Langsung ke konten utama

Ketika Alam Memanggil

Foto itu sudah lama tersimpan. Sudah lama juga saya ke tempat ini. Tapi memori bisa dibangkitkan kapan saja—dan kali ini, saat saya membuka kembali gambar-gambar itu, saya merasa perlu menuliskannya. Bukan karena ceritanya istimewa, tapi karena tempatnya memang selalu memanggil untuk dikisahkan ulang.

Dari Bukit Tetetana, Tomohon, saya belajar bahwa jarak kadang adalah cara terbaik untuk melihat lebih jelas.

View dari Bukit Tetetana Kumelembuay, Tomohon Timur.
View dari Bukit Tetetana Kumelembuay, Tomohon Timur. (foto: doc)

Pernah merasakan ponselmu lebih sesak dari dompet di tanggal tua? Bukan sesak oleh hal-hal penting, melainkan oleh foto makanan yang sudah berubah dingin, screenshot obrolan grup alumni yang isinya cuma deretan "wkwkwk" dan "mantap bro/sist!", dan struk belanja supermarket yang entah kenapa masih bersemayam di galeri seolah-olah itu dokumen kenegaraan.

Kalau itu yang kamu rasakan, percayalah: bukan ponselmu yang lelah. Kamu yang lelah. Dan itu bukan sekadar tanda saatnya clear storage—itu panggilan. Lebih tepatnya, panggilan dari tempat-tempat indah di Kumelembuay, Tomohon Timur, salah satunya Bukit Tetetana.

"Begitu menapakkan kaki di sana, rasanya seperti menukar notifikasi ponsel dengan nyanyian angin."

Bukit Tetetana bukan gunung dengan jalur pendakian yang menantang ego. Ia tidak perlu. Ketinggiannya sudah cukup untuk mengubah perspektif—cukup untuk membuat kamu berdiri di atas angin dan melihat hiruk-pikuk kota dari kejauhan yang menenangkan.

Pagi itu langit biru, tapi malu-malu. Kabut tipis sesekali merayap turun dari punggung bukit, lalu menghilang ditelan sinar matahari yang perlahan menguat. Udara sejuk di sini bukan sekadar kondisi cuaca—ia terasa seperti sesuatu yang hidup, sesuatu yang menepuk bahumu dengan akrab dan berkata tanpa suara: "lama sekali kamu tak datang ke sini, sibuk jadi manusia ya?

Dari atas bukit, Manado terlihat kecil. Bukan mengecilkan kota itu, tapi semua yang selama ini saya anggap besar—tenggat waktu, kewajiban, kekhawatiran yang menumpuk seperti tumpukan koran lama—tiba-tiba tampak dalam proporsi yang lebih jujur. Kecil. Bisa ditangani. Atau setidaknya, bisa ditangguhkan sebentar.

Di cakrawala utara, Gunung Klabat berdiri gagah seperti sedang menunggu janjinya sendiri. Di sisi lain, Gunung Dua Saudara muncul samar—dua puncak yang tampak seperti pengawal yang berjaga di tepi horizon. Dan bukit-bukit berjejeran, tersenyum dari kejauhan. Saya merasa seperti penonton yang mendapat kursi terbaik untuk pertunjukan diam-diam antara bumi dan langit.

Di lapangan hijau yang luas, suasana berbeda. Anak-anak berlarian tanpa agenda. Orang dewasa berpose untuk foto dengan gaya yang di kota mungkin terlihat berlebihan—tapi di sini, tidak ada yang berlebihan. Di sini, semua orang bebas menjadi versi paling polos dari dirinya.

Di sudut taman, bunga-bunga tampil dengan percaya diri: kana merah menyala, mawar putih yang tenang, hortensia ungu yang berkelompok seperti sedang berbisik satu sama lain. Satu kelopak jatuh tepat di depan kaki saya. Saya berdiri diam sejenak.

"Bahkan yang indah pun pada akhirnya akan jatuh—tapi jatuhnya pun bisa lembut."

Sore datang perlahan. Matahari mulai turun ke balik perbukitan barat, dan langit berubah menjadi kanvas yang berani. Oranye, ungu, dan keemasan saling berebut tempat—warna-warna yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh filter Instagram mana pun. Dan saya, yang biasanya refleks meraih ponsel untuk mengabadikan segala sesuatu, kali ini hanya memandangi. Tanpa menekan tombol apa pun.

Ada momen-momen yang tidak butuh bukti. Cukup diingat oleh hati.

Sebelum turun, saya mampir ke kafe kecil di sisi bukit. Segelas kopi hitam datang—bukan yang mahal, bukan yang dikemas dengan nama-nama asing. Tapi hangatnya menembus jauh, sampai ke sudut pikiran yang sudah lama tidak disambangi ketenangan.

Sambil menyeruput, saya menatap bukit yang mulai diselimuti kabut sore. Dan saya sadar tentang sesuatu yang sederhana tapi sering terlupakan: kita kadang perlu menjauh sedikit dari hal-hal yang kita cintai, agar bisa melihat betapa indahnya mereka.

Karena yang memanggil kita sering bukan notifikasi dari ponsel—melainkan bisikan lembut dari alam, yang hanya bisa terdengar ketika kita berhenti sejenak dan benar-benar diam.***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?

Tiga Belas Kali: Dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Sembilan Tahun Gelap, Tiga Belas Tahun Terang

Tambal Sulam: Sebuah Drama di Ruas Kamasi-Woloan

Kamis, 11 Juni 2026. Di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kamasi dan Woloan, terjadi sebuah peristiwa langka—nyaris setara penampakan. Dua truk material, dan satu unit double drum roller mungil, hadir bersama-sama di lokasi yang sama, di hari yang sama, untuk tujuan yang sama: memperbaiki jalan.