Kalau boleh jujur—dan saya selalu jujur, karena saya kupu-kupu dan tidak pernah belajar berdiplomasi—tempat ini dulu jauh lebih menyenangkan.
Dulu ada bunga.
Banyak bunga.
Monolog Seekor Kupu-Kupu yang Kehilangan Taman
![]() |
| Taman Kota Tomohon dengan view Gunung Lokon. (foto: doc) |
Nama saya tidak penting. Panggil saja saya Bung Kupu. Saya sudah lama tinggal di kawasan ini—jauh sebelum ada yang namanya Anugerah Hall, jauh sebelum ada mikrofon bergema dan spanduk ucapan selamat datang yang berkibar setiap kali ada acara.
Dulu, ketika tempat ini masih bernama Taman Kota Tomohon, hidup saya sederhana dan bahagia. Saya terbang dari bunga ke bunga. Sesekali hinggap di bangku taman yang catnya sudah mengelupas di sana-sini—bangku semen tua yang dingin tapi setia. Dan dari sana, saya menatap Gunung Lokon yang berdiri gagah di kejauhan, seperti sesepuh kampung yang tidak pernah ikut campur tapi selalu mengawasi.
Ah, Lokon. Satu-satunya yang tidak berubah di sini.
Tapi mari saya ceritakan dari awal. Supaya adil. Supaya Anda mengerti kenapa saya—seekor kupu-kupu yang sedikit dramatis—bisa begitu punya pendapat tentang sebuah taman.
Taman Kota, di masa kejayaannya sebagai ruang publik, adalah salah satu sudut Tomohon yang paling… manusiawi. Bukan manusiawi dalam arti resmi atau protokoler. Tapi manusiawi dalam arti yang paling sederhana: orang datang ke sini bukan karena diundang. Mereka datang karena ingin. Duduk di bangku taman. Menatap bunga yang mekar tanpa jadwal. Membiarkan angin dari arah Lokon mampir ke wajah mereka tanpa izin.
Udara di sini punya tekstur tersendiri—sejuk, lembab ringan, membawa serta aroma tanah dan dedaunan yang basah setelah hujan. Kalau Anda pernah ke sini pada pagi hari, Anda tahu rasanya. Seperti dunia belum terlalu serius. Seperti waktu belum terlalu terburu-buru.
Anak-anak berlarian. Pasangan muda duduk canggung di sudut taman, pura-pura memperhatikan bunga padahal memperhatikan satu sama lain. Orang tua datang dengan langkah pelan, mendudukkan diri mereka di bangku, dan diam—diam yang bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena di sinilah satu-satunya tempat di mana diam terasa cukup.
Dan saya, Bung Kupu, terbang di antara semua itu. Mengunjungi setiap bunga dengan profesionalisme tinggi. Tidak pernah absen. Tidak pernah minta cuti.
Lalu suatu hari—entah kapan tepatnya, karena kupu-kupu tidak punya kalender—sesuatu berubah.
Mereka datang dengan alat berat.
Saya pikir awalnya ini semacam renovasi kecil. Mungkin bangku-bangku tua itu akan diganti. Mungkin bunga-bunganya akan ditambah. Saya bahkan sempat optimis: Oh, mungkin mereka akan menanam lebih banyak bunga. Lebih banyak pekerjaan untuk saya.
Saya salah besar.
Yang datang bukan tukang kebun. Yang datang adalah gedung.
Anugerah Hall—namanya terdengar seperti berkah dari langit, dan mungkin memang begitu bagi banyak orang. Bangunan besar dengan atap lebar yang berdiri tegak di atas tanah yang dulu penuh bunga. Atapnya tinggi, cukup untuk menampung ratusan kursi plastik, panggung dengan backdrop spanduk, dan sistem sound yang volumenya—percayalah—bisa membuat Gunung Lokon menoleh.
Mikrofon bergema. MC berbicara dengan intonasi yang selalu optimis. Tepuk tangan. Sambutan. Kata-kata yang dimulai dengan "Yang terhormat..."
Dan saya? Saya terbang kebingungan mencari bunga yang sudah tidak ada.
Tapi—dan ini penting, karena saya kupu-kupu yang berusaha objektif—tidak semua yang berubah itu buruk.
Sore hari, misalnya, Anugerah Hall punya kehidupan yang berbeda dari acara-acara resminya. Anak-anak muda datang bermain basket. Suara bola memantul berirama, diselingi tawa dan sedikit perdebatan soal angka. Di sudut lain, kelompok karate berlatih dengan serius—kiai!—suara yang tajam membelah udara sore, membuat burung-burung kecil di pohon sebelah terbang panik setiap beberapa menit.
Ada kehidupan di sini. Hanya saja, bentuknya berbeda.
