Langsung ke konten utama

Spanduk "Ayo Membaca" di Depan Gedung yang Tak Ada Bukunya

Tentang kampanye literasi yang meriah, dopamin yang lebih kencang, dan pertanyaan yang tidak ada di dalam kuisioner mana pun

📖 DAFTAR ISI

    Ilustrasi gaya editorial seorang remaja laki-laki Indonesia duduk sendirian di perpustakaan umum yang remang-remang, wajahnya diterangi cahaya biru dingin dari layar ponsel pintar yang digenggamnya. Di latar belakang, tampak rak buku berdebu penuh buku yang tidak tersentuh, dan sebuah spanduk merah besar di dinding bertuliskan "AYO MEMBACA!" dengan huruf putih tebal. Palet warna bernuansa retro dengan dominasi jingga karat, teal kusam, dan merah pudar, menciptakan suasana melankolis dan satir.
    Ironi di Balik Lembaran Berdebu. Seorang remaja tampak asyik dengan gawai di bawah bentangan spanduk ajakan membaca di sebuah perpustakaan. Di era digital, tantangan terbesar literasi bukan lagi keterbatasan akses pada bahan bacaan, melainkan bagaimana mengalihkan perhatian dari layar algoritma kembali ke lembaran-lembaran buku yang kian berdebu. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI)

    Sebuah Pemandangan yang Familiar

    Bayangkan sebuah perpustakaan daerah di sebuah kota di Indonesia—mana saja, pilih sendiri, karena hampir semuanya serupa—pada suatu pagi yang cerah. Di atas gerbangnya, terpasang spanduk besar berwarna merah cerah dengan huruf putih tebal: 

    AYO MEMBACA! 

    Di bawahnya, nama program pemerintah, nama kepala dinas, dan sebuah logo garuda yang tampak lebih rajin bekerja dari pegawainya.

    Di dalam ruang baca, cahaya lampu neon berdengung pelan. Rak-rak buku berjajar rapi—terlalu rapi, sebenarnya. Rapi seperti buku yang tidak pernah disentuh. Beberapa judul yang terpasang di baris depan adalah buku-buku terbitan pemerintah tentang "tata cara menyusun laporan pertanggungjawaban" dan "panduan pengadaan barang dan jasa." 

    Di pojok, ada meja dengan kursi plastik oranye. Di sana, seorang remaja duduk—tidak membaca, tentu saja. Ia sedang menggulirkan TikTok, Facebook Reels, atau YouTube Shorts, dengan ibu jari yang bergerak seperti seorang pemain piano jazz yang kesurupan. Di sebelahnya, handphone milik petugas perpustakaan menyala. Notifikasi masuk: sebuah video reels tentang cara membuat kopi susu gula aren, 47 detik, sudah ditonton 2,3 juta kali.

    Ini bukan sarkasme. Ini adalah deskripsi yang sangat realistis dari negara yang, selama satu dekade terakhir, telah menghabiskan energi—dan anggaran yang tidak sedikit—untuk mengkampanyekan literasi, sementara di saat yang sama, jari-jari warganya semakin terlatih untuk melakukan satu gerakan yang tidak pernah ada dalam kurikulum mana pun: scrolling.

    Inventaris Kemeriahan: Daftar Program yang Mengesankan (di Atas Kertas)

    Mari kita tidak terburu-buru bersikap sinis. Mari kita baca dulu apa yang sudah dilakukan. Karena memang sudah banyak—dan di sinilah paradoksnya justru semakin menggelikan.

    Sejak 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)—program yang mewajibkan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai.

    Lima belas menit. 

    Waktu yang sama dengan satu setengah video TikTok, atau dua episode Reels yang ditonton sambil tiduran. Tapi oke, itu niat yang serius. Bahkan ada instrumen evaluasinya: asesmen mingguan, evaluasi semester, dan 27 indikator pelaksanaan—mulai dari ketersediaan buku, konsistensi jadwal, hingga minat baca-menulis siswa.

    Dua puluh tujuh indikator. 

    Jumlah yang cukup untuk mengisi satu formulir keringat.

