Langsung ke konten utama

Mereka yang Bekerja, Dunia yang Berjalan

Selamat Hari Buruh

Di sudut kota, ada yang merapikan seragam sebelum berangkat. Di tempat lain, ada yang menggulung spanduk dengan hati-hati, memastikan setiap huruf bisa terbaca lantang di jalanan. Sementara itu, sebagian lagi hanya duduk di beranda, menyeruput kopi, dan diam-diam bertanya: 

‎‎“Apakah hari ini, kerja kami akhirnya benar-benar dihargai?”

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2026
Hari Buruh 01 Mei.

‎‎Hari Buruh bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah jeda kecil di tengah hiruk-pikuk produktivitas—sebuah momen untuk menoleh, melihat tangan-tangan yang lelah tapi tetap bertahan, dan langkah-langkah yang tak selalu mendapat tepuk tangan.

‎‎Kita sering merayakan hasil, tapi lupa menghormati proses. Padahal, dunia ini berdiri bukan hanya karena ide besar, tapi juga karena kerja-kerja sunyi yang tidak sempat disebutkan namanya.

‎‎Maka 1 Mei datang seperti pengingat yang sederhana, tapi jujur: bahwa di balik setiap kemajuan, ada keringat yang tidak pernah tampil di panggung.

‎‎Selamat Hari Buruh.

‎‎Untuk setiap lelah yang tidak sempat dikeluhkan,

‎untuk setiap usaha yang tidak selalu terlihat,

‎dan untuk setiap harapan yang terus dikerjakan—diam-diam, tapi tidak pernah sia-sia.

PENULIS

Foto Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Komentar

POPULER

Sendy Rumajar: Cucu Ketua DPRD, Anak Wali Kota, Kini Wakil Wali Kota Tomohon

Ia lahir di kota yang pernah dipimpin ayahnya. Kakeknya pernah memimpin dewan di wilayah yang merupakan induk dari Kota Tomohon. Di usia 33 tahun, giliran ia yang naik panggung—dilantik Wakil Wali Kota Tomohon. Inilah Sendy Gladys Adolfina Rumajar.

Senator Tanpa Panggung: Kisah Empat Orang yang Mewakili Sulut di Jakarta—dan Hampir Tidak Ada yang Tahu

DPD RI Sulawesi Utara: Senator yang Nyaris Tak Terlihat | Feature Feature · Politik Daerah · Sulawesi Utara Anggota DPD RI asal Sulawesi Utara — lembaga yang nyaris tak dikenal, senator yang nyaris tak terlihat. Dua puluh tahun sudah DPD berdiri, namun popularitasnya tenggelam. Empat senator dari Sulawesi Utara periode 2024–2029 bekerja di antara celah hukum, koneksi keluarga, dan ketidakterlihatan publik. Oleh Redaksi | Berdasarkan data KPU & riset independen 📖 DAFTAR ISI 1. Empat Senator, Satu Provinsi, dan Pertanyaan yang Seharusnya Sudah Lama Diajukan 2. Apa yang Sudah Mereka Kerjakan? (Pertanyaan yang Adil) 3. Celah Hukum yang Berbau Keluarga ▸ Kasus Stefanus Liow & Adriana Dondokambey 4. DPD: Lembaga dengan Kewenangan Tiga Fungsi dan Satu Masalah Struktural 5. Refleksi: Lembaga yang Baik, tapi Belum Cukup Saat panggung ...

Kepercayaan Publik: Mata Uang Terakhir yang Tak Bisa Dicetak Sendiri

Sebuah esai panjang tentang apa yang tersisa dari jurnalisme ketika semua yang lain sudah dikorbankan demi algoritma

Warung Kopi dan Anatomi Sebuah "Media"

Berdiri di Atas Kaki Sendiri (atau Tidak Sama Sekali) Domain Murah, Idealisme Mahal

Jurnalisme Copy-Paste dan Resiko Bagi Publik

  Hujan baru saja berhenti. Udara masih lembab, tetapi percakapan di meja redaksi kami terasa lebih hangat daripada kopi yang baru disajikan. Seorang kawan menutup ponselnya, lalu berkata dengan nada setengah bercanda. "Sekarang wartawan tidak perlu keluar rumah untuk membuat berita." Saya menatapnya. "Maksudmu?" Ia tertawa kecil. "Cukup buka WhatsApp, cek email, lihat Facebook, atau X... lalu edit sedikit. Jadi berita." Kalimat itu terdengar seperti humor ringan di antara cangkir kopi. Tetapi sebenarnya ia tidak menyentuh satu persoalan serius dalam jurnalisme digital hari ini.