Dan di kiri-kanan Anugerah Hall, dua gedung dua lantai masih berdiri—lebih tua, lebih tenang, dengan cat yang sudah memudar diterpa hujan dan panas bergantian. Dulu, bangunan itu pernah jadi kantor pemerintahan. Pernah jadi sekretariat KONI Tomohon—tempat para atlet merencanakan pertandingan dan kadang sekadar tempat nongkrong pengurus, sambil membahas peluang juara yang mungkin lebih besar di kepala daripada di lapangan. Pernah pula jadi markas beberapa LSM, tempat ide-ide besar—dan debat kecil yang tak kalah bersemangat—lahir setiap hari di antara tumpukan dokumen dan gelas kopi.
Kini bangunan itu dipakai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Saya pikir itu kabar yang cukup bagus. Setidaknya semangat belajar masih bertahan di sini—meski bunga-bunganya sudah, meminjam istilah manusia, pensiun dini.
Dan Lokon? Lokon tetap di sana.
Setiap kali saya lelah—dan ya, kupu-kupu juga bisa lelah, jangan remehkan kami—saya hinggap di atap gedung dan menatap ke utara. Ke arah Lokon yang selalu ada, selalu besar, selalu tenang. Puncaknya kadang tertutup awan tipis, seperti lelaki tua yang menarik selimut sampai ke hidung di pagi yang dingin, tapi tetap terjaga.
Saya yakin Lokon punya pendapatnya sendiri tentang semua perubahan ini. Tapi gunung adalah makhluk yang sangat sabar. Ia sudah menyaksikan Tomohon berubah berkali-kali—dari kampung kecil menjadi kecamatan, dari kecamatan menjadi kota otonom, dari kota baru yang berkantor di barak militer menjadi kota yang punya gedung-gedung sendiri yang berdiri percaya diri.
Kalau Lokon bisa bicara—dan saya cukup sering terbang dekat kawahnya untuk berani berspekulasi—mungkin ia akan berkata dengan nada yang berat tapi tidak marah:
"Silakan bangun sebanyak yang kalian mau. Hanya tolong, jangan tutupi pemandangan saya."
Tapi ada yang ingin saya sampaikan—serius sebentar, meski saya tahu reputasi saya sebagai makhluk yang melodramatis sudah cukup terbentuk di tulisan ini.
Ketika taman berubah menjadi gedung, yang hilang bukan hanya tanah dan bunga. Yang hilang adalah ritme.
Ritme hidup yang lebih pelan. Ritme yang memberi ruang untuk diam tanpa dianggap tidak produktif. Ritme di mana percakapan bisa lahir tanpa agenda, di mana tawa bisa pecah tanpa protokol, di mana seseorang bisa duduk seorang diri selama satu jam penuh hanya untuk menatap bunga dan langit—dan itu dianggap cukup, bukan pemborosan waktu.
Ruang hijau bukan kemewahan. Ia kebutuhan—kebutuhan yang sering kita sadari baru setelah ia hilang. Ia adalah tempat di mana warga belajar berhenti sejenak di antara semua laju kota yang tak pernah mau melambat. Tempat berbagi udara—udara sungguhan, bukan udara dari pendingin ruangan. Tempat melihat langit tanpa batas, bukan langit yang dipotong-potong oleh bingkai jendela gedung.
Ia menenangkan jiwa yang lelah oleh layar gawai dan rapat tanpa jeda. Dan di Tomohon—kota yang tumbuh di kaki gunung, dikelilingi perbukitan dan kabut pagi—ruang terbuka bukan sekadar kebutuhan ekologis. Ia adalah bagian dari identitas. Bagian dari alasan mengapa orang mencintai kota ini dengan cara yang sulit dijelaskan tapi sangat mudah dirasakan.
Tomohon terus melangkah maju. Dan itu hal yang baik—saya tidak pernah meragukan itu, bahkan dari sudut pandang seekor kupu-kupu yang kehilangan taman kerjanya.
Tapi di setiap langkah pembangunan, semoga masih ada ruang kecil yang dibiarkan tumbuh alami. Sebidang tanah di mana bunga bisa mekar tanpa izin. Se-pohon besar yang dibiarkan menua dengan hormat. Sebuah bangku—meski dari semen, meski catnya mengelupas—tempat seseorang bisa duduk, diam, dan merasa cukup.
Karena di kota yang tumbuh di kaki gunung, sebelum kita menanam gedung, kita lebih dulu tumbuh dari tanah.
Dan tanah itu—dengan segala kenangannya, dengan aroma hujannya, dengan bunga-bunganya yang dulu mekar di kota ini—tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu kita ingat.
Bung Kupu akhirnya menemukan bunga liar yang tumbuh di sela-sela paving block di halaman Anugerah Hall. Kecil, sedikit terjepit, tapi mekar dengan keras kepala.
Mungkin begitulah cara Tomohon bertahan—tumbuh di antara celah, mekar meski terjepit, dan tetap indah meski dunia di sekitarnya terus berubah.***

Komentar
Posting Komentar