    Di atas GLS, ada Program Literasi Keluarga, Satuan Pendidikan, dan Masyarakat yang dikoordinasi Kementerian Koordinator PMK—program tiga pilar yang melibatkan rumah, sekolah, dan masyarakat, dengan target penguatan perpustakaan dan konten. 

    Ada juga Literasi untuk Generasi Emas dari Kemendikbudristek—khusus remaja 12–18 tahun, lengkap dengan distribusi buku akademik, fiksi, non-fiksi, dan aplikasi "Pustaka Digital Remaja." 

    Di ranah digital, Kemkominfo punya INCAKAP (Internet Cerdas Kreatif Produktif) dan platform IndonesiaBaik.id. 

    Dan itu belum termasuk ribuan kampanye kecil yang dijalankan oleh komunitas, NGO, sekolah swasta, sampai aktivis literasi lokal yang dengan semangat membara mendirikan taman bacaan di emperan warung.

    Duta Baca. Bunda Literasi. Pojok Baca. TBM—Taman Bacaan Masyarakat. Kampanye "Literasi Nasional" oleh Nyalanesia yang diklaim diuji coba di 1.000 sekolah di berbagai provinsi. 

    Laporan-laporan tebal dari Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) Kemendikbud. Buku panduan GLS. Buku "Mengukur Capaian Program Gerakan Literasi Sekolah"—sebuah buku tentang cara mengukur keberhasilan membaca buku. Buku untuk mengukur buku. Ada sesuatu yang secara filosofis sangat menarik di sini, walau kita belum sempat memikirkannya karena sudah membuka Instagram.

    Semua ini nyata. Semua ini ada. Dan jika Anda berdiri di sana, di podium, di depan wartawan dan kamera, laporannya akan terdengar seperti keberhasilan yang gemilang: ribuan program, jutaan buku dibagikan, ratusan ribu peserta, puluhan ribu sekolah terlibat.

    Lalu data PISA datang. Dan laporan itu runtuh.

    PISA Datang, dan Kita Pura-Pura Tidak Mendengar

    PISA—Programme for International Student Assessment—adalah ujian internasional yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun dari puluhan negara. Indonesia konsisten bertengger di 10 besar terbawah dalam literasi membaca. Bukan satu kali. Bukan kebetulan. Secara konsisten.

    Peta Jalan Pembudayaan Literasi 2021 yang dikeluarkan pemerintah sendiri mengakui hal ini—mengutip data PISA sebagai alasan mengapa program literasi perlu diperkuat. Jadi kita tahu. Kita tahu bahwa semua spanduk itu, semua workshop itu, semua pojok baca itu—belum menggeser angka yang seharusnya bergerak.

    Yang menarik—dan sedikit menyedihkan—adalah bagaimana cara kita meresponsnya. Bukannya mempertanyakan mengapa program-program itu tidak bekerja, kita cenderung menjawab dengan lebih banyak program. Lebih banyak buku. Lebih banyak spanduk. Lebih banyak Duta Baca. Seperti seseorang yang mobilnya mogok di tengah jalan, lalu bukannya memeriksa mesin, malah mengecat ulang bodinya.

    Kita sudah mengevaluasi programnya—dalam arti yang sangat teknis. GLS punya toolbox evaluasi semester. Ada asesmen mingguan. Ada 27 indikator. Kajian-kajian Puslitjak sudah menemukan bahwa di beberapa sekolah tertentu, GLS menunjukkan efektivitas 76–93% dalam keterampilan membaca dan menulis di kelas awal. Itu bukan tidak bermakna—itu adalah temuan yang valid dan perlu diapresiasi.

    Tapi ada sesuatu yang tidak diukur. Dan justru yang tidak diukur itulah yang lebih penting.

    Apa yang Kita Lupakan Ukur: Dopamin, Konsentrasi, dan Hukum Besi Ekonomi Digital

    Di sinilah esai ini berani masuk ke wilayah yang sedikit lebih gelap—dan lebih jujur.

    Semua indikator yang ada dalam evaluasi literasi Indonesia berputar di sekitar hal-hal yang mudah dihitung: jumlah buku, jumlah peserta, keterlaksanaan jadwal, kunjungan perpustakaan, partisipasi lomba baca. Ini adalah indikator input dan indikator administratif. Mereka mengukur apakah program berjalan, bukan apakah program berhasil.

