusan masing-masing—dan masing-masing memilih untuk tidak berurusan.
Dopamin Para Pemangku Kepentingan: Tidak Ada yang Kebal
Adalah naif—dan sedikit arogan—jika kita berpikir bahwa dopamin hanya memangsa remaja yang scrolling TikTok, Facebook Reels, atau Video Short YouTube. Dopamin tidak membeda-bedakan usia, jabatan, atau tingkat pendidikan.
Seorang kepala dinas yang membuka LinkedIn setiap pagi untuk memantau berapa likes yang diterima postingan terbarunya tentang "visi literasi daerah"—ia sedang dikelola oleh dopamin.
Seorang guru yang mengecek grup WhatsApp setiap lima menit selama jam kosong—dopamin.
Seorang pustakawan yang lebih sering memperbarui status Facebook perpustakaannya daripada memperbarui koleksi bukunya — dopamin.
Kita semua berenang di kolam yang sama. Perbedaannya adalah bahwa remaja setidaknya tidak berpura-pura menjadi penjaga kolam sambil tenggelam di dalamnya.
Para pemangku kepentingan literasi—guru, pustakawan, koordinator program, pejabat dinas—memiliki lapisan tambahan yang membuat situasinya lebih rumit: mereka harus menjaga citra sebagai orang yang literat, sementara perilaku aktual mereka tidak selalu mencerminkan citra itu. Dan menjaga citra itu sendiri membutuhkan energi—energi yang seharusnya bisa digunakan untuk, misalnya, membaca.
Ada satu penelitian menarik dari ranah psikologi sosial yang menyebutkan bahwa ketika seseorang secara publik mengidentifikasi dirinya dengan suatu nilai (misalnya: "saya orang yang cinta membaca"), ia justru cenderung merasa sudah cukup memenuhi nilai itu tanpa benar-benar mempraktikkannya.
Efek ini disebut moral licensing—seolah-olah memiliki identitas sebagai "orang literat" sudah memberikan kredit yang cukup untuk tidak harus berliterasi secara aktual.
Jadi bisa jadi: semakin keras seseorang mengkampanyekan literasi, semakin besar kemungkinan ia sendiri sedang tidak membaca.
Ini bukan tuduhan. Ini adalah pertanyaan yang layak diajukan—kepada diri sendiri, dan kepada ekosistem yang kita bangun bersama.
Apa yang Seharusnya Diukur—Tapi Tidak Pernah Diukur
Jika kampanye literasi untuk siswa memerlukan evaluasi yang lebih jujur, maka kampanye literasi untuk para pemangku kepentingannya memerlukan evaluasi yang jauh lebih berani.
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang seharusnya masuk dalam setiap audit program literasi, tapi tidak pernah ada:
Untuk kepala perpustakaan kota, kecamatan, dan kelurahan:
Dalam tiga bulan terakhir, berapa buku non-administrasi yang Anda baca sampai selesai? Buku apa? Apa yang Anda ambil dari sana? Pernahkah Anda merekomendasikan sebuah buku kepada staf Anda berdasarkan bacaan pribadi Anda sendiri?
Untuk guru-guru pelaksana GLS:
Kapan terakhir Anda membaca sebuah artikel panjang—bukan artikel pendek di portal berita, bukan caption Instagram, tapi artikel atau esai yang memerlukan lebih dari sepuluh menit untuk diselesaikan? Apa yang Anda baca? Apakah Anda membacanya sampai selesai, atau berhenti di tengah karena ada notifikasi yang masuk?
Untuk koordinator program literasi di sekolah:
Apakah Anda pernah merekomendasikan buku kepada siswa berdasarkan buku yang benar-benar Anda baca tahun ini—bukan buku yang Anda baca sepuluh tahun lalu, bukan buku yang semua orang rekomendasikan, tapi buku yang Anda pilih sendiri karena ketertarikan intelektual Anda sendiri?
Untuk pejabat dinas yang menandatangani program literasi:
Apakah ada buku di meja kerja Anda yang sedang Anda baca? Bukan buku pajangan. Bukan buku yang tergeletak karena "nanti kalau ada waktu." Buku yang sungguh-sungguh sedang Anda baca, yang halamannya bergerak maju setiap beberapa hari?
Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar personal sampai terasa mengganggu. Dan itulah tepatnya mengapa mereka harus ditanyakan.
Model yang Membaca: Apakah Ia Masih Ada?
Di tengah gambaran yang cukup suram ini, ada sesuatu yang perlu diakui: masih ada—dan ini bukan kalimat basa-basi—guru-guru dan pustakawan yang sungguh-sungguh membaca.
Mereka ada. Jumlahnya tidak banyak, tapi keberadaan mereka terasa ketika Anda masuk ke kelas mereka.
Ada guru sejarah yang merekomendasikan buku dengan antusias, yang matanya bersinar ketika membahas sebuah bab yang baru ia selesaikan seminggu lalu.
