Langsung ke konten utama

Antara Soe dan Mujur: Korupsi Sebagai Permainan Nasib

Ketika hukum direduksi menjadi dadu, dan para pelaku kejahatan hanya perlu menunggu giliran mujur atau soe—sementara rakyat selalu menanggung taruhannya.

Korupsi antara soe dan mujur.
Korupsi antara soe dan mujur. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat dengan teknologi AI.

Di Sulawesi Utara—dengan kota dan kabupatennya yang tumbuh di antara laut biru dan gunung hijau, tempat orang terbiasa bicara lantang dan tertawa lepas—ada satu kata yang diucapkan dengan nada pasrah sekaligus geli: soe. Artinya sial. Bukan sembarang sial, tapi sial yang datang tanpa aba-aba, seperti hujan deras di hari pesta. Dan dalam percakapan sehari-hari, kata itu sering bergandengan dengan lawannya yang abadi: mujur. Mungkin di daerah lain di negeri ini pun ada padanannya—nama berbeda, rasa yang sama.

Dua kata itu, soe dan mujur, sudah lama hidup sebagai bagian dari filosofi kecil masyarakat—tentang nasib, tentang keberuntungan, tentang hal-hal yang kadang tak bisa dikendalikan manusia. Namun belakangan, dua kata itu menemukan rumah baru yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya: di lorong-lorong gelap korupsi.

Korupsi, di negeri yang selalu punya cerita ini, kerap tampil bukan sebagai tindakan kriminal yang disengaja dengan penuh perhitungan moral, melainkan seperti permainan judi kelas atas. Bukan di meja kasino berbau asap rokok dan deru mesin slot. Tapi di meja rapat yang wangi parfum mahal, di bawah lampu ruang sidang yang terang benderang, di balik tanda tangan basah yang kering sesaat namun meninggalkan bekas bertahun-tahun lamanya.

Para pelakunya seolah sedang mengikuti kompetisi adrenalin; menunggu apakah nasib akan membawa mereka ke kategori soe—atau justru mujur.

Dalam logika para pemain gelap ini, korupsi bukan lagi persoalan moral yang harus dipertimbangkan dengan hati nurani. Ia telah berubah menjadi sekadar matematika risiko yang dingin: berapa besar keuntungan yang bisa dikantongi, sejauh mana peluang ketahuan, dan seberapa kuat jaringan yang bisa melindungi jika tiba-tiba angin berbalik arah?

Kategori Pertama: Soe

Nasib pertama adalah soe—sial. Ini terjadi ketika aksi gelap mereka akhirnya tersorot kamera wartawan yang gigih, tercium aparat yang tak bisa dibeli, atau bahkan dibocorkan oleh netizen yang sedang gabut di tengah malam namun memiliki mata yang tajam dan jari yang lebih tajam lagi.

Konsekuensinya datang bertubi-tubi dan lengkap: penangkapan yang viral di semua platform, foto tersangka dengan rompi kebangsaan yang difoto dari segala sudut, proses hukum yang panjang dan melelahkan, aset-aset yang disita satu per satu—rumah megah, kendaraan mewah, rekening yang tiba-tiba bungkam. Dan yang paling menyakitkan bagi mereka: nama baik yang runtuh bersama tragedi sosial yang sering disebut dengan sederhana sebagai "malu keluarga besar."

Pendek kata, keuntungan sesaat yang mereka nikmati ditukar dengan masa depan yang remuk redam. Ini versi soe yang tidak ada cashback-nya, tidak ada banding ke customer service, tidak ada promo ganti rugi. Habis, selesai, tamat.

Kategori Kedua: Mujur

Namun jangan salah—dan inilah yang membuat dada ini sesak—banyak juga yang merasa mujur. Sangat mujur. Ini terjadi ketika aksi kotornya tidak terdeteksi sama sekali, atau bahkan jika pun tercium angin, mereka bisa melenggang bebas bak bintang iklan sabun: bersih, rapi, dan mengilap seolah tak pernah ada noda.

Entah karena pengawasan yang lemah dan mudah diakali, modus operandi yang canggih dan selalu satu langkah lebih maju dari auditor, atau jaringan pertemanan yang levelnya sudah melampaui kategori biasa—mereka bisa menikmati hasil korupsi sambil tetap tampil elegan di publik, berpidato tentang integritas, dan tersenyum lebar di foto-foto resmi.

Inilah "mujur" versi para petualang moral: kaya raya, minim risiko, dan seolah-olah dunia ini memang menyediakan jalur VIP khusus bagi mereka—jalur tanpa antrean, tanpa pemeriksaan, tanpa konsekuensi.

Banyak pelaku sebenarnya sadar. Mereka tahu korupsi itu seperti naik ojek tanpa helm: nyaman dan cepat sampai tujuan—tapi begitu jatuh, tamat.

Sinetron Tanpa Episode Terakhir

Anehnya, fenomena "soe atau mujur" ini terus berulang—mirip sinetron yang episodenya seolah tak pernah mau tamat. Setiap kali satu musim berakhir dengan penangkapan besar dan sorotan kamera, musim baru sudah menunggu di sayap panggung dengan karakter-karakter segar yang tak kalah beraninya bermain dengan nasib.