    Tidak ada satu pun program yang mengukur ini: Berapa lama seorang siswa mampu membaca teks panjang tanpa berpindah aplikasi?

    Tidak ada yang mengukur: Berapa perbandingan waktu harian yang dihabiskan seorang remaja untuk menonton video 15 detik dibandingkan membaca artikel dua halaman?

    Tidak ada yang mengukur: Apakah peserta program literasi ini mampu menahan dirinya dari membuka HP selama 20 menit membaca buku?

    Dan tidak ada—sungguh tidak ada—yang mengukur: Apakah mereka bersedia membayar untuk mengakses informasi yang berkualitas?

    Mengapa ini penting? Karena kita sedang bertempur di medan yang salah.

    Kampanye literasi yang kita bangun dirancang untuk dunia sebelum tahun 2010—dunia di mana musuh literasi adalah kemalasan, kurang akses buku, atau kemiskinan budaya baca. Semua itu masih relevan, tentu saja. Tapi kini ada musuh baru yang jauh lebih canggih, jauh lebih sabar, jauh lebih memahami cara kerja otak manusia: platform digital yang dibangun di atas arsitektur dopamin.

    Dopamin adalah neurotransmitter yang, secara sangat disederhanakan, membuat kita merasa ingin sesuatu. Bukan sekadar menyukai sesuatu—tapi mendambakan sesuatu. Dan sistem reward dopamin kita ternyata sangat mudah dieksploitasi oleh hal-hal yang memberikan stimulus kecil dan cepat secara berulang-ulang: notifikasi, likes, video pendek yang terus-menerus berganti, guliran tak berujung yang selalu menjanjikan sesuatu yang lebih menarik di bawahnya.

    Otak kita, yang berevolusi selama ratusan ribu tahun untuk bereaksi terhadap stimulus segera (predator, makanan, bahaya), tiba-tiba harus berhadapan dengan mesin-mesin digital yang dirancang oleh ribuan insinyur terbaik dunia, diberi makan oleh miliaran data perilaku pengguna, dan dioptimalkan untuk satu tujuan tunggal: memastikan Anda tidak berhenti menggulir.

    Sebuah esai panjang yang baik memerlukan sesuatu yang semakin langka di dunia ini: waktu. Ketenangan. Kesabaran untuk duduk bersama ketidakpastian, untuk tidak langsung mendapat jawaban, untuk membiarkan argumen berkembang perlahan seperti adonan ragi. Ia memerlukan apa yang para neurosaintis sebut sebagai deep attention—perhatian mendalam yang bisa bertahan dalam satu fokus selama puluhan menit.

    Dan inilah yang sedang hancur. Bukan minat baca dalam arti abstrak. Tapi kapasitas fisik-neurologis untuk duduk diam dan membaca.

    Tidak ada satu pun program GLS yang mengukur ini. Tidak ada satu pun indikatornya. Kita mengukur apakah buku sudah tersedia di perpustakaan. Kita tidak mengukur apakah otak yang membacanya masih mampu berkonsentrasi lebih dari tiga menit.

    Ekonomi Informasi, atau: Mengapa Minyak Goreng Selalu Menang

    Ada dimensi lain yang hampir tidak pernah masuk ke dalam diskusi literasi Indonesia: ekonomi.

    Informasi yang baik—yang melewati proses verifikasi berlapis, yang ditulis dengan riset mendalam, yang diedit oleh editor berpengalaman—tidaklah gratis untuk diproduksi. Tapi kita telah membangun ekosistem digital yang mengkondisikan masyarakat untuk mengharapkan semua informasi tersedia secara cuma-cuma.

    Di sinilah ironi yang sesungguhnya terasa pahit: bagi jutaan keluarga Indonesia yang berada di kelas menengah ke bawah, pilihan antara "membeli e-book seharga Rp 50.000" atau "membeli seliter minyak goreng" bukanlah keputusan intelektual. Ia adalah keputusan hidup. Dan minyak goreng, tentu saja, selalu menang. Ia akan selalu menang. Ia pantas menang.