Ada pustakawan sekolah yang hapal nama pengarang, yang tahu mana buku yang cocok untuk siswa yang sedang bergulat dengan keputusan memilih jurusan, yang pernah menangis di halaman terakhir sebuah novel dan tidak malu mengakuinya kepada anak-anak didiknya.
Guru yang membaca mengajar dengan cara yang berbeda. Bukan karena ia punya lebih banyak materi—tapi karena ia membawa sesuatu yang tidak ada di buku teks mana pun: perspektif.
Pengalaman bertumbuh melalui gagasan orang lain. Kebiasaan meragukan asumsinya sendiri. Kemampuan untuk tidak hanya menyampaikan fakta, tapi mengajak berpikir.
Dan hal paling ajaib yang dilakukan oleh seorang guru yang membaca adalah ini: ia tidak perlu menjelaskan kepada siswanya mengapa membaca itu penting. Siswanya melihatnya sendiri—dari cara guru itu berbicara, dari referensi yang muncul secara alami dalam penjelasannya, dari antusiasme yang tidak bisa dipalsukan.
Literasi menular. Tapi ia menular dari orang ke orang, bukan dari program ke orang. Dan untuk menularkan sesuatu, seseorang harus terlebih dahulu memilikinya.
Siapa yang Menjaga Penjaga?
Quis custodiet ipsos custodes?—Siapa yang menjaga para penjaga? Pertanyaan Latin kuno dari Juvenal ini ternyata sangat relevan untuk kampanye literasi Indonesia di abad ke-21.
Kita sudah cukup lama berbicara tentang siswa yang tidak membaca, remaja yang terjebak dopamin, generasi yang kehilangan konsentrasi. Semua itu benar dan perlu terus dibicarakan. Tapi ada percakapan yang lebih sulit, yang lebih tidak nyaman, yang lebih perlu terjadi:
Bagaimana dengan guru yang tidak membaca? Bagaimana dengan pustakawan yang tidak mencintai buku? Bagaimana dengan koordinator literasi yang laporannya rapi tapi raknya berdebu? Bagaimana dengan pejabat dinas yang launching programnya meriah tapi belum pernah sekalipun bertanya kepada dirinya sendiri: buku apa yang terakhir mengubah cara saya berpikir?
Kita tidak bisa meminta seseorang untuk menyalakan api yang ia sendiri tidak punya baranya.
Ini bukan tentang menyalahkan. Sistem yang menempatkan guru di bawah beban administratif yang menghancurkan, yang menggaji pustakawan kelurahan sejajar dengan staf administrasi biasa, yang menilai keberhasilan program dari jumlah kegiatan bukan kualitas perubahan—sistem itu juga bertanggung jawab. Bahkan mungkin lebih bertanggung jawab.
Tapi sistem itu dibuat oleh manusia. Dan manusia bisa membacanya, memahaminya, dan mengubahnya—jika mereka mau duduk cukup lama, cukup tenang, cukup jauh dari notifikasi, untuk sungguh-sungguh berpikir.
Itu, pada akhirnya, adalah definisi literasi yang paling jujur: bukan sekadar mampu membaca huruf di atas kertas, tapi mampu membaca dunia dengan kepala yang jernih dan hati yang tidak terburu-buru.
Dan untuk itu, para penjaga pintu literasi kita perlu melakukan sesuatu yang sangat sederhana—tapi ternyata semakin sulit di zaman ini:
Membuka buku. Membacanya. Sampai selesai.
Tanpa membuka HP dulu.
Sumber:
Kemendikbud. Mengukur Capaian Program Gerakan Literasi Sekolah. Puslitjakdikbud. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/24907/1/1629814489_Puslitjak_22_Mengukur_Capaian_Program_Gerakan_Literasi_Sekolah_Revisi.pdfResearchHub Khatulistiwa. Evaluasi Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah. https://researchhub.id/index.php/Khatulistiwa/article/download/1435/1251
Kemenko PMK. Peta Jalan Pembudayaan Literasi 2021. https://kemenkopmk.go.id
E-Journal Literasi, Universitas Alma Ata. Hubungan Minat Membaca dengan Prestasi Belajar. https://ejournal.almaata.ac.id/index.php/LITERASI/article/view/1575
E-Journal UAJY. Perilaku Membaca Menurut Golongan Usia. http://e-journal.uajy.ac.id/30461/3/170116815_Bab%202.pdf
Jurnal Paedagogie, Universitas Muhammadiyah Magelang. Analisis Minat Membaca Siswa melalui Program Pojok Baca. https://journal.unimma.ac.id/index.php/Paedagogie/article/download/14256/6051
Dianingrum, Yashinta. Minat Baca — Landasan Teori. Repositori STKIP Pacitan. https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/628/4/YASHINTA%20DIANINGRUM_BAB%20II_PGSD2021.pdf
Juvenal. Satire VI — Quis custodiet ipsos custodes. Roma, sekitar 100 M. (Klasik yang tidak perlu tautan, tapi layak dikutip.)

Komentar
Posting Komentar