Penyebabnya bukan misteri. Rasa kebal hukum tumbuh subur seperti lumut di dinding lembab. Celah-celah birokrasi menganga lebar, begitu lebar sehingga orang bisa melewatinya tanpa perlu merunduk, bahkan tanpa perlu memperlambat langkah. Dan hukuman yang dijatuhkan terkadang terasa seperti guyonan pahit: tidak sebanding dengan jumlah uang yang sudah berhasil diselamatkan di rekening-rekening luar negeri yang namanya terdengar eksotis.

Mentalitas predator inilah yang membuat korupsi terus dianggap sebagai permainan untung-untungan belaka—bukan sebagai tindakan yang sesungguhnya sedang merusak bangsa ini dari akar paling dalam sampai ke pucuk paling tinggi, diam-diam, sistematis, dan menyakitkan.

Bisikan yang Tak Berhenti

Yang menyedihkan—kalau boleh disebut demikian—adalah bahwa banyak pelaku sebenarnya sadar sepenuhnya. Mereka tahu. Mereka tahu korupsi itu seperti naik ojek di malam gelap tanpa helm: nyaman, cepat, dan terasa bebas sebentar—tapi begitu jatuh, begitu aspal menjemput, tamat. Namun godaan untuk "mencoba peruntungan" itu tetap ada dan terus berbisik, seperti notifikasi promo belanja daring yang muncul tepat di saat kantong sedang gatal: ah, sekali ini saja, tidak akan ketahuan.

Sayangnya, konsekuensi dari "sekali ini saja" itu tidak pernah hanya sekali untuk masyarakat yang menanggungnya. Dampaknya panjang, menyayat, dan merampas hak banyak orang yang bahkan tidak tahu nama pelakunya. Sekolah yang kekurangan meja. Jalan yang berlubang terlalu lama. Anggaran kesehatan yang menguap sebelum sampai ke tangan yang membutuhkan.

Kalau memang korupsi terus diperlakukan sebagai pertandingan antara soe dan mujur—sebagai soal nasib, bukan soal hukum—maka sudah saatnya sistem kita memastikan bahwa keberuntungan bukan lagi variabel dalam persamaan ini. Bahwa setiap tindakan kotor pasti berakhir soe, tanpa pengecualian, tanpa jalur belakang.

Karena bangsa ini terlalu berharga untuk dijadikan meja taruhan. Dan masa depan kita—masa depan anak-anak yang lahir di negeri ini—terlalu mahal untuk digadaikan demi keberuntungan instan yang dinikmati segelintir orang di atas penderitaan banyak. ***

PENULIS

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Mimpi Menjadi Koruptor

(sebuah novel)

Waspada El Niño 2026–2027

Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem Hujan deras masih sering mengguyur Kota Tomohon belakangan ini. Petir menyambar lereng Gunung Lokon . Angin kencang menerpa kebun bunga dan sayur di dataran tinggi yang sejuk ini. Sekilas, semua tampak normal, bahkan basah seperti biasa. Tapi jangan terlena dulu. Di balik hujan deras yang kita rasakan saat ini, para ilmuwan iklim dunia tengah membunyikan alarm. Sebuah fenomena besar sedang tumbuh perlahan di Samudra Pasifik: El Niño. Dan dampaknya, menurut berbagai lembaga meteorologi terkemuka, bisa membuat tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah umat manusia—termasuk bagi kita di Tomohon dan seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Orang-Orang yang Tak Terlihat

(sebuah novel)

Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

Untuk Siapa Berita Ditulis?

Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)

Redaksi Tanpa Awak

 Menjaga Nalar Jurnalistik di Era Algoritma Suatu waktu di sebuah portal berita lokal seorang jurnalis muda berkata santai. " Bos, beritanya sudah dibuat ChatGPT, tinggal kita edit ." Saat itulah pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang menulis berita ini? Siapa yang bertanggung jawab kalau ada fakta yang keliru? Di mana letak jiwa jurnalisme jika tangan manusia hanya berfungsi sebagai pemeriksa ejaan? Buku Redaksi Tanpa Awak, sudah tersedia di Google Play Books dan Draft2Digital

Menjemput Berita, Menembus Waktu

 Catatan Transformasi Teknologi Redaksi: Dari Wordstar Hingga Smartphone

‎Mengenal Iklan dan Berita di Media

( Percakapan tentang etika pers, kejujuran informasi, dan kepercayaan publik ) Suatu sore, seorang kawan mengirim pesan singkat yang terdengar sederhana, tetapi membuat saya berhenti sejenak. ‎“ Sekarang ini ,” tulisnya, “ bagaimana sebenarnya cara mengenali iklan dan berita di media ?” 

Tomohon: Dulu, Kini dan Nanti

  Usia 23 tahun biasanya seseorang mulai merasa dewasa, tapi masih suka galau saat ditanya: Tomohon pun begitu. Kota ini sejak berotonom berupaya untuk tampil rapih, berdandan bunga tersenyum di panggung festival—namun diam-diam sering bingung membedakan mana prioritas, dan mana sekadar hobi anggaran.