    Tapi di luar dimensi kemiskinan yang nyata itu, ada masalah yang lebih tersembunyi: bahkan mereka yang mampu membayar pun tidak terbiasa melakukannya. Bukan karena mereka tidak punya uang—tapi karena bertahun-tahun hidup di ekosistem "gratis-tapi-sebenarnya-bukan" telah membentuk refleks baru: informasi adalah sesuatu yang datang sendiri, tanpa harus dicari, tanpa harus dibayar, langsung ke layar genggam.

    Para pemikir teknologi sudah lama merumuskan hukum besi ekonomi digital ini dalam kalimat yang begitu tepat sampai rasanya seperti tamparan: Jika Anda tidak membayar untuk sebuah produk, maka diri Anda-lah produknya.

    Yang tampak "gratis" di internet—berita tanpa paywall, video tanpa langganan, artikel tanpa biaya—sebenarnya dibayar mahal. Dibayar dengan data pribadi Anda yang dipanen dan dijual kepada pengiklan. Dibayar dengan perhatian Anda yang dikurasi oleh algoritma untuk kepentingan klik iklan. Dibayar dengan kesehatan mental Anda yang diaduk-aduk oleh konten provokatif yang sengaja dirancang untuk mempertahankan emosi Anda pada titik yang membuat Anda terus menggulir layar.

    Tidak ada evaluasi program literasi Indonesia yang mengukur apakah pesertanya memahami hal ini. Tidak ada rubrik penilaian yang menanyakan: Apakah kamu tahu bahwa ketika kamu tidak membayar berita, kamu sedang memberi makan sistem yang mengatur apa yang kamu percaya?

    Ini bukan soal menyalahkan orang miskin karena tidak bisa berlangganan koran. Ini soal keseluruhan ekosistem yang belum pernah kita masukkan ke dalam pembicaraan literasi.

    Remaja, Ibu Jari, dan Pertarungan Neurologis yang Tidak Seimbang

    Kembali ke perpustakaan tadi. Ke remaja dengan TikTok, Facebook Reels, atau YouTube Shorts.

    Ia bukan malas. Ia bukan bodoh. Ia sedang mengalami sesuatu yang para ilmuwan neurosains sebut sebagai reward prediction error—ketika otaknya sudah terkondisi untuk mengharapkan stimulus cepat setiap beberapa detik, dan setiap kali stimulus itu datang (video baru, notifikasi baru, tampilan baru), ada sedikit ledakan dopamin yang menyenangkan. 

    Membaca buku—dengan alur yang lambat, dengan kalimat yang memerlukan pengolahan aktif, dengan pahala yang baru terasa setelah puluhan halaman—terasa seperti olahraga lari maraton bagi seseorang yang seluruh hidupnya hanya terbiasa berlari lima langkah lalu berhenti.

    Sebuah esai panjang yang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi mendalam harus bertarung memperebutkan perhatian melawan stimulus visual instan dari game mobile atau guliran tanpa akhir video pendek. Pertarungan ini, dari awal, sudah ditentukan pemenangnya. Dan esai itu tidak pernah menang.

    Yang kita butuhkan bukan hanya mengajarkan mengapa membaca itu penting—itu sudah dilakukan, sudah ada workshopnya, sudah ada posternya, sudah ada infografisnya di Instagram yang, secara ironis, dikonsumsi sambil meninggalkan buku di rak. 

    Yang kita butuhkan adalah mengakui bahwa membaca teks panjang, di era ini, adalah sebuah keterampilan bertahan hidup yang harus dilatih secara aktif—bukan sesuatu yang akan terjadi secara otomatis hanya karena ada pojok baca di sudut sekolah.

    Coba bayangkan indikator yang berbeda untuk remaja usia 12–18 tahun. Bukan "sudah membaca berapa buku bulan ini"—tapi:

    Apakah kamu bisa membaca dua halaman penuh tanpa menyentuh HP? Itu saja dulu. Dua halaman. Tanpa notifikasi. Coba ukur itu, dan lihat berapa persen yang lulus.

    Ketika kamu punya 30 menit waktu luang, apa yang kamu lakukan pertama kali? Apakah "membaca" bahkan masuk dalam tiga pilihan pertama, di samping scroll media sosial, menonton video, dan bermain game?

