Langsung ke konten utama

Buah Busuk, Hati Busuk, dan Kesabaran yang Tidak Perlu Teriak

Sore itu tidak ada yang istimewa. Langit kelabu. Kopi di meja sudah mulai kehilangan uapnya. Dan saya—seperti kebanyakan sore—sedang berdiri tanpa tujuan jelas di dekat jendela, menatap pohon mangga milik tetangga yang tumbuh miring ke arah pagar.

Percakapan di bawah pohon mangga. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.
Percakapan di bawah pohon mangga. Gambar hanya ilustrasi yang dibuat berkolaborasi dengan teknologi AI.

Satu buahnya menarik perhatian saya. Cokelat. Keriput. Menggantung di ujung ranting seperti orang yang sudah menyerah pada segalanya, tapi belum juga jatuh. Saya bertanya-tanya sejak kapan buah itu seperti itu. Dan kenapa tidak ada yang memetiknya.

Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika seorang kawan lewat. Ia berjalan pelan, seperti orang yang tidak punya urusan mendesak di mana pun. Ia berhenti sebentar, ikut memandang ke arah yang sama dengan saya, lalu berkata pelan—hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri: "Tunggu saja. Yang busuk punya jadwal jatuh sendiri."

Saya tertawa kecil. Bukan karena itu lucu, tapi karena kalimat itu terasa terlalu tepat untuk sekadar kebetulan.

"Kalau jatuh ke kepala orang bagaimana?" tanya saya, setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh khawatir.

Kawan saya mengangkat bahu. Santai, seperti sedang membahas arah angin atau prediksi hujan sore. "Itu risiko hidup. Tapi percaya, memetiknya justru lebih berbahaya—tangan kotor, pohon rusak."

Kami lalu duduk di bangku kayu tua di pojok halaman. Bangku yang catnya sudah terkelupas di beberapa bagian, tapi masih cukup kuat untuk menampung dua orang yang sedang sok-sokan membicarakan kehidupan. Kopi yang sudah dingin ikut serta, tanpa protes.

Dari buah mangga yang membusuk, obrolan kami bergeser—seperti biasa—ke manusia. Topik favorit orang-orang yang ingin tampak bijak, tapi tetap ingin sedikit bergosip.

"Jadi," kata saya, "kalau ketemu orang yang niatnya tidak baik, kita juga harus pura-pura tidak lihat?"

"Bukan pura-pura," jawabnya cepat, seolah sudah pernah memikirkan ini sebelumnya. "Sadar, tapi tidak reaktif."

Ia menyeruput kopi—dingin, tapi tetap diminum—seolah sedang menegaskan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pilihan minuman pagi.

"Membalas orang busuk itu," lanjutnya, "seperti memeluk durian yang baru jatuh. Sama-sama sakit. Dan tidak ada yang dapat imbalan."

Saya mengangguk. Di sudut pikiran, saya sedang mengingat beberapa pesan yang belum sempat dibalas. Pesan-pesan yang nadanya tajam, dan sindirannya—lebih tajam lagi. Pesan yang sudah saya baca berkali-kali, tapi selalu saya tutup sebelum jari sempat mengetik balasan.

"Tapi kadang mau juga," saya mengaku, "sekadar membela diri."

"Boleh," katanya, tanpa menghakimi. "Asal membela diri bukan berarti turun kelas."

Ada kesunyian sebentar di antara kami. Bukan kesunyian yang canggung—lebih seperti jeda yang dibutuhkan setelah kalimat yang terlalu padat untuk langsung dicerna.

Kawan saya menatap lagi ke arah pohon mangga itu. "Buah busuk jatuh karena beratnya sendiri," katanya akhirnya. "Orang berniat buruk jatuh karena kelakuannya sendiri. Kita cukup berdiri agak jauh. Supaya tidak kena cipratan."

Saya tidak menjawab. Tapi saya menyimpan kalimat itu—di tempat yang sama dengan semua hal kecil yang ternyata punya umur panjang di kepala.

Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi gedebuk yang cukup keras dari arah pohon mangga.

Kami saling pandang.

Buah yang cokelat itu akhirnya jatuh. Tanpa sorak-sorai. Tanpa ada yang perlu berteriak memintanya turun. Tanpa drama. Ia jatuh sendiri, tepat seperti yang sudah dijadwalkan oleh beratnya sendiri.

Kami tertawa kecil, seperti dua orang yang baru saja menyaksikan pelajaran hidup dalam format yang terlalu sederhana untuk diabaikan.

Saya pulang dengan satu pemahaman yang tidak bisa saya jelaskan terlalu panjang tanpa merusaknya:

Kesabaran bukan soal menahan emosi sampai suatu saat meledak. Bukan tentang menjadi diam karena takut. Bukan pula tentang menelan semuanya sambil pura-pura baik-baik saja.

Kesabaran—dalam versi yang paling jujur—adalah tentang memilih untuk tidak ikut campur dalam kejatuhan yang bukan urusan kita. Tentang memahami bahwa ada proses yang sedang berjalan, dan proses itu tidak butuh campur tangan kita untuk selesai.

Tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua provokasi pantas mendapat reaksi. Ada yang cukup disaksikan, dipelajari, lalu dilepas—seperti asap kopi dingin yang menghilang pelan ke udara pagi yang kelabu.

Dan kadang, pelajaran paling berharga datang bukan dari buku tebal atau ceramah panjang. Tapi dari satu buah mangga yang busuk, di ujung ranting tetangga, yang akhirnya jatuh sendiri—tepat waktu. ***

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Dari Bitung ke Balai Kota: Kisah Caroll, Anak Bupati yang Akhirnya Jadi Wali Kota

Dua Periode Memimpin Tomohon: Siapa Sebenarnya Caroll Senduk?

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Kota Bunga di Musim Efisiensi

 Sebuah laporan panjang tentang anggaran yang menyusut, rakyat yang menunggu, dan kota yang belajar hidup dengan dompet lebih tipis

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Semoga DPRD Tak Sekadar Tukang Stempel—dan Tukang Jalan-Jalan

Ketika satu koalisi kuasai eksekutif sekaligus legislatif, siapa yang akan menggonggong ketika dua harimau tidur?