    Apakah kamu pernah membeli buku dengan uangmu sendiri, dari uang jajanmu, karena kamu benar-benar ingin membacanya? Bukan hadiah ulang tahun. Bukan tugas sekolah. Tapi keputusan ekonomi mandiri yang lahir dari keinginan intelektual.

    Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada dalam 27 indikator GLS. Mereka tidak ada dalam rubrik evaluasi mana pun. Dan justru ketiadaan mereka itulah yang memberi kita gambaran paling jujur tentang di mana lubang terbesar dalam kampanye literasi kita.

    Menuju Tolok Ukur yang Lebih Jujur—dan Lebih Menyakitkan

    Jika kita serius ingin mengukur keberhasilan literasi—bukan keberhasilan administratif program literasi, tapi keberhasilan aktual dalam membentuk warga yang benar-benar literat—maka kita perlu bergeser dari mengukur input fisik ke mengukur output perilaku dan kognisi.

    Ini bukan ide yang saya karang sendiri. Ini sebenarnya sudah ada dalam benih-benihnya di beberapa kajian akademis Indonesia—hanya belum pernah cukup lantang masuk ke meja kebijakan.

    Pertama, ukur durasi dan kualitas baca, bukan kuantitas buku. Rata-rata berapa menit seorang siswa mampu membaca teks panjang tanpa berpindah aplikasi? Bisa diukur lewat log aplikasi literasi, jurnal baca harian yang diisi jujur, atau observasi langsung. Angka ini jauh lebih bermakna daripada "sudah baca 5 buku bulan ini"—yang mungkin saja artinya "membuka buku, membaca halaman pertama, lalu menutupnya kembali sambil membuka YouTube."

    Kedua, ukur rasio konsumsi: video pendek versus teks panjang. Ini bisa dilakukan lewat survei sederhana atau bahkan log penggunaan aplikasi di HP siswa (dengan izin dan kesadaran penuh, tentu). Jika seorang siswa menghabiskan 4 jam per hari untuk TikTok, Facebook Reels. dan YouTube Shorts, tapi hanya 10 menit untuk membaca teks apa pun, maka program literasi telah gagal—tidak peduli berapa buku yang sudah dibagikan kepadanya.

    Ketiga, ukur kemampuan merangkum, bukan hanya kemampuan membaca. Apakah setelah membaca satu artikel 1.000 kata, siswa bisa merangkumnya dalam tiga kalimat dengan kata-katanya sendiri? Ini adalah indikator pemahaman mendalam—bukan sekadar mata yang melintasi huruf, tapi otak yang sungguh-sungguh mengolah informasi.

    Keempat—dan ini yang paling berani—ukur kemauan membayar untuk informasi. Berapa persen peserta program literasi yang pernah membeli buku dengan uang sendiri? Yang pernah berlangganan platform baca digital? Yang pernah membayar untuk mengakses artikel jurnal atau media berbayar? Indikator ini akan terasa kejam—angkanya pasti kecil. Tapi justru karena itu ia jujur.

    Kelima, ukur literasi kritis digital. Apakah peserta memahami bahwa "gratis" di internet berarti mereka adalah produknya? Apakah mereka bisa membedakan berita dari media terverifikasi dengan konten viral dari akun anonim? Apakah mereka pernah melakukan cross-check sumber sebelum membagikan sebuah informasi?

    Indikator-indikator ini tidak mudah diukur. Mereka memerlukan metodologi yang lebih canggih, anggaran yang lebih besar, dan—ini yang paling sulit—keberanian untuk menerima hasil yang kemungkinan besar akan sangat buruk.

    Karena kenyataan yang menyakitkan itu: data PISA sudah memberitahu kita hasilnya. Kita hanya perlu berani membacanya dengan kepala dingin.

    Tentang Spanduk, Esai, dan Satu Pertanyaan yang Tersisa

    Pada akhirnya, ini bukan tentang menyalahkan pemerintah, atau menyalahkan remaja yang ber-TikTok, Facebook, dan Youtube, atau menyalahkan platform digital yang memang dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan neurologis kita.

    Ini tentang kejujuran kolektif.

    Kita bisa terus memasang spanduk "Ayo Membaca" di depan gedung yang di dalamnya tidak ada buku baru sejak dua tahun lalu. 

    Kita bisa terus mengadakan workshop literasi yang dihadiri oleh peserta yang membuka HP mereka 12 kali selama 90 menit sesi berlangsung. 

    Kita bisa terus meluncurkan aplikasi "Pustaka Digital Remaja" yang diunduh tapi tidak dibuka. 

    Kita bisa terus menerbitkan laporan evaluasi dengan 27 indikator yang semuanya berwarna hijau.

    Atau kita bisa mulai bertanya pertanyaan yang lebih sulit dan lebih jujur: 

    Apakah warga kita benar-benar membaca? 

    Apakah mereka mampu berkonsentrasi? 

    Apakah mereka memahami nilai informasi yang berkualitas? 

    Dan apakah mereka mau—dan mampu—membayar untuk mendapatkannya?

    Kita tidak hanya ingin warga yang membaca. Kita ingin warga yang mampu menahan arsitektur dopamin yang dirancang oleh ribuan insinyur berbayar mahal untuk mengalahkan buku yang ditulis seorang penulis yang mungkin dibayar jauh lebih murah. Kita ingin warga yang memahami bahwa membayar untuk informasi yang baik adalah tindakan politis—sebuah pilihan untuk mendukung ekosistem di mana kebenaran masih dihargai lebih dari klik.

    Dan untuk itu, lima belas menit membaca sebelum kelas dimulai, dengan 27 indikator yang terisi rapi dalam formulir evaluasi—belum cukup.

    Belum.

    Tapi paling tidak—dan ini mungkin satu-satunya hal yang benar-benar optimistis dari esai yang cukup suram ini—kita sudah mulai berbicara tentang angkanya. Kita sudah mulai meletakkan data di atas meja. Kita sudah mulai, pelan-pelan, berani melihat spanduk itu dari dalam gedung, bukan hanya dari luar.

    Dan membaca tulisan di sana—dengan kepala dingin, dengan konsentrasi penuh, tanpa membuka HP—itu sendiri sudah merupakan sebuah kemenangan kecil. ***

    Sumber-sumber:

    Program dan kebijakan literasi:
    Kemendikbud. Manual Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah. Repositori Kemdikbud, 2016. PDF tersedia di: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/24907/1/1629814489_Puslitjak_22_Mengukur_Capaian_Program_Gerakan_Literasi_Sekolah_Revisi.pdf
    Kemenko PMK. Pemerintah Perkuat Program Literasi Secara Menyeluruh — Peta Jalan Pembudayaan Literasi 2021. Tersedia di: https://kemenkopmk.go.idEvaluasi program literasi:
    Puslitjakdikbud. Evaluasi Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah. ResearchHub Khatulistiwa. Tersedia di: https://researchhub.id/index.php/Khatulistiwa/article/download/1435/1251
    Jurnal Paedagogie. Analisis Minat Membaca Siswa melalui Program Pojok Baca. Universitas Muhammadiyah Magelang. Tersedia di: https://journal.unimma.ac.id/index.php/Paedagogie/article/download/14256/6051
    SMAN 3 Salatiga. Keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 3 Salatiga. Blog Resmi Sekolah, 2024. Tersedia di: http://www.sman3sltg.sch.id/2024/02/blog-post.htmlIndikator minat dan perilaku membaca:
    Dianingrum, Yashinta. Minat Baca — Landasan Teori. Repositori STKIP Pacitan. Tersedia di: https://repository.stkippacitan.ac.id/id/eprint/628/4/YASHINTA%20DIANINGRUM_BAB%20II_PGSD2021.pdf
    Nur Hartanti (mengutip Barkah). Korelasi Antara Minat Membaca Siswa SD Dengan Hasil Belajar. Jurnal STKIP Kusuma Negara, Semnara 2020. Tersedia di: https://jurnal.stkipkusumanegara.ac.id/index.php/semnara2020/article/download/1286/882
    E-Journal Literasi, Universitas Alma Ata. Hubungan Minat Membaca dengan Prestasi Belajar. Tersedia di: https://ejournal.almaata.ac.id/index.php/LITERASI/article/view/1575
    Jurnal Basic Education. Pengaruh Minat Baca Terhadap Hasil Belajar IPS di Sekolah Dasar. Tersedia di: https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/download/2474/pdf/9522Durasi dan konsentrasi membaca:
    Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, E-Journal Mandalanursa. Pengaruh Minat Baca Terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman. Tersedia di: https://ejournal.mandalanursa.org/index.php/Pendibas/article/download/8588/5875
    E-Journal UAJY. Perilaku Membaca Menurut Golongan Usia. Bab 2. Tersedia di: http://e-journal.uajy.ac.id/30461/3/170116815_Bab%202.pdf
    Journal Prepotif, Universitas Pahlawan. Hubungan Durasi Belajar dan Jarak Membaca dengan Skor Gejala Dry Eye pada Siswa SMA Batik 1 Surakarta. Tersedia di: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/prepotif/article/view/53587

    PENULIS

    Donny Turang

    Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

    Komentar

    POPULER

    Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

    Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

    Kota Bunga di Musim Efisiensi

     Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

    Waspada El Niño 2026–2027

    Tomohon Berpotensi Alami Tahun Terpanas dan Kekeringan Ekstrem

    Jalan Makmur yang Tak Lagi Makmur

    Sore itu hujan mengguyur deras tiba-tiba—datang tanpa permisi. Saya memarkir motor buru-buru, lalu berlari ke emperan toko terdekat. Di sebelah saya sudah ada seekor anjing kampung yang tampaknya sudah lebih lama tinggal di sana daripada pemilik tokonya. Ia melirik saya sebentar—ekspresi mukanya seperti berkata, sudah lama, Bos?—lalu memejamkan mata lagi dengan tenang dan bermartabat, sebagaimana makhluk yang tidak punya cicilan motor dan tidak takut kena PHK. Yang Tertinggal di Jalan yang Tidak Lagi Ramai

    ‎Dinding Sunyi yang Menyimpan Cita-Cita

    ‎‎Kabut masih menggantung di lereng Lokon. Udara pagi Tomohon menggigit lembut. Ya, di bawah teduh Gunung Lokon, terdapat sebuah kompleks bangunan tua dengan dinding batu yang menyimpan ribuan kisah: Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. ‎Ini bukan sekadar sekolah, melainkan habitat tempat anak-anak muda perlahan diukir menjadi pribadi yang matang, siap menjadi gembala.

    Mimpi Menjadi Koruptor

    (sebuah novel)

    Dari Bangku Sekolah ke Bandara Osaka: Taruhan Besar Tomohon pada Manusia

    Sebuah laporan panjang tentang ambisi pendidikan dan penempatan kerja Kota Bunga yang sedang diuji oleh kenyataan Pada suatu pagi di Februari 2025, tujuh orang muda asal Tomohon berdiri di sebuah ruang pelepasan. Tas sudah terkemas. Dokumen sudah beres—visa, sertifikat kompetensi, tiket keberangkatan. Pemerintah kota yang memfasilitasi semuanya. Tujuan mereka: Jepang.

    Orang-Orang yang Tak Terlihat

    (sebuah novel)

    Untuk Siapa Berita Ditulis?

    Sore itu kopi terasa sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena gula yang lupa ditambahkan—memang tidak pakai gula. Atau mungkin karena topik yang kami pilih memang tidak pernah benar-benar manis. “ Berita ini sebenarnya penting untuk siapa ?” Kawan saya melontarkannya begitu saja, seperti orang yang bertanya, “ Wi-Fi di sini password-nya apa ?”—ringan, tanpa beban. Tapi saya tahu, itu bukan pertanyaan ringan. Itu seperti membuka pintu lemari lama yang penuh dengan hal-hal yang sengaja disimpan rapi supaya tidak perlu dipikirkan setiap hari. Percakapan soal berita, media digital, dan hal-hal yang membuat profesi wartawan kadang terasa seperti pekerjaan yang paling mulia sekaligus paling melelahkan. (gambar hanya ilustrasi yang dibuat AI)